Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
Bukti Cinta Ard dan Sofea.


__ADS_3

"Ma..Maksud anda? Yang Mulia!"


Tanya Host Grandam yang terkejut mewakili para Tamu dan Rakyat Batalion yang lansung saling tatap menanya, mereka tak berani membuka suara karena dipanggung sana telah terjadi beberapa Perselisihan.


Melihat itu semua Ardelof lansung mengulur tangannya menatap Sofea yang agak kikuk dipandangi semua orang, apalagi Ratu Lamoria dan Raja Hangton tersenyum senang melihat Ardelof benar-benar bertanggung jawab akan Putrinya.


"Kemarilah!"


Sofea menurut mendekati Ardelof seraya mengulur tangannya menggenggam tangan Ardelof yang mengarah padanya hingga ia merapatkan tubuhnya tanpa jarak menatap Ardelof yang juga memandangnya lembut.


"A..Apa kalian memang sudah menikah?"


"Hm, aku ingin membuat Pernyataan!"


Ardelof melangkah beriringan dengan Sofea menuju ke depan panggung dengan tatapan kagum mereka dan para Kru yang termenung kosong, Kamera sana terus berjalan mengabadikan Moment langka ini hingga tatapan semua Keluarga lembut menghunus sepasang Insan Bunga mekar ini.


"Aku memang sudah menikahi, Sofea!"


"T..Tapi, kapan Yang Mulia


"Saat dia putus asa."


Jawab Ardelof berhadapan dengan Sofea yang berfikir, ia teringat saat pertama kali mencoba lari dulu, ia sangat pasrah dibawa Tuan Edgar dan Juand hingga menghantarkannya pada pria yang selama ini ia pikir hanya menjadikannya Sekedar Pemuas ranjang belaka, tapi Sofea sangat tak menyangka Ardelof melakukan semua ini.


"S..Sayang."


"Aku tak pernah menyesal setelah menemukan Berlian murni ini, karna dibalik semua sikap diam, malu dan polosnya dia adalah seorang Istri, dan Wanita terbaik yang pernah ku kenal."


Mereka semua diam hening seketika membiarkan Ardelof mengutarakan perasannya dihadapan semua orang, wajah tegas nan serius tapi melembut menatap pahatan cantik yang sudah mengembun mendengar semua itu.


"Kau yang pertama kali membuatku tak tenang jika berjahuan, dan kau yang membuatku gelisah saat bibir ini diam dengan kesenduan di matamu, mungkin aku bukan pria yang romantis dengan memberimu bunga atau mengajakmu ketempat yang indah tapi.."


"A..Ard."


"AKU SANGAT MENCINTAIMU, SOFEA RATNA MAHADEWI!"


Prokkk..Prokkkk..


Mereka bertepuk tangan meriah saat Ardelof mengucapkan kata itu lantang hingga para gadis sana saling berpelukan menahan haru, baru kali ini ia melihat Yang Mulia Putra Mahkota Alison itu begitu lembut bicara berintonasi penuh Cinta mengalun menggapai hati Sofea yang berbunga.


"A..Ard."


"Aku sangat mencintaimu dan anak kita! jangan pernah berfikir untuk meninggalkan aku, kau mengerti?"


Sofea mengangguk lalu berhambur memeluk Ardelof yang tersenyum simpul mengelus punggung Istrinya lembut seraya mengecupi pundak dan puncak kepala Sofea penuh Cinta.


"Wowww!!!"


"Kalian luar biasa!!!"


Prokk..Prokk..


Mereka bertepuk tangan meriah kembali menyambut dengan suasana heboh, Sofea menangis haru mengecup pipi Ardelof yang juga tersenyum lepas merasa lega karna ternyata dalam Proses ini Masyarakatnya menerima dengan baik keberadaan istrinya.


"Yang Mulia! Aku Juga mencintaimu!!!!"


"Yahhh!!!"


Sofea terkekeh melihat beberapa Gadis Batalion yang meneriaki girang karna ikut meleleh dengan kata yang tadi terngiang dalam benak mereka, senyum cantik Sofea membuat suasana kembali mekar dan hangat dengan kebersamaan yang kalem.


"Tadi Yang Mulia Putra sudah, sekarang Yang Mulia Putri yang harus memberi asupan!"


"Yahh, Kami ingin mendengarnya!!!"


Sofea memerah mengigit sudut bibirnya merasa agak gugup karna ia sangat malu pada semua orang yang menatapnya menunggu.

__ADS_1


"Kau malu, hm?"


"A..itu..aku.."


"Ibu juga ingin dengar!" Ratu Lamoria berdiri disamping Sofea dengan Raja Hangton yang memberi semangat, Sofea menatap kesebelah Ardelof dan seketika ia terkejut melihat seorang pria tua yang tadi ia tak memperhatikan dengan benar.


"K..Kau.."


"Katakan jika iya, jika tidak aku punya calon untuk cucuku!"


"Tidak aku.. aku akan katakan!"


Ardelof berusaha menahan gemas dengan memasang wajah Rileks, mereka semua menahan nafas melihat Sofea yang mengigit bibir bawahnya beberapa kali mengadah menatap Ardelof dengan semberaut merah yang sangat imut.


"A..Ard!"


"Hm? ada apa?"


Ardelof sengaja membelit pinggang ramping Sofea dengan wajah yang terus menatap tanpa mau mengalihkan pandangan membuat para gadis sana menutup wajahnya malu sendiri.


"Sayang aku.."


"Aku?"


"Aku juga sangat mencintaimu!"


"Ouuhhh!"


Mereka terenyuh saat Sofea berucap lembut lalu mengecup lama bibir Ardelof yang menyunggingkan sudut bibirnya geli membiarkan Sofea menyembunyikan wajah merahnya ke dada bidang Ardelof agar menghindari tatapan gemas semua orang.


"Sayang, sudahlah! aku malu."


"Apa kami bisa minta Foto?"


"Boleh."


"Hm, tapi tak bisa lama! Istriku sedang hamil!"


"Apa???" mereka kembali memekik hebat tapi kali ini Semua Anggota Kerajaan kecuali Nenek dan Kakek Brent yang hanya diam menyunggingkan senyuman lembutnya.


"A..Ard, kau..kau tak bercandakan?"


Ratu Lamoria dan Raja Hangton bertanya dengan wajah berbinar, Sofea tersenyum mengangguk dengan Ardelof yang mengelus perutnya lembut.


"Iya, Bu!"


"Ya, Tuhan!!!!"


Mereka berteriak histeris mengucap syukur hingga Ratu Lamoria berhambur memeluk Sofea yang ikut bahagia, ia mengerti kalau ia harus menjalankan kewajibannya terhadap Putri Hangalay yang sebenarnya.


"Nak, kau..kau hamil?"


"Iya, Ma, Ibu! baru.." Sofea terdiam lalu menatap Ardelof penuh tanya.


"1 bulan lebih."


"Iya, 1 Bulan lebih." sambung Sofea lagi hingga membuat mereka benar-benar bahagia, satu persatu mereka memeluk Sofea mengucapkan selamat atas Kehadiran Pewaris Tanah Alison ini dengan para Tamu Studio lansung mendekat membawa Ponsel mereka.


"Yang Mulia, Putra!"


"Hm, patuhi aturan."


Mereka mengangguk hingga saling naik keatas panggung mengambil kesempatan untuk berfoto bersama, baru kali ini mereka diperbolehkan mengambil gambar secara Pribadi san itu berkat Putri Sofea yang telah kembali.


"Selamat, Yang Mulia Putri Hangalay."

__ADS_1


"Terimakasih."


Putri Camela dari Kerajaan lain memberi salam hormat memeluk Sofea hingga ia kagum dengan harum bunga ini sangatlah lembut.


"Lain kali kita bisa bertemu kembali."


"Tentu, aku sangat menantinya."


Timpal Sofea berbaur dengan baik, tapi Ardelof tak mengijinkan laki-laki untuk naik kesini selain Perempuan, tentu siapapun tak akan bisa membantahnya hingga para Putra Kerajaan lain itu hanya bisa menelan kehampaan disamping Panggung.


"Sayang, kasihan jika semuanya tak kebagian."


"Biarkan saja."


Tegas Ardelof membelit pinggang Sofea posesif dengan tatapan datarnya hingga ia mulai merasa Sofea gelisah ditempat saat sesuatu itu mengalir didalam tubuhnya.


"A..Ard."


Keringat dingin di kening Sofea muncul saat suara riuh ini membuat kepalanya pusing, rasa takut itu mulai menyeruk disela tulangnya hingga Ardelof mengerti akan hal ini.


"Tenanglah, ada aku disini! kita lawan sama-sama, hm?"


"A..Aku..Ard, aku.."


Sofea memejamkan matanya memeluk erat tubuh Ardelof meredam rasa takut ini, tentu Mama Netty tahu akan hal itu hingga ia lansung mengambil alih acara dengan mengisyaratkan Host Grandam agar membawa ke penghujung.


"Baiklah, Acara ini memang sangat bersejarah dan Fenomenal, Untuk pertama kalinya Show kita mendapat Reting tertinggi Sore ini, berikan Tepuk Tangan yang meriah!!!!"


Prokkk..Prokk..


"Semoga sukses!!!"


Mereka ikut senang hingga membuat Penyuting akhir sangat puas melihat hasil Rekaman ini, apalagi Komentar Netizen dan Rakyat Batalion mendukung pernyataan Ardelof barusan.


"Terimakasih pada Semua Anggota Kerajaan dan Khususnya untuk Yang Mulia Raja dan Ratu serta Putra dan Putri Mahkota, dan Ibu besar Tanah ini! Terimakaih juga untuk para Tamu yang lain dan yang paling meriah, Rakyat Batalion Alison!!!"


"Dengan senang hati!!!"


"Sampai jumpa laun waktu dan saya harap setelah ini kabar gembira ini akan disambut baik oleh Dunia, kalian setuju???"


"Setuju!!!!"


Sofea berusaha untuk seperti biasa, ia meredam Traumanya dengan merasakan kehangatan pelukan Ardelof yang mengerat ketubuhnya.


"Rileks, semuanya akan baik-baik saja, hm? anggap saja aku selalu mendekapmu begini. semuanya akan baik-baik saja, Sayang?"


Sofea mengangguk memejamkan matanya melawan rasa takut mengigil ini, ia terbayang sesuatu yang terus membayang dikepalannya seperti ada sesuatu yang ingin membunuhnya.


"T..Tidak bisa."


"Hey, bayangkan kalau kita sedang bersama dengan Putra kita yang sudah lahir, kau menggendongnya dan aku memeluk kalian berdua. pasti rasanya sangat senang, hm?"


"J..Jangan tinggalkan aku."


Sofea membayangkan itu hingga ia perlahan terhanyut dalam hayalannya sendiiri dengan Mama Netty yang mengiring mereka untuk pergi karna acaranya sudah selesai, Raja Hangton dan Raja Petratolison tinggal karna harus menyelesaikan urusan dengan penyiar.


"Kenapa dengan Putriku?"


"Tenanglah, dia hanya mencoba melawan rasa takutnya saja!"


Mama Netty menenagkan Ratu Lamoria yang khawatir melihat wajah Sofea tadi pucat dan berkeringat, ia tak mau ambil resiko hingga lansung menelfon Dokter ahli di Kerajaannya untuk datang ke Istana Alison.


....


Vote and Like Sayang

__ADS_1


__ADS_2