
Wajah-wajah serius para Petinggi Kerajaan itu sudah berkumpul diruang pertemuan, kedatangan Raja Hangalay di Kerajaan Alison disambut dengan baik hingga mereka melakukan beberapa perundingan, tentu saat ini yang dibicarakan adalah Keberadaan Vanelope.
Raja Hangalay meminta kejelasan, kenapa Putrinya tiba-tiba menghilang setelah exsekusi tanpa kabar? atau duggaanya Kerajaan Alison telah menghabisi secara buta.
"Dimana Putriku?"
"Kau tentu sudah tahu, saat Exsekusi berlansung ada badai yang melanda. dan saat itu juga Putrimu Vanelope menghilang." Tegas Raja Petratolison apa adanya, sampai sekarang keberadaan Vanelope masih dalam pencarian.
"Tapi dia tanggung jawab kalian. dan Ardelof! aku tahu dia itu berbuat kesalahan besar yang tak patut dimaafkan, tapi dia juga Putriku dan kalian ada aturan untuk melakukan semuanya."
Raja Hangton bersiteggang bahkan mengancam akan mengibarkan peperangan kalau sampai Vanelope benar dihukum mati tanpa sepengetahuannya, ia memang sangat malu akan kebusukan itu tapi ia juga berfikir sebagai seorang ayah.
Perdana Mentri Deganara menghela nafas halus dengan Panglima Lester yang sedari tadi mendengar ucapan Raja Hangton yang menginginkan Putrinya, Raja Petratolison sebenarnya tak ingin memberi penjelasan karna yang tahu betul hal ini hanyalah Ardelof.
"Kalau sampai kalian membohongi aku, mulai saat itu Kerajaan Alison dan Hangalay akan bermusuhan."
Geram Raja Hangton membuat Raja Petratolison menatapnya dengan rumit, dari sorotan mata itu sangat dijabarkan bagaimana gejolak persahabatan yang dulu terjalin.
"Hanton, kau harus berfikir panjang."
"Apa? sedari Putramu menikah dengan Putriku. kalian tak pernah memperlakukannya dengan baik, hingga dia mencari pelampiasan pada orang lain.
Ketus Raja Hangton geram membuat Ratu Rosmeryna yang sedari tadi diam lansung angkat bicara.
"Tidak diperlakukan dengan baik? maaf Yang Mulia! apa kasih sayang yang selama ini aku berikan itu tak cukup? atau Posisinya yang saat itu akan menggantikanku sebagai seorang Ratu tapi dia yang menghancurkannya itu belum sebuah Kepercayaan? bahkan Putrimu yang membohongi kami dan kami tetap diam, kami berfikir tentang kau dan Ratu Lamoria karna kalian jalinan Kerajaan yang baik. tapi jika kalian menyalahkan Putraku dan layanan Kerajaan, aku rasa PERANG jalan utama."
Degg..
Ratu Lamoria terkejut, sungguh ia tahu betul Ratu Rosmeryna sangat menyayangi Ardelof tapi ia juga tak bisa melihat dua Kerajaan yang sedari dulu akrab ini malah berperang karna hal sederhana.
"Maaf, Yang Mulia Ratu! lebih baik kita bicarakan ini secara Kekeluargaan, jangan emosi."
"Jika Raja Petratolison tak ingin memberi keputusan, maka aku bisa memberi kejelasan."
Raja Petratolison menatap membunuh Ratu Rosmeryna yang hanya acuh, ia akan berusaha menjauhkan Ardelof dari masa lalunya yang berhubungan dengan Vanelope, sudah cukup rasanya ia diam dan menurut.
"Baiklah, kau yang menginginkan ini."
"Hangton!"
Raja Petratolison menghentikan Raja Hangton yang ingin berdiri dari Kursi panasnya, ia hargai keputusan Raja Hangton untuk melawan tapi ia memikirkan Rakyatnya.
"Kau yakin ingin melakukan ini?"
"Hm, kalian memang sudah keterlaluan."
"Baiklah, tapi bicarakanlah pada Ardelof! dia berperan penting dalam urusan ini."
Raja Hangton hanya diam lalu melangkah pergi memberi salam Toleransi dengan pengawalnya yang siap siaga keluar dari ruangan pertemuan dengan Ratu Lamoria yang mengikuti langkah suaminya.
Mereka melewati beberapa lantai hingga mencapai lantai bawah yang telah disambut kemewahaan Kerajaan ini, Raja Petratolison ikut mengantar walau cara Raja Hangton memang merendahkan. semua Pengawal hanya berjaga tapi mereka mengibarkan aura permusuhan.
"Ard!!!"
Suara riang seorang wanita yang baru saja menapakan kaki ke lantai didepan Pintu Utama sana, kekehan girangnya tercipta mengundang tatapan aneh Ratu Lamoria dan Raja Hangton yang mendengarnya.
"Sayang, aku..aku sampai duluan!!"
"K..kau curang, Dewi."
Beclie yang tampak ngos-ngosan berlari kecil kedekat Sofea yang sangat bahagia karna hari ini Ardelof membawa mereka berkeliling, apapun yang ia mau maka akan dituruti oleh Suaminya yang paling tersayang itu.
"Aku sudah bilang, kau jangan terlalu kuat berlari."
"Tidak ada, aku tadi hanya lari kecil! tapi sayangnya kau sangat Lamban."
Jawab Sofea pada Ardelof yang mendekat dengan nafas sangat stabil tapi ia bermaindian Keringat karna harus Olahraga berat untuk melepas dahaga si Penyihirnya itu. ia mengulur botol yang ia peggang ke mulut Sofea yang dengan pelan menegguknya.
"Aku juga!"
__ADS_1
Ardelof melakukan hal yang sama pada Beclie hingga membuat Ratu Lamoria dan Raja Hangton terkejut, apalagi Ratu Rosmeryna seakan tak percaya melihat Ardelof sedekat itu dengan Beclie, padahal selama ini bertatap muka saja mereka sangat-sangat jarang dan tak pernah.
"Sayang, aku mau bicara di.."
"Grandma!!!"
Pekik Beclie saat melihat Ratu Lamoria yang hanya mematung menatap Beclie, bocah itu berlari kearahnya dengan girang hingga Raja Hangton lansung tercekat.
"Grandma, Grandpa! Lie sangat merindukan kalian."
"B..Benarkah?"
Beclie mengangguk senang lalu menatap Sofea yang lansung terdiam menatap Kedua Orang Tua Vanelope yang memandangnya dengan arti yang tak ia ketahui, ia meneliti Penampilannya yang sama sekali tak aneh melainkan sangat mempesona dengan keringat yang bercucur menambah kesan Sexsi ditubuhnya.
"A..Ard, apa..apa aku jelek?"
Ardelof menggeleng meraih pinggang Sofea merapat kerahanya hingga keduanya melangkah masuk mendekati mereka yang telah menatapnya dengan pandangannya sendiri, Sofea tak menunduk karna ia harus bisa mengimbangi semuanya apalagi ia sudah lelah untuk dipojokan dan melepas Cintanya.
"Selamat Siang, Yang Mulia!"
"Ard, dia.."
"Istriku!"
Raut wajah Raja Hangton lansung mengeras menatap Sofea tajam dan menohok, bahkan Sofea bisa merasakan kebencian pria ini padanya.
"Istrimu! wanita tanpa Identitas itu, ya?" suaranya terdengar remeh.
"Sofea Ratna Mahadewi, wanita cantik, serba bisa dan mempunyai semuanya! dia Istriku, dan akan tetap menjadi Istriku."
"Yang Mulia Putra Mahkota Alison, kau begitu kuat, cerdas, berkuasa bahkan kau sangatlah Idaman siapapun dalam segi apapun! tapi maaf, Putra Mahkota! seseorang yang menjadi Istrimu sekarang, tak akan pernah bisa menjadi Istrimu dihadapan semua orang karna Statusnya hanya simpanan."
Whuss..
Wajah Ardelof mengeras menyerap semua energi disekitar sini hingga mereka berkeringat dingin dengan suasana yang mulai dingin menyerap tenaga mereka, tentu Sofea terkejut melihat darah yang keluar dihidung para Pengawal yang tak kuat menahan Intimidasi ini hingga ia lansung menatap Ardelof yang sudah kelam.
"Ard!"
"T..Tolongg!!"
"Ard!"
"T..uhukk.. Yang Mulia!"
Mereka merintih sakit membuat Raja Hangton benar-benar tak habis pikir, ia hanya bicara tapi Pria ini sudah membunuh satu persatu Pengawalnya bahkan Ratu Lamoria mulai merasakan hal yang sama hingga membuat Sofea lansung menagkup pipi Ardelof yang sudah mendinginkan semua lekuk Istana.
"Sayang, aku mohon."
"Kau.."
"Demi aku."
Pinta Sofea menatap intens wajah keras Ardelof hingga ia mencapai mata biru itu dengan lembut, ia mengggapai hati Ardelof dalam ketenangan yang ditawarkan Sofea dari tatapan lembutnya.
"Aku mohon!"
Ardelof memejamkan matanya menghela nafas berat menetralkan emosinya lalu memeluk Sofea yang menjadi penenang disetiap nafasnya.
"Mau apa kalian kesini?"
"Dimana Putriku?" sambar Raja Hangton membuat Ardelof lansung mengurai pelukannya pada Sofea agar wanita ini duluan pergi ke Kamar. tapi Sofea tak ingin karna ia perlu tahu tentang ini.
"Aku mau dengar!"
"Baiklah, kau duduk!"
Ardelof mengiring Sofea menuju Sofa, ia gak menghiraukan para Anggota bangsawan disini karna Ardelof hanya mengutamakan satu orang dan ia rasa semuanya paham. apalagi Raja Hangton yang sangat tak percaya Ardelof melakukan ini dihadapan mereka.
"Ard."
__ADS_1
"Hm."
"Mereka menatap kita!"
Bisik Sofea saat Ardelof mengelap keringatnya dengan Sapu tangan dari jaketnya hingga menjadi sorotan semua orang, tapi Ardelof hanya acuh melakukan apa yang ia suka sampai Sofea tak lagi kegerahan barulah ia berbalik menatap semua orang yang sudah menunggunya.
"Putrimu menghilang saat Badai Exsekusi, dan itu memang tanggung jawab kami tapi kalian tentu tahu kalau sebenarnya hukuman yang dijatuhkan pada Putrimu itu Hukuman Mati, bukan Cambukan!"
"Kau.."
"Jadi, keringanan yang kami berikan itu cukup baik! tapi saat dia hilang, bukankah itu kerugian kami. Hukuamnnya belum selesai, bahkan Putrimu bisa terjerat dua aturan, Melanggar Ketetapan kebijakan Istana kami dan melarikan diri!"
Raja Hangton benar-benar naik pitam, Ardelof sangat pandai dalam melawan setiap apa yang ia ucapkan, bahkan pria ini memukul telak semua pemikirannya barusan.
"Dan satu lagi! jika kau berusaha memanipulasi Aturan di Kerajaan Kami, bukan hanya Kerajaanku yang akan berperang, tapi Sekutu Perangmu!"
"Cih, sepertinya Putriku memang sangat beruntung tak menikah denganmu."
"Aku pikir juga begitu, Yang Mulia! Tak ada yang pantas bagi PENGHIANAT!"
Ucapan Menohok Ardelof membuat mereka semua lansung tercekat mendengarnya hingga Raja Hangton kehabisan kata-kata, tapi Ratu Rosmeryna terfokus pada Sofea yang mendengarkannya dengan baik.
"Baiklah, aku rasa Keputusan Putraku sudah jelas! semuanya bisa kau cerna dengan baik, Yang Mulia Hangalay!"
Raja Hangton melangkah pergi memboyong Pengawalnya yang masih tersisa sedangkan yang terkena tadi sedang dibawa ketempat penyembuhan.
Sekarang tinggalah Anggota Keluarga Alison yang menatap Sofea dengan Intens, wajah Sofea tetap tegas tak adalagi rona main-main dalam menjelaskan kastanya.
"Lagi, Ardelof! lagi-lagi ada yang bertanya soal Identitas Istrimu! kau dengar yang mereka katakan, hm?"
"Itu urusanku."
"kau tak akan bisa bebas dari Aturan, Ardelof! kau Putra Mahkota Kerajaan ini, kau Putra Tanah ini dan kau adalah Penerus generasi Alison. berfikirlah jernih, Keluargamu bukan kami saja! ada banyak orang yang akan menentangmum."
Raja Petratolison melangkah pergi meninggakan Ardelof dalam keheningan, Ratu Rosmeryna tersenyum kecil menatap Sofea yang hanya diam mendengarkan semua itu.
"Pikirkanlah, bagaimana jika Kakek dan Nenekmu tahu kau menikahi wanita sepertinya. Cantik dan mempesona bukan jaminan, Nak! Vanelope adalah wanita yang cukup mendekati Kriteria tapi mereka tak menyetujuinya, bagaimana dengan SIMPANAN mu itu."
Sinis Ratu Rismeryna anggun lalu membawa Beclie pergi.
Sofea benar-benar merasa perih mendengar kalimat perih itu, apa ia salah jika ia wanita yang lahir tanpa identitas? tak sekolah dan punya banyak tempat. itu sama sekali tak keinginanya apalagi ia punya Penyakit Syindrom yang mengharuskan ia menyendiri.
"Ard aku.."
"Jangan pikirkan itu!"
"Ard, mereka benar!" ucap Sofea membuat langkah Ardelof terhenti dihadapannya, wajah pria itu berubah datar dengan Sofea yang lansung berdiri.
"Ucapanmu.."
"Sayang, apa kau tak lelah, ha? baik kalau kau begitu membelaku tapi aku merasakannya, Ard! aku butuh Identitasku sendiri, aku ingin menjadi seorang Sofea dengan hidupku sendiri, bukan Wanita simpanan atau...atau wanita kurungan!"
"Kau..Kau ini bicara apa, ha? kau bukan wanita simpanan, Sayang!"
"Aku tahu, tapi..tapi kau lihat mereka, Ard! apa kau mau aku akan terus menjadi lulucon mereka?"
Ardelof bungkam mendengar perkataan Sofea barusan, ia memang sadar itu semua tapi ia hanya tak ingin beban wanita ini semangkin banyak dengan bekerja dan bekerja.
"Jawab aku! jawab, Ard!"
"Tidak."
"Aku mohon, Sayang! aku tak akan membebani Pernikahan kita, aku janji tak akan membebanimu, Ard!" Ardelof lansung mengumpat menarik Sofea kepelukannya dengan tatapan geram yang teramat.
"Kau bilang apa? Beban! kau sudah hilang akal, ha?"
"Sayang, aku hanya ingin merasakan bagaimana Bekerja dan Berusaha mendapatkan uang dan kehormatan! tapi aku tak ingin kau ikut campur."
"Terserah kau saja!"
__ADS_1
...
Vote and Like Sayang..