Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
Kenyataan pahit!


__ADS_3

Keramaian Perusahaaan itu masih terlihat tercipta kembali dengan kepentingan yang bermutu jelas, mereka sangat serius dalam mengerjakan tugasnya karna bisa saja sekali keluar dari Perusahaan besar ini akan dibuat Pengangguran untuk selamanya.


Apalagi, Perusahahaan ACB baru saja memenangkan Rewerd sebagai Company Bast World dengan kemajuan pesat dari Bidang Pembangunan Saham dan Agensi sebagai pelopor berbagai Selebritis, Perusahaan ACB bergerak dalam segala bidang terutama Proyek dan Teknologi Mesin, tapi ada beberapa bagian yang menjadi keutamaan yaitu menaungi Filim sebagai jalinan kemampuan Perusahaan yang sangat maju dalam segala hal.


Seperti sekarang, Ardelof tengah dihadiri oleh Tamu Istimewa dari Perusahaan bersahabat dengannya, bisa dibilang hanya sebatas Klien yang Profesional.


"Yang Mulia, saya begitu senang bisa mengunjungi Perusahaan besar anda." ungkapan rasa kagum dari Mister Boouvel seorang pria paruh baya dengan kharismatik yang tak kalah berwibawah.


"Tentu, anda diterima baik disini." Ardelof menjawab seadanya, ia tahu kemana rumusan embel-embel pria ini padanya.


"Yang Mulia, maaf kalau saya agak lancang! apa benar anda telah bercerai dengan Putri Hanggalay?"


"Benar!"


Satu jawaban singkat, padat dan jelas tak disembunyikan Ardelof. ada raut senang dari wajah Mister Boouvel mendengarnya walau sekarang Rakyat Tanah Batalion harus bergejolak ke Istana Alison.


"Benarkah? saya turut berduka, Yang Mulia! tapi saya harap anda setuju untuk hadir di Pesta malam ini."


"Hm, tentu!" Jawab Ardelof memburu waktu, ia harus pulang karna ini sudah Sore apalagi ia meninggalkan Sofea di Istana sana karna wanita itu masih saja dingin padanya.


Setelah pembicaraan yang cukup singkat dari Ardelof, Mister Boouvel pamit penuh hormat karna ia begitu senang membawa kabar ini untuk pulang.


"Yang Mulia, kenapa anda memberi pernyataan pada dia?" Kristof yang tak mengerti akhirnya angkat bicara menatap ke arah pintu keluar.


"Dia bisa menyebarkan apapun, biarkan semua orang tahu. dan itu lebih baik."


Jawab Ardelof duduk bertopang kaki di kursinya, Namun, Kristof menyerahkan Amplop ke mejanya hingga dahinya lansung mengkerut.


"Itu bukti yang anda minta kemaren, Yang Mulia!"


"Kau mendapatkannya?"


"Iya, saat Prince Beclie terluka saya lansung mengambil Sempelnya!"


Ardelof lansung membukanya hingga ia melihat laporan kertas Medis yang menunjukan rentetan huruf dan diagnosa Rumah Sakit, tapi, bukan ini yang Ardelof cari tapi ia tertuju pada Tulisan dibawahnya bahwa DNAnya dan Beclie itu tak sama.


"Aku ingin kau rangkap semua surat ini menjadi satu dengan pengambilan gambar Vanelope dengan kekasihnya!"


"Baik, Yang Mulia! tapi saya perlu waktu karna semua rekaman san jejak seakan menghilang. seperti ada yang sengaja melindungi ini."

__ADS_1


Ardelof mengepalkan tangannya kuat, sedari dulu ia sulit mencari bukti karna ada yang berusaha melindungi wanita itu, tapi Ardelof tak mau lagi mengundur karna Sofea sudah mulai menjauh darinya.


"Kau retas semua CCTV Istana, dan jalan lupakan Kersjaan Hangalay!"


"Baik!"


Tatapan sendu wanita itu lansung menghunus Dermaga di bawah Balkon kamarnya yang sudah kembali membaik, sebenarnya senyum itu hanya muncul untuk mengendalikan Perasaan yang bergejolak.


Beclie ada disampingnya seraya menatap objek yang sama, tapi bocah ini tak mengerti atas kegelisahan di mata Sofea.


"Kenapa kau diam, Dewi?"


"Ja..Jawab aku dengan jujur, kau bisa?" pinta Sofea pada Beclie yang mengangguk apa adanya. sebenarnya ia tak tahu lagi harus apa selain bertanya pada orang lain.


"Kau siapa? dan..dan Vanelope itu siapa bagi Putra Mahkota?"


Beclie terdiam melihat mata Sofea menggenang, ia tak tahu sebenarnya wanita ini kenapa bisa ada disini dan hubungannya dengan Ayahnya.


"Aku Putranya dan Ibuku Istrinya!"


"V..Vanelope is..istri.."


Degg..


Sofea lansung bergetar mendengar itu hingga ia tak mampu lagi bicara, ia percaya dengan Beclie yang mengatakannya karna Sofea yakin bocah ini tak akan berbohong.


"Tapi, Ayah tak perduli pada kami! dia seakan acuh dan selalu menghindar, aku tak tahu kenapa. tapi Ibu bilang ada yang ingin merebut Ayah dari kami, Dewi!"


Degg...


Sofea seketika tercekat mendengar itu semua, ia menatap wajah sendu Beclie yang ingin menangis ketika membayangkan Ardelof yang selalu kasar padanya dan Ibu Vanelope.


"A..Ayah tak perduli, hiks! Aku benci wanita itu!!! dia..dia merubah, Ayah jadi begini!!!"


Sofea hanya diam mendengar itu semua, ada rasa sakit dihatinya melihat Beclie yang begitu tersakiti karna Ardelof tak lagi memperdulikannya.


"A..Aku benci wanita itu, hiks! I..Ibu bilang Ayah sudah tak perduli lagi karna dia terus mencari perhatian Ayah, dia yang mengambil semuanya dari kami!!"


"Sutt!"

__ADS_1


Sofea merangkuh Beclie kedalam dekapan hangatnya dengan lidah yang keluh untuk mengatakan banyak hal, sakit rasanya mengetahui pria itu telah menikah sebelum menikahinya dan mengorbankan Istri dan anaknya.


"Sudahlah, jangan menangis. hm?"


"D..Dewi, aku..aku mohon bantu aku mendapatkan Ayah lagi!"


Sofea terdiam bungkam, apa yang harus ia lakukan sekarang, apa ia harus pergi? tapi kemana, Ardelof pasti akan menemukannya. tapi jika tetap disini Sofea benar-benar menjadi seorang perusak rumah tangga orang lain.


"Sekarang, ayo Dewi antar ke Kamarmu, hm?"


Beclie mengangguk lalu menurut saat Sofea menggeggam tangannya menuju arah pintu keluar, disepanjang langkahnya batin Sofea bergelut resah. jika ini memang benar maka ia rela melepas Ardelof lagi pula pria itu hanya menjadikannya penghangat ranjang dan pemuas hasratnya.


"Dewi, sebenarnya kau dan Ayahku itu ada hubungan apa? kalian teman?"


"Aku..Aku Temannya!"


"Kalau begitu kau bisa membantuku, kan?"


Sofea terdiam entah apa yang akan ia jawab sekarang, ia yakin Beclie tak akan berbohong soal ini semua apalagi bocah Tampan ini sangat baik.


"Aku ingin, Ayah dan Ibu seperti dulu! Ayah selalu mencintai Ibu dan ada disetiap kami membutuhkannya!"


"Apa Ayahmu begitu mencintai, Ibumu?" walau perih rasanya tapi Sofea telan agar ia pun tahu alasan Ardelof tak pernah mengindahkan pertanyaannya soal Vanelope.


"Iya, bahkan Ayah membangun ruangan khusus untuk mereka dulu. kata Ibu, Ayah begitu menggilainya sampai Ibu jadi Ratu di Dunianya."


Sofea tersenyum miris, bersamanya Ardelof begitu terlihat mencintainya tapi sayang semua itu hanya Drama didepan layar, sedangkan dibelakang Ardelof tak pernah sama sekali memikirkannya atau sekedar menganggap.


Karna sudah tak mau menangis disini, Sofea berjongkok dihadapan Beclie tepat didepan Lift yang terbuka, matanya merah menahan sesak dengan senyum yang mengatakan ia baik-baik saja.


"Na..nanti. kalau kedua orang tuamu sudah bersatu. Kau..kau harus janji padaku, kalau..kalau kau harus menjaga Ayahmu baik-baik, hm?"


"Kenapa kau menangis?"


"Tidak ada, aku..aku hanya terharu karna kau sangat perduli pada kedua orang tuamu."


Elak Sofea mengecup kening Beclie yang merasa aneh, tapi ia tak tega hingga ia memeluk Sofea sebagai teman yang baik.


....

__ADS_1


Vote and Like Sayang ...


__ADS_2