
Bibir wanita itu mengigil biru karna tak ada yang kering ditubuhnya, semuanya basah dan begitu dingin saat diterpa angin membuat ia sangat keram dan gemetar.
ia terus mencoba bergerak menyusuri Beton didekat pepohonan menuju Taman sana menghindari para Pengawal yang mengitari Dermaga hingga mengelilingi tempat ini, Sofea sudah tak tahu harus bersembunyi dimana hingga ia melihat Gerbang Utama yang dijaga dua pengawal, jika ingin memanjat benteng ini sangat tinggi.
"A..Apa kesana?"
Gumam Sofea gemetar dingin memeluk tubuhnya sendiri seraya melihat Istana Selatan dimana tempat para Pelayan dan Papiliun diujung sana yang terang, karna rasa takut yang sangat pada para Pengawal itu, Sofea lansung tertatih-tatih melangkah menjauh dari Istana Utama menuju bagian belakang hingga ia meringis saat kakinya yang tak ada alas lansung terkikis oleh duri-duri tajam bunga-bunga di Taman sini.
"Hey!!!"
Degg..
Sofea terkejut saat salah satu Pengawal di dekat Dermaga itu menyeru kerahnya, tubuh Sofea lansung merapat kearah gelap seraya bersembunyi menunduk dibelakang Pot bunga besar disampingnya.
"A..Apa dia kesini?" Gumam Sofea merasa sudah tak sanggup berdiri karna kedua kakinya sangat keram, ia juga mulai tak bisa merasakan pijakan tanah ini akibat kebas diseluruh tubuhnya.
"Mau lari kemana, hm?"
Jantung Sofea sudah berdetak kencang mencengkram lengannya sendiri takut jika Pengawal itu mengetahui keberadaannya, dengan pelan Sofea meringkuk pasrah dibalik Pot yang berembun membuat suhu tubuhnya semangkin naik.
Langkah kaki pria itu dengan jelas Sofea dengar mendekat kearahnya dan..
"Dapat kau!!"
Sofea lansung pasrah namun, ia mendengar suara kucing didekat Pot disampingnya dan seketika Sofea lega karna Pengawal itu hanya mengambil Kucing Liar yang masuk ke Istana.
"Syukurlah dia.."
"Kau.."
"Aaaamm!!"
Mulut Sofea lansung dibekap kuat hingga suaranya tertelan dipendengaran, para Pengawal sana lansung berlari ke sumber suara tepat didekat Pot tadi. tapi nihil hanya aroma harum yang mereka cium sangat wangi.
"Kau dengar teriakan wanita?"
"Iya, tapi kenapa tak ada?" Gumam mereka berbisik hingga bulu kuduknya merinding merasakan aura seseorang dan akhirnya mereka pergi karna tak menemukan apapun.
Sedangkan sang empu yang dicari itu tengah dibelit erat oleh seorang pria yang sudah mengeraskan wajah Tampan kelamnya dikegelapan, ia merasakan tubuh wanita ini sangat dingin dengan Gaun Malam yang basah.
"A..Ard!"
Ardelof tak bicara, melainkan ia menggendong Sofea ringan menuju jalan tersembunyi dibelakang Istana Utama, kepala Sofea tersandar ke dada bidangnya hingga wanita itu dengan jelas merasakan detakan jantung Ardelof berpacu cepat.
Sofea tak tahu pria ini membawanya kemana, yang samar-samar ia lihat hanya ada sebuah pintu dibalik Bagunan ini dengan lorong berlentera yang seketika menyala saat tapakan kaki kokoh ini menekan lantai.
Setelah beberapa lama melewati jalan yang menurut Sofea cukup singkat hingga mereka sampai ke sebuah pintu yang terbuka sendiri saat Ardelof berdiri didepannya, dan mata Sofea terkejut melihat tangga gelap yang kemaren ia lihat dan itu adalah jalan ini.
Pintu itu ada didinding tempat ia bersandar kemaren dan ada lagi tangga gelap dibawah sana yang sangat memantik penasaran dihati Sofea.
"Pejamkan matamu!"
__ADS_1
Sofea lansung memejamkan matanya, entah kenapa Ardelof seperti menggeram mengatakannya seakan pria ini marah besar sekarang.
Hingga Ardelof membawanya menuju kamar mereka dilantai atas tanpa diketahui banyak orang, tapi Sofea gemetar karna ini sangat dingin membuatnya sulit bernafas tenang.
Brugh..
"***!!"
Sofea meringis saat Ardelof melemparnya keatas ranjang, mata Ardelof berubah menajam seakan menghunus jantung Sofea yang mencengkram selimut dibawahnya.
"Kau punya otak, ha??? bisa saja mereka tahu keberadaanmu!!!"
"A..Aku..itu.."
Grett...
Ardelof kembali mencengkram pipi Sofea kuat hingga wajah wanita itu terdongak menatapnya, gertakan gigi Ardelof terdengar nyaring membuat tubuh Sofea semangkin dilanda takut dan kebas diseluruh tubuhnya.
"Diluar itu sangat berbahaya! Gunakan isi kepalamu, bagaimana kalau mereka tahu kau disini? bahkan kau tak akan bernafas Lega!"
Ucapan menikam itu sungguh menyakitkan bagi Sofea yang seakan menjadi tawanan, netranya mulai berair menatap penuh rasa sakit pada netra Elang milik Ardelof yang seketika bergetar merasakan sesak didadanya.
"M..Maaf!"
Gumam Sofea dengan satu tetes air matanya yang luruh, ia menunduk saat cengkraman Ardelof dipipinya terlepas hingga Sofea tak mau bicara selain diam yang bisa membuktikan hatinya sedang terluka.
"Ganti pakaianmu!"
Dan untung saja ada handuk diatas meja riasnya hingga Sofea meraih benda itu berat seraya memunggungi Ardelof yang hanya mematung melihat itu semua.
Disetiap helaan nafasnya yang bergetar, air mata Sofea turun tanpa henti hanya menelan isak ditengah kedinginan. rasanya ia tak mau begini lagi dan ingin menghilang dari Bumi ini tapi ia tak bisa, kemana ia akan lari sedangkan Mamanya ia tak tahu kabar wanita itu.
"T..Tidak usah!"
Sofea menolak halus saat Ardelof mendekatinya mengulur tangan untuk membantu, dan Sofea benar, ia bisa mengganti pakaiannya yang basah dengan handuk ditengah tubuh yang mengigil tanpa bantuan siapapun dan semua itu seakan menjadi Bongkaman didada Ardelof yang mematung melihatnya.
"K..Kau..Kau bisa istirahat, T..Tuan!"
Sofea menunduk memberi jarak ditengah tubuhnya dan pria ini, sungguh rasanya Ardelof seakan mau mati melihat bagaimana tatapan penuh luka dan rasa sakit itu menoleh kearahnya lalu menepis begitu saja.
"Kau berani memalingkan wajah dariku?"
"A..Aku..kau b..bisa istirahat, dan..dan Terimakasih!" ucap Sofea bergetar antara mengigil dan memang ia menahan sesak. Ardelof menghela nafas berat berjongkok dihadapan Sofea yang tetap menekuk kedua kakinya menyembunyikan wajah yang sudah sembab.
"Kau akan beku disini!"
"T..Tidak akan!"
Karna sudah tak ingin berdebat akhirnya Ardelof pergi kekamar mandi membersihkan dirinya, tapi sebelum itu ia menaikan suhu kamar seraya menatap licik Sofea yang semangkin mengigil dibuatnya.
"Kau pikir kau akan bisa menepis keberadaanku? TIDAK AKAN PERNAH!" Geram Ardelof lalu menutup pintu kamar mandi, mendengar itu Sofea dibuat kejang karna rasa dingin ini bahkan ia sudah tak bisa merasakan bagaimana suhu tubuhnya membeku.
__ADS_1
"Asss."
Sofea mengigil memeluk dirinya sendiri hingga ia merasakan kepalanya sudah melayang pusing apalagi tubuhnya mulai panas dingin tak karuan dan akhirnya Sofea melepas semuanya dengan pasrah bersandar kedekat ranjang mencengkram lengannya hingga merah.
Setelah beberapa lama, Ardelof keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar dipinggar kekarnya, ia terkejut saat Sofea masih kekeh seperti itu tanpa meminta tolong atau bantuan apapaun.
"Kau.."
Ardelof mendecah frustasi berusaha untuk acuh hingga ia masuk kedalam Walkclosetnya mengambil Pakaian hangat tebal dengan selimut yang sama hangatnya.
"Wanita ini benar-benar menguji kesabaranku!" Geram Ardelof tanpa mengganti pakaian ia membawa selimut dan pakaian hangat itu keluar lalu menghidupkan penghangat ruangan menyetel kembali AC yang ia tinggikan tadi.
"Kau, bangun!"
Namun, Sofea tak bergeming saat Ardelof menyentak lengannya membuat Ardelof lansung menghela nafas berat membalutkan selimut itu ke Tubuh Sofea yang benar-benar seperti es batu membuat Ardelof merasa bersalah.
"Hey, aku tak ingin memanggil dua kali!" tetap saja Sofea tak menjawab membuat jantung Ardelof kembali berpacu saat merasakan kening wanita ini benar-benar panas hingga ia lansung menarik Sofea kepelukannya.
Degg..
"K..Kau.."
Ardelof tercekat melihat wajah pucat Sofea hampir membiru hingga ia lansung mengangkat wanita ini keatas ranjang lalu memakaikan pakaian hangat itu ketubuh Sofea yang masih saja belum turun panas di kepala dan dingin di kakinya.
"Kau sialan Ardelof!!! Brengsek, kau!!" Geram Ardelof mengutuk dirinya sendiri, karna ia kira Sofea akan menurunkan Egonya. tapi sayangnya wanita ini mempunyai harga diri yang tinggi hingga meminta saja itu sangat langka.
"Hey, buka matamu!" gelisah Ardelof menepuk pipi Sofea lembut, ia merasakan detak jantung Sofea mulai melemah hingga Ardelof benar-benar merasa tercekat dengan nafasnya sendiri.
"Aku..Aku Minta maaf." Akhirnya 3 kata sekalimat itu keluar, seumur hidup Ardelof tak pernah meminta maaf pada siapapun karna ia selalu menganggap dirinya benar dan Tinggi. tapi sekarang Ardelof merasa bersalah karna ia terpancing emosi.
"M..Mama!"
Lirih Sofea saat Ardelof mulai memeluknya menghangatkan diri, tubuh keduanya merapat dengan selimut tebal yang menjadi penyatunya tanpa cela. dengan lirihan yang terus keluar dari mulutnya Sofea tak sadar jika Ardelof tengah sangat mengkhawatirkannya.
Pria itu meletakan telapak tangannya ke dada Sofea seraya memejamkan mata memberi energi dan kehangatan darinya, ia memberi suhu tubuhnya hingga Ardelof tak mengapa jika ia yang menyerap kedinginan ini hingga Sofea merasakan hawa panas itu menyeruk diantara kaki yang menggerogiti setiap pori-pori tubuhnya.
Helaan nafas normal Sofea membuat Ardelof yang merasakan bagaimana dinginnya suhu tubuh wanita ini, ia tersenyum kecut mengeratkan pelukannya, dengan tubuh yang kembali bermeditasi menetralkan hawa dingin yang ia serap dari tubuh Sofea agar kembali berubah netral.
"Tidurlah, hm? kau sangat perasa! padahal aku hanya emosi."
Bisik Ardelof mengecup kilas bibir Sofea yang seakan menjadi candu baginya.
Namun, Wajah Ardelof kembali kelam saat membayangkan bagaimana wanita ini terluka karna perlakuan wanita sialan itu.
Ardelof menghempaskan tangannya ringan hingga angin itu lansung menyeruk keluar kamar, seringaiannya muncul lalu menatap wajah cantik Sofea yang sudah membaik.
"Tak ada yang bisa merebutmu dariku!" gumam Ardelof kembali mengeratkan pelukannya, walau terkadang ia sering berkata kasar tapi percayalah Ardelof sangat mengkhawatirkan Sofea. ia tak bisa menunjukan itu karna ia takut jika suatu saat nanti akan terulang kembali hal yang sama.
Tapi tentu, Ardelof tak akan pernah tahan bersentuhan begini hingga ia melakukan kegemarannya yaitu berolahraga sendiri tapi Sofea hanya mengerang tanpa bisa melihat apa yang dilakukannya untuk menambah Stamina malam ini.
.....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..