
Tatapan tak terbaca Dokter Gremous yang tengah menangani seorang Anak kecil yang tengah di Infus diatas ranjang sana, perban itu menyelimuti tubuhnya hampir tak terlihat membuat semua orang diistana menangis terutama Sofea yang tengah berdiri disamping ranjang Beclie yang baru saja selesai ditangani dengan 10 jahitan dikepalanya membuat Sofea teriris.
"L..Lie hiks!"
Ardelof tetap memeluk Sofea yang menangis, tak ada raut cemas diwajah Ardelof maupun Raja Petratolison yang melihat itu semua, hanya ada kedataran yang tak bisa ditebak hingga Ratu Rosmeryna mulai angkat bicara.
"Kalian diam! L..lihat dia hiks, walau..walau dia bukan penerus Kerajaan ini tapi dia tumbuh besar di sini, kalian tak punya hati nurani, ha?"
"Yang Mulia, saya mohon jika ingin berdebat tolong jangan disini. Prince Beclie perlu istirahat."
Ucap Dokter Gremous penuh hormat setengah membungkuk, Raja Petratolison melangkah pergi keluar hingga perlahan Ardelof yang mengelus kepala istrinya seketika melirik kecil dari ekor matanya.
"Sudahlah, dia akan baik-baik saja."
"A..Ard hiks, dia..dia sakit, Sayang!"
Ardelof menghela nafas halus lalu mendudukan Sofea diatas ranjang Beclie dengan para Perawat yang hanya diam tak berani menatapnya, mereka fokus pada pengobatan Prince seakan tak melihat.
"Kau mau disini, hm?"
"K..kau mau kemana?" tanya Sofea masih saja tersendat dengan mata sembabnya.
"Ada yang harus aku urus, temani dia! kalau membuatmu lebih baik, hm?"
Sofea mengangguk menerima kecupan kilas di bibirnya hingga Ardelof melangkah pergi dengan Dokter Gremous yang merasa sangat aneh, siapa wanita ini dan kenapa Putra Mahkota Ardelof begitu terlihat mencintainya bahkan lebih dari Putri Vanelope dulu.
"Apa dia baik-baik saja?"
"Maaf, saya memanggil anda apa?"
"Nona. aku bukan siapa-siapa disini!" jawab Sofea ringan meraih tangan mungil Beclie untuk ia genggam hangat, ia melihat sendiri bagaimana darah itu keluar dari kepala si kecil ini. dulu Sofea kira Vanelope tak akan tega melukai separah ini ternyata ia salah, Beclie hanya mengantarkan nyawa kembali padanya.
Dokter Gremous merasa sangat tersentuh melihat Wanita berparas bak Mahadewi ini begitu menyayangi Prince Beclie yang Notabennya adalah Putra Putri Vanelope yang sangat angkuh.
"Jangan menatapku begitu!"
"M..Maaf!"
Dokter Gremous merasa malu karna Sofea meneggurnya halus, pantas jika ia begitu karna Dokter Gremous laki-laki normal yang berumur 27 Tahun. ia sangat kagum dan terpana dengan paras Sofea sedari tadi.
"Apa dia baik-baik saja?"
"Em, Prince Beclie baik-baik saja. tapi usahakan jangan membuat ia banyak bergerak atau depresi, karna bisa saja syarafnya pecah hingga menyebabkan kelumpuhan."
Sofea sangat iba mendengarnya, seandainya hari itu ia melarang Beclie pergi maka Beclie tak akan begini. padahal Bocah ini begitu baik dan sangat polos.
"Cepat sembuh, hm? Dewi menunggumu. Lie!"
Sofea mengecup lama kening Beclie hingga mereka keluar memberikan waktu agar Sofea melepas rasa sesaknya dengan merawat Prince kerajaan.
.....
Ruangan itu lansung panas saat para Petinggi Kerajaan sudah berkumpul melakukan Pertemuan untuk melanjutkan bagaimana tanggapan Raja untuk masalah ini. Perdana Mentri Deganara dan Panglima Lester hadir duduk dikursinya masing-masing dengan tatapan yang sama-sama tajam tapi mereka tak berani menatap wajah Ardelof yang selalu menguarkan Intimidasi yang kuat.
Mata birunya terus memandang lurus seakan didalam kepalanya kosong tapi nyatanya pikiran pria itu sama sekali tak pernah bisa mereka tebak.
"Yang Mulia Raja yang Terhormat, kami mendapat desakan Rakyat untuk menjatuhkan Hukuman sesuai aturan pada Putri Vanelope atas Pengkhianatannya pada Putra Mahkkota sekaligus Kerajaan Alison."
"Iya, Yang Mulia! apalagi baru saja terjadi kecelakaan yang berat, kami rasa ini tak bisa di Toleransi."
Sambung Panglima Lester menunduk menimpali ucapan Perdana Mentri Deganara, mereka hanya memberikan Asumsi mereka yang sudah lama tertahan karna tak ingin lagi mendengar masalah ini tak kunjung selesai.
"Atas dasar apa kalian menghukumnya?"
"Kemanusiaan, Penghianatan, dan Penganiayaan!"
Sambar Kristof berbicara sopan tapi ia rasa ini benar, bukan berarti Putri Vanelope itu seorang Penerus Hangalay maka terhindar dari hukum, semuanya sama jika melanggar aturan.
__ADS_1
Raja Petratolison terdiam dengan raut tak terbaca menatap semua surat Tuntutan yang ada dimeja ini, tak ada cela untuk memberi keringanan.
"Baiklah, kirim surat pernyataan penawanan pada Kerajaan Hangalay hari ini juga, besok lakukan Pencambukan di depan Masyarakat."
"Baik, Yang Mulia."
Mereka pamit pergi setelah menerima perintah hingga disana hanya tinggal Ardelof, Kristof dan Ratu Rosmeryna yang tampak terdiam lama.
"Ada yang ingin Ibu katakan?"
Tanya Ardelof tanpa intonasi berlebih, Ratu Rosmeryna menunduk dengan bibir bergetarnya tak berani menatap Ardelof yang sudah tahu segalanya semenjak kepergiannya dulu.
"M..maafkan ibu, Nak!"
"Kenapa kau lakukan ini?"
"A..Ard, Ibu pikir dengan membiarkan Vanelope mengatur Keunganan Istana maka dia akan belajar menjadi seorang Pemimpin karna ia adalah Istrimu, t..tapi Ibu salah, dia memanfaatkan itu untuk memanipulasi Sistem Kerajaan kita."
Suara parau Ratu Rosmeryna mengingat ia telah ceroboh memberikan wewenang pada Vanelope yang ternyata tak seperti yang ia kira, selama ini ia sendiri menghancurkan Istana dan Putranya.
Tentu Kristof terkejut karna ia tak menyangka ini akan terjadi, padahal dulu Ratu Rosmeryna sangatlah bijaksana dan teliti. ada raut tak tak diduga dari wajah Ardelof yang hanya diam menatap lurus kedepan.
"Terjadi Kematian beruntun 2 Tahun terakhir di Pinggiran kota dengan 3 cabang kota. Helbors, Pajnem, dan Batalion. setiap penduduk di bantai khusus Perempuan. tak ada yang melapor?"
Tanya Ardelof memberi pernyataan lugas, pelaku Pembantaian kaum jalanan ini masih tak bisa dilacak sampai sekarang. ia memang membutuhkan kaum Wanita untuk memberi tenaga para Klannya tapi bukan Wanita yang tak berdosa dijalanan, melainkan seseorang yang sudah putus asa ingin mati atau seorang lacur yang menyerahkan dirinya.
"Itu tugasmu, carilah sampai keakarnya."
"Kau ada disaat itu. kenapa kau tak bergerak?"
Raja Petratolison mengepalkan tangannya kuat akan ucapan Ardelof yang seakan meragukannya, aura pria itu juga mulai berubah namun Ardelof menghisap semuanya hingga tak mengenai siapapun.
Sudut bibir Ardelof terangkat sinis dengan kedinginan yang membekukan tulang, mata birunya mempunyai kilatan yang besar.
"Hidup atau mati, tanah ini akan tetap ku Perjuangkan. Terserah padamu jika ingin lepas tangan!"
Tegas Ardelof lalu melangkah pergi tanpa penghormatannya membuat Ratu Rosmeryna terdiam, ia tak mengerti apa maksud Ardelof sebenarnya, kenapa Pria itu seperti memliki suatu tujuan?
"Dia sudah berubah."
"A..Apa maksudmu?" tanya Ratu Rosmeryna ciut.
"Wanita itu mencuci otaknya agar tak lagi percaya dengan semua orang. dia menganggap hanya dia yang perduli, Alison tak membutuhkan Pemimpin seperti itu."
"Maaf, tapi aku rasa yang dikatakan Ardelof itu benar! kau tak bisa hanya diam tanpa tindakan dan.."
Whusss..
"Uhukk!!"
Ratu Rosmeryna terbatuk saat Raja Petratolison menyerangnya lalu melangkah pergi dengan sendirinya hingga ia lansung tergeletak didekat meja.
......
Tatapan Ardelof tampak menghunus lembut Sofea yang tengah menunggu Beclie di atas ranjang sana, wanita itu beberapa kali melihat luka dikepala mungil itu dengan wajah khawatirnya.
Betapa beruntungnya aku memiliki Istri sekaligus Ibu bagi anak-anakku seperti kau, dulu aku kira tak ada wanita yang memang mempunyai Jiwa Murni di atas Dunia ini tapi aku salah besar, kau wanita yang sempurna.
Ardelof bersandar ke duan pintu melihat Sofea dari kejahuan, ada rasa lega dihati Ardelof saat memikirkan Pengkhianatan Vanelope padanya. ia beruntung karna berkat itu ia bisa bertemu dengan Sofea dan membina hidup dengannya, Ardelof tak lagi menyalahkan nasip buruknya dimasa lalu hingga sekarang Ardelof menganggapnya nasip yang paling baik.
"Ard!"
Ardelof memberikan senyum samarnya saat Sofea melihatnya lalu merentangkan tangan dengan isyarat yang tentu Ardelof hafal, ia mendekat dengan kedua tangan yang tadi di saku celana seketika keluar terulur meraup tubuh molek ini kembali kedekapannya.
"Apa yang terjadi? bagaimana keputusan Raja?"
"Semuanya baik-baik saja, dia akan mendapat hukumannya!"
__ADS_1
Jawab Ardelof merapikan Poni Sofea yang menghela nafas singkat lalu mengadah menatapnya penuh pemikiran.
"Sayang, aku yakin Vanelope tak akan mau begitu saja di Hukum. dia pasti merencanakan sesuatu."
"Itu bukan tugasmu, kau hanya perlu tenang, dan pikirkan tentang aku Suamimu dan Anak kita."
Sofea sedikit mendecah menyandarkan keningnya ke dada bidang Ardelof yang mengelus kepalanya dengan dagu yang bertopang ke puncak kepala Sofea.
"Kemaren aku melihat tubuh Beclie lebam-lebam."
"Lalu?"
"Aku pikir wanita siluman itu tak akan tega melakukan ini, tapi nyatanya dia tak punya hati jantung."
Ardelof terdiam saat merasakan aura Sofea semangkin pekat dan kental membuat Kalung merah yang melingkar dilehernya berkerlip kecil, ia dan Sofea memiliki Kalung yang sama dengan setengah bulan karna itu memang sebuah pola.
"Kau merasakan sesuatu?"
"Apanya? apa ada yang datang?" tanya Sofea mengadah menatap Ardelof yang mulai mengelus pipi Sofea dengan lembut, ia menatap mata hitam bening wanita ini lama hingga Galaksi itu kembali ia lihat, Portal itu masih tertutup rapat karna belum waktunya terbuka tapi Tubuh Sofea sudah mulai bereaksi.
"Kau merasakan sesuatu didalam tubuhmu?"
Dahi Sofea mengkerut mengerijab beberapa kali lalu menggeleng.
"Tidak ada, Aaard kau menakutiku!"
Decah Sofea merengek kecil karna raut wajah Ardelof seakan mengatakan ia akan menjadi Zombe atau Monster pemakan manusia.
"Kau takut?"
"Iya, eh.." Sofea menjeda ucapannya lalu menarik leher Ardelof agar ia bisa menjangkau telinga pria ini.
"Apa aku akan menjadi Monster?"
"Tidak, kau hanya akan menjadi Penyihir tua!"
"Sayangg, kau sangat menyebalkan!!"
Ardelof hanya tersenyum lembut menepuk-nepuk pelan punggung Sofea yang masih asik bicara sendiri, ia menghujami puncak kepala wanita ini dengan penuh Cinta dan merindu setiap detiknya.
"Ard, apa kalau bersama Siluman itu kau begini juga?"
"Maksudmu?"
"Sayang, ayolah! kau jangan pura-pura tak tahu."
Decah Sofea mencubit lengan Ardelof yang lansung berjongkok seraya kedua tangan memeggangi pinggang Sofea.
"Menurutmu?"
"Jangan-jangan kau.."
Sofea menutup mulutnya tak percaya hingga ia menggeram mengambil guling disamping Beclie seraya memukulkannya ke bahu Ardelof yang terkekeh pelan.
"Dasar!!! kau sangat menyebalkan, menyebalkan!!"
"Menurutmu aku bagaimana, Sayang?"
"Awas kau!! matamu perlu dibersihkan."
Sofea terus memukul Tubuh Ardelof yang merangkak menuju Sofea hingga keduanya bercanda saling menghibur diri, Sofea memperlakukan Ardelof selayaknya anak kecil yang perlu diajari hingga Seorang Putra Mahkota itu tak pernah bisa marah kalau sudah dihibur dengan tingkah Istrinya.
Keduanya larut sampai tak sadar ada sepasang mata merah yang sudah berlinang air mata, ia sudah sadar karna sudah beberapa jam setelah Operasi hingga ia mendengar semuanya.
"Se..Seandainya, kau I..Ibuku. aku..aku pasti sangat senang!"
Batinnya menangis melihat Sofea yang sangat menyayanginya hingga wanita itu ada disini, sedangkan wanita yang melahirkannya ke Dunia ini tak pernah ada saat tangisannya luruh membawa kesakitan.
__ADS_1
.....
Vote and Like Sayang..