Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
The Battle of Lords


__ADS_3

Sofea menatap sendu kepergian Ardelof diambang pintu sana dengan tubuh gemetar ia beralih menatap Jendela, keadaan luar sudah sangat mengerikan dengan angin yang terus bergejolak seakan menghisap keberanian mereka.


"Maaaa!!!"


Teriak Sofea mencengkram perutnya yang kembali terasa dililit kuat hingga Mama Netty lansung menerobos masuk, ia terkejut melihat wajah pucat Sofea yang benar-benar tanpa rona kehidupan dengan mencengkram kuat selimut yang membalut tubuhnya.


"M..Maaa hiks, Maaa S..Sakitt!"


"Nak, kau..kau pasti biasa, bertahanlah!"


Mama Netty duduk disamping Sofea yang benar-benar merasa tubuhnya terbelah, tirai-tirai didekat Pintu dan Jendela itu lansung berterbangan karna derasnya angin dan hujan yang melanda kuat.


"Putri, tarik nafas anda pelan-pelan."


Sofea mengikuti arahan dengan baik tapi rasa sakitnya tak kunjung hilang, bahkan ini menjalar ke bagian dadanya hingga Mama Netty terkejut melihat dada Sofea berurat biru menghitam yang terus menjalar ke arah leher.


Cetasss...


Suara petir yang kembali menyambar deras membuat Mama Netty benar-benar tak tahu harus apa lagi, ini sangat berbeda dengan lahiran Normal biasanya dan ini pasti sangat menyakitkan.


.........


Derasnya hujan ini lansung membasahi Tanah Alison yang tengah dilanda badai, angin yang sangat kuat memporak-porandakan Pemungkiman Masyarakatnya hingga tak hayal petir diatas sana menyambar keras kearah Gedung-Gedung pencakar langit yang lansung rubuh karnanya.


Brakk..


"Aaaa!!!"


Teriakan para Masyarakat yang tengah berjalan didekat Terminal ada Papan LED yang lansung tumbang menimpa kejalan hingga menimbulkan kekacaun yang besar.


Malam ini semangkin pekat dengan teriakan para Manusia yang tengah didatangi oleh Mahluk aneh yang lansung menyerbu Tanah Alison.


"Mau kemana?"


"Aaaaa!!!!"


Teriakan itu bercampur rasa takut saat melihat Segerombolan Mahluk tanpa bagian organ bawah yang berbentuk asap berterbangan mengelilingi langit kota ini, mata mereka merah menyala mengobarkan api bak lentera kehausan.


Gemercik langkah berlarian, dengan jeritan tertelan akan kematian itu semuanya lansung berpusat kependengaran seorang pria yang sudah berdiri ditengah Lapangan Istananya hujan itu mengguyur Deras membasahi tubuh kekar yang tengah meredam rasa sakit akan teriakan keras Istrinya.


"Nak!"


Seorang pria dengan tubuh gagahnya yang tengah berdiri dibelakang Ardelof, wajahnya terlihat panik dan begitu khawatir mendengar dentuman keras diatas sana dan jeritan kuat dari para pelayan yang ketakutan.


"Ard, bagaimana ini? semuanya berlarian, mereka sudah mengacau di Tanah ini."

__ADS_1


Pria yang tak lain Raja Petratolison itu mendekati Ardelof yang sudah mengepalkan tangannya kuat meremas air yang menyusuri tubuhnya, Netra biru itu menajam dengan rahang menggigil menahan amarah.


"Istrimu? dia..dengar jeritan itu.."


Whusss..


Raja Petra terpental cukup jauh saaat Ardelof berbalik dengan gejolak angin yang membawa air hujan yang menggila, tak perduli akan basah dan langit yang diterbangi Klan Black-Clover, dimata Ardelof hanya ingin Istri dan anaknya baik-baik saja.


"Hanya menjadi Pecundang."


"Benarkah?"


Raja Petratolison yang tadi tersungkur lansung berdiri dengan raut wajah berubah-ubah, terkadang ia menatap penuh kesedihan Ardelof dan terkadang mata birunya menghitam membuat suasana disekitar mereka benar-benar dingin.


"Aku ini Ayahmu, ayo kita lihat bagaimana Istrimu melahirkan, Nak!"


"Kau tak akan bisa menyentuhnya!"


"Hm, dari mana kau tahu?"


"Kau Mahluk kotor yang begitu NA'IF."


Suara Ardelof terkesan sangat merendahkan membuat Raja Petra yang tengah menahan kemurkaan itu lansung menatap Ardelof menyala-nyala.


"Mahluk buangan dari Dimensi lain, yang mencoba mengungsi ketempat kami."


"Dasar bedebah!"


"Brengsek!!!!"


Duarrrr..


Suara ledakan diatas langit sana membuat dentuman keras menggelegarkan tanah, asap itu lansung memutar angin yang mengelilingi Istana ini kecuali Papiliun didekat Istana Utama karna Ardelof menumpuhkan semua Klannya disana.


Wajah Raja Petra yang tadinya berona manusia seketika perlahan berubah menunjukan paras aslinya, tangan yang berubah menjadi cakar tajam dengan kuku hitam panjang dibaluri lendir, wajahnya berubah menjadi tengkorak dengan mata hitam menyala sesekali berkobar merah.


Ardelof memperhatikan betul perubahan itu dari mulai segi Visual hingga auranya yang berubah begitu panas dan sangat menyesakan, Ardelof tetap mempertahankan pelindung dibagian Papiliun bahkan ia menampakan kakinya kuat meredam aura yang dikeluarkan Mahluk yang berubah menjadi Deugon ini agar tak dirasakan Sofea.


"Kau takut?"


Lidah panjang itu terjulur dengan sangat menjijikan, Sebuah Jubah hitam yang koyak menampakan Tubuh tulangnya, terkadang ia berubah menjadi Raja Petra, lalu menjadi Ardelof sendiri hingga Wujud keduanya sama-sama berubah seperti Ardelof.


"Sedari dulu Ayahmu melawanku, aku sudah muak melihat Keturunan Alison terus berjaya di Negara ini, aku ingin membuat kalian semua juga terkurung dalam Portal kegelapan itu!!!!"


Ia tertawa keras menciptakan dentungan hingga membuat para pelayan yang mendengarnya lansung terasa memecah gendang telinga mereka, Ardelof tetap menghalang itu untuk terdengar oleh Sofea dan seluruh orang di Papiliunnya hingga Deugon lansung terhenti menatap Ardelof dengan kemurkaan.

__ADS_1


"Ayo, Lawan aku!"


"Aku tak pernah melawan yang lemah!"


"Kau memang berani."


Deugon melangkah memutari posisi Ardelof dengan jarak 5 meter dari Tubuh kekar itu, disepanjang langkahnya terus menatap Ardelof yang hanya diam menatap lurus tapi percayalah ia tak akan diam merasakan Mahluk ini tengah menelisik posisi tubuhnya.


Whuss..


Ardelof lansung berbalik saat serangan itu dilakukan dengan kilatan netra birunya menajam melempar cahaya biru yang sama dari genggamannya kearah Tubuh yang berbentuk Visual sepertinya itu hingga kekuatan merah dan biru dari sinaran kilat setajam pisau itu lansung memecah dengan kuat.


Duarrrr..


Ardelof berputar Tegas tanpa goyah dari posisi kakinya yang terus mempertahankan kekuatannya, netra Mahluk itu lansung berkobar merah tak surut dibasahi air sementara Ardelof tengah berusaha mencari apa yang menjadi kelemahan mahluk ini.


"Hm, kau sama dengan Ayahmu."


Ucap Deugon kembali melangkah memutari Ardelof yang tetap dia seperti biasa, gestur Cool yang tak terkesan memburu tapi penuh rencana dari mata telitinya.


"Ayahmu, si pria Tampan, nyaris memiliki apapun. aku iri dengannya, itu karnanya aku mengurungnya didalam Portal yang sebentar lagi akan terbuka."


"Dunia ini, bukan tempat untuk Pecundang sepertimu."


Ardelof menarik tangannya kesamping hingga kilauan biru itu menebas seperti kilat dengan Deugon yang menghindar mengelak dengan melayang diatas sana hingga ia kembali menyerang dengan memanfaatkan kabut yang menghadang penglihatan Ardelof.


Whusss..


Ardelof tersigap saat dibelakangnya ada pisau yang ingin menusuknya tapi Ardelof menghempaskan tangannya lalu kembali terkepal menarik rantai yang ia ulur dari kabut hitam ini.


Brakkk..


Benturan yang terjadi ke pepohonan sana hingga Ardelof menarik rantai itu kuat sampai membuat kabut hitam itu bergejolak sesuai kemarahan dari Mahluk yang tengah diikat dengan rantai yang berkobar biru itu.


"Sialan!!!"


"Hm, kau takut?"


Tanya Ardelof menyeringai menggenggam rantainya dengan satu tangan dengan netra terus menatap Deugon yang memberontak, tapi Ardelof yakin Mahluk ini penuh dengan tipu muslihat hingga..


"Disini!"


Duarrr..


.....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2