
Semua masyarakat tampak berkumpul di Lapangan Khusus Eksekusi para Pelanggar Aturan Kerajaan, mereka mengelilingi sebuah Bangkar luas yang menjadi pembatas area dan dan luar dimana didalam sana ada Tanah polos yang begitu dingin dengan bercak darah yang tak dibersihkan sama sekali menjiprat Bangkar besi yang menyeramkan ini.
Mereka sangat senang kali ini Keadilan diteggakan karna mereka sudah muak dengan Kepura-puraan Putri Hangalay yang menghianati Putra Mahkota di Tanah Alison ini.
"Apa benar pagi ini Putri Vanelope mau di Exsekusi Cambukan?"
"Pengumuman semalam iya, tapi aku tak tahu jika sudah begini."
Desas-desus mereka tak sabaran, walau salju mulai menerpa tapi Pagi ini tak ada yang mau beranjak dari balik Bangkar karna rasa Penasaran yang begitu tinggi.
apalagi dua manusia yang tadinya tengah membeli perlengkapan Bayi itu tengah menatap kearah dalam Bangkar, mereka sedikit tak percaya karna Putri Hangalay tega melakukan ini.
"Apa disana akan ada pertunjukan?"
"Aku tak tahu."
Jawab Gibran singkat tanpa mau bicara lebih, ia sedari tadi melihat kesemua arah mengharapkan ia melihat seseorang yang sudah lama menghilang tampa kabar dengan Keluarganya, entah kemana lagi ia mencari agar menemukan Wanita cantik itu.
"Bran, aku ingin pulang."
"Hm, Ayo!"
Gibran mengikuti langkah Yella yang sudah berbadan dua, mereka terpaksa menikah karna ternyata benih itu sudah tumbuh dan Yella menyesal karna sampai saat ini Gibran masih mencintai Sofea hingga hidup mereka sama sekali tak berwarna.
"Yang Mulia Raja sudah Datang!!!!"
Suara Kasim yang mengumandangkan membuat semua orang menepi karna Deru Mobil dari arah jalan sana lansung melesat masuk menuju Parkiran Khusus para Anggota Kerajaan.
Ratusan Pengawal itu juga mengiring hingga para Tentara Kerajaan mengamankan situasi membentuk Pola penjagaan yang ketat hingga mereka hanya samar-samar melihat siapa yang keluar dari Mobil-mobilnya masing-masing.
"Yang Mulia!!!"
Sahut mereka memberi salam hingga Raja Petratolison yang sudah memakai pakaian khasnya seorang raja hanya mengangguk lalu melangkah diatas Karpet merah masuk kedalam pintu khusus bagi mereka hingga Kursi khusus bagi para Yang Mulia Kerajaan itu sudah ada dari atas sana tepatnya seperti Loteng dengan menghunus tempat Exsekusi dibawahnya.
Jejeran para pengawal siap siaga mewaspadaui segala serangan yang bisa saja terjadi di tempat ini hingga semuanya sudah menduduki Kursi masing-masing dengan para Rakyat Batalion melihat jelas wajah-wajah cantik dan berbeda Keluarga Bangsawan Alison itu.
"Perhatian semuanya, Exsekusi Putri Hangalay pagi ini akan terlaksana setelah persetujuan dari Kerajaan Hangalay dan Tuntutan Kerajaan Batalion Alison!!!"
"Baik!!!!"
Jawab mereka semua menurut sedangkan Ardelof yang baru datang tampak sangat gagah dengan balutan Pakaian Putra Mahkotanya dengan Mantel tebal yang seperti Perwira Kerajaan yang sangat berkharisma menuduki Kursi disamping Raja Petratolison dan Ratu Rosmeryna, tatapan mata birunya hanya lurus kedepan tanpa mau banyak bicara.
"Tak sia-sia aku kesini!"
"Kau benar, Putra Mahkota memang sangat sempurna, dasar tak tahu diri!"
"Kalau aku jadi Putri Hangalay, mendapat Suami seperti itu saja sudah sangat bersyukur."
Decah mereka membuat seorang wanita yang sudah dibawa dari ruang bawah tanah itu lansung menggeram mengepalkan kedua tangannya yang dirantai, ia hanya memakai Kemban putih dimana kulit mulusnya bisa terlihat tapi tatapan Rakyat Batalion bukan memuja lagi melainkan rasa jijik yang teramat.
"Dasar Lacur!!!!"
"Huuu!!!!!"
Teriakan mereka membakar habis amarah yang mendidih ditubuh Vanelope yang tak lagi tahu apa yang harus ia lakukan, ayahnya saja sudah tak perduli dan membuangnya membuat Jiwanya ingin menghancurkan segalanya.
"Duduk!"
Para Algojo sana mendorong kasar tubuh Vanelope ke permukaan tanah yang basah hingga ia merasa mengigil apalagi ini musim dingin dimana semua orang memakai Mantelnya hanya ia yang memakai kain ini.
"Putri Vanelope Hangalay, kau dijatuhkan hukuman Cambuk 100 kali dengan sorakan dari Rakyat Batalion, setelah ini anda akan diasingkan ke Perbatasan sesuai Aturan Kerajaan kami bagi wanita lacur dan pengkhianat!"
"Aku bukan Lacur, Brengsek!!!"
"Huuuu!!!! kalau bukan lacur apa lagi? ******* ha!!!!!"
Vanelope mengepalkan tangannya kuat mendengar itu, tangannya diikat dengan rantai dikedua sisi tiang dengan kepala yang tertunduk dan lutut yang ditekuk hingga dua Algojo disampingnya mulai melakukan beberapa pembacaan doa khusus agar ini bisa berjalan lancar.
"Yang Mulia!"
"Laksanakan!"
__ADS_1
Cetas...
"Aaass!!!"
Vanelope menjerit keras saat Cambuk yang memelintir kecil namun itu sangatlah perih dan nyaris membakar kulitnya, tapi bukannnya kasihan para Rakyat diluar sana malah bersorak bahkan mereka merekam ini semua hingga disetiap desisannya Vanelope bersumpah akan menghancurkan Tanah Alison sampai keakar-akarnya.
Cetass..
Suara cambukan yang menggelegar disaksikan semua orang apalagi Kamera juga disiapkan agar semua orang tahu kalau Kerajaan Batalion Alison bukanlah Kerajaan tempat bermain api.
"Tutup mata kau tak mau melihat."
"Aku bisa, Sayang!"
Gumam Sofea yang duduk diatas pangkuan Ardelof, ia sudah tak bisa dilihat semua orang hingga ia mudah berkeliaran tapi ia tak berani karna ini sangat ramai hingga ia hanya bisa duduk diam menyaksikan kepedihan itu.
Panglima Lester dan Perdana Mentri Deganara saling pandang mereka sangat bingung, Putra Mahkota terlihat bertopang kaki angkuh tapi mereka menghirup aroma harum bunga yang sangat menenagkan tapi berasal dari Tubuh Ardelof yang biasanya menguar aroma Maskulin yang khas, tapi ini bercampur jadi satu hingga mereka memejamkan matanya merasa sangat rileks.
"Lain kali jangan memakai Parfum apapun."
"Ard, kau tahu sendiri aku tak memakai apapun. apa aku pakai punyamu, Saja?"
Ardelof hanya diam menatap kesal Sofea yang mencengir bersandar ke dada bidangnya hingga Ardelof tersenyum kecil memainkan jari-jari lentik wanita ini digenggamannya karna semua orang tak akan bisa melihatnya dengan jelas kecuali Raja Petratolison yang paham betul siapa yang tengah dimanja pria ini.
"Jaga sikapmu."
"A..Ard!"
Sofea lansung bersembunyi merangkuh leher Ardelof yang hanya santai tapi percayalah jika ada yang memilki sihir seperti mereka maka akan melihat ada Pembatas sebuah cahaya biru yang melindungi tubuh Sofea dari semua serangan.
"Tak usah takut, dia hanya mengertakmu!"
"Benarkah? tapi aku rasa dia serius sayang! tapi anehnya kenapa matanya berubah-ubah."
Ardelof terdiam mengeratkan pelukannya ketubuh Sofea yang sangat lugas menyebutnya hingga Ardelof mengulur tangannya mengelus perut datar Sofea agar lebih tenang.
"Apa yang kau lihat?"
"Yang Kau lihat?"
"Tidak!"
Degg..
Ardelof berusaha tetap santai seperti biasa dengan suara yang pelan membatasi pendengaran semua orang, hanya ia dan Sofea yang bisa berbicara dan mendengar ucapannya sendiri.
"Warna matanya itu suka berubah-ubah, dulu aku lihat memang Biru tapi setelah beberapa hari ini warnanya berbeda, Sayang! terlihat sangat menyeramkan."
Ucap Sofea bergidik lalu menatap kebawah dimana Punggung Vanelope sudah berdarah di cambuk berulang kali membuat ia bergidik, nyatanya Kerajaan Batalion sangat kejam, apalagi ia melihat banyak darah di pagar pembatas hingga pasti banyak yang sudah Terexsekusi sebelum ini.
"Kau mau seperti itu?"
"Memangnya kau tega, ha? aku ini kan Penyihirmu. jadi jangan jahat-jahat."
"Jika kau mengkhianatiku maka itu akan terjadi."
Sofea merenggut lalu membayangkan jika ia disana, tapi Sofea tersenyum kecil menatap Ardelof yang sok kuat akan melihatnya begitu, saat ada luka kecil saja pria ini sudah seakan menghancurkan semua orang.
"Kau yakin?"
"Hm, iya!"
"Kalau begitu lain kali akan ku coba!"
"ُKauuu!!"
"Maaf, Sayang! aku bercanda."
Sofea mencengir mengecup kilas bibir Ardelof yang dibuat exstra sabar, Istrinya memang selalu membuat kegaduhan disetiap nafasnya tapi juga menjadi penenag baginya.
Namun, seketika Sofea terkejut saat melihat samar-samar ada seseorang diluar Bangkar dan ia kenal itu dan sangat.
__ADS_1
"Y..Yela."
Gumam Sofea berdiri dari duduknya hingga Ardelof lansung memeggang lengan Sofea yang ingin pergi.
"Kemana?"
"A..Ard, m..mereka..mereka.."
Sofea menunjuk Yella dan Gibran disana hingga Ardelof mengeraskan wajahnya melihat pria itu, tapi Sofea sudah sangat merindukan sahabatnya itu.
"Sayang, aku..aku mohon biarkan aku bertemu dengan mereka."
"Tidak!"
"Ard, aku..aku mohon, Sayang!"
Pinta Sofea mengembun membuat Ardelof memejamkan matanya menormalkan rasa emosi dan tak terima tapi ia yakin Sofea tak akan kembali pada pria itu lagi.
"Pergilah bersama Quxi!"
Sofea merekakahkan senyumannya lalu mengecup penuh tekanan bibir Ardelof lalu melangkah pergi dengan Quxi yang sudah datang mengiringi langkah cepat wanita ini tapi mata Ardelof kembali datar melihat kejadian dibawah sana dengan dingin.
Whusss..
Semua orang terkejut saat angin mulai menyerbu kencang membuat beberapa pohon diluar bangkar Tumbang higngga jeritan para manusia itu melengking.
Brug..
"Aaaa!!!"
Teriak mereka menyingkir hingga membuat para Tentara Kerajaan lansung mengamankan Rakyat yang mulai berlarian, cuaca mulai gelap dengan dentuman gemuruh diatas sana tiba-tiba terdengar hingga perlahan mentari yang tadi samar-samar terlihat lansung diselimuti kabut tebal hingga membuat suasana remang seperti malam tapi anginnya seakan memporak-porandakan semua alam.
Whuuss..
Brakk..
"Menjauh dari Bangkar!!!!"
Teriak Bala Tentara mengamankan agar tak ada korban jiwa, Ardelof lansung berdiri dari duduknya dengan Panglima Lester mengamankan Raja dan Ratu Rosmeryna, angin itu menggulung kuat hingga memantik salju yang berkumpul menjadi satu.
"Sialan kalian!!!"
Geram Ardelof menghempaskan tangannya melindungi para Rakyatnya dari gulungan angin itu hingga dentuman dari atas sana menggelegar seperti petir seakan ada yang mengarahkan mata angin ke tempat ini.
"Jangan berlindung dibawah Pohon, kembali ke tempat kalian!!!!"
"Baikk!!!"
Mereka berlari sesuai penjagaan tentara tapi tidak dengan Yella yang tak kuat berlari karna ia sedang hamil muda, Gibran berusaha menarik Yella tapi anginnya sangat kuat.
Brakk..
"Aass!!"
Yella meringis sakit saat satu batang pohon sepaha menimpa kakinya hingga membuat Sofea yang melihatnya lansung berlari mendekat karna semua orang sudah berlari menyelamatkan diri.
"Apa mereka melihatku?"
"Iya, kau bisa pergi!!"
Sofea lansung menghampiri Gibran yang mengangkat timpaan Pohon ini dengan jeritan sakit Yella ditengah amukan badai.
"Aaaass hiks!"
"Yella!!"
Degg...
...
Vote and Like Sayang..
__ADS_1