Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
Menengkan hati!


__ADS_3

Keringat itu bercucur dengan deras, nafas memburu yang memacu dengan keras menembus Portal kepanasan dan puncak dari birahi yang telah diterbangkan ke awang-awang, erangan yang lolos lansung memekik hebat menyampaikan bagaimana rasanya saat dinding ketat dan lembab ini menghisap pusaka perkasa yang terus memacu sedari tadi.


"Akhhs!"


Sofea tak mampu menahan ******* halusnya saat tubuhnya sudah digempur dengan sangat nikmat oleh sang suami, rambut panjangnya yang tadi bergelombang sudah acak-acakan karna pria ini meluapkan kekesalannya pada semua perbedaan yang ia lakukan.


Tubuh polos keduanya saling menyatu dibawah pacuan yang dipercepat ditengah tubuh Sofea yang seperti kucing diatas ranjangnya, Sofea mencengkram seprey dibawahnya seraya meraung keras bersamaan dengan Ardelof yang sudah ingin meraih puncak nirwana yang sudah kesekian kali mereka daki bersama.


"A..Ard!!!"


"A..Aku.."


Ardelof memacu hebat sampai deritan ranjang dan decipan kulit itu saling beradu menipiskan atsmofer yang membakar darah mereka yang mendidih, pacuan Ardelof tak main-main seakan menjadi kuda jantan perkasa yang tengah memburu mangsa dan akhirnya..


"Akhhs!!!"


Keduanya melenguh keras saat lahar panas itu sudah menyembur melepas diri dari bengkakan kerasnya, Tubuh Sofea melenting kuat bergetar merasakan kehangatan diperutnya hingga ia melemah menjatuhkan tubuhnya begitu saja dengan Ardelof yang belum mau melepas penyatuan mereka dengan ikut berbaring dibelakang tubuh lengket istrinya,


Wajah keduanya penuh dengan binar kepuasan, mungkin kalau Ardelof tak memikirkan Sofea tengah hamil ia tak akan mau berhenti sampai tubuh benar-benar sudah Over mengeluarkan tenaga.


"Kau sangat nikmat!"


Bisikan manja yang terdengar menyenangkan ditelinga Sofea hingga ia hanya membiarkan Ardelof membenamkan wajahnya ke ceruk leher jenjangnya menikmati aroma Fronom setelah bercinta yang sangat ia sukai ini.


"Ard!"


"Hm? ada apa?"


"Kau jangan seperti tadi pagi lagi, ya?"


Ardelof terdiam menatap wajah sendu Sofea yang juga menatapnya, mata Sofea sudah berubah seperti biasa karna Ardelof melepas lensa kontak itu dari netra indah istrinya, ada rasa sesak didada Ardelof saat pagi tadi ia bersikap acuh menyiksa diri keduanya.


"Maafkan aku, aku sangat tak mengerti soal sikap wanita, Sayang!"


"Bukan itu, kita hanya butuh komunikasi! jangan diam-diam saja kalau ada masalah, aku tak mau tidur dengan hati tak tenang."


Sudut bibir Ardelof terangkat damai hingga ia mengecup lama punggung tangan Sofea yang tadi pagi merah karna luka saat memasak, tentu semua Pelayan Istana hingga sampai Ke Koki sialan itu Ardelof amuk hingga nyaris memecatnya.


"Apa ini masih perih?"


"Kau sudah mengobatinya, kan?"


"Tidak!"


Sofea terkekeh mencubit hidung mancung Ardelof yang sangat pandai bermain peran, Sofea tahu siapa yang tadi malam menyelinap ke kakamarnya dan menyelimuti tubuhnya, ia juga tahu kalau Ardelof mengobati luka ditangannya tanpa ia sadari.


Semua itu terungkap saat Ardelof mengatakan disela bercinta tadi dimana ia tak tahan berjahuan hingga rela tertidur diatatas Karpet didekat ranjang takut Sofea bangun.

__ADS_1


"Kau tak bisa membohongiku, Yang Mulia!"


"Kau memang Penyihir!"


Ardelof mengecup kilas bibir bengkak Sofea yang tadi ia kuasai habis-habisan hingga tubuh istrinya benar-benar lebam dan merah.


"Ard, soal pria tadi aku minta maaf!"


"Hm, kenapa kau sedekat itu dengannya?"


Tanya Ardelof membawa Sofea kembali kepelukannya, Ardelof memang merasa cemburu dan panas tapi dari cara Sofea dan pria itu menatap ada hal lain yang tak ia tahu, dan Ardelof akan mencarinya.


"Maaf, Sayang! aku tak tahu kenapa dia itu sangat menyebalkan tapi juga membuatku mengingatnya!"


Plapp..


"Kauu!!"


Sofea merenggut saat Ardelof malah menepuk bokongnya yang sudah merah, raut kecemburuan itu lagi-lagi Sofea lihat hingga terlihat menggelikan.


"Aku tak suka mmebahasnya!"


"Kenapa? tadi kau bertanya!"


"Hm!"


Ardelof hanya acuh melepas pelan penyatuan mereka hingga Sofea mengigit bibir bawahnya menahan suara, akhirnya lolos dan Ardelof menggapai tisu basah diatas meja dekat ranjang membersihkan bagian inti keduanya.


"Sayang!"


"Hm? ada apa?"


"Aku la.."


"Itu.."


Ardelof menunjuk nampan yang sudah ada diatas Meja didepan Sofa, mereka sudah kembali ke Perusahaan Agensi hingga pertempuran itu kembali dilakukan di kamar empuk ini.


"Makanan?"


"Hm! mau makan sekarang atau mandi?"


"Sekarang, aku sudah lapar!"


Ardelof mengangguk melempar Tisu ditangannya kedalam Tempat sampah disamping ruangan ini dengan tubuh polos yang turun dari panjang membuat Sofea menutup wajahnya bersemu melihat tubuh kekar suaminya yang sangat Perfeck hingga bagian menyiksa itu tampak perkasa.


"Pakai bajumu, Ard!"

__ADS_1


"Memangnya kenapa? kau juga sudah sering merasakannya!"


Acuh Ardelof mengambil Nampan dengan satu tangan lalu kembali melangkah mendekati Sofea yang merasa malu sendiri hingga ia beringsut duduk dikepala ranjang dengan Ardelof yang duduk disampingnya.


"Ard, sebenarnya apa yang terjadi?"


"Apanya?" tanya Ardelof seraya fokus membuka bungkusan Almunium dari Tempat makan yang masih panas hingga terlihatlah makanan kesukaan Sofea yang berbahan Sefood.


"Kenapa kemaren malam kau seperti itu?"


Ciut Sofea membuat Ardelof lansung menghentikan jarinya yang mengaduk makanan yang masih panas itu, Sofea menunduk takut Ardelof marah membahas soal itu.


"Ada yang ingin menghancurkan Kerajaan dan Keluarga kita!"


"Ma..Maksudnya?"


"Kau tahu sendiri kalau aku bukanlah Pria biasa seperti diluar sana, aku punya Musuh yang terlihat dan tidak, Klanku semuanya selalu bersiaga akan penyerangan Musuh gelap, Black-Clover Klan gelap yang sudah merubah Wanita itu menjadi Mahluk yang sering menganggumu!"


"V..Vanelope?"


"Hm! aku seorang pembunuh besar, aku tak bisa membiarkan Klanku mati kelaparan!"


"A..Apa mereka juga?"


"Hm, mereka juga anggota yang sama, tapi dibawah kendaliku!"


Sofea lansung terdiam menatap wajah Tampan Ardelof dengan rambut acak-acakannya yang tampak sexsi, ia dulu berfikir Anggota Klan gelap suaminya berbeda tapi nyatanya itu juga mengincar nyawa manusia.


"Aku tak ingin kau seperti ini terus, Ard."


"Hm, aku juga! tapi aku tak bisa berhenti karna aku masih butuh mereka."


Jawab Ardelof seraya menyuapi Sofea yang hanya bisa diam menerimanya, ia juga memahami kondisi Ardelof yang memang sangat sulit dan ia rasa ia tak bisa mendesak tanpa arah.


"Baiklah, lain kali ajak aku menemui mereka."


"Kau yakin?"


"Em, yah! mereka juga harus tahu siapa Istri tercinta Yang Mulianya ini."


Sofea begitu membuat suasana berubah yang tadinya serius sekarang berubah jenaka, entahlah terkadang ia juga merasa aneh kenapa kehidupannya yang dulu hitam sekarang ia bisa melihat Kehidupan yang sebenarnya itu bagaimana.


"Jelas, tapi kau nanti jangan menciut melihat mereka, Penyihir!"


"Tidak akan, aku akan menasehati mereka jangan makan manusia, lebih baik makan masakanku saja, itu 4 sehat 5 sempurna!"


Sofea terkekeh sendiri mendengar jawabannya hingga Ardelof merasa damai melihat wajah berbinar istrinya, saat wanita ini jauh sedetik saja Ardelof bisa menghancurkan apa saja, tapi ketika wajah cantik merah merona ini tersenyum seakan menyuburkan hatinya yang berbunga.

__ADS_1


....


Vote and Like Sayang..


__ADS_2