Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
Sudah tahu semuanya!


__ADS_3

Langkah tegas khas pria itu lansung ditatap penuh keanehan semua orang, ia hanya menepis tatapan itu seraya terus melangkah walau ia sedang bergelut dengan pikirannya tentang kembalinya Ardelof. tentu ada rasa sangat senang yang menjalar dihati Renoval ketika membayangkan bagaimana bahagianya Sang Adik yang sangat ia cintai.


"Selamat datang, Tuan!"


"Aku ingin bertemu dengan, Putra Mahkota."


Ucap Renoval dengan sedikit menatap ke Lift sana, dimana Digo telah bersiap dengan Kopernya dan tentu pria itu tak akan lagi tinggal disini.


"Hay, Tuan!"


"Kemana?"


Digo dengan senyum mekar tanpa hambatan itu lansung menghentikan langkahnya didekat Renoval yang menatap datar Koper besar berukuran agak standar ini.


"Itu, aku harus tinggal di Apartement. karna ada pekerjaan disana! lagi pula untuk Tuan Putri dan Jagoan mu itu sudah ada yang menjaga." Digo sedikit sendu.


"Hm, Hati-hati!"


Digo mengangguk lalu melangkah pergi, ia sudah pamit pada Nenek Maryam dan Ratu Rosmeryna yang baru saja sadar tadi, lagi pula ia tak mau menganggu keluarga kecil itu lagi.


Selang beberapa waktu kepergian Digo didepan pintu sana. Lift disamping Renoval lansung terbuka memperlihatkan sesosok gagah yang bertambah mempesona itu tengah berdiri tegap bak Pengabdi Negara yang sempurna, mata birunya melayang tajam menatap datar Renoval yang mengendalikan raut keterkejutannya.


"Kapan kau kembali?"


"Kemaren Siang!"


Jawab Ardelof tak berlebihan dengan kedua tangan di kedua saku celananya yang berstelan formal rapi menyempurnakan tampilan Coolnya dengan langkah yang tegas tanpa didampingi sesosok cantik dan mungil itu.


"Kenapa bisa terjadi?"


"Akan ku jelaskan nanti, sekarang kau harus menjadi berguna datang kesini."


Ucapan Ardelof mendapat kerutan dahi Renoval yang menyipitkan matanya bingung.


"Apa?"


"Bantu Asistenku menyiapkan acara Pelantikan besok!"


Itu terkesan perintah, bukan permohonan yang terdengar sangat angkuh dan sangat menyebalkan. sungguh Renoval salah datang mengunjungi pria ini.


"Hm, aku ingin bertemu adikku."


"Dia sedang tidur!"


Jawab Ardelof menatap penuh ancaman Renoval yang mengeraskan wajahnya, sudah jelas pria ini yang membuat Sofea kelelahan sampai jam 9 ini tak bangun, padahal Sofea selalu bangun pagi.


"Sial!! kau memang pria tak tahu diri!"


"Hm, kau baru tahu!"


Jawab Ardelof acuh lalu melalui Renoval begitu saja menuju tangga kamar Ibunya dengan para pelayan yang menunduk memberi hormat tapi Ardelof hanya menjawabnya dengan anggukan datar saja seraya melanjutkan langkahnya.


Setelah beberapa lama melangkah menyusuri karpet merah berdinding Emas ini, ia sampai ke lantai dimana kamar Ibu dan Ayahnya berada. aroma angus ini membuat Ardelof menyeringai tipis karna tahu apa yang tengah dilakukan pria itu hingga ia melangkah menuju pintu kamar Ibunya.


"Ard!"


Ternyata Ratu Rosmeryna sudah lebih dulu membuka pintu menatap Ardelof lembut dengan wajah yang sudah lebih berseri dari biasanya, auranya pun sangat feminim dan anggun jauh dari yang biasanya.


"Selamat pagi, Yang Mulia!"


"Pagi, Nak! apa ada masalah?"


Tanya Ratu Rosmeryna membuka pintu lebar hingga Ardelof melihat Raja Petra hingga tengah bermeditasi diatas Ranjang untuk mensucikan tempat ini, semua jejak Deugon dari tubuh Istrinya dan Kerajaan ini ia hanguskan.


"Istriku sudah menormalkannya."

__ADS_1


Ardelof menarik kesadaran Raja Petra hingga pria paruh bayah itu menyudahi Meditasi penyerapannya lalu kembali bersikap Normal menatap Ardelof datar.


"Hm, itu karnanya aku muda melindunginya. dia sangat bertanggung jawab."


"Hm, bagaimana dengan Ibu?"


Ratu Rosmeryna menatap Raja Petra lalu menunduk, memang ia merasa sangat tak berguna dan tak lagi pantas tapi Raja Petra sangat bijak memaklumi itu karna memang Ratu Rosmeryna bilang ia tak pernah melakukan pergaulan karna Deugon tak pernah tidur dengannya, sejak kembali dari perang ia hanya melayani makan dan sejenis keformalan saja. apalagi sikap kaaar pria itu sangat berbeda dengan Suami Aslinya.


"Tak apa, dia sudah bisa mengenali dirinya sendiri, dia seperti dulu karna aura hitam yang mulai memenuhi hatinya."


"Maafkan Ibu yang begitu jahat padamu, Ard!"


Ardelof mengangguk membuat Ratu Rosmeryna lansung berhambur memeluk dengan keharuan. Ardelof pun mengerti karna ia tak ingin mengulang hari yang lalu.


"Hm, sudahlah. lagi pula semuanya sudah berlalu!"


"Terimakasih, Nak! Ibu berjanji tak akan begitu lagi."


Ardelof mengangguk menatap Raja Petra yang menatapnya penuh kebijaksanaan, keduanya telah menyambungkan suasanan tak seperti dulu.


"Kapan kau mau di lantik?"


"Besok, bersama Istriku!"


"Hm, persiapkan diri kalian! karna dia akan datang."


Dahi Ratu Rosmeryna lansung mengkerut dengan kata 'Dia', maksudnya apa?


"Suamiku, siapa yang kalian maksud?"


"Dia lepas dari rantaian Ardelof, dan mengambil Putranya dan sekarang bersembunyi di Hutan Kematian, aku tak tahu dia akan jahat atau tidak tapi yang jelas dia akan datang kesini dalam Wujud lain, yang jelas persiapkan saja diri kalian semua."


ajelas Raja Petra berdiri hingga Ratu Rosmeryna mengambil kesimpulan atas hilangnya Beclie selama ini itu karna Ibunya sendiri.


"Hm, aku akan beri tahu Istriku."


Ardelof terdiam sejenak menatap Raja Petra yang menarik sudut bibirnya kecil mendekati Ardelof yang agak teraut kesal.


"Hey, dia Afhordite. pergerakannya pelan dan diam! terlihat seperti kucing dihadapanmu tapi dia sudah mencari tahu dimana Beclie walau dia terlihat tak tahu apapun, dan berhati-hatilah. karna Hutan Kematian memiliki Roh yang misterius, pasti mereka bisa berwujud sangat Tampan melebihi dirimu!" pancing Raja Petra.


"Silahkan mencoba, jika tak ingin lagi melihat tanahnya bergelombang!"


Jawab Ardelof datar dan dingin lalu melangkah pergi, sungguh ia sekarang dilanda rasa dongkol yang teramat. bisa-bisanya wanita itu menyembunyikan ini darinya.


"Asallamuallaikum!"


Langkah Ardelof terhenti saat Seorang wanita tua dengan Hijap panjang dan Gamis berwarna Toska itu berucap anggun didekat ujung tangga sana, wajah yang sangat tegas tapi terkesan menatap Ardelof dengan pandangan sinis.


"Wa'allaikum salam!"


Nenek Maryam terkejut mendengar Ardelof mampu mengucapkan kalimat itu dengan Fasih, namun. ia masih mencoba bersikap biasa hingga Ardelof telah berdiri disampingnya dengan wajah yang datar.


"Ada apa?"


"Kai tentu tahu siapa aku, dan niatku datang kesini!"


Ardelof mengangguk hingga Nenek Maryam menghela nafas halus menatap Ardelof dengan pandangan menusuk.


"Sebagai seorang Neneknya Sofea, aku menuntutmu untuk menjadii Imam yang baik bagi Cucu dan Cicitku. jangan sampai Digo lebih baik darimu!"


"Hm, aku tahu! tapi Istri dan anakku adalah tangung jawabku, Soal Sunat aku sudah melakukannya!"


Jawab Ardelof tegas lalu melewati Nenek Maryam yang terkejut, apakah ia yang sudah salah menduga kalau Ardelof itu belum mempersiapkan apapun?


Sedangkan Ardelof. ia menatap Lift dimana Sofea telah keluar dengan riasan agak menonjol menutupi wajahnya yang pucat, wanita itu memakai Oakaian santai Dress selutut berwarna Cream tanpa lengan seperti Kemban tapi sepadan dengan kulit putihnya yang ditutupi Blazer.

__ADS_1


"Sayang!"


Baby Aron yang sudah harum dan rapi dengan pakaian kaos lengan pendek dan celana Oblong pendek itu lansung membuang muka melihat Ardelof yang menyeringai menatapnya.


"Kenapa turun? kau masih sakit. hm?"


"Tidak, Sayang! aku sudah baikan, lagi pula aku harus memasak."


Jawab Sofea dengan Ardelof yang memfokuskan matanya ke rambut Sofea yang bergelombang, ia baru ingin membahas ini ketika Sofea sudah lebih baik dan tak pegal.


"Ubah rambutmu!"


"Ha?"


"Rambutmu! aku tak suka bentuknya."


Baby Aron lansung memanyunkan bibirnya dengan satu tangan tengah asik memelintir rambut Momynya, ia tak suka ucapan Sang Dady karna ia suka dengan rambut bergelombang Momynya.


"Myy!"


"Kenapa, hm?"


Baby Aron mencium pipi Sofea dengan tatapan penuh permohonan, sungguh kadang Sofea bingung, bocah sekecil ini mampu mencerna ucapan mereka dengan baik.


"Sudahlah, ini hanya rambut, Ard!"


"Tapi aku tak suka, bentuknya aneh! kau jadi seperti Mie."


Ketus Ardelof lalu dengan paksa menggendong Baby Aron yang memberontak tak mau lepas dari Momynya hingga ia lansung meremas pipi Ardelof membuat Sofea terkekeh pelan.


"Hey, Aku dadymu. sopanlah sedikit!"


"Myyy!!!"


Antara geram dan gemas Baby Aron tak tega mencakarnya hingga ia menepuk bibir Ardelof dengan raut menggemaskannya lalu menunjuk keluar.


"Myy!!"


"Kemana?"


"Myy!!"


Rengeknya hingga Ardelof menarik pinggang Sofea mesra membawanya keluar menuju pintu utama. Sofea menatap ke Garasi tak ada Mobil Digo disana hingga dahinya mengkerut.


"Ada apa, hm?"


"Kemana Mobil Digo?"


"Kau sangat perduli padanya."


Geram Ardelof menatap Sofea penuh penghakiman darinya.


"Bukan begitu, Sayang! Digo itu teman Nenek. pasti Nenek sangat kesepian sekarang!"


"Biarkan saja, lagi pula kau juga telah membohongiku!"


Sofea lansung terlonjak kaget menatap Ardelof yang membuang muka menatap Dermaga dengan Baby Aron yang memainkan kancing kemeja Ardelof dengan raut polosnya dihadapan Sofea, netra biru si mungil ini seperti minta perhatian Momynya.


"Kenapa, Sayang?"


"Kau tahu kalau dia masih hidup dan telah bersembunyi di Hutan Kematian!"


Degg..


....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


Terimakasih say buat do'anya, ini udah enakan.. jadi coba-coba buat nulis lagiπŸ˜„πŸ˜‚


__ADS_2