
"Kakak!!!!"
Satu teriakan yang melengking hingga tubuhnya lansung bangun dengan nafas memburu dan keringat menyibahi Tubuhnya, wajah pucat dan mata yang tampak termenung kosong menatap kedepan dengan debaran jantung yang kuat.
"Nak, kau baik-baik saja?"
"K..Kakak!"
Gumam Sofea menoleh kearah samping dan kanan kirinya tapi tak ditemukan seseorang itu, jantungnya berdebar keras dengan air mata yang turun begitu saja seakan ia baru saja tahu kalau Kakaknya telah tiada.
"Kak hiks, Kakak!"
"Fea, kau kenapa?"
"N..Nek, Kakakku!"
Lirih Sofea bergetar dengan air mata yang turun sempurna dengan Nenek Eliz yang menatap Dokter Xiomus dengan isyaratnya sendiri.
"Putri, sebaiknya anda Istirahat terlebih dahulu, biarkan kami mengurusnya!"
"A..Aku..Aku mau.. Kakak,Nek!"
Nenek Eliz tak bisa mencegah Sofea yang turun dari ranjangnya dengan pelan karna masih takut terjadi sesuatu pada kandungannya, ia melangkah menuju pintu keluar dengan isak tangis tertahan seakan ia merasakan jelas Kakaknya dan wajahnya bagaimana.
Saat pintu itu terbuka, Sofea terkejut saat sekilat kemudian ada yang menerobos hingga lansung menubruknya.
Grepp..
Sofea mematung saat tubuh kekar tanpa atasan ini lansung mendekapnya erat bahkan sangat erat membuat Sofea engap, namun ia merasakan nyaman dan rasa khusus yang menyalurkan ketenangan.
"F..Fea!"
"K..kau.."
Renoval yang juga mengalami hal yang sama lansung mengurai pelukan dengan berderai air mata menagkup pipi Sofea yang mengembun dengan bibir bergetar melihat mata Renoval, mata yang sama yang selalu menawarkan kasih sayang yang besar dan mata yang sama selalu menatapnya lembut penuh kehangatan.
Bibir Sofea bergetar dengan setetes air mata yang lolos karna tak mampu menahan rasa sesaknya, setelah sekian lama akhirnya ia tahu apa maksud dari rasa takutnya yang sekarang mengantarkannya pada pelukan Saudaranya.
"K..Kakak!"
"Hm, a..aku..aku V..Vallo!"
"Kak hiks!"
Sofea memeluk Renoval yang dengan sangat senang dan wajah bahagianya menghujami puncak kepala Sofea dengan kecupan penuh cinta, ini si kecil yang begitu sangat ia sayangi, Renoval baru ingat kalau ia adalah Keluarga Kerajaan Hangalay.
"Tuan!"
Asisten Kai yang tak mengerti tampak bingung dibelakang sana melihat Tuannya yang tampak sangat merindukan Sofea si cantik milik Pria Penguasa itu, ada rasa janggal yang tak terjabarkan dalam hatinya.
Melihat semua orang yang menatapnya, Sofea tersenyum masih saling berpelukan menatap Asisten Kai yang mematung.
"Dia Kakakku!"
Degg..
Asisten Kai terlonjak kaget hingga berpeggangan ke daun pintu, ia menatap Kristof yang hanya biasa saja seperti tak terkejut membuat mereka hanya menebak.
"K..Kakak?"
"Hm, dia Adikku! si kecil berambut hitam suka melihat bintang dan makan udang."
Sofea tersenyum hangat tanpa mau melepas pelukannya hingga tubuh keduanya berdempet membuat Nenek Eliz terperangah tak percaya, wajah Renoval dan wajah Nevallo itu sama sekali tak bisa mereka bandingkan karna mereka hanya tahu wajah kecil Nevallo berusia 5 Tahun di Foto dulu, selebihnya mereka kurang tahu.
"Bag..Bagaimana bisa?"
Nenek Eliz menutup mulutnya tak percaya, ia mendekati Renoval yang terdiam mengurai pelukan tapi tangannya masih membelit pinggang Sofea posesif.
"Iya, Kak! wajah kakak memang tak beda jauh, tapi sepertinya lebih berubah."
"Kau ingin tahu?"
Sofea mengangguk hingga Renoval menghela nafas merapikan helaian rambut panjang Sofea yang menanti jawaban mereka begitu juga yang lainnya.
__ADS_1
"Saat ditemukan oleh Nenek Yong, wajahku hancur dengan tubuh yang penuh luka."
"A..Apa?"
"Hm, aku melakukan Bedah plastik saat kecil karna wajahnya benar-benar tak tertolong karna ledakan di Medan perang, itu karnanya mereka tak mengenaliku walau kalau ditatap lebih lama maka akan terlihat sedikit mirip."
"Tapi, ini juga Tampan!"
Puji Sofea membuat Renoval menghangat mengecup pipi putih itu hingga membuat Nenek Eliz terdiam, sepertinya Ardelof akan sangat Overprotektif pada Istrinya yang sudah bertemu dengan Cinta Pertamanya.
"Tentu, Adikku sangat cantik!"
"Baiklah, aku rasa sekarang sudah cukup acara meneggangkan dan banyak rahasia! untuk sementara ini Renoval kau istirahat karna ini sudah tengah malam dan hampir dini hari, dan Sofea juga."
Nenek Eliz memberikan peraturan tapi Sofea tersigap saat merasakan hatinya kosong membuat dahi Renoval menyeringit.
"Ada apa, hm?"
"K..Kak, S..Suamiku, mana?"
"Dia baik-baik saja, ayo tidur!"
Nenek Elis menyahut karna ia sudah cukup lelah karna harus bicara dengan Suaminya, Sofea tampak tak rela kembali keatas ranjang begitu juga Renoval yang tak mau keluar.
"Biarkan aku disini!"
"Kau bisa di kunyah Ardelof jika tidur bersama Istrinya." Nenek Eliz menyelipkan intonasi renyah karna ia sudah tak mau berdiri lebih lama.
"Nek, kami baru saja bertemu."
"Aku tahu, tapi apa kau mau Adikmu sakit? dia butuh Istirahat apalagi dia sedang hamil!"
Akhirnya Renoval mengurai pelukannya dengan tak rela mengecup kening Sofea lama menatap lembut wajah cantik ini.
"Nanti kita bicara lagi, Istirahat yang cukup, hm?"
"Kakak, Juga!"
Renoval mengangguk sesekali melihat kebelakang dengan mata tak rela tapi Asisten Kai dengan cepat menutup pintu membuat Renoval menajamkan matanya membunuh.
Asisten Kai yang bicara sebagai teman karna mereka memang berteman hingga melangkah kembali ke kamar sebelah, sedangkan Sofea ia termenggu diatas ranjang menatap ke bawah sedangkan Nenek Eliz tengah merapikan selimutnya.
"Tidurlah, suamimu baik-baik saja."
Namun, Sofea hanya diam memeggang perutnya. ia yakin setelah badai tadi kondisinya tak baik-baik saja apalagi Ardelof tak pernah meninggalkannya sendirian ketika sedang sakit begini.
"Ada apa?"
"Tidak ada, hanya ngantuk. Nek!"
"Baiklah, kau tidur aku mau menemui Suamiku!"
Sofea mengangguk menatap Nenek Eliz yang melangkah keluar kamar hingga ia pura-pura memejamkan matanya sampai suara pintu tertutup, setelah merasakan Nenek Eliz tak lagi didepan sana Sofea lansung menyibak selimut dengan pakaiannya yang sudah berganti Piyama memudahkan Sofea untuk turun.
Ia mengendap membuka pintu kamar menyembulkan kepalanya keluar hingga tak ada orang yang ia lihat barulah ia keluar menutup pintu kamar sangat pelan.
"Hey!"
"Eh!"
Sofea terlonjak kaget saat suara pria yang sudah ada dibelakang tubuhnya hingga Sofea berbalik membulatkan matanya menatap netra hitam ini.
"A..itu.. aku..aku mau kekamar mandi, Kak!"
"Kamar mandi?"
Sofea mengangguk berusaha tak gugup tapi Renoval sudah hafal dengan Tabiat Sofea sedari kecil yang tak bisa berbohong dan pasti selalu ingin tahu, kalau ia tak menemukan jawabannya maka dia akan cari sendiri.
"Kamar mandi ada di kamarmu!"
"A.. iya, aku..aku lupa, Kak!"
"Benarkah? atau kau mau kearah lain?"
__ADS_1
Tanya Renoval mengulur tangannya menggenggam tangan lentik Sofea yang berkeringat membuat senyum kecilnya meruak.
"Tak usah gugup, Kakak tahu kau mau bertemu suamimu!"
"A.. iya, tapi dari mana Kakak Tahu?"
"Keringat, wajah pucat, dan menggaruk tengkuk! siapa yang tak tahu dengan logat itu?!"
Sofea mencengir hingga ia menurut saja saat Renoval yang sudah memakai Kaos tipis warna hitam itu mengiringnya untuk menyelinap ke tangga atas, ia tadi mendengar kalau Ardelof masih ada di Kediaman ini.
"Kak, kita kemana?"
"Biasanya Manshion semegah ini akan punya tempat Istirahat khusus, kalau tak diatas pasti punya ruang dibelakang Bangunan ini"
Jelas Renoval yang membuat Sofea mengangguk, ia hanya menuruti insting hatinya yang merasakan Ardelof masih ada ditempat ini bahkan ia seakan mencium aroma tubuh pria itu.
Setelah beberapa lama melangkah menaiki tangga, Sofea menatap ruangan diatas Loteng hingga ia Renoval saling tatap penuh duggaan.
"Menurutmu?"
"Suamiku disana, Kak!"
"Dari mana kau tahu?"
"Aroma tubuhnya!"
Jawab Sofea cepat namun ia bersemu saat Renoval menatapnya dengan raut yang begitu ia tahu hingga ia mengelak kecil.
"A.. hanya menebak."
"Kakak rasa tidak!"
Jawab Renoval mengiring Sofea keatas menjaga langkah wanita ini agar tetap teratur hingga beberapa langkah saja Sofea sampai diatas sana hingga ia menatap pintu coklat ini.
"Biar Kakak yang buka!"
Sofea mengangguk dengan Renoval yang menyembunyikan Sofea dibelakang tubuhnya takut ada sesuatu berbahaya didalam sini.
Ceklekk..
Pintu itu terbuka hingga perlahan menampakan lantai yang berwarna putih hingga dinding yang berwarna yang sama, tak ada pernik lain selain kosong membuat dahi Sofea menyeringit.
"Kak, tak ada apapun disini. tapi aku sangat yakin dia disini!"
"Kau yakin?"
"Iya, bahkan rasanya dia sangat dekat."
Jawab Sofea percaya menatap kesemua arah yang hanya ada sunyi polos tak ada barang-barang seperti hanya ruangan tak terpakai tapi terurus.
Menelisik ke semua arah dan mengingat tentang Ardelof Renoval lansung menatap Sofea yang seperti menyatu dengan Suaminya.
"Masuklah, dan pejamkan matamu dengan membayangkan wajah Suamimu!"
"Maksudnya?"
"Suamimu pasti tengah ada di ruang Dimensinya, memang dia disini tapi bukan di mata kita."
"T...Tapi, bagaimana dengan Kakak?"
Renoval tersenyum kecil mengusap kepala Sofea yang merasa jika Renoval ingin menghabiskan waktu dengannya.
"Kakak akan menunggumu selesai, hm?"
"Baiklah!"
Renoval menutup pintu ruangan itu dan menghela nafas, walau rasanya ia ingin dan hanya ingin Sofea miliknya seperti dulu tapi ia tak mau Egois, Adiknya sudah besar dan ia tak mau membuat Sofea bersedih.
"Sekarang hanya kau! kau harus membayar semuanya."
Geram Renoval mengepalkan tangannya kuat, akan ia kembalikan semua rasa sakit ini seperti yang mereka lakukan padanya dan Sofea.
....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..