Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
Ketakutan Sofea!


__ADS_3

Keduanya terjatuh menjahui Mama Netty yang lansung berdiri ingin mendekat tapi Sofea semangkin menarik Yella jauh agar tak menyakiti Putranya. Mama Netty menangis melihat Sofea yang berusaha mengendalikan dirinya sendiri agar tetap sadar tak dipengaruhi Energi negatif ini.


"Pergi dari sini!!!!"


"N..Nak hiks!"


"Pergi!!!"


Teriak Sofea yang mencekik Yella yang mencakar lengan mulus ini hingga Sofea terluka menyemburkan darah ditangannya, Mama Netty tak tahu harus berbuat apa disituasi perang begini.


"Pergi!!!!!"


"F..Fea!"


Mama Netty akhirnya berlari lewat pintu belakang dengan Dokter Eglin yang membantunya, Sofea terus mencekik Yella dengan matanya yang berubah-ubah membuat Yella menyeriangi licik.


"Kita akan mati, Fea! hmm!"


Raut wajah Sofea lansung menggeram membenturkan kepala Yella kedinding sana dengan keras, didalam pikirannya ia lapar dan sangat terbayang dengan aroma jiwa para manusia disini.


Bughh..


"Ayolah!!! kau lapar, bukan?"


"Brengsek!!!!"


Sofea melempar tubuh Yella ke sudut sana hingga kondisi Yella memang tak bisa dianggap baik-baik saja, kekuatan Sofea ternyata melebihinya dari Mahluk seperti ini.


"K..Kenapa hiks? kau..kau temanku, tapi..tapi kau Menusukku, Yella!!!!"


"Kau yang menghancurkan hidupku!!!! kau pembunuh, dasar wanita sialan!!!!"


Yella membalas dengan jeritan kerasnya membuat air mata keduanya lolos bersamaan dengan isak tangis menyesakan, Yella juga tak kuat menjadi seperti ini tapi ia sudah buta atas keguguran yang dia alami.


"Aku..Aku sakit, hiks! aku sakit melihat dia selalu mengenangmu, Fea hiks!"


Isak Yella menatap sendu Sofea yang juga merasakan hal yang sama, sekarang apa yang harus ia lakukan. dengan jelas Sofea merasakan ia mulai dikendalikan Kekuatan ini dan bisa saja ia juga akan mengincar Putranya.


Gibran yang mendengar itu semua lansung meneteskan air mata melangkah mendekati dua wanita yang dulu sangat akrab bahkan seperti saudara, tapi sekarang semuanya berubah dengan kesalahab yang ia perbuat.


"Y..Yella!"


Lirih Gibran tertatih-tatih mendekati Yella yang menggeram dengan mata merahnya menatap Gibran yang lansung luruh dihadapan keduanya.


"M..Maaf! maafkan aku."


"Kembalikan Putraku!"


Geram Yella mencengkram kuat tirai yang terjulur disamping tubuhnya menatap Sofea dan Gibran bergantian, rasa sakit dan sangat muak itu menggerakan tubuh Yella memberi bongkeman panasnya ke pipi Gibran yang lansung terpental dibuatnya.


"Kembalikan Putraku!!!!"


Bentak Yella menggila melempar apapun dihadapannya kearah Gibran yang tak bisa berbuat banyak selain menerima, Yella mengarahkan tangannya kehadapan Gibran untuk membuat pria itu menjadi sama seperti mereka tapi Sofea menghempaskan tangannya melakukan hal yang sama hingga membuat Yella tersungkur.


"Sofea!!!!!"


"Kau..Kau sudah bukan Yella yang ku kenal!"


Geram Sofea mendekati Yella yang menyerangnya dengan asap hitam itu tapi Sofea juga punya hal yang sama hingga keduanya saling menyerang mencakar lengan masing-masing.


Sofea beberapa kali memukulkan kepalanya ke dinding karna ia mulai berambisi membantai semua orang, pandangan matanya juga berubah gelap tapi ia berusaha untuk tetap sadar.


Whuss..


Yella menendang pinggang Sofea hingga jatuh ke lantai sana sedangkan ia juga jatuh ke sebeeang Sofea dengan keadaan yang sudah memprihatinkan, separuh wajahnya sudah hancur dicakar Sofea yang mempunyai kuku belum sepenuhnya seperti Yella.


"Asss!!!"


"S..Sofea, l..lepaskan, l..lepaskan saja, hm?"


Yella membujuk penuh rayuan dengan darah membajiri wajahnya, ia melihat jelas Sofea mencengkram kepalanya agar tetap sadar kalau ia tak akan seperti mereka.


"Ayolah, uhukk! Lepaskan dan kita hancurkan berdua!"


"Dalam Mimpimu Brengsek!!!"


Sofea kembali berdiri menarik uluran asap disampingnya hingga ia melemparkan gumpalan itu ke tubuh Yella yang lansung menimbulkan dentuman.


Duarrrrrr..


Api itu lansung berkobar menghancurkan Papiliun hingga mereka yang tengah bertarung diluar sini terkejut menatap kearah kobaran api.


Ardelof yang tengah membantai para Klan yang berdatangan diatas sana lansung mematung melihat Papilun yang hancur hingga mata mereka berpusat ke arah itu.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?"


Nenek Eliz yang khawatir karna disana adalah tempat Sofea dan semua wanita. asap tebal itu menutupi Papiliun yang sudah hancur hingga Sofea berdiri ditengah-tengah kobaran api yang memanggang mereka, mata Sofea menghunus Yella yang terbakar didinding sana dengan Gibran yang sudah tertimpa reruntuhan bangunan.


"K..Kau tahu?"


Yella merangkak mendekati kaki Sofea yang hanya dibaluti Seulas Kain berwarna hitam bercorak bunga berwarna kecoklatan sehabis melahirkannya tadi memperlihatkan keindahan tubuhnya, mata Sofea menatap mata Yella yang terlihat tak merasakan sakit sama sekali karna tubuhnya yang terbakar.


"D..Dia..Dia membohongimu!"


Sofea hanya diam dengan kedua tangan terkepal kuat, Yella menatap Ardelof yang sebenarnya ingin mengorbankan dirinya sendiri untuk menutup portal kegelapan sana dengan mengiring Jiwa Deugon yang telah ia kurung dalam belenggu Spiritnya itu untuk masuk kembali kedalamnya.


Tentu Sofea sudah tahu itu setelah menelisik semua daerah disekitarnya yang sudah hancur tanpa sisa, tanah yang dialiri lahar panas yang terbelah tak mungkin bisa ditinggali lagi.


"D..Dia aka.akan matii.."


Yella terbahak keras hingga dengan kepalan tangan yang menguat Sofea mencengkram leher Yella yang terbakar itu dengan kuat membuat tubuh Yella remuk lansung menjadi abu hingga mereka semua termenung kosong saat kabut asap sudah mengurai padam dengan apinya, mata mereka menatap sesosok wanita berkemban hitam bercorak bunga kecoklatan itu tengah berdiri dengan tangan yang meneteskan darah.


Renoval ingin mendekat tapi Kakek Brent mencengkalnya.


Waktu seakan terhenti begitu saja, mata Sofea menatap lurus kehadapannya dimana kegelapan menyapa pandangannya.


"S..Sofea!"


Gumam Ratu Lamoria dan Raja Hangton yang terkejut melihat penampilan Sofea yang masih mengenakan Kemban dengan rambut terurai memanjang menutupi separuh wajahnya.


Semuanya hening dengan kilatan yang masih menyala dari Portal yang tetap mengeluarkan Mahluk-Mahluk yang sama, Jiwa Deugon yang melihat itu semua lansung terbahak keras karna yang ia rencanakan sudah berjalan dengan semestinya.


"Lihatlah!!!! Penguasa kalian sudah datang!!!"


Suara Deugon menyerukan Klannya untuk mendekati Sofea yang tengah berada dalam kebercamukan, Jiwa Murninya tak akan bisa bercampur dengan jiwa kegelapan itu hingga sekarang wanita itu tengah berusaha menjaga kesadarannya.


Kepalan tangan Ardelof menguat, guratan biru diwajahnya semangkin membara dengan kedua matanya berubah merah seperti darah pekat hingga mereka semua terkejut saat Cakram diatas sana Ardelof tarik dengan semua kekuatannya.


Whussss..


"A..Ard!"


Kakek Brent tak percaya melihat Ardelof menutup Portal itu sementara dengan mengeluarkan semua kekuatan dan Energinya, melihat itu Raja Hangton lansung mengadahkan tangannya memejamkan mata juga ikut menyalurkan energi mereka menutup kembali Portal itu agar tak mengeluarkan Mahluk yang sama.


Ardelof menyeggel Deugon dengan Spiritnya seraya mengulur tangan kedepan mengeluarkan Black Tiger dari Dimensinya.


Whusss..


Ggrrrrrrr..


Suara Harimau hitam yang telah tunduk menghadap Ardelof yang lansung mengisyaratkan agar melahap semua Klan Black-Clover yabg melawannya.


"Hancurkan mereka!!"


Dengan cepat seperti kilat Black-Tiger hewan Mitologi itu lansung melesat melahap apapun yang ada diatas sana, ia seakan kelaparan membuat ledakan kuat dengan Tubuh Ardelof yang sudah lemah mengeluarkan banyak energi mengunci sementara Portal sana hingga ia lansung jatuh ke bawah dengan Jiwa Deugon yang masih melayang sudah ia segel.


"Ard!!!"


Kakek Brent menghempaskan tangannya membuat tubuh Ardelof lansung diterpa oleh awan putih yang menjadi bantalan halus pria itu tumbang kebawah, darah itu keluar dari hidung Ardelof yang menatap sayu punggung putih Sofea dari atas lahar panas ini.


"S..sayang!"


Lirih Ardelof mencoba berdiri dengan tubuh lemahnya, ia tadi sedikit lagi ingin membawa semua pengacau ini ke kedalam Portal sana tapi ia tak menyangka hal yang terjadi pada Istrinya.


Awan yang menampung kakinya membawa Ardelof menyebrangi hamparan lahar panas ini menuju tempat Sofea yang sedari tadi diam memunggungi mereka.


"Sayang!"


Sofea hanya diam dengan kedua tangan terkepal dan kepala menunduk, air matanya menetes terus melihat abu dari jasad Yella yang ia bunuh, bahkan karna dirinya banyak korban berjatuhan.


"Menjauh dariku!"


"Kau.."


"Menjauh dariku!!!!"


Bentak Sofea membuat petir itu semangkin keras menyambar, Ardelof mematung melihat punggung Sofea yang sudah dijalari urat hitam yang membuat ia lansung lemas dengan mata menatap kosong semua itu.


"S..Sofea!"


Nenek Eliz luruh membekap mulutnya tak percaya melihat satu mata Sofea sudah berubah menghitam dengan separuh pipi yang dijalari urat hitam yang sama, kulit putihnya memucat dengan bibir tak kagi berona mencabut nyawa Ardelof dari tubuhnya.


"K..Kau.."


"M..Men..menjauh dariku!"


Lirih Sofea bergetar menatap semua orang yang memandangnya dengan rasa takut, ia tak berani menatap wajah Ardelof hingga Sofea hanya menunduk dengan tetesan air mata yang luruh.

__ADS_1


"M..Men..menjauh dariku!"


Sofea lansung berbalik mengulur kakinya untuk berlari pergi dari sini tapi Ardelof lansung menarik lengan Sofea hingga terhuyung kebekalang jatuh kepelukan Ardelof yang mengerat.


Grepp..


Sofea lansung menjerit memberontak tapi Ardelof semangkin kuat memeluknya hingga Ratu Rosmeryna dan Ratu Lamoria ikut merasakan penderitaan Sofea yang pasti tak ingin melukai siapapun.


"Lepas!!! Lepaskan aku!!!!"


"J..Jangan begini!"


Ardelof menahan sesak melihat semua ini, tangisan Sofea pecah menolak pelukan Ardelof yang semangkin membuatnya sulit mengendalikan diri.


"L..Lepaskan aku."


"Tidak, tidak akan pernah!"


Sofea mengadah menatap Ardelof yang juga memandangnya, netra Ardelof sudah berubah biru menawarkan rasa sayang yang mengurung tatapan Sofea, hati Ardelof terkoyak melihat satu netra indah ini berubah menghitam dengan raut kesakitan yang ditahan.


"A..Ard." bibir Sofea bergetar dengan linagan air mata itu membuat Ardelof juga tak mampu menahan kesesakannya dengan mata yang berkaca-kaca. Sofea menunjukan tangannya yang berlumuran darah dan berubah-ubah membayang dengan mata yang penuh ketakutan menyentuh darah dihidung Ardelof.


"A..Aku..Aku t..tak s..sama d..dengan mereka, kan?"


Ardelof menggeleng memeluk Sofea erat yang menatap kearah langit sana, jantung keduanya berdebar kuat dengan rasa takut menyeruk direlung hati masing-masing.


"A.. Aku.. Aku m..masih, manusia. k..kan?"


"I..Iyah, kau..kau masih Istriku dan.."


"Kau bohong!"


Sambung Sofea menatap Ardelof lalu menunjukan tangannya, pipi Sofea juga samar-samar menunjukan tulangnya membuat Ardelof lansung menggeleng menagkup pipi Sofea yang menatapnya penuh penghakiman.


"K..Kau bohong, Ard!"


"Tidak, kau..kau tak akan menjadi apapun, kau..kau masih Sofeaku, kau.."


"A..Aku s..sakit, Ard!"


Ardelof menggeleng dengan nafas memburu menundukan kepalanya dengan rasa takut yang teramat.


"Aku..Aku Mohon!!! Aku mohon jangan katakan apapun!"


"A..Ard, se..sekali saja aku..mohon."


Pinta Sofea mencengkram dadanya hanya begitu sakit menyiksanya, ia tak kuat menahan ini terus untuk tak membunuh orang dan ia tak ingin menyakiti siapapun.


"Aku..Aku mohon sayang!!"


"T..Tolong aku!"


Pinta Sofea menarik tangan Ardelof memeggang lehernya yang sudah dijalari urat hitam membelenggu jiwa Sofea, ia tak ingin menghabisi siapapun dan lebih baik ia mati bersama membawa semua kehancuran ini bersamanya.


"A..Aku mohon, d..demi..demi Putra kita!"


Ardelof menggeleng tak bisa menatap lemah Sofea dengan satu tetes air mata yang tumpah, tak pernah ia merasa serapuh dan setak berguna ini saat dihadapkan akan dua pilihan, jika ia tak membunuh Sofea maka Sofea akan memimpin Klan hitam ini menghancurkan semua orang dan jika sebaliknya Ardelof sendiri tak bisa menggerakan tangannya saat bersentuhan dengan kulit wanita ini.


"K..Kau yang bilang padaku, Sayang! kita harus rela melakukan apapun agar Putra kita baik-baik saja, dan..."


Sofea memejamkan matanya meredam kekuatan gelap ini yang mencoba menggapai pikirannya.


"Dan aku.. aku sangat bahagia, s..saat menjadi berguna bagimu dan Tanah ini!"


Ardelof mematung mendengar itu semua dengan Sofea yang masih bisa tersenyum padanya, Ardelof tak bisa membayangkan hidupnya tanpa wanita ini, ia tak akan bisa bernafas walau sedetik saja.


"Ada satu cara!"


Sofea menatap Ardelof yang juga memandangnya, Ardelof melepas kalung dilehernya dan menyatukannya dengan kalung milik Raja Petra.


"K..Kau.."


"Kau ingin berguna bagi tanah ini dan Putra kita terutama aku?"


"I..Iya!"


Ardelof mengangguk mengusap pipi Sofea dengan lembut, ia pasti sangat merindukan wajah ini dan itu sangat pasti.


"Lakukanlah bersamaku!"


.......


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2