
Renoval tengah sibuk dengan Produksi Filimnya yang sudah berbulan-bulan terjadi, ia turun lansung kelapangan yang bernuansa Salju putih yang membeku untuk mendukung suasana Flilim yang tengah beradengan Exstrem, Cessa yang meluncur dengan sepatu Skynya bersama beberapa Kru yang melakukan hal yang sama tak lupa membawa Kamera.
Jaket tebal yang membalut tubuh mereka mengerat dan berlapis karna cuaca memang sangat dingin, bahkan asap itu terus keluar dari hembusan hidung dan mulut mereka yang bicara.
"Action!"
Cessa lansung beracting sesuai Skenario dan Sutradara yang terus memantau raut wajah dan Gesturnya, Cessa memang sudah terlatih menjadi seorang Aktris hingga ia berperan menjadi Anrena si wanita berambut kecoklatan terinspirasi dari Filim Frozen dari Penulisnya.
"Bukankah, Nona Cessa sangatlah Multitalenta?" tanya Mahones seorang perusahaan Agensi yang bekerja sama dengannya, wajah Renoval tak mau merespon selain diam menatapnya dibawah urain salju yang dipayungi Asisten Kai.
"Ini sudah hampir 1 Tahun, Tuan! apa kau tak berniat mencari teman hidup?"
"Hm, Tidak!"
Jawab singkat Renoval datar seraya mengalihkan tatapan matanya keatas langit, tadi cuacanya cukup terang tapi kenapa sekarang sudah semangkin gelap?
"Jam berapa?"
"Baru saja pukul 10 pagi, Tuan!" jawab Asisten Kai membuat wajah Renoval berubah datar menatap Team Sutradara dan Proyeksi Filim yang juga merasa aneh, cuacanya juga sangat dingin dari pertama mereka keluar tadi.
"Maaf, Tuan! Cuacanya sangat tak menentu, saya khawatir akan terjadi Badai Salju!"
"Hm, untuk sementara. hentikan Syutingnya!"
"Baik."
Mereka bersiap kembali ke Tenda sementara Cessa dibantu Asistennya untuk melepas Kostum ke dalam Tenda, ia mengeratkan Baju hangatnya yang masih saja bisa ditembus oleh angin menggigil ini.
"Pakar Cuaca di Negara ini memperkirakan kalau Musim Salju tahun ini akan lebih parah, diharapkan pada semua orang untuk tak melakukan aktifitas di luar, itu Instrupsi mereka, Tuan!"
"Hm, kau beri tahu Team untuk mengundur Jadwal kedepannya sampai Cuaca kembali baik."
"Lalu, anda mau kemana?"
"Aku akan bawa Mobil sendiri."
Asisten Kai tak mampu membantah hingga hanya memandangi Renoval yang melangkah cepat menuju Mobilnya, angin ini mulai sedikit kencang menghamburan butiran Salju ke jalan-jalan yang sedikit licin karna basah.
Didalam Mobil, Renoval tengah berfikir dengan perubahaan cuaca ini. Perasaannya tak tenang memikirkan Sofea.
"Angkat Telfonku!"
Geram Renoval yang menelfon Ardelof, ia melajukan Mobilnya keluar dari Area Syuting membuat para Kru dan Team penjaga yang ada diluar Gerbang menjadi bingung melihat Mobil Tuannya yang melaju cukup cepat.
"Tuan, kenapa?"
"Entahlah, mungkin ada urusan!"
Mereka saling berbisik tapi segera masuk menuju Tenda karna anginnya sudah mulai membuat tungkai bergetar tak bisa berlama diluar lagi.
........
Tatapan netra biru itu lansung menghunus lansung keatas langit gelap sana, suasana ini seperti mau senja padahal ini masih pagi. cengkramannya ke Ponselnya menguat merasakan ada sesuatu yang besar telah memutar arah angin dilangit sana.
"Yang Mulia, pertemuannya akan.."
"Pulang sekarang."
Ardelof berlari kearah Loby melempar Jasnya yang menganggunya kesembarang arah membuat Rekan-Rekan kerja mereka yang ada didalam Perusahaan sana lansung saling pandang bingung.
"Yang Mulia sedang ada urusan, Pertemuan ditunda, kalian pulanglah!"
"T..Tapi, Tuan kami.."
Kristof sudah melangkah pergi menyusul Ardelof yang sepertinya tahu hal yang akan terjadi hingga ia terlihat menjawab Telfon seseorang.
"Dimana Sofea? apa dia bersamamu?"
__ADS_1
"Kau ke Istana sekarang, jangan biarkan satupun orang masuk kedalamnya."
"Baik!"
Ardelof mematikan sambungan dengan Kristof yang melajukan Mobil cepat karna ia melihat raut dari wajah Tampan Ardelof yang berubah kelam seperti tengah menduga sesuatu.
"Cepatlah!!"
"B..Baik!"
Ardelof terus menatap kearah luar dengan perasaan yang berkecamuk memikirkan Sofea, tadi ia memang merasa kalau raut Sofea agak aneh tapi ia pikir kalau hanya ditinggal sebentar tak akan masalah, tapi nyatanya beberapa jam saja ia meninggalkan ternyata waktunya sudah dekat.
Setelah beberapa lama berkecamuk bahkan Ardelof sudah mau menghilang akhirnya mereka sampai ke Gerbang Istana dimana semua Penjaga tampak sudah berjaga ketat karna anggota Renoval juga sudah datang membantu.
"Yang Mulia!"
Namun, Ardelof tak perduli akan sambutan itu hingga ia keluar dari Mobilnya dengan cepat berlari masuk ke pintu besar Istana dengan para pelayan yang ternyata sudah berkumpul membungkuk seperti biasa.
"Sayang!!!!"
Teriak Ardelof memanggil terus berlari tapi tak sampai ke dalam Lift yang tiba-tiba terbuka memperlihatkan Renoval yang sudah menggendong Sofea yang sudah pucat membuat Ardelof lansung sigap mengambil alihnya.
"Sayang!"
"A..Ard."
Desis Sofea memeggangi perutnya yang terasa mau pecah, keringat dingin itu bercucuran hingga Dokter Xiomus dan Dokter perempuan Eglita yang sudah disiapkan sedari lama, Team Media juga telah berdatangan dengan Rombongan Kerajaan Hangalay yang dalam perjalanan.
"Ard, apa Sofea akan melahirkan di kamarnya?"
"Tidak, Istriku akan melahirkan ditempat yang ku siapkan."
Ardelof membawa Sofea keluar Istana dimana Salju ini tak bisa menyentuh tubuh mereka karna Ardelof sudah mulai memagari wilayah ini.
"Ya Tuhan, Ard hiks, Sakitt!"
"Bertahanlah, hm?"
Suara gemuruh diatas sana lansung menghantarkan hujan membuat mereka berlarian masuk ke dalam Istana belakang ini, Ratu Rosmeryna tak menyangka kalau tempat yang kecil namun Estetik ini ternyata sudah dirancang oleh Ardelof mempersiapkan Lahiran Istrinya.
"Cepat tangani Istriku!!!"
Bentak Ardelof saat para Team Medis sana mematung melihat Bangunan ini hingga mereka seakan jantungan lansung masuk ke ruangan yang sudah ada ranjang dan semua Peralatan Medis seperti Infus, Kain Kasa, jarum suntik bahkan ada Stok darah dan Mesin kejut jantung, semuanya seakan jadi ruang Operasi.
"Aaaaard hiks, Sa..Sakit, Sayang!!"
"Aku..Aku mohon, semuanya..semuanya akan baik-baik saja."
Ardelof membaringkan Sofea keatas ranjang Putih ini hingga Dokter Eglita mengkerahkan Petugas Medis perempuan menutup pintu ruangan bersalin dengan Dokter Xiomus menunggu diluar berjaga kalau ada yang memanggilnya.
Sekarang, tinggalah Sofea yang tengah mengerang memeggangi perutnya dengan suara serak termakan geraman menahan rasa perih dan melilit menekan perutnya. suara deras hujan bercampur gemuruh diluar sana menelan semua rasa sakit ditubuhnya.
"Sakitttt, hiks, Ini Sakit!"
"Kau..kau kuat, hm? kau bisa, ini pilihanmu mau melahirkan. Normal, sayang!"
Ardelof yang seakan mau mati melihat air mengalir disela betis dan paha Sofea yang terus mencengkram lengan Ardelof yang berusaha meredam rasa sakit ini, tapi apalah dayanya yang tak bisa berbuat banyak karna ini kodrat yang kuasa.
"Putri, anda tahanlah sebentar, ini baru pembukaan ke 5!"
"Ya Tuhan hiks!"
Sofea begitu menelan tangisnya karna ini tak bisa ia jabarkan, ia baru pertama melahirkan tapi rasanya seakan dicabut dari raganya secara paksa, Ardelof tak henti melantunkan ucapan kasih dan penuh cinta seraya mengusap keringat yang terus berceceran dikening Sofea.
"Kenapa pembukaannya belum juga usai?"
Bisik Suster disamping Dokter Eglita yang mengaggumi kulit Sofea dan bentuk tubuhnya yang sempurna, tapi ia merasa ngeri karna sedari tadi Pembukaan jalan lahir hanya bergerak dipembukaan 5, padahal Sofea sudah sedari tadi sakit-sakitan.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Ardelof geram menatap para Suster yang menunduk tak berani menatapnya, mereka ikut terpesona dengan Tubuh wanita ini sampai lupa kalau Yang Mulianya tengah dilanda kebercamukan.
"Yang Mulia, Pembukaan jalan lahir masih 5, atau kita tunggu sedikit lagi!"
"Menunggu? kau mau mati, ha?? Istriku sudah kesakitan sedari tadi!!!"
"A..Ardsss!"
Sofea mendesis lemah tetap mencengkram lengan Ardelof hingga berdarah, rasanya sangat sakit tapi ia percaya dengan ucapan Ardelof karna semuanya akan baik-baik saja.
Whusss..
Angin yang kuat lolos dari arah Jendela membuat mata Ardelof lansung menatap kesana, ia melihat daerah luar sudah menjadi gelap bak malam hari dengan langit yang berpetir menandakan Mahluk itu sudah melakukan Ritualnya.
Genggaman Ardelof menguat ketangan Sofea yang masih larut dalam rasa sakitnya, Dokter Eglita membantu melepas pakaian hamil Sofea tanpa daleman tadi hingga Tubuh sempurna Sofea benar-benar polos tanpa cela membuat para Suster sana merasa iri.
"Ouuss, Sakitt!"
Cetasss...
"Aaard!!!"
Sofea terperanjat kaget dengan suara petir itu hingga angin ini semangkin kuat membuat Sofea dilanda rasa takut yang besar, ia tak membayangkan betapa menyeramkannya diluar sana itu karnanya Ardelof menempatkannya ditempat yang terang begini.
Pembukaan itu masih terkendala membuat Dokter Eglita berusaha keras dengan memijat pinggang Sofea yang sudah bergetar menahan sakit, Ardelof tak sanggup melihat ini hingga ia memejamkan mata menenagkan hati yang sudah seakan tertusuk berbagai sembilu.
"Sakitt hiks!"
"Yang Mulia, saya tak tahu kenapa Jalan lahir Putri seakan tak bereaksi lagi."
"A..Apa?"
Gumam Sofea mengelus perutnya memucat dengan nafas memburu karna ia merasa Bayinya sudah mau lahir, tapi masih ditahan oleh sesuatu. Namun, mata Sofea lansung menjerit keras saat perutnya seakan mau pecah membuat Ardelof mengepalkan tangannya kuat.
"S..Sakittt!!! hiks, Pe..Perutku!!"
"Sayang!"
Ardelof menangkup pipi pucat Sofea yang masih menjerit keras mencengkram lengan Ardelof dengan air mata yang menetes, sungguh Ardelof sudah memikirkan ini sedari lama dan ia siap untuk semua itu.
"A..Ard hiks, Sakitt!"
"Sutt, dengarkan aku!"
Ardelof mengusap kening Sofea yang bersimbah keringat dengan lembut, matanya menawarkan keamanan bagi Sofea yang benar-benar seakan mau mati.
"A..Ard, hiks, b..bagaimana ini?"
"Apapun yang terjadi, jangan pernah keluar dari tempat ini, hm? semuanya akan baik-baik saja."
"K..Kau..Jangan..Jangan asss Jangan tinggalkan aku!!"
Sofea mencegat tangan Ardelof yang mau turun dari ranjang dengan wajah pucat dan bibir tak berona itu menatap Ardelof penuh permohonan agar menemaninya dalam rasa sakit ini.
"Berjuanglah disini, kau tak sendiri! aku ada bersamamu!"
"A..Ard aku.."
"Yang Mulia!"
Tiba-Tiba Quxi yang datang ditengah mereka tapi para Team medis ini tak mengetahuinya hingga Sofea yang masih mengerang sakit itu menatap Quxi yang prihatin melihatnya.
"Ada apa?"
"Mereka menuju kemari!"
Degg..
__ADS_1
...
Vote and Like Sayang..