Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
Tak menyangka!


__ADS_3

Mata Sofea terbuka sayu dengan bibir pucatnya yang meringis memeggangi perutnya yang sudah kembali datar tapi masih berlemak, mata Sofea menatap langit kamar ini yang dipandangannya telah berubah dengan rona biru hingga mata indahnya termenggu sayu.


Suara diluar sana tak dapat ia dengar seakan ia tengah terkurung dalam Dunianya sendiri, tak ada seorangpun di ruang sunyi nan hanya dihisai kemilau biru ini selain dirinya sendiri.


"A..Ard!"


Gumam Sofea karna hanya nama itu yang terlintas dipemirkirannya, ia berusaha bergerak ditengah rasa nyeri di bagian intinya hingga Sofea duduk dengan lemah menatap lurus.


Dahinya mengkerut ada cahaya biru dan hitam yang mendekatinya hingga membuat Sofea termenggu kosong. ia tak tahu sekarang ia dimana hingga dua cahaya itu mendekatinya.


"Ibu!"


"A..Apa?"


Sofa Syok saat dua cahaya ini memanggilnya dengan suara lemah itu, mata Sofea menatap sulit satu persatu cahaya ini sampai kebingungan sendiri.


"Bu, aku mau bersamamu!"


"Aku saja, Bu!" yang Hitam berucap begitu menyedihkan membuat Sofea menatap intens dengan raut tak percaya.


"K..Kalian siapa?"


"Aku anakmu!"


"Aku anakmu, aku Putramu, Bu!"


Suara dua cahaya itu berbantahan membuat Sofea lansung tersigap saat ada sesosok samar yang muncul tepat dibelakang kedua cahaya ini.


Degg...


Mata Sofea terbelalak melihat Tubuh kekar seorang pria yang begitu ia rindukan dengan raut wajah lembutnya menatap Sofea penuh cinta, wajah yang sama dengan kehangatan yang sama membuat bibir Sofea bergetar tak menyangka.


"S..Sayang!"


"Hm, ini aku!"


Ardelof tersenyum membuat Sofea lansung ingin bergerak berhambur tapi kedua cahaya ini lansung mendekatinya membuat Sofea lansung menatap Ardelof.


"Ar..Ard, sekarang.. sekarang kita dimana? dan mereka.. mereka siapa?"


"Pilihlah salah satu dari mereka!"


Ucap Ardelof membuat Sofea kembali memandang dua cahaya ini. hatinya mengatakan kalau ia harus keluar dari sini tapi kenapa? Ardelof suaminya ada disini, untuk apa ia seperti ingin meraggukan tempat ini.


"Sayang, P..Putra kita sudah lahir, mereka.."


"Mereka juga Putramu, aku sudah bilang bukan?! kau akan melahirkan dua kekuatan! mereka salah satunya."


Sofea terdiam mendengar ucapan itu hingga ia kembali menatap netra Ardelof yang benar-benar sama membiru laut hingga ia mengangguk.


"Kau pilih yang mana?"


"Terserah kau saja, yang penting kau memilih!"


"Tapi aku bingung, Ard." ucap Sofea membuat raut wajah Ardelof mulai berubah mengeras.


"Kau tak bisa tinggal memilih saja, ha? waktu kita hanya sebentar lagi!!!"


Ardelof menggeram membuat Sofea hampir saja terlonjak kaget hingga pandangan Sofea berubah menajam mengepalkan tangannya kuat.


"Suamiku tak pernah menyalahkan aku!!"


"Kauu!!"


"Enyahlah kau brengsek!!!"


Whusss..


Sofea kembali terbangun saat ia kembali tertarik kealam sadarnya hingga jeritan Sofea mengiringi dentuman diluar sana, angin ini selalu berhembus kuat memporak-porandakan barang-barang didalam kamar tapi mata Sofea tertuju pada Si mungil yang tengah ada diatas Keranjang Bayi disudut sana.


"Sofea!!"


Mama Netty yang tampak terkejut mendengar jeritan Sofea hingga ia menerobos masuk dengan nafas memburu.


"F..Fea, kau..kau baik-baik saja, nak?"


"M..Mama!"


Sofea menatap Mama Netty dengan wajah sendu dan mata berkaca-kaca, ia melihat kulit merah dan lengan mungil itu tengah meliut didalam sana.


Tentu Mama Netty tahu akan pandangan sendu Sofea membuat ia lansung mengangkan Bayi mungil itu dengan lembut telaten mendekati Sofea yang tampak meneteskan air mata.


"I..Ini.."


"Dia Putra kalian,Nak!"


Mama Netty duduk disamping Sofea hingga wajah merah mungil ini lansung meruak menyapanya, jari telunjuk Sofea gemetar terangkat menyentuh pipi mulus ranum yang tengah tertidur dicuaca Badai ini.


"D..Dia.. dia sangat tampan."


"Hm, Ratu Rosmeryna bilang, si kecil ini mirip dengan Ardelof waktu kecil, katanya dulu Ardelof juga pertama kali menangis tapi setelah itu dia akan tidur walau gempa pun yang mengguncang tempatnya!"


Sofea terkekeh kecil menatap sendu wajah Putranya, benar-benar tampan dan sangat ia akui itu, perlahan wajah Sofea mendekat dengan bibir pucatnya yang mengecup lama kening si kecil ini hingga membuat kemilau biru itu bersinar dari kening keduanya.


"Ya Tuhan, Fea!!!"


Mama Netty dan Dokter Eglin yang baru datang lansung memerah melihat wajah Tampan Si kecil ini malah semangkin berbinar meredam ketakutan mereka atas apa yang telah terjadi diluar sana.


"Aku tak menyangka, kalau Prince memang mewarisi Ketampanan, Putra Mahkota!"

__ADS_1


"B..benarkah?"


Sofea lansung menatap ke arah pintu sana menatap terkejut Yella yang muncul dengan wajah muramnya menatap Sofea yang termenung.


"Y..Yella!"


"Hm, apa kabarmu?"


Tanya Yella mendekat dengan kaki tertatih-tatih mendekati Sofea yang merasa sangat aneh, tapi ia tetap tersenyum memandang lembut wajah sahabatnya ini.


"Baik, dengan siapa kau kesini?"


"A..Aku.."


Yella mulai ingin menangis hingga Dokter Eglin lansung merangkuhnya untuk duduk disampingnya hingga Sofea saling tatap dengan Mama Netty.


"Kenapa?"


"F..Fea hiks, G..Gibran.."


"Ada apa?"


"Gibran telah berubah menjadi Mahluk itu."


Sofea terkejut bukan main hingga menatap kearah Jendela yang masih berkilat merah dengan suara pertempuran yang masih terdengar jelas, ia khawatir jika Ardelof terluka diluar sana.


"B..Bagaimana bisa..?"


"Dia.."


Brakk..


Mama Netty lansung menarik Sofea kedekatnya merapat saat salah satu Pelayan tiba-tiba terpental masuk kedalam menerobos pintu yang retak, mata mereka terkunci dengan ceceran darah yang membasahi lantai itu dengan aura kamar yang mendingin.


"A..Apa yang terjadi?"


"P..Putri uhuk, M..Mereka b..bertambah banyak!"


Pelayan itu lansung mereggang nyawa membuat wajah Mama Netty dan Dokter Eglin lansung pucat, suara pertarungan juga terdengar diluar kamar dan itu pasti Ratu Rosmeryna dan Ratu Lamoria yang berusaha mencegah hadangan ini.


"Ma!"


Sofea menatap Mama Netty dengan isyarat tersembunyi, seakan ia mengatakan 'Bawalah Putraku pergi' hingga Mama Netty menggeleng.


"Ardelof bisa binuh diri kalau sampai seperti ini, Fea!"


"Lihatlah semua ini!"


Sofea menunjuk kearah Jendela dimana langit sana sudah dipenuhi Mahluk yang sama, bahkan ledakan itu sudah membuat tanah Kerajaan menjadi retak berlahar panas, ia takut Putranya akan mati disini.


"Ak..Aku mohon, ma!"


"Mereka kesini mengincarku, apalagi Suamiku sudah bertaruh nyawa diluar sana, aku..aku tak ingin membuat pengorbanan mereka sia-sia."


Mama Netty menggeleng merasa ia sangat jahat kembali melarikan seorang Bayi.


"Fea, Mama.."


Whusss..


"Aass!!!"


Sofea meringis memeggangi dadanya yang sudah menjalar akar hitam hingga membuag mata Yella berbinar terang, ia mendekati Sofea yang mengerag sakit mencengkram seulas kain yang membalut tubuhnya.


"M..Maaa!!!"


Sofea semangkin berteriak merasakan ada yang tengah menghisap jiwanya dari tubuhnya dengan kuat, tentu itu adalah Portal Grimoire yang telah berputar menarik Sofea untuk keluar dari Papiliun ini.


"S..Sofea, minum ini!"


Yella memberikan segelas air dari meja sana hingga Sofea mau tak mau lansung meminumnya tandas membuat Dokter Eglin membiarkan saja karna ia juga tak tahu harus apa.


Namun, bukannya merasa Lega Sofea malah semangkin merasa panas membuat kulit putihnya yang tadi pucat berubah meradang hingga mereka terkejut.


"N..Nak, apa..apa yang terjadi?"


"P..Panas, maa hiks, panas!!"


Sofea mengibas leher dan dadanya yang seakan mau terbakar, Dokter Eglin memeriksa tubuh Sofea tapi ia tak menemukan gejala peradangan, suhu tubuh Sofea juga meningkat derastis hingga..


"Fea!!!!!"


Teriakan seseorang diluar sana menarik perhatian mereka, dan itu adalah suara Gibran yang membuat Yella takut.


"I..Itu Gibran, dia..dia pasti berniat jahat pada kita!"


"Apa yang harus ku lakukan?"


Dokter Eglin frustasi menutupi Sofea dengan tubuhnya, Yella merapat memeggang leher Sofea yang semangkin merasakan sulit bernafas dan sesak yang teramat dalam dadanya.


"Fea!!!!"


"Berhenti!!!"


Dokter Eglin memeggang Gunting yang tadi ia gunakan untuk menjahit luka Sofea, matanya menatap tajam Gibran yang terengah-engah dengan kening penuh luka menatap kearah mereka, terutama pandangannya menajam memandang Yella.


"Sofea, menjauh darinya!"


"G..Gibran!"

__ADS_1


Lirih Sofea masih merasakan sakit disekujur tubuhnya, ia menatap mata Gibran yang tak berubah sama sekali tapi kenapa Yella mengatakan kalau..


Duarrr..


Sofea terperanjat saat merasakan peggangan Yella ketangannya mengerat, matanya menatap nanar jari-jari Yella yang berubah-ubah seperti bangkai dan..


"Y..Yel..k..kau.."


Yella tersenyum sinis menggenggam tangan lentik Sofea erat hingga Sofea menggeram merasakan energi negatif ini mengalir dalam tubuhnya hingga Sofea mendorong Mama Netty untuk menjauh.


Brughh..


Mama Netty tersungkur dengan menggendong Bayi mungil itu dengan menatap kosong kearah ranjang.


Akar hitam itu menjalar dari leher Sofea menuju pipi hingga benar-benar terlihat merambat menjalar ditubuh wanita itu.


"Yella!!!! hentikan!!!"


Yella tertawa keras memekik telinga mendengar teriakan Gibran yang tak bisa masuk karna Klan Black-Clover sudah ingin menyerang kedalam kamar.


"Sofea, Sayang!"


"K..Kau.." Sofea menatap wajah Yella yang berubah-ubah seperti bangkai, ini sama dengan wajah Vanelope dulu hingga Sofea lansung melepas gengggaman tangannya.


"Kau takut, hm?"


"K..Kau..K..Kenapa?"


Lirih Sofea bergetar menatap telapak tangannya yang mulai membayang seperti tengkorak hingga ia memandang Mama Netty yang sudah menangis memeluk erat bayi mungil itu.


"Kau merasakannya? kau merasakan Tubuhmu sangat kuat dan kau sangat cantik, Fea!"


Sofea mencengkram lengannya yang mulai bergerak tak sesuai dengan otaknya hingga ia menatap Yella yang berdiri dihadapannya mendekati Mama Netty.


"M..Menjauh dariku!"


Mama Netty melempar Yella dengan barang-barang yang berjatuhan disekitarnya tapi, ia tak bisa mencegah Yella yang sudah terhenti sejenak memberi seringaian. Mama Netty tak menyangka kalau wanita ini juga telah bergabung dengan Klan yang sama.


"Kenapa? Kenapa Yella??? Kau..Kau anak baik tapi kau.."


Whusss...


Mama Netty lansung mencekik dirinya sendiri akibat kibasan tangan Yella yang sudah merubah bentuknya menjadi Mahluk yang sama, tubuh nyaris seperti bangkai dengan mata merah menyala yang berkobar.


"KALIAN PEMBUNUH!!!!"


Bentak Yella menyala-nyala hingga Dokter Eglin sampai mimisan, Sofea mematung diatas ranjang melihat perubahan dari tubuhnya yang menunjukan tanda-tanda yang sama.


Mata berair Sofea lansung beralih memandang Jendela disampingnya dimana Mahluk mengerikan itu membantai habis para Manusia yang tersisa.


"A..Apa aku.. aku akan seperti.."


"Kauuu!!!"


Yella berbalik menunjuk Sofea yang masih menatap nanar keluar sana. air matanya menetes melihat Ardelof yang sudah menghancurkan satu persatu Kumpulan bahkan ribuan Mahluk itu dengan menarik Cahaya Hitam yang ia rantai keatas sana, wajah pria itu sudah mengeluarkan bentuk rupanya sebagai Pimpinan tertinggi.


"Kauu Sofea!!! Kau membunuh Anakku!!"


"A..Apa maksudmu?" tanya Sofea menatap perut Yella yang datar hingga mata Yella yang tadinya berkobar merah berganti dengan netra aslinya yang berair.


"A..Anakku, aku kehilangan Anakku karna Dia masih mencintaimu!!!!"


"Y..Yella!"


Gibran mendengar itu lansung terdiam menatap mata Yella yang penuh akan luka dan kesakitan, saat ia bertemu dengan Yella setelah sekian lama tapi sayangnya wanita ini sudah menghabisi para Manusia disekitarnya termasuk ingin membunuh Dirinya sendiri.


"A..Anakku pergi, Cintaku hancur, hidupku tak berarti lagi, bukan?"


Sofea hanya diam menatap kosong kearah Gibran yang menangis melihat buah dari kesalahannya telah menghancurkan dua wanita sekaligus, bahkan ia sudah membuat Yella berubah.


"Jawab, Sofea!!!"


Bentak Yella semangkin membara, ia sangat senang melihat Sofea yang menahan sakit akan perubahan itu. dua jiwa yang berperang dalam satu tubuh.


"Aku iri denganmu, Kau punya Suami yang sangat sempurna dan mencintaimu. kau sudah melahirkan putra yang sangat Tampan, tapi bagaimana dengan aku?"


"Itu salahku!! bukan dia, Yella!!"


Whusss..


Brakkk..


Gibran terpental akan serangan Yella yang berbentuk api lalu berbalik menatap Mama Netty yang kembali memeluk Bayi Sofea yang tetap memejamkan matanya. Yella melangkah perlahan dengan cakar tajam dari kuku-kukunya yang sudah bergerak terulur memanjang mendekati Bayi mungil ini.


"Pergilah temani, Putraku, hm?"


Mama Netty tiba-tiba kaku ditempat hingga ia tak bisa bergerak hanya bisa berteriak memohon agar tak menyentuh cucunya.


"Aku Mohon!!! hiks, lepaskan kami!!!"


"Tak semudah itu!"


Yella ingin menyerang mengeluarkan asap hitam ditangannya tapi dengan segera Sofea meredam rasa sakitnya hingga ia berdiri mendorong tubuh Yella menjauh dari Putranya.


Brughh..


....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2