Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
Memaksa


__ADS_3

Tatapan sulit mata sembab sendu Sofea lansung dibuat berkecamuk penuh tanya akan apa yang Ardelof katakan padanya, ada raut tak percaya tapi dari intonasi dan tatapan khas Ardelof yang tegas tanpa candaan pun lansung membuat mulut Sofea keluh.


"Maksudmu, Beclie itu bukan anakmu lalu anak siapa?" tanya Sofea intens, Ardelof lansung terdiam lalu kembali duduk disamping Sofea yang masih polos karna wanita itu belum sadar akan rasa Penasarannya hingga ia hanya fokus.


"Kenapa kau ingin tahu?"


Tanya Ardelof menyelipkan helaian rambut Sofea yang masih menjuntai kebelakang daun telingnya seraya menarik pinggang ramping itu keatas pangkuannya.


"Hm, kenapa?"


"Aku butuh status, Ard!"


"Kau Istriku, apa itu bukan status?" tanya Ardelof terkesan mencari jawaban Sofea, ia hanya ingin tahu apa Sofea ingin menjadi Ratu besar Alison seperti impian Vanelope atau wanita ini Tulus mencintainya.


Pandangan Sofea lansung berubah tegas menatap Ardelof yang juga memandangnya, keduanya punya rasa sendiri hingga tak bisa dijabarkan.


"Aku wanita, aku punya harga diri dan Perasaan. aku tak masalah jika Aku Istrimu dan hanya kau dan aku yang tahu, tapi aku tak terima Wanita lain ada diantara kita, aku tak ingin kehadiranku malah menghancurkan sesuatu yang telah ada, dan kau.."


Sofea memeggang bahu Ardelof yang hanya diam menelaah setiap jawaban Bijaksana yang Sofea ucapkan.


"Kau laki-laki, juga Putra Mahkota, bayangkan saja jika kau sudah memiliki Istri dan mempunyai anak tapi kau masih menginginkan wanita lain, maka kau BAJINGAN sebenarnya."


Ketus Sofea terbawa emosi disertai lototan mata indahnya membuat Ardelof menarik sudut bibirnya kecil, entahlah sepertinya perlahan tapi pasti Sofea mengendalikan Jiwanya.


"Bagaimana kalau aku memang sudah beristri?"


"Ceraikan aku."


Cup..


Ardelof menyambar bibir Sofea yang sudah cukup pedas mengatai Ardelof yang sudah meredam kegeramannya hingga ia tak bisa lagi memukul selain mencium dengan brutal.


"Emm.."


Sofea menepuk paha Ardelof yang menghisap bibir bawahnya kuat sampai membuat Sofea kebas dengan nafas yang tersendat, namun bukan Ardelof yang dengan mudah melepaskan bibir kenyal manis ini kalau tak ada gigitan gemasnya seraya tangan yang memeggangi tengkuk Sofea.


"Aamm.."


Ardelof melepas ciumannya tapi kedua tangannya lansung mengungkung Sofea yang sudah terbaring dipeggangan Sofa dengan nafas yang memburu menghirup udara secara cepat.


"K..Kau.."


"Hm. kau lancang sekali, aku seorang Putra Mahkota tak pernah selembut ini."


"Bulshit, kau sendiri bilang kau sangat mencintai Vanelope."


Ketus Sofea menghapus jejak ciuman Ardelof dibibirnya secara kasar lalu meringkuk menyamping dengan wajah geram, cemburu sekaligus sangat kesal bercampur aduk.


Ardelof hanya memiringkan senyum geli hingga ia bersandar ke punggung Sofa dengan tangan yang mengelus paha Sofea yang tepat meringkuk seperti bayi disampingnya tanpa helaian apapun.


"Lanjutkan ceritamu."


"Kau tak marah?"


"Untuk apa aku marah?! betapa Cintanya kau pada si Cantikmu itu hingga.."


"Hingga aku membunuh Pria itu dan ku awetkan hingga kini."


Duarrr...


Sofea lansung bangkit berdiri menatap tak percaya Ardelof yang hanya santai duduk bertopang kaki dengan kedua tangan ada dibelakang kepalanya sebagai penyanggahan.

__ADS_1


"M..Mayatnya?"


"Hm, aku sangat benci Perselingkuhan, dia hamil anak orang lain tapi aku dipaksa yang bertanggung jawab hingga diumur 3 Tahun aku pergi kembali dan sampai beberapa minggu ini aku kembali dari Petualangan sendiri, sayangnya benih kotor itu telah besar."


Ardelof menyelipkan intonasi yang geram, itu karnanya ia selalu emosi membahas Beclie karna bocah itu mengingatkannya akan perselingkuhan dari Cinta tulus yang ia berikan.


"A..Apa kau masih mencintainya?" suara Sofea ciut melemah, dari cerita itu Sofea meremang betapa beruntungnya dulu Vanelope mendapatkan Cinta sebesar itu membuat Sofea merasa resah.


"Apa aku sebodoh itu?"


"Tapi, tapi kau sangat terlihat marah, kau masih mencintainya, Ard." sambung Sofea ingin jelas hingga ia duduk disamping Ardelof yang masih saja membuat wanita itu menjadi gelisah.


"Memangnya aku harus melupakannya?"


"Kalau begitu kembali saja padanya, aku..aku bisa hidup sendiri tanpa mu dan seorangpun, kau pikir kau saja yang paling Tampan di Dunia ini, ha? aku bisa mencari yang lain."


"Hustt, aku tak suka. cari jawaban lain." Ucap Ardelof menepuk mulut Sofea kecil hingga wajah wanita itu sangat serius menatap Ardelof yang hanya ingin agak rileks. ia ingin mendengar satu kalimat yang mampu membuat dirinya meledak dini hari ini juga.


"Ard, aku bukan Sekedar Pemuas hasratmu kan?" tanya Sofea berharap-harap cemas.


"Tidak."


"Apa tak bisa sedikit lebih panjang?" geram Sofea tak puas dengan kata itu hingga ia kembali melotot garang tapi Ardelof hanya menikmatinya saja, dimana lagi ia bisa melihat jelas bahkan lama Tampilan polos istrinya dalam berbagai raut wajah.


"Tidaaaaaak!"


"Aku pergi saja."


"Hey, Penyihir."


Bugh..


Ardelof menarik lengan Sofea yang ingin melangkah menuju pintu hingga tubuh wanita itu jatuh keatas pangkuannya, wajah Sofea berubah kesal tak mau menoleh menatap Ardelof sama sekali.


"Aku tak cemburu!"


"Lalu kenapa kau marah?"


"Aku tak marah!"


"Kau marah, buktinya matamu melotot." goda Ardelof mengecup pipi Sofea yang mengembung hingga wanita itu lansung menatap Ardelof tajam dengan penghakiman yang kuat.


"Katakan, kau Mencintainya atau tidak?"


"Tidak!"


"Kau masih mengingatnya? kau masih mencintainya Ard, kau..kau pasti marah kalau membahas dia, kau ..kau tak adil."


"Apa aku harus melupakannya?"


"Iya, itu harus."


"Kenapa?"


"Karna kau tak boleh kembali padanya."


"Kenapa?"


"Karna aku menc.."


Degg..

__ADS_1


Sofea lansung tersadar hingga lansung menutup mulutnya membelakangi Ardelof yang begitu menunggu sambungan ucapan itu. dengan mesra Ardelof membelit perut datar Sofea merapat kearahnya hingga ia bertopang dagu ke bahu putih wanita itu menatap wajah Sofea yang menunduk.


"Menc..?"


"A.. itu..."


"Itu?"


Sofea berfikir keras, masih ada rasa gengsi didalam hatinya saat mengatakan ini duluan seakan ia mengemis cinta pada pria paling angkuh dan sombong seperti suaminya ini.


"A..m.. aku.. itu.. Ard!"


"Apanya?"


"Kau jangan mengejekku!"


"Em, Tidak akan!" Jawab Ardelof masih dalam keadaan yang sama, ia mengecup bahu polos Sofea seraya kedua tangannya perlahan naik menggapai dua buah benda kenyal yang sangat ranum dan pas digenggaman tangan besarnya.


"Se..sebenarnya aku.."


"Hm?"


"Se..se.."


"Se?"


"Sial!!!"


Umpat Sofea karna ia tak bisa mengatakannya, padahal sudah diujung-ujung lidahnya membuat Ardelof semangkin kuat menekan agar mengatakannya, sesekali Sofea menurunkan tangan Ardelof yang meremas dadanya hingga ia kembali memulai.


"Aku tak tahu ini benar atau tidak, tapi, rasanya aku harus mengatakan ini."


"Kau bertele-tele, sebenarnya kau mau apa. hm?"


"Katakan kau Mencintai aku!"


"Kau memaksa, Nona!"


"Aku serius, katakan!"


Tegas Sofea menghakimi seraya menagkup pipi Ardelof dengan kedua tangannya, padahal jantung Sofea sudah berguncang karena ia sudah terlalu berani.


"Memangnya kau Mencintaiku Nona Ratna Mahadewi?"


"Kau duluan."


"Kau yang meminta!" Dorong Ardelof.


"Kalau begitu tidak, sebelum kau mengatakannya aku tak akan mengatakannya."


"Kalau begitu jangan katakan, biarkan semuanya abu-abu."


"Baik, kau masih saja EGOIS!"


Geram Sofea tapi Ardelof sungguh dibuat kualahan, sangat susah meminta kata sederhana bermakna gemilau itu pada wanita ini.


"Shitt, dia sangat sulit ditakhlukan."


Gumam Ardelof mengigit bibir bawahnya menatap Sofea yang sudah turun dari pangkuannya lalu kekamar mandi, tentu Ardelof melepasnya karna seluruh luka itu sudah sembuh dengan cepat.


.........

__ADS_1


.......


Vote and Like Sayang..


__ADS_2