Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
Sebesar itu Cintamu!


__ADS_3

Sofea agak kikuk mendapat pertanyaan yang begitu menusuk dari Ardelof, ia beberapa kali menatap ke sembarang arah mengalihkan ke gugupannya.


Memang ia menyembunyikan ini dari semua orang karna takut jika mereka terlalu panik mengingat Vanelope bukan lagi Manusia seperti mereka. tapi Sofea masih memberi kesempatan bagi Vanelope untuk berubah hingga ia pun bisa membantunya.


"Jawab!"


"A.. begini, Sayang."


Sofea membawa Ardelof ke tepian Dermaga hingga Ardelof yang berwajah datar itu hanya menurut duduk dengan begitu berkharisma bertopang kaki angkuh seraya satu tangan masih membelit pinggang ramping Istrinya mesra seraya satu tangan lagi memeggang punggung putranya.


"Hm."


"Soal itu aku tak memberi tahu siapapun karna aku hanya khawatir mereka terlalu panik, apalagi saat itu kau tak ada. aku merasa waktunya kurang tepat, apalagi sekarang kita tak tahu bagaimana keadaan Beclie?"


Ardelof terdiam sejenak menatap lurus kedepan, memang sekarang ia berjaga apa Vanelope kembali membuat ulah atau kembali dengan rencana licik atau sudah membenahi diri. yang jelas jika sudah membahayakan ia tak akan segan membunuhnya.


"Apapun yang terjadi. dia tak akan bisa berbuat banyak karna kekuatannya pun sudah melemah."


"Hm, itu karnanya aku tak mau semua orang menyalahkan Vanelope apalagi Mama Netty sangat menyayangi Putrinya."


"Dia tak akan lagi utuh!"


Dahi Sofea menyeringit menatap Ardelof yang mengatakan itu. Baby Aron juga menanti lanjutan penjelasan Ardelof seraya masih berpolos mata memainkan kancing kemeja Dadynya.


"Maksudnya, Ard?"


"Aku sudah melumpuhkan sebagian besar darinya. tubuhnya akan terus melepuh sesuai bara yang ku tumpahkan di raganya."


"K..Kau.."


"Hm, Sama dengan 3 pria tak berguna itu."


Geram Ardelof mengingat 3 Manusia di Dimensi Darknya. saat ia terhempas dari Portal itu dan diselamatkan Raja Petra hingga Abu Deugon luruh ke bawah ternyata bersamaan dengan semua tawanan Dimensinya hingga menimbulkan ledakan. tapi, entah bagaimana caranya Vanelope berhasil keluar dari tempat itu.


"Maksudmu, Juand dan Edgar?"


"Dan si tua bangka bau tanah itu!"


"Tuan Maukey?"


Ardelof lansung meremas bibir Sofea dengan tangannya membuat pekikan itu muncul.


"Ard!!"


"Kau hafal namanya." Ardelof menggeram kesal.


"Tentu, Sayang! aku belum amnesia."


"Lupakan saja dia, apa untungnya kau ingat-ingat."


"Ada untungnya."


Jawab Sofea seraya dengan pelan melepas cengkraman remang Ardelof ke bibirnya membuat wajah Ardelof bertambah merenggut dongkol membuang muka ke semarang arah.


"Apa?"


"Sebagai bukti kalau aku masih mengingat bagaimana pertemuan pertama kita."


Ardelof terdiam mendengar ucapan Sofea barusan, ia baru sadar saat pertama kali bertemu dulu ia sangat tak memperlakukan Istrinya dengan baik. ada rasa bersalah dihati Ardelof ketika mengingat dimasa ia sangat kasar berlaku seenaknya.


"Maaf!"


"Ha? kenapa?" bingung Sofea menggenggam tangan kekar Ardelof.


"Maaf. dulu aku terlalu kasar padamu, dan memakimu sesuka ku saja."


Ucapan Ardelof sangat menyeselainya hingga ia sendiri merasa sangat beruntung Sofea mau menemaninya sampai sekarang, padahal banyak yang memberi perhatian saat ia tak ada.


"Sudahlah, itu sudah lalu! lagi pula kalau diingat aku tak sakit, melainkan geli."


"Kenapa?"


"Bayangkan saja, betapa kau dulu memakiku dengan sebutan penyihir, jelek, wanita tak tahu diri, dan kau tak akan mencintaiku. tapi sekarang?"


Sofea menoel dagu Ardelof yang bersemu menyimpulkan senyuman mengecup pelipis Sofea lembut.


"Sekarang, aku jadi pria paling beruntung karna mu!"


"Ouss, Kau sangat manis."


Cup..


Sofea mengecup bibir Ardelof kilas hingga membuat Baby Aron menutup matanya dengan satu tangan, walau tak tertutup sempurna tapi setidaknya ia sudah berusaha.


"Myy!!"


Suara mungil Baby Aron menyadarkan keduanya dalam kasmaran Cinta hingga Sofea menatap putranya yang tengah melihat keluar Gerbang Istana.


"Kenapa, hm?"

__ADS_1


"Myy!"


Ardelof menatap ke arah jari Putranya dimana ada pengawal dan Gerbang yang tertutup rapat karna tak ada yang keluar atau masuk diwilayah ini.


"Mau keluar?"


"Myy!"


Baby Aron mengangguk akan tebakan Ardelof yang benar, Sofea pun mengerti kemana Si mungil ini mau pergi.


"Biasanya Baby mau jalan kemana, Sayang?"


"Biasanya Digo mengajaknya.."


"SOFEA."


Sofea mencengir mendengar geraman Ardelof soal nama itu hingga ia berdiri.


"Biasanya Baby suka ke Taman, tapi yang sunyi! atau biasanya aku bawa ke Mall mencari baju untuknya."


"Mall."


Gumam Ardelof manggut-manggut mengerti lalu berdiri lansung meraih pinggang Sofea merapat kearahnya melangkah menuju pintu Istana.


"Kemana, Sayang?"


"Ganti baju."


"Tidak usah, ini sudah bagus."


Ucap Sofea membuka Blezernya lalu mengambil Ponsel Ardelof disaku Jas pria itu, kebetulan ia hafal Nomor kontak Renin untuk membawakannya baju ganti.


"Hello, Yang Mulia!"


"Renin, bisa kau antarkan pakaian yang ku beli kemaren?"


"Baik, Yang Mulia!"


"Terimakasih."


Dahi Ardelof mengkerut menatap Sofea yang kembali meletakan Ponselnya ketempat semula.


"Pakaian?"


"Itu Pakaian untuk pelantikan besok, soalnya Ibu Ratu bilang dia sudah memilih Desain khas Kerajaan dari Desainer Syusi. jadi aku yang memilihnya."


Ardelof manggut-manggut mengerti hingga Sofea mengiring mereka ke Mobil, para Pengawal yang melihat mereka hanya diam seperti patung karna itu memang aturan yang sebenarnya. walau mereka sangat mengaggumi 3 manusia sempurna itu.


"Mall, mana Sayang?"


"Yang di dekat Pantai Hewort. Ard!"


Ardelof mengangguk melajukan Mobilnya Stabil hingga para Pengawal sana membuka Gerbang lalu memberi salam hormat pada Ardelof yang mengangguk menutup Jendela Mobilnya, para pengawal sana tak akan membuntuti karna mereka tahu Putra Mahkota tak akan setuju di Kawal kalau bukan ke acara Formal.


"Baby senang, hm?"


"Myy!"


Baby Aron menggeleng membuat dahi Sofea mengkerut mengelus kepala mungil putranya yang tampak menatap sinis Ardelof yang mencubit betisnya membuat Sofea membelo saja.


"Kenapa? apa Dady menganggu Baby lagi?"


"Myyy, hiks!"


"Ard, kau kenapa jahil sekali, ha?"


Gerutu Sofea saat Ardelof menarik kaos kaki putranya lalu melepasnya membuat Baby Aron merengek tak nyaman, justru itulah yang membuat Ardelof suka melihatnya.


"Sayang, dia ini hanya seperti itu didepanmu."


"Maksudnya?"


"Kau harus lihat CCTV di Istana."


"CCTV?" gumam Sofea bingung.


"Hm, mereka menyelami Dermaga seperti lumba-lumba, dan membuat kekacauan saat kau pergi. tak ada yang mampu menjaganya kecuali kau atau Nenek-Neneknya."


Sofea terdiam menatap Baby Aron yang menatapnya berkaca-kaca seakan ia tak mampu berbuat seperti apa yang di kisahkan Dadynya.


"Benar yang dikatakan Dady?"


"Myy!"


Baby Aron menggeleng menatap kesal Ardelof yang menyeringai licik membuatnya menggeram.


"Kau bohong, air mata kepalsuan."


"Mayyyy hiks!!!"

__ADS_1


"Ard, sudah!"


Sofea sangat frustasi dibuatnya hingga ia menghadiahkan cubitan mautnya ke dada Ardelof barulah pria ini berhenti memancing pemberontakan Baby Aron yang sangat berdendam padanya.


Setelah beberapa lama melakukan perjalanan dengan beribu kedongkolan Baby Aron. akhirnya mereka sampai ke Mall dekat pantai disampingnya hingga saat keluar mereka disapa pemandangan indah dan udara sejuk dari pantai.


"Kenapa sepi?"


Gumam Sofea merasa bingung, biasanya disini sangat ramai dipadati penduduk. sedangkan Ardelof hanya diam membuka pintu Mobil lalu melangkah menuju pintu disebelah Sofea.


"Sayang, kenapa sepi?"


"Mungkin hari libur."


Jawab Ardelof tak masuk akal seraya membuka pintu menarik paksa Baby Aron untuk ke gendongannya hingga si kecil itu pasrah tak mau memberontak didepakan kokoh Dadynya.


"Begitu yah?"


Ardelof mengangguk menggenggam tangan Sofea hingga mereka melangkah menuju pintu kaca Mall dengan penjagaan ketat dari Staf yang bekerja. mereka memberi salam hormat membuka pintu hingga Ardelof membawa anak dan Istrinya masuk kedalam Bangunan besar 12 lantai ini.


"Selamat datang, Yang Mulia!"


"Terimakasih."


Jawab Sofea pada Kariawan Mall yang didominasi perempuan, mereka semua sangat tak bisa mengkondisikan dada yang berdebar saat melihat tubuh kekar nan gagah ini telah berdiri Cool bak Sugar dady yang menggendong si kecil bermata singa itu.


"Mau belanja apa?"


Tanya Ardelof mengiring Sofea ke Toko semua barang yang dikeluarkan Brent ternama membuat para Staf yang mengikuti dibelakang lansung menelan ludahnya berat melihat Brend-Brend yang menaungi barang-barang ini.


"Emm, dimana tempat Pakaian Pria?"


"Disini Yang Mulia!"


3 Staf wanita itu mengiring Sofea menuju lantai atas melewati jejeran mainan di bawah, Baby Aron tak tertarik dengan mainan anak-anak seumuran dirinya itu hingga ia hanya menemani Momynya belanja saja.


Ardelof menatap kesemua toko yang sunyi hingga membuat ia sendiri damai. tapi mata Ardelof memidik satu toko Brend Ambesador yang sangat ia kenal itu mengeluarkan barang-barang apa.


"Sayang, aku ke Toilet dulu!"


"Ya sudah, sini Baby."


"Kau fokus saja belanja. aku akan kembali dalam beberapa menit, hm?"


Akhirnya Sofea mengangguk hingga Ardelof mengecup bibirnya kilas lalu menatap tegas para Staf yang mengangguk menunduk akan isyarat Ardelof untuk mengawal Istrinya.


"Myy!!"


"Sutt, bantu dady memilih pakaian untuk. Momymu."


Bisik Ardelof setelah menjahui tempat Sofea menuju lantai atasnya lagi. Baby Aron terdiam menatap sinis Ardelof yang pasti punya rencana messum dikepalanya.


Setelah beberapa lama. ia sampai ke lantai atas. dimana ada lagi Staf wanita yang telah menunggu didepan Toko ruangan yang sudah tergambar rapi ini tempat apa.


"Selamat datang Yang Mulia."


"Hm."


Ardelof masuk ke dalam Pintu kaca yang terbuka hingga memperlihatkan banyak jenis dan bentuk Daleman wanita. dari mulai Bera, CD, Gaun malam, Lingeria bajkan masih banyak lagi dikemas Epik dan rapi.


3 Staf wanita itu memerah menduga apa yang dicari Putra Mahkota disini. tapi Ardelof hanya acuh karna menurutnya tak masalah membeli Daleman untuk Istrinya, toh ia tak berselingkuh.


"Aku minta ukuran yang ini."


Ardelof menunjuk Daleman CD berwarna putih dengan kain lembut dan dingin. sangat nyaman dipakai apalagi teksturnya yang menyerap, senada dengan Bera yang berbahan sama.


Sementara, para Staf sana sangat menganggumi ketampanan Baby Aron hingga mereka bersemu setiap si kecil itu mengenbungkan pipi gembulnya menatap sang ayah.


Ardelof fokus memilih berbagai Model hingga ia melihat satu paket Exstra pakaian khusus Pengantin baru dalam kaca di sebelah kananya, hingga matanya penuh binar kemesuman membuat Baby Aron memejamkan matanya tak mau ikut menggila seperti dadynya.


"Bahannya?"


"Bahanya lembut, dan tak mudah luntur! Desainnya simpel dan sejuk di kulit. ini dikeluarkan Brend ternama di Negara kita. Yang Mulia!"


Ucap salah satu Staf itu bersikap Profesional, membuka kaca itu menunjukan Model Lingerie nya. Gaun tipis berwarna merah menyala dengan jaring-jaring tembus pandang disetiap lekuknya membuat Ardelof sangat melemah membayangkan Sofea memakai ini.


"Aku ambil semua yang berukuran sama dengan yang ku pilih tadi, yang jelas warna tak terlalu terang dan cocok untuk kulit yang putih."


"Baik!"


Ucap mereka segera mengemas. ternyata banyak yang Ardelof suka dari Desain dan tampilan bajunya hingga hampir satu Tokoh ini ia ambil hanya untuk Daleman. mungkin ia akan menyuruh Sofea tidur tanpa memakai pakaian setiap malam.


Semua perlakuan istimewa itu dapat dilihat oleh seseorang yang tadinya keluar melawan rasa malu untuk melihat seseorang yang sampai sekarang masih mengukir nama dihatinya.


"Sebesar itu kau mencintainya?"


Suara tertelan oleh air mata yang jatuh dibalik Cadar dan kacamata yang ia pakai.


.....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2