Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
Pesona Sofea!


__ADS_3

Mentari diatas sana sudah mulai naik menggapai angan, senyumnya mekar membuat sinar kekuningan itu lansung terpancar menerobos ke dalam Balkon yang telah diraungi dengan embun pagi.


Yah, sinaran segarnya dengan mudah lolos karna Tirai yang dulu menghambat lebar mengekang tengah dibuka oleh sesosok Molek yang baru saja selesai mandi dengan Handuk melingkar ditubuh indahnya, gulungan handuk kecil diatas kepala menandakan ia baru saja selesai Keramas karna itulah kegemarannya.


"Hummm, hangatnya!" Gumam Sofea melenturkan tubuhnya diterpaan sang mentari, ia selalu suka melakukan hal ini di Kamarnya. walau Sofea masih takut jika Tuan Pemarah itu tengah terlelap diatas ranjang sana bangun dan memarahinya, itu karnanya Sofea hanya membuka Tirai separuh tapi sudah lebar cukup untuknya menikmati pagi ini.


"Hey, kau kesini lagi. hm?" Sofea menyapa belasan kupu-kupu yang naik keatas Balkon disertai burung Merpati yang bertengger indah memandangnya penuh dengan puja, mereka seakan sudah tahu siapa Mahadewi kesempurnaan aura cantik dan suara indah ini tengah berada diatas Balkon.


"Aku sudah lama tak melihat kalian, apa disini ada Taman bunga atau kalian punya urusan penting?"


Seakan mengerti mereka mengelilingi rambut yang digulung dengan handuk Sofea hingga membuat tawa kecil wanita itu tercipta, karna sudah sangat rindu akan nyanyian Sofea yang mengintip Ardelof masih menggulung tubuhnya dengan selimut seraya memeluk guling sebagai pengganti dirinya.


"Hey, kau mau bernyanyi bersamaku?" Tanya Sofea. " Ayolah, dia tak akan marah karna Tidurnya sudah seperti Kerbau!"


Sofea berdiri tegap lalu agak menekuk kaki dan kedua tangannya bertaut memberi salam pemula pada burung-burung yang juga melakukan hal yang sama, dengan gerakan pelan lembut penuh dengan keindahan jari-jari lentik Sofea membelai sekuntum bunga yang ada di Balkon sebagai hiasan.


*Mentari tersenyumlah, Sayang!


Pagiku, tak akan tersia-siakan!!!


Ouu, kau terlalu indah sampai ku tak tahu harus menatap- atau memalingkan muka!!


Disini aku menunggu bersama burung dan kupu-kupu..


Menantimu... terus menanti!! sampai gelap menenggelamkan sunyi*..


Sofea hanyut akan dunianya sendiri, ia terus melantunkan suara merdu yang membuat Kupu-Kupu itu bertambah senang seakan mengiringi suara indahnya seraya mengikuti lekukan jari lentur Sofea yang tampak lihai memetik bunga lalu ia berikan pada sepasang Merpati yang tengah terpana karnanya.


Sofea tak sadar kalau sesosok yang tadi ia kira sedang tidur itu, sedari tadi tak pernah memejamkan matanya. ia hanya berbaring ingin melihat apa yang dilakukan Penyihir penuh daya pikat itu setiap pagi. dan sekaang matanya terpana dalam sihir indah namun alami itu mengikat kuat jiwanya sampai ia merasa tenang mendekati Balkon seraya bersandar ke pinggir pintu pembatas.


"Dan ku akan terus menunggu!!!"


"Yeyyy!!! Terimakasih!!!"


Ucap Sofea membungkukan setengah badannya elegan dengan satu tangan diperut dan satunya lagi terulur memberi salam dan kaki bertekuk.


Prokkk..Prokk..


Deggg..


"A..T..Tuan!"


Sofea terkejut saat melihat Ardelof yang bertepuk tangan hingga membuat para Burung dan Kupu-Kupu ini ingin pergi tapi ada sesuatu yang seakan mengurung mereka untuk tetap disini.


"Suaramu, bagus!"

__ADS_1


"A..itu.aku..aku tak akan melakukannya lagi!" Sofea takut jika Ardelof marah karna pria ini sangat sulit ia tebak, terkadang emosinya baik dan kembali naik menyeramkan.


Ardelof hanya diam terus mendekati Sofea yang perlahan mundur mencengkram simpulan handuknya seraya menatap Netra biru Ardelof yang tapak agak terselip geram membuat ia terus mundur tapi sudah mentok ke pinggir Balkon dengan Ardelof yang mengurung tubuh wanita ini dengan kungkungan kedua lengannya.


"A..A..Aku.."


"Aku?"


"I..itumu..i.."


Sofea mengumpat membatin karna bibir Ardelof hanya berjarak satu senti dari bibirnya hingga hidung mancung pria ini menyentuh hidungnya, bahkan dada Sofea sudah merapat ke dada bidang Ardelof yang tak memakai atasan hingga tubuh atletisnya membuat Sofea panas dingin.


"Bicara yang jelas, hm?"


"T..Tuan aku.."


Cup..


Sofea lansung pasrah saat Ardelof kembali menyambar bibirnya, pria ini agak menunduk karna tinggi Sofea hanya sebatas dadanya saja hingga bibir itu kembali bertaut, kali ini Ardelof tak ingin bermain sendiri hingga ia menarik pinggang ramping Sofea merapat dan menaikannya ke tepi Balkon membuat suasana berciuman mereka semangkin Intim.


"Emm!" Sofea mencengkram bahu Ardelof karna tangan pria itu meremas pinggulnya seakan mengisyaratkan untuk membalas.


Sofea pasrah hingga perlahan sedikit malu ia menggerakan bibirnya memberi hisapan lembut kaku tapi terkesan seperti cumbuan yang pas dan sangatlah khas darinya membuat Ardelof menggila mulai memangut lembut memberikan kenyamanan darinya.


"Kau tak bisa berciuman?"


Bluss,


Sofea menunduk setelah melepas tautannya, ia meremas kedua jarinya merasa sangat malu tapi itulah adanya. Sofea tak bisa berciuman karna belum pernah melakukannya.


"Tidak pernah?"


"Hm, Tidak!" gelengan Sofea membuat sudut bibir Ardelof tertarik simpul membuat para Burung sana terkagum, senyum itu sangatlah langka tapi sekali tersebar membuat mereka memuja.


"Tuan aku.."


Cup..


"Aku.."


Cup..


Sofea bungkam karna selalu dikecup lembut begitu membuat ia takut dan sangat, Ardelof sungguh sempurna dan bisa saja ia jatuh dalam pesona pria ini.


"Aku tak suka kau memanggilku itu!"

__ADS_1


"T..Tapi aku.."


"Ard! atau Suamiku atau lebih dari itu!"


"S..Suami? kau.. aku tak bercanda!" Sangka Sofea tak percaya.


"Mulai detik kau bangun dari ranjangku, kau Istriku karna aku yang menikahimu!"


Tegas Ardelof menunjukan bukti dengan kedua cincin ditangan mereka, tentu Sofea Syok karna ia kira ini cincin biasa tapi ternyata bentuknya nan indah dihiasi ukiran dari polosnya emas putih nan murni ini adalah Cincin pernikahannya.


"M..Menikah? kau..kau jangan bercanda! hari itu aku mendengar kalau Tuan Edgar menikahkanku bukan denganmu, dan Mama.."


Whuss..


"Kau mau menikah dengannya, hm?"


Sofea tersentak saat Ardelof memeggang dahinya hingga dipikirannya ia melihat seorang pria tua yang tampak dibelenggu rantai dengan simbahan darah diperut dan matanya yang ditancapkan besi membuatnya lansung memeluk leher kokoh Ardelof karna takut dan ngeri.


"Kau mau?"


"K..Kenapa ditusuk?"


"Apanya, hm?"


"Ma..Mata dan perut!"


"Karna dia berani menatap dan menginginkanmu!" jawab Ardelof tegas seraya melepas handuk diatas kepala Sofea hingga rambut panjang nan lebat menghitam ini tertiup angin pagi menguarkan aroma wanginya.


"Kau tak bekerja?"


"Nanti!"


Sofea mengangguk menghela nafas halus membiarkan Ardelof mengkeringkan rambutnya, sesekali ia meremang karna Ardelof mengecup puncak kepalanya hingga Sofea melayang karna ia tak pernah merakan ini dari pria manapun.


"Kau manusia kan?" Ciut Sofea takut jika Ardelof marah, ia masih bingung soal kekuatan pria ini tak masuk dinalarnya.


"Ada dua jenis kekuatan sihir, yang alami seperti yang kau punya dan campuran denganku. keberanian, kecantikan, rasa kelebihan itu juga sebuah Sihir.. bukan berarti itu hal yang buruk mempunyai kelebihan berbeda dari yang lain, mungkin ini terkesan seperti Ilmu hitam di Negara lain tapi di sebagian tempat ini adalah Ilmu kebatinan, kau tak akan mengerti karna kau tak akan bisa memilikinya!"


"Kenapa?" Tanya Sofea menatap Ardelof yang merapikan helian rambut yang jatuh dikeningnya dengan pelan.


"Karna kau Murni, tak bisa dicampuri oleh apapun, hm?"


.....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2