Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
Kebersamaan yang terganggu!


__ADS_3

Genggaman tangan keduanya mengerat berjalan bersama bahkan sedari tadi semua orang tampak menatap aneh pada sepasang manusia yang tampak berpakain santai dengan wajah yang ditutupi masker dan topi diatas kepala prianya.


Namun, Dua empu yang menjadi pusat perhatian itu hanya acuh sibuk bergandengan mengitari Mall besar yang tinggal beberapa orang saja, entah kenapa kebetulan agak minim manusia atau bagaimana Sofea tak tahu, ia hanya asik dengan dunianya sendiri mencari tempat penjual Pita rambut.


"Kau mau apalagi, hm?" tanya Ardelof yang sudah membawa satu Paper-bag ditangan sebelah kirinya, tak ada keluhan sama sekali bahkan dari awal datang Sofea ingin mereka berganti pakaian di Hotel dekat sini hingga Ardelof menurut, ia tak masalah apalagi tawa indah Sofea mampu membuat rasa lelahnya hilang begitu saja.


"Em, Pitanya belum ketemu. Ard!"


"Disini!"


Ardelof menarik Sofea menuju Tempat mewah diatas sana hingga mereka harus menaiki Exskalator, keduanya asik berpelukan tanpa mengindahkan tatapan malu beberapa orang yang lewat disamping tangga disampingnya.


Setelah sampai keatas sana Sofea lansung berlari menuju ruangan yang dilapisi pintu kaca dengan jejeran Pita, Sepatu dan beberapa hiasan rambut lainnya membuat Sofea benar-benar merasa menggila.


"Waahh!!!"


"Selamat datang!! apa yang bisa kami bantu?" dua Kariawan berseragam itu menghampiri Sofea yang tampak tak segan berbaur dengan sendirinya.


"Aku mau Pitanya, semuanya cantik!"


"Apa anda mau semuanya?" Pertanyaan Kariawan itu membuat Sofea lansung menggeleng cepat, ia agak canggung karna ia melihat Ardelof yang berdiri sejauh 5 langkah darinya dengan pandangan yang tak terduga dibalik kaca mata itu.


Apalagi ia baru sadar kalau ini sudah jam 8 malam, tentu Ardelof masih banyak pekerjaan.


"Em, tidak jadi!"


"Apa?"


"Maaf, aku rasa aku sudah punya semuanya!" ucap Sofea sopan membuat wajah dua Kariawan itu merenggut sinis, ia kira Tampilan Sofea yang bak Nona Keluarga Kaya dengan paras bidadari ini mempunyai uang, ternyata dibalik masker ini hanya Tampang sok-sokan saja.


"Lain kali kalau tak mampu tak usah kesini!"


"Penipu!"


Sofea hanya membalasnya dengan cengiran lalu menghela nafas mendekati Ardelof yang hanya diam bersandar ke tiang didekat pembatas Exskalator.


"Ada apa?"


"Em, tidak ada! aku sudah tak mau pita, kita pulang saja!"


Jawab Sofea ceria menggandeng lengan kekar Ardelof untuk melangkah pergi kembali kebawah, ia hanya diam sesekali menoleh kembali kebelakang karna ia suka Pita-pita itu. tapi Sofea hanya takut menyusahkan Ardelof yang tadi menemaninya Makan, pergi ke wahana permaianan dan sekarang sudah mau naik jam 9, tentu ia tak ingin melunjak.


"Kau mau Ice Cream?"


"Mau! tapi ini sudah malam, kau pasti lelah sedari tadi menemaniku. apalagi kau dibutuhkan banyak orang, lain kali saja!" jawab Sofea sudah senang berjalan begini, apalagi hari ini Ardelof tak marah-marah hingga ia senang.


Mereka terus melangkah keluar Mall dengan celetukan aneh Sofea yang menceritakan masa kecilnya, ia suka menyanyi dan menggambar. kegemaran yang paling ia geluti adalah menata rambut dan membuat lagu tentu Ardelof tak melepas pendengarannya karna walau menurut orang lain itu hal kecil dan biasa, tapi dipandangannya itu sebuah hal besar yang seakan menjadi Kejutan.


"Aku bisa membuat lagu?"


"Benarkah?"


"Iya, tapi sayangnya aku cuma hafal satu lagu, yang lainnya aku lupa!" Cengir Sofea disela langkanya hingga Ardelof dibuat menggeleng mengacak puncak kepalanya dengan penuh kasih.


"Kakak!!"


"Iya!!"


Sapa Sofea ramah pada beberapa anak yang berselisih jalan dengannya, penerangan didepan Mall besar ini sangat Estetik membuat siapa saja tertarik masuk kedalam kemegahannya.


"Kak! boleh temani aku?"


Seorang anak kecil yang tampak memeggang balon dengan kuncir kuda dirambut emasnya itu sedang duduk dibawah pohon dekat Jalan yang sepi karna orang entah kemana malam-malam begini.


"Kau sama siapa disini, Cantik?"


"Sendiri! Momy belanja didalam." jawab bocah itu seraya memainkan Balon ditangannya membuat Sofea menatap penuh memohon pada Ardelof yang terdiam.


"Apa?"


"Disini sepi, Ard!"


"Lalu?" tanya Ardelof pura-pura tak tahu, ia seakan acuh menatap daerah sekelilingnya yang tampak tak riuh dan ramai. tentu Ardelof sudah merencanakan ini agar Sofea tak terganggu.


"Dia kecil, kalau nanti ada penjahat, bagaimana?"

__ADS_1


"Apa keuntunganku?" tanya Ardelof meraih pinggang Sofea merapat kearahnya hingga tubuh mereka benar-benar tak berjarak dengan mata Sofea yang memohon agar mau berbaik hati.


"Sekali saja, Ard! dia masih kecil."


"Kalau tak ada untungnya untukku, sebaiknya kita PULANG!"


"Memangnya kau mau apa?" decah Sofea merenggut memanyunkan bibir mungil sensual itu seakan tak tahu tabiat Ardelof yang sangat mesum dengannya. tanpa pikir panjang Ardelof menurunkan Maskernya lalu menunduk menyatukan kening mereka berdua dengan Topi yang menyentuh puncak kepala Sofea.


"Lakukan!"


"A..Apanya?" gugup Sofea karna hidung mereka sudah saling bersentuhan, apalagi beberapa orang yang melihat pun tampak memerah malu sampai berbisik membuat Sofea benar-benar gerah bersemu.


"Cium aku!"


Degg...


Sofea terlonjak kaget, tak ada raut untuk memberontak namun ia agak kikuk karna disini banyak orang yang melihat apalagi para pejalan kaki yang lalu lalang dari kejahuan menatap mereka.


"Suttt, kau gila, ha? disini bukan kamarmu!"


"Kalau dikamar, apa kau mau.."


Cup..


Sofea mengecup kilas bibir Ardelof lalu lansung berbalik menutup wajahnya yang bersemu malu karna bocah yang memeggang balon itu terkekeh melihatnya, memang hal lazim di Negara ini melihat kemesraan sepasang kekasih.


"Kakaknya, Malu!"


"Dia memang pemalu!" bisik Ardelof ketelinga Sofea yang menepuk dada bidang Ardelof yang memakai Kaos lengan pendek dan celana panjang disertai jaketnya membuat ia sangat sempurna.


"Sudahlah, aku.. aku sudah melakukannya!"


"Itu sangat singkat!"


"Ard!!! sudah."


Ardelof menyunggingkan senyum kecilnya mengecup pipi Sofea kilas lalu menatap kesekelilingnya.


"Kau tunggu disini!"


"Ada urusan, aku akan segera kembali!"


Sofea mengangguk hingga memandangi Ardelof yang melangkah pergi ke arah Mall sana hingga ia menghela nafas lalu duduk disamping bocah ini.


"Apa Si Tampan itu, Pacarmu. Kak?"


"Dia.." Sofea menjeda ucapannya lalu tersenyum.


"Dia Suamiku!"


"Kalian cocok, dia Tampan, aku tak berani melihatnya!"


"Kenapa?" tanya Sofea seraya menatap langit miskin bintang.


"Entahlah, aku rasa dia sangat Tampan, dan GALAK!"


Sofea terkekeh lalu mengangguk mengiyakan, ia kadang kasihan pada Ardelof yang selalu dikatakan Galak dan garang setiap menyamar tapi ia suka.


"Kau benar, dia Galak, Pemarah dan ketus.. tapi, aku yakin dia berbeda dari pria lain! dia tak suka wanita."


"Dari mana kau tahu?"


"Aku hanya melihat, sedari aku bertemu dengannya dia tak pernah menatap atau mendekati wanita. Mungkin saja, itu hanya dugaanku!" dari suara Sofea terlihat sekali berharap membuat bocah itu hanya tersenyum.


"Kau hati-hati, biasanya pria seperti itu akan mengurungmu sampai dunia tak kenal lagi siapa kau!"


"Dari mana kau tahu?"


Tanya Sofea agak aneh, bocah 10 tahun ini tahu masalah sepasang kekasih.


"Kedua orang tuaku, bercerai! Momy tak suka Pria Posesif, dan aku harap kau tak seperti mereka!"


Jawabnya lalu berdiri lalu melambaykan tangannya kearah Sofea karna Mamanya sudah keluar dari pintu Mall.


"Aku duluan, ya? Terimakasih!!"

__ADS_1


"Daaahhh!!!"


Sofea melambaykan tangannya membalas hingga menatap bocah berambut emas itu sudah pergi menghilang dari matanya.


"Bercerai? fyuhh.. aku tak tahu!"


Sofea menunggu Ardelof seraya mengayunkan kakinya dibangku ini, ia memakai Mantel penghangat hingga ia tak kedinginan walau sudah mau naik tengah malam.


"Penyihir!"


"Eh!!"


Sofea terlonjak kaget saat Ardelof yang tiba-tiba menyentuh pundaknya dari samping hingga Sofea lansung menggerutu.


"Kau ini tiba-tiba datang lalu pergi tanpa tahu jalan keluar, masukmu dimana!"


"Suttt, Cerewet!"


Ketus Ardelof membekap mulut Sofea yang menepisnya, ia menurut saat Ardelof membalikan tubuhnya memungguni pria ini.


"Kau mau apa? Ard!"


"Hm!"


Ardelof memakaikan sesuatu keleher Sofea yang merasakan ada yang melingkar dileher jenjangnya, apalagi ia mulai tak tenang.


"Ard, ini apa?"


"Jangan dilepas!"


Ardelof kembali membalikan tubuh Sofea melihat Kalung berwarna Silver dengan lukit mutiara merah dilehernya membuat Sofea agak bingung tapi ia suka karna ini cantik menyatu dengan kulit putihnya.


"Ini kalung apa? bentuknya aneh, Ard! Setengah Bulan?"


"Hm, jangan dilepas! apapun yang terjadi."


Sofea tak mengerti hingga ia hanya mengangguk memasukannya kedalam bajunya, tapi ia mulai tersentak saat orang-orang disekitarnya berlarian pergi menjahui tempat ini membuat ia bingung tapi tidak dengan Ardelof yang sudah merasakan kedatangan anggota pria itu.


"Ard, kenapa mereka pergi? kan Mallnya belum tutup!"


Segerombolan pria berjas hitam lansung datang berlari menghampiri mereka tepat disamping Ardelof yang hanya diam menggenggam tangan Sofea erat membuat wajah Sofea mulai pucat karna ini Pengawal Kerajaan.


"Salam, Yang Mulia!"


"Hm!"


"Maaf, tapi Yang Mulia Raja memerintahkan anda untuk kembali ke Istana secepatnya!"


"Kalian pergilah!"


"Tapi, anda tak diperbolehkan membawa wanita ****** itu!"


Whuss..


Brughh..


Para pengawal itu lansung terhempas akibat kelancangannya yang sampai membuat Sofea terkejut melihat raut wajah Ardelof kembali berubah mendingin.


"Yang Mulia!" kali ini Panglima Lester yang datang menghampiri Ardelof yang hanya menatap lurus kedepan dengan matanya berubah merah dari balik kacamata itu.


"A..Ard!" Sofea gugup.


"Yang Mulia mengatakan, kalau ia tak main-main dengan peringatannya! anda punya waktu sempit untuk mengembalikan wanita yang kau bawa, Yang Mulia!"


Sofea terdiam kaku mendengar itu semua, ia menatap Ardelof yang semangkin mengeratkan genggamannya seakan mengatakan ia tak gentar dengan semua itu.


"Kalian pergilah!"


"Saya harap anda tak mengorbankan ribuan nyawa hanya demi satu wanita!"


Panglima Lester pergi mengarahkan para pengawalnya yang sudah menyemburkan darah karna terbentur tadi agar tak menyulut emosi Putra Mahkotanya.


...


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2