
Setelah melepas dahaga berciuman bersama wanita itu, sekarang wajah Ardelof lebih berseri dari biasa, walau tak ada garis senyuman dan tawa kecil ia tetap menjadi seorang Yang Mulia Putra Mahkota Ardelof Douglas Alison yang terkesan hidup datar dengan Dunianya sendiri.
Yah, sekarang Kristof merasa bingung kenapa Putra Mahkota Ardelof tak menguarkan kekelaman seperti biasa diruang kerjanya di Perusahaan. pria ini terus menatap ke Ponselnya seakan menghitung waktu yang berputar lambat.
"Kenapa Jamnya tak bergerak?"
"Maksud anda, Yang Mulia?" Tanya Kristof memastikan pendengarnya saat Ardelof menatap Jam dipermukaan dinding.
"Jamnya! ini sudah lama tapi masih saja berputar diangka 3." Suara Ardelof terkesan bertanya tapi juga tak bisa dijawab Tidak, karna pria ini tak suka ucapannya disalahkan sama sekali.
"Mungkin, Jamnya rusak. Yang Mulia!"
"Hm, kau kerjakan yang lain!"
Kristof lansung menyanggupi seraya keluar dari ruangan ini, sementara itu Ardelof menghela nafas berat menyandarkan tubuhnya kekursi kerja seraya menatap lurus ke dinding kaca didepan sana, keadaan diluar yang penuh dengan bangunan pencakar langit membuatnya sangat pusing.
"Kenapa dia selalu mengusik pikiranku?!"
Ardelof memijat pelipisnya yang nyeri, ia memikirkan bagaimana cara meredam gejolak Publik yang menyalahkan Sofea si Wanita Pelakor itu sebagai perusak hubungannya dan Vanelope. Ardelof tak bisa terlalu santai menghadapi Rakyatnya yang punya hak berargumentasi tapi pasti akan menjatuhkan Sofea.
Drett..
Ponsel Ardelof berbunyai menyita perhatian pria itu, dengan ringan Ardelof mengangkatnya penuh kejelian dan ternyata itu adalah Raja Hangton yang Vidio-call dengannya membuat tubuh Ardelof kembali tegap menyambungkan dengan Laptopnya hingga sesosok pria paruh baya yang masih tampak gagah itu tengah duduk diatas Sofa yang dikenali Ardelof, dan itu Kediaman Istana Batalion.
"Hm!"
"Putra Mahkota, Apa maksudmu dengan berita di Media? dan kenapa Putriku sekarang terbujur sakit diKediaman kami tapi kau tak bersamananya?"
Intonasi Suara Raja Hangton sangatlah meminta kejelasan dan ada raut kemarahan dari wajahnya, seakan ingin menghakimi Ardelof yang tengah mendengarkan dengan baik.
"Tanyakan pada Putrimu apa yang terjadi!"
"Ard! Kau bukan anak kecil lagi, selesaikan ini jika kau dan Vanelope bertengkar."
"Aku sudah memutuskan, tapi tidak hormat rasanya mengatakan lewat sambungan, Yang Mulia Raja! kau bisa menungguku di Kediaman!"
Tegas Ardelof pamit mematikan sambungannya, ia menghela nafas dengan netra biru yang terasa berat memikirkan bagaimana tanggapan Ibu Ratu soal ini, yang jelas Ardelof sudah tak ingin menyembunyikannya lagi.
.......
Didalam ruangan penuh dengan Furniture mewah itu, terlihatlah dua Penguasa Kerajaan besar tengah berhadapan dengan tatapan tajam keduanya hingga Yang Mulia Ratu masing-masing hanya bisa diam menjadi penengah.
__ADS_1
"Kau tahu semua ini sangatlah rumit. aku rasa Ardelof sudah keterlaluan, Petra!"
"Apa kau tak percaya pada Putraku?"
"Aku percaya pada Putriku!"
Ratu Rosmeryna terdiam, inilah yang ia takutkan jika Suaminya bertentangan dengan Raja Hangton hingga memecah Persahabatan yang sudah lama terjalin. jika Vanelope berkhianat maka tak akan ada yang percaya karna Pria gelap yang dijadikan Pelampiasan hasrat wanita itu sudah Ardelof bunuh sedari lama. kalau untuk Tes DNA ia tahu betul Vanelope tak akan mau menjatukan harga diri kerajaannya.
"Baiklah, jangan dulu mengambil keputusan! untuk sementara waktu kita biarkan Ardelof dan Vanelope berunding, mungkin ini hanya kesalah pahaman, Yang Mulia Hangton!"
"Iya, saya rasa Vanelope dan Ardelof hanya butuh waktu bersama, Ardelof sudah lama pergi perjalanan kerjanya dan aku yakin mereka hanya butuh waktu!"
Ratu Lamoria dan Ratu Rosmeryna memberikan jalan tengah agar kedua Pria tak bertentangan sampai Ardelof dan Vanelope duduk berdua merundingkan apa yang terjadi.
Namun, Raja Petratolison merasa ada aura yang aneh dari atas tangga sana. ia merasakan aroma bunga ini mulai kental menyeruk keindra penciuman mereka.
"Harum sekali! apa ada Taman Parfum di Istanamu, Yang Mulia Ratu?"
"Aku juga tak tahu, tapi kalau Taman bunga ada, biasanya tak seharum ini!"
Jawab Ratu Rosmeryna juga merasa aneh, memang akhir-akhir ini ia merasa Kediaman Alison begitu semerbak menyerukan aroma harum yang menenagkan, terkadang mereka sempat berfikir kalau bunga-bunga di Belakang Istana sedang mekar masa segarnya.
"Iya, Yang Mulia!"
"Coba kau cari dimana aroma ini berasal!"
"Baik!"
5 Kepala pelayan sana lansung undur diri mencari sumber aroma harum ini, mereka mengikuti indra penciuman mereka menuju tangga sana.
Hingga sesosok Mungil yang tadi sudah kehausan karna tak ada Minum di Kamarpun segera mencari jalan bersembunyi, namun sayangnya tangga ini begitu polos tanpa ada pilar untuknya menggelapkan diri.
"A..Apa mereka kesini?"
Gumam Sofea pucat, ia samar-samar mendengar ucapan orang-orang dibawah sana tapi Sofea tidak fokus karna kerongkongannya sangat sakit dan kehausan sedangkan di Kamar tak ada siapapun untuk dimintai tolong.
"Aku..Aku lupa jalannya!"
Umpat Sofea karna tangga ini berliku, ia tak tahu lekuk bangunan sebesar ini kemana tujuannya selain Tangga didekat Lantai kamar tadi Sofea pun mulai panik karna suara detakan dari Pansus khusus Pelayan itu semangkin mendekatinya.
"A..Apa kesini?"
__ADS_1
Gumam Sofea melihat tangga kecil menuju ruang dibawah sana, karna sudah terdesak Sofea lansung melangkah berbelok kearah samping tangga hingga ia ditelan oleh gelapnya keadaan jalan yang minim penerangan
"Kemana? aromanya disana!"
Para pelayan itu gemetar saat menunjuk Tangga gelap yang tampak sudah tak ditapaki lagi, itu dulu tempat khusus yang tak bisa mereka sebut karna bisa saja nanti akan ada Kemurkaan dari Putra Mahkota karna berani masuk ke Ruangan yang telah terkubur sejak lama.
Karna kulit mereka mulai merinding, akhirnya rasa takut itu menyeruk hingga mereka melanjutkan pencarian kearah yang berbeda hingga Sofea yang tengah bersembunyi dikegelapan tangga sana menghela nafas lega.
"Syukurlah, mereka tak melihatku!"
Gumam Sofea mengelus dadanya lega, tapi rasanya Sofea penasaran kenapa Tangga ini sangat gelap tak ada pencahayaan. apalagi beberapa pelayan itu terlihat sangat takut melihat tangga ini.
"Memangnya ada apa? apa ada Monster?!" Sofea menerka mengelus dadanya lega menatap kebawah gelap sana.
Karna rasa penasaran yang tinggi, Sofea perlahan melangkah pelan sedikit ngeri sesekali melihat kebelakang, ia menyusuri pinggir tangga in agar bisa berjalan benar.
"P..Permisi!"
Gumam Sofea lirih, ia meraba dinding disampingnya tanpa tahu ia sudah perlahan menjahui cahaya Tangga Utama, dengan degupan jantung yang kuat Sofea mencoba memberanikan diri. ia berfikir apakah disini ada Hantu? atau sejenisnya hingga menjadi ruangan menakutkan.
"A..Apa ada orang?"
Tanya Sofea agak ciut karna aroma debu disini mulai menyeruk dihidungnya, kakinya tanpa alas terus beringsut maju secara pelan dengan degupan jantung yang kuat.
Grett..
"Aas!!!"
Sofea menutup mulutnya agar tak memekik saat ada benda tajam yang menusuk tumitnya, ia lansung mencengkram pinggir tangga kuat menahan sakit karna ia merasa ada beling yang masuk kedalam sela Tumitnya.
Whuss..
Sofea terkejut saat ada hembusan angin dibelakangnya hingga ia lansung mengatupkan kedua tangannya.
"T..Tuan aku..aku minta maaf, aku..aku tak sengaja masuk ke.."
"Hey!!"
....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1