Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
Menjaga jarak!


__ADS_3

Kepala mereka tertunduk saat sesosok yang menuai tanda tanya dan raut terkejut itu lansung memenuhi anggota tubuh mereka, siapa sangka pria dibalik Masker itu adalah seorang Putra Mahkota Alison terbukti dengan suara datarnya yang khas begitu dikenal Masyarakat Batalion Alison.


Beclie hanya bisa mengunci mulutnya rapat melihat Gibran dan Yella berdiri menundukan kepalanya, ada raut aneh diwajah Gibran yang menatap Sofea meminta penjelasan tapi tentu Sofea tak ingin membuat kesalah-pahaman diantara mereka.


"Y..Yang Mulia."


Gugup Gibran tak berani bersitatap, aura Ardelof yang kelam seakan memukul kepalanya untuk tetap tunduk hingga Sofea menghela nafas halus menarik lengan Ardelof lembut untuk duduk disampingnya.


"ُKemana saja?"


"Ini."


Ardelof membukakan satu botol air mineral dan ia berikan pada Sofea yang dengan mudah menegguknya, mata mereka terbelalak sempurna melihat semua itu hingga Gibran mematung ditempat.


"Terimakasih."


"Hm!"


Ardelof duduk dengan begitu tegap dan angkuh, satu tangannya ada dipeggangan kursi dan satunya lagi membelit pinggang Sofea dengan kaki yang bertopang tindih berkharisma, tentu Gibran tak mamu menandingi itu semua selain menatap rumit Sofea yang agak merasa bersalah.


"F..Fea, di..dia.."


"Dia suamiku."


Gibran lansung tersenyum tak percaya menatap Sofea yang hanya bisa diam dibelit posesif Ardelof yang seakan memberi batasan.


"F..Fea, aku..aku tahu kau marah padaku. ta..tapi ini..ini tak mungkin."


"Bagaimana dengan ini?"


Ardelof menggenggam tangan Sofea yang memakai Cincin pernikahan mereka begitu juga dengannya hingga benda emas murni itu lansung mencongkel mata Gibran dan Yella yang seketika tak bisa berkata banyak.


"Dia Istriku, dan akan selamanya begitu."


"T..tidak mungkin."


Gibran masih menyangkal hingga ia ingin pergi tapi Sofea menghentikannya dengan suara sangahannya.


"Bran!"


"T..tidak mungkin kan?"


"Dia memang suamiku. anggap saja dia bukan siapa-siapa, dia hanya pria biasa tak punya gelar atau kedudukan, dia sama seperti kalian orang biasa."


Gibran tersenyum miris dengan mata yang mengembun membuat Yella mematung ditempatnya, tentu Gibran merasa sangat sakit seketika harapannya pupus saat Cintanya sudah terutup kandas.


"Dia tak sama."


"Gib.."


Ardelof menahan Sofea yang masih ingin menjelaskan pada Gibran yang sudah pergi meninggalkan mereka, sedangkan Yella ia hanya bisa bungkam menatap Sofea dengan raut aneh.


Kau begitu sangat sempurna, mendapatkan apapun yang sangat sulit untuk wanita lain dapatkan, kau sangat beruntung dimana tempat kau selalu disukai banyak orang. Fea.


"Ella, aku.."


"Aku percaya!"

__ADS_1


"Ella, aku bukannya berniat apapun. tapi aku sudah menikah hanya itu, dia hanya pria biasa. kalian tak perlu begini." jelas Sofea takut Yella salah paham.


"Dia masih mencintaimu."


Degg..


Sofea terkejut hingga ia menatap kearah kepergian Gibran lalu menatap wajah Ardelof yang sudah mengeras dibalik Masker dan Topi ini hingga membuat ia serba salah, niatnya bukan begini.


"Ella, aku..aku tak tahu. dia..dia pasti hanya terkejut, dia sama sekali tak mencintaiku."


"Aku harap begitu."


Yella membungkukan setengah badannya dihadapan Ardelof lalu mohon pamit dari hadapan mereka hingg Sofea juga berdiri untuk mengejar namun ia ditahan Ardelof erat.


"Ella!!!"


"Biarkan mereka pergi."


"Ard, dia..mereka.."


"Kau tak mengerti."


Ucap Ardelof mengelus pipi Sofea yang tampak merasa sangat bersalah, bukan apa-apa Sofea begitu. ia tak bermaksud merendakan atau pamer disini.


"A..Apa aku..aku salah, Sayang?"


"Tidak, kau hanya tak bisa mengerti suasana."


Sofea terdiam menatap Ardelof yang lansung merangkuhnya dalam kehangatan, hati yang gelisah itu perlahan terobati dengan dekapan kegagahan ini seakan mengurung habis tubuhnya.


"A..Aku harus apa? kami baru saja bertemu tapi mereka malah begini."


"Sayang, aku menjaga batasan. aku hanya khawatir pada Yella yang sedang hamil, itu saja."


Ardelof menatap Sofea dengan rautnya sendiri, dari netra biru ini menjabarkan hal yang penting disetiap ucapannya.


"Mereka sudah menikah, seseorang yang sudah menikah tak akan sama dengan orang yang dulu lajang bisa kemanapun. ada hati yang harus mereka jaga, hm?"


"A..Apa aku harus menjauh?" sendu Sofea mendengarnya.


"Tidak, tapi berusahalah bersikap berbeda! aku memang tak menyukai Pria itu tapi aku tak juga mau kau seperti ini terus, kau Istriku. maka kau tahu batasanmu, dan begitu juga mereka! cobalah untuk tak terlalu dekat dengan Suami seorang istri, dia pasti merasakan cemburu."


Sofea terdiam lama, ia baru paham kenapa Yella agak berubah padanya. ia kira wanita itu seperti itu karna hanya kesal mencarinya tapi ternyata kehilangannya adalah sesuatu yang benar.


"Apa aku harus menyatukannya, Ard?"


"Tidak, jika kau dorong maka kau yang kemungkinan akan tumbang dikedua sisi! kau hanya perlu memberikan mereka waktu dan jarak yang kau buat."


Sofea perlahan mencernanya dan itu adalah keputusan yang bijak, ia juga tak bisa dekat terus dengan Yella sedangkan Gibran akan semangkin sulit melupakannya.


"Baiklah, kau memang benar, Ard! lebih baik menjaga jarak agar tak menyakiti hati mereka."


"Bukankah mereka mengkhianatimu?" tanya Ardelof ingin tahu lansung bagaimana perasaan Sofea yang begitu naif, berulang kali diperlakukan tak adil tapi ia selalu melepas jika itu jalan baiknya.


"Yah, aku sangat mencintai.."


"Siapa?"

__ADS_1


Sofea mengulum senyum geli mendengar suara Ardelof yang tadi seakan begitu sabar dan bijak, tapi sekarang pria ini kembali pada Tuan Pemarah dan Monster pencemburunya.


"Menurutmu?"


"Tak usah diteruskan!" Ketus Ardelof menatap kesembarang arah membuat Sofea gemas sendiri hingga menarik Masker Ardelof hingga ke bawah dagu lalu mengecup penuh penekanan bibir pria itu hingga ada semberaut merah yang tak terjabarkan dipipinya.


"Ehm!"


Ardelof berdehem menormalkan raut wajahnya yang bisa-bisanya terlihat begitu bahagia tak pernah terjadi sebelumnya, raut bersemu yang ia sembunyikan dari gestur Coolnya yang seakan tak merespon.


"Aku sangat mencintaimu, Tuan Pemarah dan Monster Pencemburu!"


"Aku tahu, kau sangat mencintaiku." Angkuh Ardelof menyunggingkan senyum bangganya membuat Sofea merenggut, entahlah terkadang cakarannya ingin melesat ke wajah Tampan ini.


"Dewi."


"Eh, maaf! ternyata Prince ku ini melihat adengan dewasa!" kekeh kecil Sofea menatap Beclie yang hanya tersenyum santai karna ia biasa melihat ini diluar sana.


"Dewi, kau tak mau berkeliling?"


"Kemana? apa disini ada tempat yang bagus?" tanya Sofea bersemangat membuat Ardelof menyunggingkan senyum kecilnya, apapun akan ia lakukan asal Sofea bahagia bersamanya.


"Ada, jika kita berjalan."


"Kau menyindirku, ya?"


"Tidak, hanya bicara!"


"Emm, Dasar!"


Sofea berdiri dengan Beclie yang ada disampingnya, tak lupa Ardelof juga mengikuti kemana saja Istrinya pergi asal wanita ini senang dan aman. hanya itu yang ada dipikirannya.


"Jangan berlari!!!"


Teriak Ardelof saat Sofea berpacu dengan Beclie tapi setelah itu mereka mencengir menunggu Ardelof yang membawa satu ranting seakan mengembala dua kambing liarnya ini, tentu tak semudah itu Sofea menurut hingga ia menarik Beclie pergi ke beberapa belokan Taman yang akan menuju Jalan Kota.


"Dewi, apa kau tak takut? disini mulai ramai."


"Kita lewat belakang!"


Sofea menarik Beclie menuju belakang jalan yang sedikit orang yang lewat, sebenarnya Sofea hanya ingin mencari sesuatu yang bisa ia kerjakan agar punya Identitas, memang ia terlihat baik-baik saja tapi Sofea paham maksud dari Ratu Rosmeryna bagaimana.


"Bukankah ini menuju tempat Lest Musik?"


"Hm, aku mau kesana!"


Jawab Sofea terus berjalan, disini cuacanya asri hingga ia dan Beclie bisa santai dengan sedikit orang, Beclie yang memakai Maskerpun tak akan diketahui banyak orang hingga mereka mudah kemana saja.


Setelah beberapa lama berjalan santai, mereka sampai kesebuah bangunan yang Minimalis dengan kebersihan yang terjaga, suara Piano dan Alunan Harmonika itu membuat Sofea tersenyum gamblang.


"Dewi, kenapa kau kesini?"


"Tidak ada, sepertinya disini ada lowongan kerja!"


Gumam Sofea melihat Spanduk yang dipasang disana, Membutuhkan Guru Lest Menyanyi dan bermain Piano dan Biola.


Sofea rasa ia bisa mendaftar selagi Ardelof mengijinkan jika ia masuk kesini.

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2