
Sofea benar-benar bingung mendengar pernyataan Ardelof yang mengatakan itu Kakak Laki-laki Vanelope, tapi kenapa ia merasa sangat dekat? dan kenapa rasanya ia pernah melihat mata itu di sebuah tempat?
Melihat gelagat aneh dari Sofea, Ardelof lansung menyeringit. setelah kedatangan Dokter Ximous tadi Sofea hanya diam menuruti apa saja yang disarankan agar mual dan muntahnya kembali surut tapi Ardelof yakin wanita ini sedang memikirkan sesuatu.
"Kenapa, hm?"
"Sayang, a..apa benar itu Kakaknya Vanelope?"
Perntanyaan Sofea lansung membuat Ardelof merespon cepat, sepertinya ia harus menyelidiki ini.
"Hm, yah! Aku kenal dengan Vanelope sejak umur 10 Tahun! saat Foto ini diambil aku tak ikut, aku rasa hanya itu yang ku ingat, saat umur 7 Tahun Dia menghilang. menurut Raja Hangton Putranya meninggal Dunia saat Perang melanda Tanah mereka."
"Perang! P..Perang apa?" Sofea semangkin penasaran.
"Perang antara Kerajaan. dulu persaingan sangatlah ketat! siapapun bisa maju jika ia lebih kuat hingga Kerajaan Hangalay dan Kerajaan Batalion Alison bekerja sama menghancurkan setiap Kerajaan Pemberontak, akhirnya kita berdiri bersama hingga sekarang. kau tentu tahu, saat masih remaja aku sudah ingin menikah hingga, belum satu hari kami menikah aku harus kembali melakukan Perang.. dan begitulah, aku kembali pergi bertahun-tahun melupakan peristiwa itu dan selama beberapa Tahun itu aku mempercayakan semuanya pada Raja. aku tak tahu lagi apa yang terjadi sebelumnya!"
Sofea sangat mendengarkan dengan baik, ia mengerti kenapa Ardelof tak ingat masa-masa 7 Tahun ke bawah itu karna memang sudah lama, tapi ia yakin Ratu Rosmeryna lebih tahu atau orang-orang tertua saat itu.
"Memangnya kenapa?"
"Ha?" tanya Sofea lagi yang tersentak dari lamunannya membuat Ardelof tersenyum kecil mengecup kilas bibir Sofea.
"Memangnya ada apa? aku bisa membantumu!"
"Aku hanya merasa sangat Familyar dengannya! aku juga tak tahu kenapa itu terjadi. yah, mungkin aku hanya merasa Aneh, Sayang!"
Ardelof menghela nafas halus lalu membaringkan Sofea dengan nyaman, sedangkan Quxi yang sedari tadi mendengarkan hanya bisa diam memberikan segelas air putih saat Yang Mulianya meminta.
"Kau pergilah!"
"Baik!"
Quxi menghilang hingga Ardelof memberikan air itu pada Sofea yang dengan pelan menegguknya tandas membuat Ardelof menggeleng.
"Kau masih pusing, Sayang?"
"Tidak, hanya ngantuk!"
Ardelof mengangguk lalu ikut berbaring mengurung tubuh Sofea dalam rangkuhannya, satu tangan Ardelof menepuk lembut punggung Sofea yang perlahan memejamkan matanya menikmati belaian tangan Ardelof ketubuhnya hingga ia perlahan larut dalam detikan Jam yang berlalu menghanyutkan kesadarannya.
Ardelof menatap rumit wajah damai Sofea yang sudah bernafas halus dan stabil, ia memikirkan apa yang Sofea katakan barusan. Seakan Familyar? berarti kau pernah diperlihatkan dengan Foto ini sebelumnya, Sayang.
"Kau tenang saja, aku akan berusaha menemukan Identitas Aslimu. hm?"
Ardelof berbisik lembut lalu mengecup lama pipi Sofea yang sudah tak sadar dengan dunia nyatanya, Ardelof perlahan mengurai pelukan sangat pelan bahkan suara pergerakannya saja sama sekali tak terdengar ditelinga.
"Em!"
"Sutt!"
__ADS_1
Sofea bergerak kecil hingga ia berbalik memunggungi Ardelof yang memenepuk punggungnya lembut hingga Sofea kembali terlelap nyenyak kedalam mimpinya. melihat itu Ardelof barulah lega untuk turun dari ranjang seraya pergi ke Kamar mandi mengambil Mesin pel yang biasa digunakan Sofea membersihkan lantai kamar.
Ia pergi ke Balkon dimana Muntahan Sofea tadi masih ada membuat ia tersenyum pelit, anaknya begitu aktif sampai membuat Kedua orang tuanya kualahan. sungguh Ardelof menyukai hal seperti ini.
"Kau sungguh membuat Momymu kualahan,Boy!"
Gumam Ardelof lalu membersihkannya, ia dengan telaten menggerakan Mesin pengepel itu seraya menekan Tombol Biru yang membuat air dari dalam selangnya lansung mengalir membuat lantai mahal berkeramik ini kembali berkilau bersih.
Namun, Ardelof mengeluarkan Ponselnya mencari Kontak Kristof karna ia butuh data Keluarga Bangsawan Hangalay untuk melihat data kelahiran dan para Anak dari pria itu.
"Yang Mulia!"
"Kau berikan data Keluarga Hangalay padaku, Pagi ini!"
"Baik, Yang Mulia!"
"Hm!"
Ardelof mematikan sambungannya seraya menoleh kedalam kamar dimana Sofea sudah kembali berbaring terlentang dengan satu tangan memeggang Guling disampingnya. namun, tak lama setelahnya ada angin yang mulai kencang menerpa Balkon membuat Ardelof lansung merapatkan Tirai penutup kamar.
Whuss..
Mata Ardelof lansung menajam menembus lapangan yang remang dibawah sana, ia dengan jelas melihat ada sesuatu yang seakan mau masuk kedalam Istana ini dengan menyerang bagian Tanah Belakang.
Srlupp..
"Kenapa bisa begini?"
"Aku tak tahu! Kejadiannya sama seperti saat Exsekusi!"
Para Pengawal itu berjaga ketat menjauhi beberapa Pohon didekat Istana yang tumbang karnanya, Ardelof hanya diam memperhatikan sekilat merah yang mengitari langit Miskin bintang dilangit sana, dia tak bisa masuk kedalam sini karna Pagar Pembatas yang Ardelof buat sangatlah kokoh menghisap kekuatannya.
Kerakk..
Whuss..
Ardelof meredam suara patahan kayu dibawah sana karna hampir saja bersuara kencang mendengungkan telinga, ia berjaga di Balkon ini dengan mata yang menajam menghunus kegelapan.
"Em, Sayang!"
Ardelof sedikit terkejut saat kedua tangan lembut ini lansung mendekapnya dari belakang, dengan wajah cantiknya yang ia benamkan ke punggung berotot Ardelof yang polos tanpa atasan, ia tadi terjaga karna tak menemukan Ardelod disampingnya dan ternyata Pria ini sedang berdiri dibalkon sendirian membuat Sofea bingung.
"Kau bangun, hm?"
"Sayang, kenapa belum tidur?" serak Sofea masih sayu-sayu mengantuk membuat Ardelof menyunggingkan senyum kecilnya seraya menggenggam tangan Sofea didadanya.
"Tidak ada, hanya melihat keluar sini."
"Kau bisa masuk angin, Ard! anginnya sangat dingin dan mulai kencang, ayo tidur. Sayang!"
__ADS_1
Ajak Sofea seraya menatap Mesin pembersih yang tadi Ardelof gunakan untuk mengepel Lantai, senyumnya mekar lalu mengigit Punggung Ardelof yang mendesisi kecil.
"Hey! kau lapar, ha?"
"Emm, Kau memang yang terbaik!" Sofea mengecup tengkuk Ardelof yang lansung menarik lengan Sofea untuk berdiri dihadapannya, benar saja wanita ini tengah dalam Mode Jail dengan senyum nakalnya.
"Istriku mau apa, hm?"
"Suamiku, kau harus tidur! ini sudah malam, Sayang!" Ucap Sofea menggelikan menangkup kedua pipi Ardelof hingga keduanya terkekeh kecil dengan kalimat berlebihan itu.
"Sudahlah, ayo kedalam!"
"Eh, tunggu!"
Sofea menghentikan Ardelof yang ingin membawanya masuk, tadi ia melihat ada seseorang di dekat Gerbang sana kalau tidak salah itu wanita yang berdiri tegap tapi tak tahu wajahnya.
"Sayang, b..bukankah itu, Vanel?"
"Ha?"
"Itu.. yang berdiri dibelakang Gerbang!"
Ardelof tahu itu hingga ia melihat para Pengawal yang ingin membukakan pintu Gerbang lansung Ardelof hentikan dengan hempasan tangannya. ia yakin Vanelope telah diperbudak Klan gelap satu itu hingga ingin mengusik Keluarganya kembali.
"Sayang, kenapa yang lain tak bisa melihatnya? itu kan Vanelope!"
"Dia bukan siapa-siapa!"
"Ard, aku melihatnya! tapi kenapa matanya merah?"
Sofea memperjelas matanya yang sangat luar biasa bisa menembus kegelapan malam ini menuju Gerbang diluar sana dengan jarak yang cukup jauh tapi ia bisa menembusnya, mata merah darah dengan rambut yang ikal bergelombang itu menghiasi kepalanya, Sofea sangat kenal hingga ia terus menatap sampai Mahluk yang memang menunggu mata mereka saling tatap itu lansung menangkap netra Sofea dengan sihirnya.
Whuss..
"Kena kau!"
Gumam wanita itu menyeringai menyalurkan Sihirnya lewat mata indah Sofea yang sedang termenung lama hingga ia begitu berbinar karna kontak mata ini bisa menembus Portal yang Ardelof buat.
"Bukalah pagarnya!!"
"Sayang, i..itu bukan Vanel!"
Gugup Sofea memutus Kontak mata hingga ia menatap Ardelof membuat Mahluk diseberang sana lansung terkejut saat Sihirnya lansung dipatahkan dengan mudah tak berguna sama sekali.
"Sial!!! kenapa begini?"
......
Vote and Like Sayang..
__ADS_1