
Mereka semua telah memenuhi Lapangan dan Tenda yang telah disiapkan untuk menampung Rakyat Alison yang telah hadir untuk menyaksikan Pelantikan Putri dan Putra Mahkota untuk penerus tahtah Alison selanjutnya.
Rombongan Kerajaan kerabat mereka lansung hadir hingga Kerajaan Hangalay menjadi pusat perhatian Rakyat Alison karna telah lama tak menungunjungi Kota Batalion, raut bahagia itu tak dapat disembunyikan oleh Raja Hangton saat menjejaki Tanah Kerajaan ini. Ribuan Manusia yang menyambut mereka sangatlah meriah dengan Pengawalan ketat dari Prajurit yang disiapkan.
"Selamat datang, Yang Mulia!!!!!"
Sorak mereka membungkuk hormat menyambut kedatangan para Bangsawan ini hingga menyebrangi karpet merah menuju Gedung Istana Pelantikan, hanya orang-orang khusus dan Perwakilan Rakyat yang diperbolehkan masuk karna mengingat keamanan dan kenyamanan bagi Petinggi Kerajaan.
Desas-Desus Masyarakat lansung muncul saat melihat bagaimana kelebihan para Manusia Bangsa kelas atas ini hingga mereka sangat menunggu bagaimana Sempurnanya dua Manusia itu akan mengemban tahtah mulai hari ini.
"Dipersilahkan bagi semua Tamu dan Rakyat yang diberi perintah untuk hadir memasuki tempat yang telah disediakan!"
Panetia yang bersuara mengatur semua orang untuk masuk kedalam Aula Gedung yang megah ini. Layar lebar diluar sana digunakan untuk menggambarkan situasi didalam Gedung untuk Rakyat bagian luar yang tak bisa masuk hingga awak Media dibagi beberapa Team untuk menyiarkan acara hari ini.
Semua orang telah siap, jipratan kamera selalu melayang ke wajah-wajah Spesial ini hingga kemunculan sesosok pria yang telah ditunggu itu lansung menjadi incaran mata semua wanita.
"Yang Mulia!!!!"
"Huuuu!!!"
Prokkk..Prokk..
Bak seorang bintang, ia disambut meriah dengan gejolak histeris para Rakyatnya. bagaimana tidak? Ardelof telah keluar dari Istana Utama menggunakan pakaian khas Kerajaan dengan gaya Cool dan Santainya ia melangkah tegas berkharisma menampakan sesosok pemimpin yang di idamkan, tak lupa dengan Layanan para pria yang mengiringnya menuju Aula pelantikan bersama Renoval.
Netra biru mempesona Ardelof menatap penuh keangkuhan pada semua orang tapi ia menawarkan rasa aman dari kekuasaannya, ia berhenti didekat Media yang dipersilahkan menjiprat kamera mereka.
"Dimana Istriku?"
Tanya Ardelof nyaris tak terdengar oleh keramaian ini kecuali Kristof yang mengawalnya. Renoval yang ada dibelakang Ardelof pun menghela nafas akan pertanyaan yang ke sejuta kali ini.
"Anak mu tak kau cari?"
"Hm."
Ardelof hanya menjawab pertanyaan Renoval dengan deheman lalu melanjutkan langkahnya masuk kedalam Aula hingga para Gadis Putri Bangsawan sana lansung berdiri meleleh melihat para Pangeran Tampan ini sudah hadir dihadapan mereka.
"Ouhhh!!! mereka memang sangat-sangat luar biasa!!!"
"Yah, aku sangat menyukai Putra Mahkota!!"
Putri Camella berjingkrat riang saat Ardelof melaluinya begitu saja meninggalkan aroma Maskulin yang melekat penuh daya pikat, tak hayal mereka juga mengedipkan matanya pada Renoval dan Kristof yang hanya acuh terus mengiring Ardelof menuju Kursi diatas sana.
"Salam, Yang Mulia!"
Ardelof dan rombongannya membungkuk hormat dihadapan Raja Petra dan Ratu Rosmeryna yang duduk di kursi biasanya mengosongkan Kursi tahtah Kerajaan dengan Mahkota yang sudah mereka lepas.
"Salam, Naiklah!"
"Baik!"
Ardelof naik melangkah keatas tangga 3 tingkat menuju kursi Putra Mahkota yang biasa ia duduki, belum saatnya ia ke tengah-tengah Tahtah sana karna Prosesi belum dilakukan.
Ardelof diam duduk dengan tegap menatap semua orang yang memberi hormat lalu kembali duduk. Prajurit Kerajaan berderet menjaga keamanan dengan melakukan penghormatan atas kehadiran semua Petinggi Kerajaan.
Ardelof tampak tak nyaman dipandangi para wanita dihadapannya hingga ia terus menatap kearah Pintu Gedung dimana ia menunggu penenagnya untuk datang.
"Nak, kau kenapa?"
"Bu, apa Istriku sudah selesai?"
Ratu Rosmeryna saling pandang dengan Raja Petra yang menyunggingkan senyum gelinya, memang anak jaman sekarang tak bisa mengendalikan diri jika sudah berjahuan begini.
"Dia akan dibawa rombongan Hangalay, sebagai penyerahan pada Kita!"
"Tapi, ini sangat lama."
Gumam Ardelof memasang wajah datar dan tak bersemangat, semuanya terlihat membosankan dimatanya.
Setelah beberapa Ritual dilakukan, akhirnya Kasim didepan pintu sana mengumumkan kedatangan Putri Mahkota yang membuat mereka semua berdiri.
"Putri Mahkota Hangalay Telah Datang!!!!"
Whusss...
Kibasan angin itu membuat kesejukan menerpa wajah mereka, perlahan Gaun berwarna biru itu lansung berkibas dengan langkah kaki jenjang seorang wanita menciptakan keriuhan diluar sana.
"Wowwww!!!!"
"Yang Mulia!!!!"
"Cantiknya!!!!"
Pekik Masyarakat diluar sana membuat Ardelof mencari cela melihat wajah Istrinya dibalik Cadar yang dibalutkan ke separuh wajah Sofea yang tengah berdiri didepan Media dengan iringan dari Kerajaan Hangalay.
Gaun panjang terurai indah bak lautan dengan rambut panjang di urai lurus hingga pinggang menyatu dengan kulit putih Sofea yang bening, riasan matanya dipertajam dengan Konde di atas rambut yang menyimpul kecil selayaknya seorang Ratu. tapi kedua mata indah itu saja sudah membuat mereka histeris, apalagi melihat wajahnya yang entah bagaimana sempurnanya itu.
"Silahkan, Yang Mulia!"
Perdana Mentri Istana yang mempersilahkan Rombongan Sofea mengantar ke atas panggung Tahtah itu, Nenek Maryam tersenyum hingga Ratu Lamoria menggandeng tangan Putrinya membuat Sofea merasa sangat bahagia.
"Bu!"
"Pergilah, kau pantas mendapatkan ini. hm?"
Sofea mengangguk seraya tetap melangkah anggun hingga setiap lenggokan kakinya menjadi bius bagi semua orang yang mematung hening, tak ada lagi suasana riuh karna Ardelof sudah melangkah tegap menjemput Istrinya hingga berdiri di atas tangga nomor 3.
Wajah Sofea memerah menatap Wajah Tampan Suaminya yang sangat-sangat mempesona dengan Tampilan Pangerannya ini. Ardelof mengulur tangannya hingga perlahan Ratu Lamoria melepas lengan Sofea hingga tangan lentik ini terulur menjabat tangan kekar Ardelof.
"Boleh aku melihat sedikit?"
"Hm?"
__ADS_1
Gumam Sofea saat keduanya sudah berdiri bersama dengan kedua tangan saling menggenggam, bisikan Ardelof itu membuat Sofea kaku dengan pandangan penuh makna kemata indahnya.
"Wajahmu!"
"Sutt, disini banyak orang."
Ketus Sofea menatap tajam Ardelof yang menarik sudut bibirnya kecil lalu mengiring Istrinya untuk memberi hormat pada Ibu dan Ayahnya. Raja Hangton dan Ratu Lamoria juga memperhatikan semuanya sampai mereka pun sangat senang melihat Sofea diterima dengan baik oleh semua orang.
"Baiklah, Apa bisa kita mulai?"
"Bisa!!!!"
Jawab mereka semua menghening hingga Prosesi mulai dilakukan, satu persatu adat di Kerajaan ini dilaksanakan penuh hikmat dengan kata sambutan dari Yang Mulia Raja terhadap penyerahan masa Tahtahnya.
Perdana Mentri Deganara, dan Perdana Mentri Hiloua mengambil surat menyurat tentang Kerajaan untuk ditandatangani oleh Raja dan Ratu Rosmeryna.
"Silahkan, Putra dan Putri Mahkota mengambil sumpah!"
Ardelof menatap Sofea yang juga memandangnya hingga Ardelof kembali menggenggam tangan Sofea kembali berdiri dan melangkah kedepan Podium semua orang yang menyasikan dengan hikmat.
Guru tertua Vujroanka dari Timur itu lansung berdiri dihadapan keduanya seraya menatap tegas Ardelof dan Sofea yang juga sama.
"Putra Mahkota dan Putri Mahkota, apa kalian bersedia memikul tanggung jawab menjadi Ratu dan Raja di Tanah ini?"
"Kami siap!"
Jawab keduanya lugas dengan genggaman yang menguat, Sofea agak gugup karna semua orang memandangnya penuh harapan tapi Ardelof menawarkan kenyamanan darinya.
"Apa Kalian siap mengambdikan Nyawa dan Kehidupan Kalian untuk Tanah ini?"
"Siap, jika itu memang diperlukan!"
Jawab Ardelof dan Sofea lagi hingga membuat Ratu Rosmeryna tersenyum haru.
"Berikan janji penuh pernyataan kalian!"
Ardelof dan Sofea saling berhadapan hingga genggaman keduanya semangkin mengerat dengan tatapan yang menembus relung hati masing-masing.
"Aku, Ardelof Douglas Alison! Setelah dilantik menjadi Raja Batalion Alison, aku akan menyerahkan semua kekuatanku untuk tanah ini, melindungi Keluargaku, Rakyatku dan semua tanggaung jawab yang ku kemban. Khususnya anak dan Istriku!"
"Silahkan, Putri Mahkota?"
Sofea terdiam sesaat membuat mereka saling pandang hingga Ardelof menatap lembut untuk meyakinkan.
"Aku, Sofea Ratna Mahadewi dari Kerajaan Hangalay. Putri dari Raja Hangton dan Ratu Lamoria! Aku berjanji akan membantu Suamiku dalam menjalankan Tugas dan Kewajibannya semampu yang ku bisa, mengutamakan kepentingan Rakyat dari Kepentingan Pribadi. dan akan terus berusaha menjadi Istri, Ibu dan Ratu yang baik bagi semua Rakyatku!"
Janji Sofea terdengar sangat tegas dan merdu diucapkan karna ada sudut pandang yang terkandung didalamnya, seorang ibu, seorang Istri dan Ratu penguasa di Tanah ini membuat Ardelof selalu kagum dengan pola pikir Istrinya.
"Dengan segala Janji dan sumpah yang kalian ambil! Kami, seluruh Rakyat Alison hingga semua petinggi Negara dan Kota ini. Menunjuk kalian berdua menjadi Raja dan Ratu Tanah Kami!"
Suara Tuan Guru tertinggi membuat mereka semua lega hingga Raja Petra dan Ratu Rosmeryna berdiri mendekati Ardelof dan Sofea dengan Mama Netty yang naik keatas Panggung Tahtah mengiring dua pelayan yang membawa Perlengkapan Kekuasaan seperti Mahkota dan Jubah kekuasaan.
Gumam Baby Aron yang menatap Sofea dan Ardelof digendongan Mama Netty, mereka semua melihatnya penuh kehikmatan karna Si kecil itu memang sangat mewarisi kekhasan dari kedua orang tuanya.
"Selamat, hm!"
"Terimakasih, Bu!"
Ucap Sofea yang dipasangkan Mahkota turun-temurun itu oleh Ratu Rosmeryna bergantian dengan Ardelof hingga tepuk tangan meriah itu membuat suasana kembali hangat.
Prokkk..Prokkk...
Tampilan Sofea dan Ardelof semangkin memukau dengan Jubah dan Mahkota kebesarannya, Baby Aron Sofea gendong hingga ketiganya mampu menghipnotis mata mereka semua melayang jauh.
"Dengan Pelantikan ini, kami resmikan bahwa Kerajaan Batalion Alison telah beralih kekuasaan pada, Yang Mulia Raja Ardelof Douglas Alison dan Yang Mulia Ratu Sofea Ratna Mahadewi, berikan semangat kalian!!!"
"Huuuu!!!!"
Prokkk...Prokk..
Mereka begitu bersemangat sampai membuat Sofea merasa sangat bahagia, mata semua orang menatapnya penuh amanah dan harapan.
"Mereka menerimaku, Ard!"
"Hm, memang inilah yang seharusnya."
Jawab Ardelof merangkuh Sofea kepelukannya hingga Raja Hangton dan Ratu Lamoria naik mendekati mereka.
"Nak!" Raja Hangton menatap Sofea yang berkaca-kaca.
"A..Ayah, aku..aku minta maaf."
"Suttt, Ayah yang Minta maaf, Ayah terlalu memaksakanmu. hm?"
Sofea akhirnya berhambur memeluk Raja Hangton yang juga memeluknya hangat, semua orang saling memberi ucapan kebahagiaan ini hingga mata Sofea menatap Renoval yang tengah duduk dikursi sana.
"Ayah!"
"Hm? kenapa?"
"Kau tahu dia?"
Sofea menunjuk Renoval yang berdiri merasa diperhatikan Sofea, ia mendekat karna takut sang adik membutuhkannya sedangkan ia jauh disini.
"Bukankah dia kekasihmu?"
"Bukan, Yah! dia Kakak Nevallo!"
Degg...
"A..Apa?"
__ADS_1
Gumam Ratu Lamoria menutup mulutnya tak percaya menatap Renoval yang sudah mendekat menatap Sofea penuh tanda tanya.
"Ada yang kau inginkan?"
"K..Kau..Kau V..Vallo?"
Dahi Renoval menyeringit menatap Sofea menganggukinya hingga ia menatap Raja Hangton dan Ratu Lamoria yang mematung melihatnya. Renoval tersenyum pelit.
"Percaya atau tidak, yang jelas Sofea adikku. hanya itu yang ku mau!"
"Ya Tuhan, a..aku benar!!"
Ratu Lamoria memeluk Renoval yang terkejut dua manusia ini tak menyangkalnya, ia kira semua orang akan membantahnya.
"Kalian percaya?"
"N..Nak hiks, I..Ibu sudah yakin ini, kau! kau Nevallo."
"Benarkah?"
Ratu Lamoria mengangguk hingga Renoval rasanya sangat bahagia mendengar itu sampai Raja Hangton pun tak mampu meluapkan rasa senangnya sampai memeluk Sofea erat membuat Ardelof jengkel sendiri.
"Kenapa harus Istriku yang dikuasai?"
"Karna dia sangat cantik!"
Ardelof lansung menatap kesamping sana hingga matanya lansung menajam melihat sesosok wanita berpakaian gelap dengan cadar hitam itu menutupi wajahnya membuat Sofea tersigap.
"K..Kau?"
Sofea lansung pamit pada mereka semua mengikuti Sosok yang telah menghilang menuju kebelakang itu, Ardelof menggendong Baby Aron mengikuti Sofea yang meninggalkan Pesta Keramaian.
"Vanel!"
Panggil Sofea disetap langkahnya menuju pintu belakang Aula ini, Ardelof menjaga langkah Sofea yang tergesa-gesa akibat Gaun yang begitu panjang.
"Vanel!!"
Akhirnya mereka sampai keluar Gedung dimana Taman Kerajaan yang telah sepi menjahui Keramaian didepan sana.
Mata Sofea menatap seorang bocah yang memetika bunga dari Labirin sana hingga Sesosok yang tadi hadir tekah berdiri dikursi taman.
"Vanel!"
Panggil Sofea lagi mendekat hingga Ardelof membelit pinggang Istrinya untuk bersama melihat Wanita itu.
Pandangan Vanelope melemah menatap Sofea dan Ardelof, apalagi Baby Aron yang menatapnya dengan datar sama seperti Ardelof memandangnya.
"Kau masih mengenalku?"
"Tentu, dan itu Beclie kan?"
"Yah, dia selalu ingin menemuimu!"
Beclie yang merasa diperhatikan itu lansung menoleh hingga menatap kearah Sofea, netra polosnya berbinar lansung berlari mendekati Sofea yang juga tersenyum hangat.
"Lie!!"
"Dewi!!"
Sofea memeluk hangat Beclie yang juga mendekapnya penuh kerinduan membuat Vanelope merasa sangat sakit, ia begitu jahat selama ini dan inilah balasannya.
Tubuhnya sudah sangat hancur hingga ia butuh waktu untuk mengembalikan semuanya, itupun ia tak yakin akan bertahan lebih lama.
"Aku mohon rawatlah Putraku!"
"A..Apa?"
Beclie menatap sendu Ibunya dengan Sofea yang mengerti dengan semua itu, ia memandang Ardelof yang mengangguk karna tak ingin melihat Istrinya sedih.
"B..Bu!"
"Rawatlah dia dengan baik, a..aku minta maaf karna sudah membahayakan kalian, dan..dan aku memohon untuk membantuku membesarkan Putraku. a..aku tak bisa melihatnya tumbuh tanpa didikan dan kasih sayang kedua orang tuanya."
Ucap Vanelope tak tahan dengan rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya hingga Sofea mengangguk lalu mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
"Ambilah, semoga ini membantu."
Ardelof tersenyum kecil melihat Pita biru yang dulu sangat Sofea gemari, itu adalah benda yang berguna untuk memulihkan kekuatan karna pasti sudah disalurkan Energi Positif oleh Sang Dewi ini.
Mata Vanelope berair hingga ia mengambilnya gemetar dengan penuh rasa jijik akan dirinya sendiri.
"T..Terimakasih!"
"Hm, Datanglah jika kau bisa. sebelum kau menyerahkan Beclie padaku, aku dan suamiku memang sudah menganggapnya sebagai Putra kami!"
Vanelope mengangguk dan menghilang begitu saja hingga Ardelof mempererat pelukannya ke tubuh Sofea, tak ia sangka wanita yang dulu ia kira hanya bisa menangis diatas Ranjangnya bisa membuat Perubahan didalam hidupnya.
Ia tak pernah membayangkan akan mempunyai Keluarga kecil yang sangat jauh dari impiannya padahal masa lalunya sangat kelam.
"Teruslah bersamaku, sampai kita menua!"
Bisik Ardelof menyatukan kening keduanya dengan Baby Aron yang tersenyum kecil ikut menyandarkan keningnya ke pipi Ardelof.
....
Tamat..
Vote and Like Sayang..
Untuk eps nanti itu Informasi Karya Baru Author ye..😂😂
__ADS_1