Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
Suplei tenaga!


__ADS_3

Tatapan penuh kekhawatiran itu lansung meruak keatas ranjang sana, matanya sudah lelah dengan raut wajah yang tetap datar tapi percayalah jantungnya tengah memberontak menggila sedari tadi.


Wajah pucat, mata tertutup dengan tubuh yang mendingin membuatnya seakan mau mati ditempat ini, ia tak mengalihkan pandangannya kearah lain sekilaspun dengan kedua tangan yang terkepal.


"Apa yang terjadi padanya?"


Satu pertanyaan dari mulut Ardelof lolos setelah lama berdiam diri mengendalikan emosinya, ia sudah membawa Sofea ke Kediaman Kakek Brent yang lebih tahu tentang hal ini dari padanya, begitu juga Renoval yang dibaringkan disamping Sofea dengan keadaan yang sama membuat Asisten Kai sangat khawatir pada Tuannya.


"Yang Mulia, aku mohon selamatkan. Tuanku!"


"Apa dia selalu begini?"


Tanya Dokter Xiomus yang menangani Renoval dengan raut wajah bingungnya, ia memeggang tangan kekar pria ini dan ia merasakan jelas suhu Tubuh Renoval naik hingga selimut tebal ini membaluti tubuhnya dan Sofea.


"Sebenarnya, Tuan memiliki Trauma. aku tak tahu kenapa? sejak awal bertemu kami diasuh oleh satu orang wanita tua. Nenek Yong sudah meninggal sejak kami berusia 17 Tahun. aku tak tahu Tuan ini adalah anak Panti seperti saya atau tidak, tapi kami tumbuh berdua dan membangun Perusahaan kecil milik Nenek Yong yang sekarang sudah besar, tapi Tuan terus begini semenjak bertemu dengan Putri Sofea!"


Ada raut aneh dari Kakek Song saat melihat kelainan ini, Renoval memiliki Trauma yang hampir sama dengan Sofea ketika ia kambuh, rasa takut, dan kehilangan.


"D..Dingin!"


"S...Sayang!"


Ardelof dengan cepat melangkah mendekati ranjang hingga ia duduk disamping Sofea yang tak membuka matanya, tapi tubuh wanita ini mengigil dengan bibir yang membiru membuat Ardelof semangkin sesak.


"D..Dingin!"


"Bukalah matamu."


Lirih Ardelof tercekat merasakan suhu tubuh Sofea sedingin es batu, melihat itu Kakek Brent lansung menatap Dokter Xiomus yang mengerti hingga ia beranjak dari dekat ranjang.


"Berikan Energi kalian padanya, tapi aku rasa ini akan sangat menguras tena.."


"Ard!!"


Ardelof sudah lebih dulu memeluk Sofea yang terus mengigil seraya membelit perut yang mukai tak datar itu, kemilau biru dari tangan Ardelof lansung mengalir ke kulit Sofea dengan tumpuan biru yang hangat.

__ADS_1


Kakek Brent terdiam kaku, Energi yang dibutuhkan dalam menghangatkan Tubuh dua orang ini sangatlah banyak karna penyebabnya masih ia cari, tapi untuk Sofea sendiri itu sangat menguras tenaga karna Ardelof harus mengalirkan semua energinya sampai menghangatkan Calon anaknya didalam sana.


"Ard, sudah! kau bisa merasakan itu juga!"


Ardelof hanya diam, ia mencengkram pinggir ranjang merasakan dingin yang juga sama, Ardelof tak hanya memberikan Energinya tetapi ia menghisap suhu tubuh Sofea agar pindah padanya membuat Nenek Eliz hanya bisa diam melihat keggilaan cucunya.


Wajah Ardelof yang tadi merah berubah memucat dengan tatapan sayunya memandang wajah cantik istrinya yang kembali berona merah, sudut bibir Ardelof yang mulai biru tersenyum hangat menyatukan kening keduanya dengan Tubuh yang sudah lunglai kehabisan tenaga.


"Ard!!"


"Kau sudah terlalu mengeluarkan, Energimu! apalagi tadi kau menghancurkan Tanah Pantai dan lautan itu membutuhkan Tenaga yang besar, bisa-bisa nyawamu melayang jika begini terus."


Kakek Brent menggeram namun Ardelof hanya menjawabnya dalam kebisuan, matanya tak lepas menatap wajah Sofea yang mulai berdarah.


"Lalu aku harus apa?"


"Kau.."


"Aku tak bisa diam saja melihat dia begini, semuanya tak akan ada artinya jika dia pergi dariku, tak akan ada!"


"Bawa Tuanmu ke ruangan sebelah, aku akan menyusul beberapa menit lagi."


"Baik!"


Asisten Kai membantu memapah Renoval dengan Dokter Ximous dibantu beberapa pelayan lainnya hingga mereka keluar dari ruangan ini meninggalkan Kakek Brent, Nenek Eliz dan Ardelof yang masih enggan melepas pelukannya ke Tubuh Sofea yang hangat, ia merasakan kulitnya mulai melepuh merah padahal Tubuhnya dingin.


"Ard, pergilah pulihkan kekuatanmu!"


"Iya, biar aku yang menjaga, Istrimu!"


Nenek Eliz mengusap punggung Ardelof yang mendingin membuatnya sangat prihatin, sepertinya Ardelof sudah sering memberikan energinya pada Sofea lalu tak melakukan penenagan kembali.


"Dia kenapa?"


"Kandungan Istrimu sudah semangkin membesar!"

__ADS_1


Ardelof lansung menatap kearah perut Sofea yang telah ia belit, dan tangannya perlahan mengelus perut mulus ini hingga ia merasakan tonjolan yang sudah besar dari yang dulu.


"Aku sudah bilang, semangkin dia menginjak hari lahir Penerus kalian. maka, Istrimu akan selalu dihantui bayang-bayang masa lalu dan rasa takut! dia akan sering merasa khawatir, dan sering mengalami hal janggal karna semangkin perut Istrimu membesar maka Portal itu akan terus membuka segelnya sampai harinya dia akan membuka dan mengeluarkan semua kejahatan yang tak akan bisa kita bayangkan..."


Kakek Brent menjeda kalimat lalu melanjutkannya lagi.


"Disaat itu juga kau baru bisa membunuh Pimpinan Blcak-Clover untuk kembali ke asalnya hingga dia tak akan menggangu kalian lagi terutama istrimu, saat Portal itu terbuka maka semua Mahluk haus akan darah akan turun ke Tanah ini, dari situlah kau harus mengembalikan mereka termasuk semua Klanmu yang berasal dari Dunia Dimensi, jika kau mau!"


"Yang penting dia baik-baik saja."


Ucap Ardelof mengecup lama kening dan pipi Sofea menyampaikan rasa sayangnya, ia berusaha menahan dirinya agar tak memancing kekacauan pada sesosok yang sudah ia tahu itu, ia berusaha untuk mengendalikan emosinya hingga kelak semuanya tak akan menganggu Istrinya.


"Ard, pikirkanlah dengan baik! semua masalah ada jalan keluarnya, Nak!"


Nenek Eliz bicara lembut karna ia tahu Ardelof tengah dilanda rasa pusing dan tubuh lemah dengan pikiran yang tak tenang, ia tak mau cucunya malah melakukan hal gila lebih dari yang sudah-sudah.


"Pergilah ke Tempatmu, Istrimu akan baik-baik saja."


"Hm!"


Kakek Brent melangkah pergi meninggalkan Nenek Eliz yang masih menatap Ardelof yang masih tak ingin melepas pelukannya dengan nafas yang mulai terdengar serak.


Mata Ardelof terus memandang wajah Sofea yang tak akan ia lupa bagaimana ia bahagia memiliki Istri seperti ini, walau selalu ceroboh dan menyusahkan tapi Ardelof suka dengan tingkah menggemaskannya.


"Semuanya akan baik-baik saja, hm? cepatlah membuka mata, dan aku mau lihat senyummu lagi!"


Bisik Ardelof lembut lalu mengecup lama bibir Sofea membuat Nenek Eliz merasakan sakitnya, betapa besar penghalang sepasang insan ini untuk bersama selamanya.


"Jaga dia, baik-baik!"


"Hm, pergilah! ini hanya beberapa jam saja, kau harus mengembalikan Energimu!"


Ardelof mengangguk menyelimuti Sofea kembali lalu perlahan berdiri, ia merasakan kepalanya pusing dengan tubuh yang sangat lemah tapi Ardelof akan berusaha cepat mengembalikan tubuhnya seperti semula melalui Meditasi Alam yang akan ia lakukan di ruangan khusus biasa ia pakai dulu.


.....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2