
Senja yang tadi membentang indah diatas sana lansung berganti dengan hamparan gelap yang telah menenggelamkan semuanya didalam kehitamannya.
Lampu-lampu yang tadinya dipadamkan seketika menyala menerangi jalan-jalan yang masih dilewati banyak orang dengan Kendaraan-Kendaraan mewahnya, Kota ini sangatlah maju dengan gedung-gedung pencakar langit yang menjulang mendaki Bumi ini.
Kerlipan lampu jalan, dan Papan Iklan Elektronik dikaca besar itu mampu membuat keindahan Kota menjadi terpancar indah dengan beberapa layanan Toko Makanan dan Minuman didekat Jalan yang teratur dan Rapi, suasana sejuk nan adem ini sangat pas jika berjalan-jalan menikmati indahnya langit Kota Batalion yang dihiasi lampu gedung dan Bangunan khasnya.
Tapi, hiruk pikuk kota ini sama sekali tak terdengar oleh seorang pria yang tengah berjalan sempoyong dengan sesekali meneggak Botol Minuman ditangannya menuju arah Perusahaan Besar yang sangat bergensi di Negara ini.
Sesekali ia menambrak beberapa Pejalan kaki yang sedang menikmati malam seketika mendapat teguran dari mereka.
"Kau punya mata, ha?"
"Jalan itu yang benar! jangan minum disini!!"
Namun, ia hanya menjawabnya dengan lambayan tangan yang tak tahu maknanya apa. wajahnya begitu semberaut kusut begitu memprihatinkan tapi ia tetap melangkah menuju Jalan yang agak sepi masuk ke dalam Lingkunan Perusahaan ACB.
"Hey!!!!"
Gibran menyapa dengan gaya pada dua penjaga Gerbang besar itu, ia tersenyum berjalan sempoyongan sesekali menendang Marka jalan karna berani menghalang langkahnya, padahal ia yang sudah menubrukan kakinya ke tatanan jalan itu.
"Dia siapa?"
"Mungkin Masyarakat sekitar sini, yang Mabuk!"
Ucap Pak Galey dan satu anak muda yang berjaga di Gerbang, semua Kariawan sudah pulang meninggalkan Satu Mobil Yang Mulianya yang tengah berurusan didalam sana.
"Kembalilah!! kau sedang mabuk, bukan?"
"A..Apa? aku tak mendengar kalian!! bicaralah lebih jelas!!" teriak Gibran seakan jarak mereka jauh, padahal satu 5 langkah lagi ia akan sampai ke Gerbang sana tapi itu sangatlah susah baginya.
"Kau pergi atau kami yang mengusirmu?"
"Ehm, mana Bos mu itu?"
Mereka saling pandang menyeringit dengan arti kata BOS yang terkesan seperti Pimpinan, wajah sangar seorang Pria muda bertubuh kekar itu lansung mengeras menghadang Gibran yang ingin menerobos masuk sesukanya.
"Pergi kau!"
"Hey!! aku hanya ingin bertemu dengan Pria sialan itu, minggir kalian!"
Bugh..
Gibran lansung tersungkur akibat tinjuan Pria muda itu hingga ia mencium kerasnya aspal dibawahnya, Gibran menggelengkan kepalanya sekilas mengembalikan kesadarannya tapi sayang ia malah terkekeh melihat darah yang bercucur di hidungnya.
"Hey!!! berani sekali kalian memukulku, hm?"
"Dasar Pria Gila!! pergi kau dari sini atau kami akan membunuhmu!"
Pak Galey yang mengusir secara kasar, namun Gibran malah kembali berdiri dengan tertataih-tatih lalu berbalik menatap mereka penuh kemurkaan tapi ia masih saja mencemooh para Petugas Keamanan ini.
"Kalian tak mau pergi, hm?"
"Kita bunuh saja dia!"
Kedua orang itu lansung memukuli Gibran yang terbahak senang menerima itu semua membuat seorang pria yang baru saja keluar dari Perusahaannya itu lansung terhenti melangkah tepat disamping Mobilnya.
"Kenapa mereka?"
Tanya Ardelof menatap ke depan Gerbang sana, terlihat Pak Galey yang memukuli seseorang bersama rekannya dengan tawa seseorang yang pecah membuat keanehan yang nyata.
"Saya akan memeriksanya, Yang Mulia!"
Ardelof mengangguk masuk lebih dulu ke dalam Mobilnya dengab Kristof yang sudah melangkah menuju Objek Kejadian, dahinya mengkerut mencium bau Alkohol yang pekat setiabanya disini.
"Dasar Sampah!!"
"Menganggu kau disini!!"
"Hentikan!"
Mereka terkejut dengan suara datar Kristof yang lansung menatap Intens tubuh seorang pria yang tengkurap diatas Aspal sana dengan Kemeja yang sudah sobek membuat ia menatap Pak Galey yang menunduk.
"Maaf, Tuan! dia memaksa masuk kami takut dia membahayakan Yang Mulia!"
__ADS_1
"Hm, siapa dia?"
"Hey!!!"
Gibran beringsut bersandar ke Pagar besi ini dan masih memeriksa Botol Minumannya yang sudah Tumpah membuat ia mengupat lalu menatap Kristof yang cukup terkejut, ia ingat kalau pria ini adalah Mantan kekasih Nonanya dan kenapa bisa begini?
"Dimana Yang Mulia terhormatmu itu, ha? dia takut!"
Tanya Gibran lalu terbahak, ia berdiri dengan lunglai bertopang pada baja disampingnya. ia mengambil Besi baja sisa Potongan dari Gerbang ini yang tampak sengaja di letakan kesamping Betonan ini untuk berjaga-jaga.
"Letakan itu!!"
"Ha? aku tak mendengarmu!"
Ucap Gibran pada Pak Galey yang benar-benar naik pitam ingin menghajarnya lagi tapi Kristof mengisyaratkan untuk tak bergerak selagi Gibran belum menunjukan penyerangan.
"Mau apa kau kesini?"
"Aku sudah bilang, Bodoh! aku Mau bertemu Bajingan itu, kemana dia? Ardelof si pria pecundang!!!"
Teriakan itu membuat Ardelof yang ada di Mobilnya lansung terhenti memainkan Ponselnya, ia melirik kecil ke luar jendela dimana suara itu sangat ia kenal.
"Dimana kau, ha?? Kembalikan Kekasihku!!!!"
"Sialan kau!"
Umpat Kristof menampar pipi Gibran dengan keras karna berani mengatai Yang Mulianya hingga dua penjaga Gerbang itu lansung ingin membawa Gibran dalam bekapan mereka yang memberontak untuk menjauh.
"Pecundang!!!! Brengsek kau!!!"
"Bawa dia pergi!"
"Tunggu!!"
Degg..
Mereka lansung menunduk saat suara dingin itu berucap tegas menghentikan langkah mereka yang ingin membuang sampah ini, Kristof kembali mendekati Ardelof yang tengah berdiri didepan Mobil sana dengan wajah datarnya.
"Yang Mulia!"
"Yang Mulia dia itu.."
Kristof lansung diam saat Ardelof sudah menatapnya tajam hingga ia mengisyaratkan pra Penjaga sana melepaskan Gibran yang sudah tampak memprihatinkan dengan tubuh dipenuhi lebam dan darah yang keluar dihidungnya namun itu tak menyurutkan Gibran yang tersenyum lepas melangkah tertagih-tatih mendekati Ardelof yang hanya diam ditempat dengan kedua tangan berada di kedua sisi saku celananya.
"Akhirnya!!"
Gibran berucap senang setelah berusaha keras berdiri dihadapan Ardelof yang hanya menatapnya datar, aroma Alkohol ini membuat Ardelof sangat muak, ia tak menyukai minuman sejenis itu karna ia cinta hidup sehat.
"Yang Mulia Putra Mahkota yang terhormat, kau begitu Tampan dan Tegap sempurna."
Gibran ingin menyentuh bahu Ardelof namun ditepi Kristof yang berusaha menahan sabar, ia berjaga dengan satu besi baja sebesar jempol tangan sepanjang setengah meter digenggaman Gibran.
"Kenapa kau tak mencari wanita lain saja, hm? apa harus mengambil Sisaku!"
Wajah Ardelof mengeras mendengar kata yang seakan merendahkan Istrinya, kepalan tangannya menguat didalam saku celana sana menatap dingin dan kelam Gibran yang sangat berani.
"Kau marah? dia memang sisaku bukan? 5 Tahun kami menikah berbagi hati dan Cinta! dia sangat perhatian padaku, memberiku segala hal yang tak pernah aku dapatkan dari orang lain tapi satu yang tak bisa ia berikan.."
Gibran menghentikan kalimatnya lalu menunjuk Ardelof dengan besi ditangannya.
"Sesuatu yang telah kau ambil!"
"Sadarkan dirimu, dan temui aku!"
Tekan Ardelof yang tak ingin melawan seseorang yang tak bertenaga, ia bukan pecundang yang memanfaatkan keadaan yang sama sekali tak berguna baginya.
"Kenapa? kau takut! apa kau takut?"
"Siram dia!"
Kristof lansung mencari selang didekat Kran pencuci tangan disamping Taman hingga ia menemukannya dengan Pak Galey yang menghidupkan air dibawah sana.
"Apa-Apaan kalian, ha?"
__ADS_1
Gibran disembur oleh air yang melaju deras dari selang sebesar jempol kaki itu membuat Gibran menghindar menjahui Ardelof yang tak terkena jipratan apapun, ia masih menatap datar Gibran yang sudah tersungkur dilantai ini dengan pakaian basah dan hampir menyeluruh.
Lama Kristof membasahi tubuh pria ini hingga Gibran sedikit menatap kearah lain seperti menyadarkan dirinya sendiri.
"Brengsek!! hentikan!!"
"Berhenti!"
Barulah Kristof menghentikannya saat Ardelof mentitahkan, mereka menatap Gibran yang memukul kepalanya sendiri yang terasa bengap dan pusing lalu menatap Ardelof menyipit memperjelas pandangannya.
"K..Kau.."
"Sadar atau tidak, Istriku Sofea itu Milikku, jika kau masih belum puas dengan kalimat itu. datanglah saat kau sudah sehat dan kau bisa melawanku!"
Tegas Ardelof lalu melangkah masuk ke dalam Mobilnya dengan Kristof yang lansung mengikuti Yang Mulianya dengan melajukan Mobil Stabil melewati Gibran yang terdiam bungkam memandangi kepergiannya.
"I..Istri.." Gumam Gibran tersenyum miris lalu menatap kelangit dingin sana, air matanya kembali lolos dinetranya membuat Pak Galey dan Rekannya itu saling pandang bingung, kenapa Yang Mulianya tak membunuh pria ini? pasti ada hal khusus hingga semuanya terjadi.
"Dia..Dia bukan Istrimu!!! hiks, dia... Sofeaku!!!"
Teriak Gibran mencengkram kepalanya hingga raungan kerasnya mampu memecah keheningab malam, sungguh saat membaca Buku harian Yella beberapa hari ini Gibran sangat membenci wanita itu, hidupnya hancur karna kesalahan yang ia duga itu tak disengaja tapi ternyata ia dijebak oleh Temannya sendiri.
.......
Mata indah itu sedari tadi tak bisa terpejam hingga berulang kali melihat kearah dinding dimana jam Sudah menunjukan pukul 9 Malam, ia tahu Ardelof akan pulang terlambat nanti tapi ia tak bisa tidur.
Sofea mencoba berbagai Posisi Tidur, dari miring menyamping, terlentang, tengkurap hingga ia meringkuk seperti Bayi tapi matanya tak jua dilanda kantuk membuat Nenek Eliz yang menemani wanita ini tidur seketika terbangun karna pergerakan Sofea diatas ranjang.
"Kau kenapa?"
"Eh, Nek!"
Sofea merasa bersalah saat melihat Nenek Eliz yang bangun menatapnya lembut, tangan keriput itu lansung menyentuh keningnya tapi dahinya mengkerut karna tak panas.
"Nek, maafkan aku! aku membangunkanmu, Nek!"
"Apa kau sakit?"
"Tidak, Nek! Nenek tidur, saja." ucap Sofea tersenyum membuat Nenek Eliz mengerti kenapa wanita ini gelisah sedari tadi. Nenek Eliz beringsut duduk bersandar kekepala ranjang seraya menatap kearah perut datar Sofea.
"Berapa bulan kandunganmu?"
"1 Bulan setengah, Nek!"
"Em, Sudah di USG?" Sofea menggeleng melakukan hal yang sama bersandar kekepala ranjang seraya mengelus perutnya lembut.
"Belum, aku tak mau membuat Suamiku terlalu sibuk, Nek! dia sudah lelah bekerja sedari pagi dan malam hari, dan belum tentu saat aku tidur dia bisa tidur, terkadang dia mencuri waktu tidurnya untuk mengerjakan urusan lain."
Jelas Sofea merasa sangat kasihan, tapi ia tak tahu apa yang harus ia lakukan agar Ardelof tak terlalu lelah bekerja. tapi sayangnya Pekerjaannya saja seperti tadi Ardelof yang membantu menyelesaikan.
Melihat itu senyum Nenek Eliz mekar menggenggam tangan lentik lembut Sofea dengan tangan keriputnya, sungguh Sofea sangat berbeda dengan Vanelope dulu yang selalu minta ditemani kemanapun tanpa tahu apa tugas utama Ardelof sebagai Putra Mahkota dan siapa saja yang membutuhkan Pria penting itu.
"Terimakasih, hm?" dahi Sofea mengkerut.
"Untuk apa, Nek?"
"Mendampingi Cucuku! walaupun dia itu sangat menyebalkan dengan sifat datar, dingin memaksanya. tapi dia itu sangat tulus mencintai seseorang, Nak! Nenek sangat kecewa saat tahu dia mencintai Vanelope yang sudah Kakeknya tekankan wanita itu tak baik, tapi dia tetap kekeh."
Jelas Nenek Eliz yang sangat hancur saat melihat Ardelof untuk pertama kalinya mengenal Cinta malah ditikam oleh pengkhianatan.
"Dia pria yang baik, dia hanya butuh Perhatian dan Cinta tulus, mu! Percayalah kalau dia sudah mencintaimu maka dia tak akan melirik wanita lain, Vanelope hanya masa lalu bagainya, nak!"
Dahi Sofea mengkerut, memangnya kenapa? Vanelope juga tak ada sekarang untuk apa ia cemburu.
"Nek, lagi pula Vanelope tak ada se.."
"Baik itu Vanelope atau orang lain, kau harus percaya pada suamimu! bantulah dia dengan cara Meyakini setiap apa yang dia katakan dan menyaring berita-berita tak mengenakan dari luar, hm?"
Sofea mengangguk memeluk Nenek Eliz yang juga mendekapnya hangat, yang ia khawatirkan nanti saat Sofea malah termakan hasutan dari Musuh-Musuh Ardelof hingga hubungan Murni ini hancur.
"Percayalah, Ardelof hanya mencintaimu!"
....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..