Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
Dia sangat aneh!


__ADS_3

Sofea mematung mendengar suara itu, kulitnya meroma diterpa hembusan nafas seseorang yang perlahan mengulur tangannya membelit pinggang ramping yang dibaluti Piyama tidur ini, mata Sofea terpejam dengan tangan yang naik menggenggam lengan kekar yang sangat ia hafal ia milik siapa?!


Setetes air mata Sofea jatuh menghangatkan lengan pria itu hingga tubuh keduanya berdempet membuat semuanya terasa jelas.


"Aku sangat merindukanmu!"


Bibir Sofea bergetar mendengar bisikan itu hingga perlahan ia berbalik dengan mata yang masih terpejam tak mau ini hanya ilusi saja, kedua tangannya naik meraba wajah Tampan yang terasa dingin dikulitnya, kecupan penuh Cinta itu ia hadiahkan ke tangan lentik yang meraba bibirnya hingga mata Sofea terbuka dan..


"A..Ard!"


Lirih Sofea bergetar menatap pahatan Tampan namun pucat ini, mata biru elang yang menatapnya penuh cinta dengan wajah melembut menyampaikan gejolak merindu dihati keduanya.


"Hm, ini aku!"


Grepp..


Sofea berhambur memeluk dengan erat begitu juga Ardelof yang tak bisa menahan rasa rindunya, ia tak bisa jauh sedetik saja bahkan sudah membuatnya sesak, tangis Sofea pecah meluapkan rasa sakitnya. sudah berhari-hari ia merenggu seakan Ardelof tak akan kembali tapi sekarang, rasanya ia ingin berteriak mengatakan 'Suamiku telah kembali'.


"A..Aku..Aku sangat merindukanmu, hiks! kau..kau kemana saja, ha?"


"Hm, aku juga!"


Balas Ardelof menghujami pundak dan puncak kepala Sofea dengan kecupan penuh Cinta, keduanya larut dalam kehangatan ini sampai membuat sepasang mata biru penuh binar polos itu menatapnya datar penuh guratan tak suka.


Tentu, Ardelof melihatnya hingga matanya terkunci dengan sesosok Mungil yang tengah menatap mereka dengan datar, terlihat sekali ia sangat menghakimi Ardelof.


"Hey, Boy!"


"A.. Iya!"


Sofea tak melepas pelukannya tapi ia menunjuk Si mungil itu dengan binar bahagia dimatanya, Ardelof menghapus lelehan bening yang keluar dari mata Sofea yang masih menyandarkan tubuhnya ke tubuh kekar Ardelof.


"Sayang, itu..itu Putra kita!"


"Aku tahu, dia sangat tampan."


Jawab Ardelof membawa Sofea duduk ditepi ranjang tapi Sofea tak mau turun dari pangkuan Ardelof yang juga membelit pinggang ramping istrinya erat, tangan Sofea terulur membawa Putranya ke pangkuannya hingga wajah mungil merah ini masih bisa mereka lihat.


"Ini Dady, Baby!"


"Namanya siapa?"


Sofea menatap Ardelof yang juga menatapnya, pertanyaan Ardelof itu dijawab senyuman oleh Sofea yang lansung menghadiahkan kecupan kilas di bibir Ardelof yang ingin ******* tapi Sofea mencengir.


"Namanya aku mau kau yang berikan."


"Benar dia belum diberi nama? ini sudah 1 Minggu!"


"Aku menunggumu." jawab Sofea sendu membuat Ardelof menghangat mengecup bibir Sofea kilas lalu menatap wajah si mungil ini.


"Sauron Douglas Alison!"


Ucap Ardelof tegas membuat binar dikening mungil itu bercahaya biru dengan tanda yang sama dimiliki Sofea Grimoire berdaun lima emas dan petir darinya, tentu Sofea juga merasakan nama itu bukanlah sembarang nama.


"Artinya?"


"Sauron, dia akan menjadi Raja bijaksana tapi juga tegas berwibawah, dia juga akan menyayangimu seperti aku mencintaimu, walau aku lebih dari itu!"


Tapi, sejujurnya nama itu juga memiliki Arti kegelapan, orang misterius dan penuh teka-teki. banyak yang akan mencakup kepribadiannya kelak.

__ADS_1


Tapi, Sofea yakin Ardelof tak akan sia-sia memberikan apapun apalagi ini bagian dari keduanya.


"Nama yang bagus! aku sangat menyukainya."


"Hm, lagi pula depan hurufnya namamu, dan tengahnya namaku!"


Sofea terkekeh pelan mendengarnya lalu kembali bersitatap lama dengan pandangan Misterius yang tentu mata polos Baby Aron berkedip kecil melihat wajah kedua orang tuanya semangkin mendekat dengan Ardelof yang memiringkan wajahnya hingga...


Cup..


Kedua bibir itu bertemu menciptakan helaan angin yang halus membelai tubuh keduanya, hidung mancung Ardelof bersentuhan dengan hidung mancung mungil Sofea yang mencengkram bahu Ardelof yang masih belum menggerakan bibirnya.


Perlahan Ardelof mengambil Baby Aron dengan satu tangan tanpa melepas tautan dan ia letakan tak jauh dari mereka, setelah itu barulah Ardelof mengiring Sofea berbaring keatas ranjang dengan kedua lengannya mengungkung tubuh wanita ini.


"Ehmm!"


Sofea meremang saat Ardelof mulai mencumbu bibirnya mesra tentu Sofea juga melepas rasa rindunya dengan membalas tak kalah lembut dengan rasa manis yang menjalar di tubuh keduanya, hisapan dan jilatan itu Sofea rasakan membakar tubuhnya bahkan ia juga merasakan ada benda keras yang menekan bagian pahanya hingga ia tahu betul itu apa.


Wajah Sofea memerah menerima kecupan halus memantik gairah itu ke lehernya, bibir keduanya sesekali mendecap tapi Ardelof malah lebih membuat bekas dilehernya membuat Sofea mengigit bibir bawahnya merasa hembusan nafas Ardelof sangat berat dan terkesan bergairah.


"S...Sayang!"


"Hm?"


Jawab Ardelof yang tengah asik dengan leher jenjang Istrinya, satu tangan Ardelof meremas bongkahan kenyal ini membuat Sofea menggelijang membiarkan satu tangan Ardelof meraba bagian intinya hingga mata Ardelof lansung terbuka merasakan ada sesuatu yang empuk dibawah sini.


"K..Kau.."


"Em, iya! aku masih pakai itu..."


"Shitt!"


"M..Maaf!"


"Hm, Sudahlah! aku yang terlalu terburu-buru, hm?"


Ardelof berbaring disamping Sofea yang memiringkan tubuhnya berhadapan dengan Ardelof yang berbaring terlentang dengan satu tangan menjadi bantalan kepala Istrinya.


"Ard."


"Hm? kenapa?"


"Kenapa Tubuhmu dingin?"


Ardelof diam menatap keatas sana dengan Sofea yang mengulur tangannya mengelus pipi Ardelof dan rahang tegas itu dengan lembut.


"Tidak ada."


Jawab Ardelof tersenyum mengecup lama kening Sofea dengan penuh cinta lalu memberi senyum hangatnya, tapi Sofea menangkap hal yang disembunyikan Ardelof dari tatapan matanya yang sangat tersembunyi.


Namun, suara rengekan Baby Aron menyadarkan Sofea yang masih dilanda rasa takut hingga ia mengeratkan pelukannya ke tubuh Ardelof yang benar-benar dingin.


"Baby haus, Sayang!"


"Hm."


Gumam Sofea dengan Ardelof yang mengambil Baby Aron lalu ia letakan kedekat Sofea yang lansung membuka kancing Piayamanya hingga gudukan sintal terbalut bera merah itu terlihat sangat nikmat membuat Ardelof menelan ludahnya kasar lalu mengalihkan tatapannya ke wajah Sofea yang membiarkan si kecil ini menyesap dengan lahap membuat Ardelof menepuk pelan bokong mungilnya yang lembut.


"Ard, jangan begitu, Sayang!"

__ADS_1


"Kau tak adil, itu bagian Favoritku tapi kau berikan pada Pencuri mungil ini."


gemas Ardelof mengecup pipi gembul merah itu hingga membuat mata tajamnya sama-sama bersitatap penuh ketidak sukaan dengan Ayahnya sendiri.


"Bagianmu nanti saja."


"Hm, 1 bulan itu sangat lama! aku bisa jamuran menunggumu!"


Ucap Ardelof asik memainkan jari mungil kecil yang menggenggam jari telunjuknya, walau pergerakan Baby Aron belum terlihat luas tapi ia sudah tahu mana Momy dan Dadynya.


"Sayang, kau kemana saja?"


"Ha?"


"Kau darimana saja? ini sudah 1 Minggu, apa kau terluka?"


"Tidak, kau sudah makan?"


Lahi-lagi Ardelof mengalihkan pembicaraan membuat Sofea menghela nafas halus, ia tahu betul jika seperti ini maka Ardelof menyembunyikan sesuatu yang besar darinya.


"Belum!"


"Ayo makan, aku tak suka tubuhmu seperti Jalan Tol!"


Ardelof beringsut duduk mengambil makanan diatas meja dengan tatapan penuh arti Sofea pada pakaiannya yang sama, wajah Ardelof juga pucat tak seperti biasanya.


"Kalau kau masih tak enak badan kau bisa Istirahat, Sayang! aku akan memberikan Energiku padamu."


"Aku tak apa." jawab Ardelof terkesan acuh lalu kembali duduk ke atas ranjang, ia menatap Sofea yang juga memandangnya hingga perlahan tangan Sofea memeggang lengan Ardelof yang dingin dengan sinaran kecilnya dan..


"Aku akan menyuapimu!"


Ardelof menepisnya lembut membuat Sofea merenggu dengan sendirinya, dari raut wajah Ardelof mustahil dalam 1 Minggu bisa mengembalikan kekuatan kembali semula dalam kondisi Ardelof yang saat itu sangat parah.


"Kau tak menyembunyikan apapun, kan?"


"Sayang, ayolah! aku tak mau membahasnya, sekarang buka mulutmu!"


"Tapi.."


Ardelof sudah lebih dulu memasukan makanan itu kemulutnya hingga ucapan Sofea terhenti, sudut bibir Ardelof terangkat membersihkan sisa makanan di sudut bibir Sofea.


"Sudahlah, jalani saja yang sekarang!"


"Hm!"


Ardelof menyuapi Sofea hingga makanan itu perlahan menipis, wajah Ardelof tampak semangkin pucat sesuai dengan mentari yang mulai terbenam dari atas sana.


"Sayang!"


"Hm? kau juga harus makan, aku akan panggilkan Mama untuk.."


"Aku mau kekamar mandi!"


Potong Ardelof bersigegas kekamar mandi membuat Sofea mengkerutkan dahinya menatap Ardelof yang lansung menutup kamar mandi.


"D..dia sangat aneh!"


.....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2