
Dengan kilat seulet Tubuh Gagah pria paruh bayah itu lansung berlari mengibaskan tangannya hingga Tubuh Molek yang tadinya ingin jatuh hanya berjarak 1 Meter dari Kramik Dermaga itu lansung diyambut cepat.
"Sayang!!"
Ardelof yang terkejut lansung merubah dirinya seperti semula tapi ia membelenggu Wujud Asli Vanelope yang tampak menggeram melihat siapa yang telah menghancurkan niatnya itu.
Langkah Ardelof berlari cepat mendekati Tepian Dermaga dengan Sofea yang tampak pucat dipangkuan Raja Petratolison yang lansung mengisyaratkan Ardelof menenagkan Sofea.
"Bantu Istrimu!"
"Sayang!"
Ardelof beralih memeluk Sofea yang tampak termenung kosong dengan tubuh bergetarnya, ia memeggang Perutnya dengan gemetar beribu rasa syukur dihatinya dan rasa takut dari Ketinggian yang tadi mendorongnya.
"A..Ard!"
"Tidak apa-apa! semuanya baik-baik saja"
Ardelof terasa jantungan ditempatnya, ia tadi fokus berkomunikasi dengan Vanelope tapi ia tak menduga Sofea akan ada di Balkon sana karna ia mau membawa Vanelope ke Dimensinya tiba-tiba teriakan itu mengejutkannya.
"Bawa Istrimu kedalam!"
Tanpa pikir panjang, Ardelof berdiri menggendong Sofea ditengah dinginnya malam. wajahnya sudah mengeras menyerap keberanian para Pengawal yang baru tahu kejadian itu saat melihat Raja Petra yang baru keluar lansung berlari kearea Samping Istana, dan benar saja Putri Sofea hampir saja jatuh dari Ketinggian.
"M..Maafkan kami, Yang Mulia!"
Ardelof hanya diam terus melangkah dengan dingin penuh kekelaman memecah angin malam yang sudah tak berani berhembus kuat, Ardelof merasakan jantung Sofea berdegup sangat kencang hingga mata Sofea terbelalak saat melihat darah yang keluar disela pahanya.
"A..Ard!"
Suara Sofea bergetar menatap Ardelof yang lansung memandang kearah tangan Sofea hingga netra birunya lansung membulat sempurna. Ardelof lansung mengibaskan tangannya hingga mereka begitu cepat menghilang dari tempat itu.
Whuss,,
Ardelof lansung berlari kekamarnya menggendong Sofea yang sudah ingin menangis melihat darah dipahanya hingga jantung keduanya tak lagi bisa terkontrol.
"A..Ard!"
Tanpa banyak bicara Ardelof membaringkan Sofea keatas ranjang dengan cepat membuka Celana Piyama Sofea yang sudah lengket dan amis.
Degg...
Ardelof mematung melihat paha Putih ini sudah dialiri cairan merah kental hingga membuat Sofea lansung mau pingsan ditempatnya.
"A..Apa? A..Ard.."
"Dia akan baik-baik saja."
"A..Ard hiks!"
Sofea bergetar merasa takut, apa yang terjadi padanya? kenapa darah ini tak mau berhenti? begitu juga Ardelof yang sudah tak bisa menunjukan wajah bersahabatnya dengan semua keadaan ini.
__ADS_1
"A..Asss, A..Ard sakit."
Sofea memeggangi perutnya yang terasa dililit kuat hingga ia kesulitan bernafas, keringat dingin itu bercucuran dikening Sofea yang terus merintih sakit saat Ardelof memeggang Perutnya.
"Ard!!!!"
"Dimana kalungmu?"
Sofea terkecat dalam rasa sakitnya hingga ia meraba lehernya tak ada benda itu hingga mata Ardelof lansung merah menyala menahan kemurkaan yang nyata dimata Sofea.
"A...Aku..Aku .."
"Sudah ku bilang padamu, untuk selalu memakainya! ini mempertaruhkan keselamatanmu dan anak kita, Sofea!!!"
"A..Ard, aku tak tahu. ta..tadi aku mandi dan melepasnya sebentar, aku tak tahu kalau.."
"Kau sangat ceroboh!"
Ardelof menggertakan giginya nyaring dengan kemarahan yang sangat Sofea mengerti, tapi ia tak menduga kalau misalnya melepas kalung berliintin merah itu akan begini dampaknya.
Rintihan sakit Sofea saat Ardelof menekan perutnya lansung menimbulkan rasa sesak sendiri di hati Ardelof, wajah Sofea sudah pucat hingga Ardelof memejamkan matanya dengan duduk bersila disamping Tubuh Sofea dengan satu tangan bertumpu ke Pusar wanita ini.
"A..as!"
Ardelof menyerap Aura gelap yang tadi menggerogoti perut Istrinya, hingga ia merasakan jelas sakit ditubuh Sofea seakan perutnya dililit rantai berat tapi Ardelof masih merasakan perlawanan dari Aura Positif putranya yang menolak penyerangan ditubuh Sofea hingga menimbulkan darah yang keluar tadi.
"A..Ardd, Sakit!!"
Whusss..
"A..Ard!"
Panggil Sofea saat wajah Ardelof sangat datar seperti menyimpan kemarahan padanya, air mata Sofea menetes seketika menunduk mencengkram selimut dibawahnya merasa sangat tak berguna.
"Sayang aku.."
Ardelof diam dan melangkah pergi ke Kamar mandi membawa tatapan sendu netra Sofea yang sudah berkaca-kaca, ia benci dirinya sendiri kenapa sangat ceroboh dan tak mau mendengarkan pria itu, ia terus mengikuti keinginannya sampai apapun itu akan sangat membebankan Ardelof sendiri.
Tak lama Ardelof didalam sana, ia keluar dengan wajah dan raut yang sama tak bersahabat dengan kalung yang ada digenggamanya.
"Sa..Sayang!"
Panggil Sofea dengan serak dan sendat, tanpa mau berbicara banyak Ardelof memakaikan benda sakral itu dengan cepat lalu ia menarik selimut menutupi separuh tubuh Sofea yang lansung menahan tangan Ardelof yang ingin pergi.
"A..Ard!"
"Kau sendiri tak mau menjaga Tubuhmu, bagaimana aku bisa melindungimu?"
Sofea tersayat mendengarnya, ia ingin bicara tapi sayang Ardelof menyentak tangannya lalu melangkah pergi keluar kamar membuat Sofea lansung terisak diatas ranjang ini.
"A..Ard hiks, Maaf!"
__ADS_1
Lirih Sofea memandang penuh luka, sakit karna Ardelof mulai mengacuhkannya tapi Sofea tak bisa menyangkal karna itu memang benar, ia salah besar tak mengindahkan perintah Ardelof yang sangat mengkhawatirian keadaanya.
"Maaf, hiks! Maafkan aku!"
"Fea!"
Suara ciut nan kecil milik Quxi yang tiba-tiba datang, ia menatap Sofea yang menekuk kedua kakinya didalam selimut dengan isak tangis yang Quxi dengan dengan pilu.
"Fea!"
"D..Dia..dia membenciku hiks, dia..dia tak mau bicara denganku!"
Sofea yang tak tahan diacuhkan, Quxi tahu bagaimana Posisi Yang Mulianya yang sangat rumit kali ini, Sofea yang tengah hamil pasti sangat Sensitiv apalagi sifat Sofea dari lama memang sangat Ceroboh, tapi pasti Yang Mulia Darknya juga pasti tak mau Sofea terus begini kedepannya.
"Fea! Yang Mulia hanya marah sebentar, dia marah pada dirinya sendiri karna tak bisa membuatmu mengerti."
"A..Aku.Aku tak tahu, Xi! semua orang selalu bicara ambigu, aku tak pernah mengerti."
Gumam Sofea gemetar, ia berharap pagi ini Ardelof akan baik-baik saja kembali seperti semula. ia tak bisa begini terus dan ia harus merubah itu semua.
..........
Brakk...
Deretan Lemari buku-buku dari yang tebal yang kecil dan tipis itu lansung tumbang akibat tendakan kaki kokohnya, dinding ruangan kerjanya sudah retak ia tinju dengan keras hingga melukai tangannya, tapi ia tak perduli, amarahnya lebih besar dari ini semua.
"Sialan!!! brengsek, apa yang ku lakukan barusan?"
Ardelof mengacak rambutnya frustasi, tampilannya sudah kusut karna membayangkan jika terlambat sedikit saja maka Putranya akan hilang dan pergi termasuk nyawa Istrinya, bisa-bisanya ia membiarkan Sofea melakukan kecerobohan itu lagi.
"Kau Sialan, Ardelof!!! kau tak berguna!!!"
Geram Ardelof bersandar ke dinding kamarnya, jantung sudah memberontak seakan mau pecah melihat wajah pucat wanita itu, ia tak terbayang kalau sampai Sofea sampai terluka parah hanya karna dirinya.
"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri!"
Deru nafas Ardelof masih naik turun menahan emosi ini, Kakek Brent dengan tongkat tegapnya itu masuk mendekati Ardelof karna ia tadi merasakan aura yang pekat menyelumbungi Istana.
"Berhenti? kalau terlambat sedikit saja nyawa anak dan istriku, Melayang!!!"
"Itu karna kekuatan Istrimu belum terbuka, Ard!"
"Aku tak ingin ambil resiko! dia belum bisa mengendalikan dirinya sendiri, dan jangan memaksaku mencelakai Istriku sendiri!"
Geram Ardelof pada Kakek Brent yang terdiam, sebenarnya Sofea memiliki kekuatan yang bahkan lebih besar dari apa yang dibayangkan, tapi kekuatan itu akan terbuka sendiri saat Putranya lahir nanti dan saat itulah Mahluk serakah diatas Bumi ini akan berbondong ingin memilikinya hingga ia tak bisa mengambil resiko memaksanya keluar sekarang.
"Latihlah Istrimu menjaga dirinya sendiri!"
"Hm, kekuatannya adalah Putraku! dia akan tahu betapa besar berlian ditubuhnya hingga semua orang akan serakah memilikinya!"
Ucap Ardelof menatap Kakek Brent yang mengangguk, disaat itu tiba ia harus mengendalikan dirinya sendiri karna semuanya akan terlihat jelas keserakahan manusia ingin menguasai Dunia ini. dan saat itu Ardelof harus menjaga Sofea yang akan lemah saat melepas separuh jiwanya.
__ADS_1
....
Vote and Like Sayang..