
Langkah yang tadinya berlari stabil seketika terhenti didekat Gerbang yang menjadi pembatas antara dirinya dan Wanita paruh baya yang berdiri diluar sana, ada perasaan aneh dihati Sofea saat melihat Mama Netty sudah berdiri padahal wanita itu kan lumpuh.
"M..Ma, a..apa kau.."
"Nak, kau tak merindukanku, hm? ayo kesini!"
Suaranya sama bahkan tatapannya juga, tapi Sofea agak ragu hingga ia hanya diam mematung menelisik apakah ini Mamanya atau tidak.
"Ma, kau selamat dari Tembakan itu?"
"Iya, Tuan itu menyelamatkan Mama, Sayang!" ucap Mama Netty membuka pelukannya seakan merayu menggapai hati Sofea yang terdiam perlahan mengulur tangannya untuk menggapai keluar gerbang dan...
Brakk..
"Maaa!!!"
Teriak Sofea saat hembusan angin kuat ini malah menghempaskan Tubuh Mama Netty ke jalan membentur Beton diujung sana hingga darah itu lansung menyembur menyusuri Aspal.
"M..Maa!!!!"
Grep..
Sofea ditarik cepat hingga tubuh wanita itu lansung membentur dada keras seorang pria yang sudah naik pitam hingga sampai mengangkat tangannya memberi pelindung ditubuh Sofea.
"Kau!!! Kenapa kau melukainya?? dia Mamaku!!!"
Ardelof hanya diam dengan wajah mengerasnya seraya satu tangan membelit pinggang Sofea erat memberikan kesan Posesif dan perlindungan yang utuh.
"F..Fea!!"
Sofea semangkin menatap wanita itu dengan sendu dan khawatir hingga ia mengalihkan tatapannya ke wajah datar Ardelof yang mengepalkan tangannya dengan asap hitam diaspal itu menyeruk membuat Sofea terdiam bungkam.
"F..Fea.. ! t..tolong, Mama!"
"M..dia.." Sofea menjeda ucapannya saat menelisik lebih dalam membuat ia tercekat saat melihat darah yang tadi bercecer perlahan menggulung membentuk sebuah gumpalan kembali mendekati Tubuh Mama Netty yang tersandar ke dinding dengan satu kepala yang tadinya hancur kembali membentuk hingga menunjukan Visual aslinya.
"I..itu.."
Ardelof menarik Sofea kebelakangnya karna tubuh wanita itu mulai bergetar saat melihat rupa asli dari sosok yang tadi menjelma sebagai Ibunya, keringat dingin itu pulai menyeruk ke kening Sofea yang memeluk lengan kekar Ardelof.
"Kau selalu saja mengagalkan rencanaku!" Geram Mahluk yang bertubuh manusia tapi tangannya dapat berubah-ubah seperti lintah hitam yang meliut keluar dari sela-sela jari-jarinya, wajahnya terkadang begitu Tampan dengan mata Hezel kehijauan dinetra tengahnya lalu kembali berubah seperti tengkorak membuat Sofea memeluk tubuh Ardelof dari belakang.
"Masih belum ingin menyerah, rupanya!"
"Yah, Yang Mulia Drak yang tertinggi!! kau punya segalanya, termasuk.."
Pria seperti Siluman itu mengintip Sofea yang gemetar dibuatnya, tatapan pria itu seakan mau mengendalikannya tentu Ardelof tak tinggal diam memberikan serangan batin karna ia tak mau membuat Sofea ketakutan melihatnya.
"Hey, ayolah. Sayang kau.."
Whusss..
Pria itu menghindar hingga bagian dinding dibelakang sana roboh akibat pergelutan batin keduanya, suasana masih gelap mendung dengan angin yang bergejolak membuat Ardelof sangat mengontrol diri agar tempat ini tak hancur.
"Woww!! Kau marah, hm?"
__ADS_1
"A..Ard!!"
Pekik Sofea saat pria itu seakan menggodanya dengan jilatan lidah panjang yang terbelah ditengahnya seperti kadal seakan menguji kesabaran Ardelof yang mengepalkan tangannya kuat.
"Kau memang ingin ini!"
Langit diatas sana mulai bergelombang dengan suara gemuruh yang kuat, angin itu mulai berputar menggulung setiap apa yang ia lewati tapi hanya sejalan dengan Mahluk seperti Lintah dan berlidah kadal dibelakang gerbang membuat Sofea membenamkan wajahnya ke punggung Ardelof yang juga menggenggam tangannya erat ditengah gejolak angin kuat ini.
"Kau mau mencoba?"
"Jangan membual!"
Brak...
Pria itu terkejut saat angin itu menggulung pepohonan disampingnya hingga ia ikut dihisap kedalamnya, suara retakan tanah dan pepohonan ditepi jalan itu membuat Sofea seakan mau mati apalagi suara kobaran api yang tiba-tiba muncul dari tubuh pria itu hingga membuat angin yang Ardelof ciptakan malah membakar setiap jalan yang ia lewati.
Tawa Mahluk itu pecah seraya menatap Ardelof yang hanya diam tapi percayalah kediamannya bukan hanya batu yang menerima melainkan air yang menenggelamkan.
"Kau terkejut, hm?"
Sudut bibir Airdelof terangkat melihat angin berlapis api itu membakar setiap wilayah di luar gerbang Perusahaan, tentu ini akan menjadi Kerugian terbesar apalagi para Penginapan mewah ada diseberang sana hampir hangus dibuatnya.
"Serahkan dia padaku. dan aku tak akan mengangguku!"
"Kau tahu ini?!"
Ardelof membentangkan telapak tangannya dimana ada api biru yang ia genggam membuat Mahluk itu lansung menatapnya hingga Ardelof tak menyia-nyiakan waktu.
"Ini untukmu!"
Teriak Mahluk itu saat ia terpengaruh hingga Ardelof menaikan tangannya seraya kembali kuat mencengkram api biru ditangannya hingga membuat pria itu terkurung dalam putaran angin api yang ia buat sendiri, semuanya terdengar nyaring memecah telinga dengan jeritan kerasnya karna Ardelof membakar tubuh Mahluk Klan musuhnya itu didalam Portal Dimensinya.
"Aaaaaa!!! Brengsek!!!"
"Kembalilah pada, Rajamu! katakan padanya, jangan menjadi Pecundang!!!"
Duarrrr..
Sofea menutup telinganya saat suara ledakan itu memekik menggetarkan tanah hingga sampai membuat retakan didekat jalan, Tubuh Ardelof tak banyak bergerak, ia hanya diam berdiri tegap Cool tapi auranya kembali menormalkan energi disekitar Perusahaan agar kembali seperti biasa tanpa terganggu sama sekali.
"Kau tak apa?"
Sofea masih diam mengeratkan pelukannya tanpa mau membuka mata, ia terus mencengkram dada Ardelof yang merasakan betul ketakutan wanita ini membeludak dan itu juga bisa menjadi Energi kuat yang diinginkan kaum Black Clover barusan.
"Buka matamu!"
"T..Tidak, dia..dia pasti.."
"Dia sudah pergi!"
Sofea masih tak ingin membuka matanya, bayangan dimana sosok itu sangat menyeramkan dengan taring dikedua sisi rahang dan tubuh berubah-ubah, lidahnya juga panjang terkadang berlendir membuatnya ingin muntah.
"A..Aku tak mau!"
"Ini sudah mau malam, mereka akan kembali jika kau masih suka melamun dan merasa takut!"
__ADS_1
Ardelof membalikan tubuhnya seraya masih menggenggam tangan Sofea yang juga tak mau melepasnya, Quxi yang melihat bagaimana tanah yang tadinya retak kembali membaik seperti semula lansung lega karna Yang Mulianya tak ingin mengungkap jati dirinya terlalu dalam pada Sofea.
"Hey, aku disini! tak akan terjadi apapun, hm?"
Sofea perlahan membuka matanya lansung bersitatap lembut dengan netra biru elang Ardelof yang menawarkan rasa aman, Ardlof merapikan rambutnya yang tadi berantakan dengan sangat halus.
"A..Apa dia i..ingin a..ak.."
"Kau milikku, tak akan ada yang mengambilmu!"
Ucapan Ardelof diiringi dengan hembusan angin damai menerpa tubuh keduanya dengan awam hitam yang tadi bergelombang lansung memisah menarik awan senja yang ingin datang.
Wajah Sofea melemah membuat Ardelof lansung merangkuhnya dalam pelukan hangat itu, pikiran Sofea tertuju pada daerah sekitarnya yang kembali membaik padahal tadi jelas semuanya hancur.
"Kau melupakan sesuatu?"
"A..Apa? a..apa dia masih.."
"Pita! bukankah kau mau membelinya? aku sedang berbaik hati, sekarang!"
Ucap Ardelof lembut menagkup pipi Sofea yang tadinya pucat sekarang lebih baik, ia hanya ingin wanita ini rileks tak depresi dengan kejadian janggal yang terus terjadi.
"Tapi, ini sudah malam. hari mulai gelap, Ard!"
"Tapi, Mallnya masih buka kapanpun kau mau!" Sangka Ardelof menarik Sofea menuju Mobil, ia tahu sedari tadi Kristof menyaksikan semuanya dari atas sana tapi ia yakin pria itu akan mencari masalah dengannya.
"Quxi!!"
"Dia tak ikut!"
"Kenapa? bisa saja nanti Mahluk itu kembali dan Quxi akan terluka!" Sofea khawatir didalam mobil menatap Quxi yang tersenyum mendengarnya lalu menghilang memantik rasa bingung dipikiran Sofea.
"Ard, kita pulang saja! nanti dia datang lagi!"
"Biarkan saja, yang penting kau masih disini!"
Ucap Ardelof mengecup pipi Sofea yang hanya diam membatu, ada rasa hangat dihatinya ketika Ardelof begitu melindunginya tapi entahlah Sofea sangat suka jika Ardelof begini.
"Em, yang tadi itu siapa, Ard?"
"Kau menyukainya?" Sofea lansung menggeleng bergidik jijik mengeratkan genggamannya. ia saja sangat takut melihatnya tapi untung saja Ardelof begitu membuatnya kagum.
"Tapi, Terimakasih!"
"Untuk?" Tanya Ardelof sesekali merapikan poni Sofea lalu kembali melihat jalan, tentu Sofea semangkin meleleh dibuatnya.
"Sudah melindungiku, padahal aku sering berburuk sangka padamu!"
Ardelof hanya menjawabnya dengan senyum simpul, ia tak terlihat memikirkan soal Mahluk itu dihadapan wanita ini padahal, Ardelof yakin Raja dari Klan gelap satu itu tak akan membiarkan Sofea lega.
....
Vote and Like Sayang..
Maaf baru Up.. baru pulang Sekolah say😩😩
__ADS_1