Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
Kemarahan Ard!


__ADS_3

Perlahan mata lelah itu berkerut dengan dahi yang melipat merasakan pusing yang teramat pada kepalanya, mata Sofea perlahan terbuka diiringi ringisan kecilnya karna Kepala yang seakan mau pecah.


"A..Sss!"


Sofea masih meringis seraya pelan-pelan membuka matanya hingga bayangan kabur itu menyapa, ada sinaran lampu diatas sana yang membuat mata Sofea semangkin menyeringit. Namun, ia terlonjak kaget saat kedua tangan dan kakinya di Borgol dikedua sisi ranjang hingga membuat Sofea lansung sepenuhnya sadar.


"K..Kenapa? ini.."


"Sudah bangun, hm?"


Degg...


Sofea gemetar saat melihat siapa yang tengah duduk diatas Sofa sana membelakanginya, ia menelisikan matanya kesemua penjuru kamar hingga Sofea sadar ia kembali ketempat yang sama.


"A..Ard!"


Gusar Sofea lirih saat merasakan aura aneh dari Tubuh pria itu, ini adalah aura dimana dulu ia baru datang kesini dengan beribu Misteri hingga sekarang keringat dingin di kening Sofea lansung lebur membasahi pelipisnya.


"Siapa yang kau panggil, Ard?"


"K..Kau.."


Jawab Sofea gemetar saat Tubuh kekar yang dibaluti Kaos hitam dan celana Jeans itu berbalik, seketika mata Sofea terbelalak melihat mata merah Ardelof yang sudah berurat biru disetengah pipinya menatapnya membunuh dengan gejolak kemarahan yang nyata.


Perlahan kaki pria itu melangkah mendekatinya membuat Sofea mulai merasakan aura intimidasi yang kuat hingga sampai menyerap keberaniannya menimbulkan rasa Takut diseluruh tungkainya.


"A..Aku..Aku.."


Sofea memberontak keras namun kedua tangannya di Borgol erat, mata Sofea sudah menggenang berusaha lepas tapi ia tak bisa karna Ardelof sangat menyeramkan dimatanya.


Grett..


"Em!!!!"


Sofea menggeram saat kedua Borgol ini seakan menarik satu persatu anggota tubuhnya hingga Tubuh Sofea mulai kaku seakan membatu tak bisa bergerak selain diam ditempatnya.


"Mimpimu, indah?"


"A..Ard hiks!"


Isak Sofea gemetar, ia tak berani menatap Ardelof yang seperti Monster dengan mata merah dan wajah berurat membiru dengan aura kelamnya, ia tak berani melihat kobaran api dimata elang ini seakan menghisap jiwanya.


"JAWAB!!!"


"A..Ard hiks, aku...aku mohon."


"Kenapa? kau takut? hm?"


Tangan Ardelof perlahan terangkat mengelus pipi Sofea yang berair dan pucat hingga membuat giginya saling berdetak kejam seakan menahan kemarahan yang sudah tak terbendung.


Grett..

__ADS_1


"Aaass!!!"


"Kau begitu berani! jangan pikir aku membiarkanmu itu berarti kau bebas."


Suara Ardelof begitu terdengar menyeramkan dengan Intonasi dinginnya, cengkraman jari Pria itu menguat ke kedua pipi Sofea hingga membuat darah segar mengalir karna kuku tajamnya telah menusuk kulit lembut itu.


Ardelof hanya diam terus menekan kukunya hingga membuat Sofea meringis sakit, tapi Ardelof hanya membatu seakan suka melihat darah itu keluar dari pipinya.


"Kau tak mau bicara?"


Sofea semangkin terasa sakit saat Ardelof menjilati pipinya yang berdarah hingga darah itu ia telan seakan tak jijik tapi sangat sakit, Sofea merasakan tubuhnya sudah remuk dan sangat tak kuat menahan ketakutan dalam dirinya.


"Penyihir, kau sudah terlalu lancang membuat keputusan! dan sekarang.."


Ardelof menyeringai iblis menarik rambut Sofea hingga lansung terdongak menatapnya, mata sendu penuh luka ini semangkin memupuk amukan batin Ardelof yang sudah menggila mengetahui wanita ini sangat berani berniat pergi darinya.


"Terima Keputusanku!"


Whuss..


"Aaaaa!!!!!"


Teriak Sofea saat kamar ini berubah menjadi ruangan yang tadi ia lihat hingga semuanya terlihat jelas ada gelantungan Mayat tepat mengelilinginya hingga Sofea berada ditengah-tengah ruangan yang sudah menyerukan bau mayat dan bangkai yang kuat.


"Aaaard!!! hiks, Aaaaard!!!"


Teriak Sofea memberontak saat Ardelof sengaja menebas tali yang mengikat mayat perempuan tepat diatasnya dengan pedang yang digenggam hingga Bangkai dengan setengah daging digerogoti ulat itu lansung menimpa tubuh Sofea yang lansung berteriak nyaring dengan kerongkongan seakan mau keluar.


"Hooeekmm, Maaaaaa!!!!"


Ardelof menunjukan segalanya hingga Lemari yang tadi ia lihat banyak bangkai dan mayat yang berbelatung itu terbuka menunjukan ribuan binatang pengurai yang tengah berpesta dengan daging-daging yang ia makan menampakan tulang yang hampir memutih.


Wajah Sofea sudah pucat dengan tangisan tertelannya hingga ia menatap Ardelof yang hanya diam masih dengan wajah yang sama menatap penuh seringaian padanya.


"L..Lepaskan aku hiks!!!"


"Masih belum puas?"


Brugh..


Ardelof menebas 3 bangkai lagi hingga Ranjang Sofea penuh dengan para mayat itu membuat Sofea kembali meraung keras memecah keheningan, Ardelof hanya diam bahkan ia membuat ketakutan Sofea semangkin meruak saat melihat satu mayat yang masih segar tengah didinginkan didalam sebuah Kulkas khusus hingga ia tak lagi berani membuka matanya.


"BUKA MATAMU!!!"


Sofea menggeleng mencengkram rantai borgolnya kuat menahan takut, ia tak berani menatap Ardelof selain mengigit bibirnya menahan gemetar sampai mulutnya berdarah.


"BUKA MATAMU!!"


"Tidak hiks, aku..aku mohon, keluarkan aku dari sini, hiks, aku..aku mohon!!"


"Baiklah!"

__ADS_1


Ardelof menghempaskan tangannya hingga semua borgol itu terlepas dari kaki dan tangan Sofea yang lansung bangun menendang para mayat yang menimpanya, ia terjun kelantai yang sudah berbecak darah ini dan lansung berlari menuju pintu keluar.


Grepp..


Lengannya ditarik.


"Lepas!!!!"


"Kau ingin lari kemana, hm?"


"A..Aku mohon hiks, aku mohon!!!"


Ardelof hanya membatu menarik lengan Sofea kasar keluar dari pintu hingga ia mendorong tubuh lemah wanita ini kesebuah ruangan gelap tepat dipintu keluar tadi, dan lagi-lagi Sofea diuji dengan semua ini hingga ia lansung gemetar merapat kedinding.


"Lari!!"


"I..Ini.."


"Ayo, pergi!"


Sofea menggeleng karna ia sangat takut hingga tangannya ingin menggapai kaki Ardelof tapi pria ini malah menepis tangannya.


"Kau ingin pergi, bukan? Kau ingin meninggalkan aku disini!!! kau ingin hidup sendiri, dan kau ingin menghancurkan hidupku!!!!"


"K..Kau yang brengsek!!"


Bentak Sofea tak tahan lagi hingga ia menjauhi Ardelof meringkuk disudut dinding dengan tubuh gemetar dan rasa sakitnya, ia sudah lelah bahkan sangat. ingin rasanya Sofea memaki Ardelof yang sudah sangat membuatnya tak sanggup bertahan.


"Kau berani mengatakan itu?"


"Y..Yah, kau..kau pria yang paling brengsek di Dunia ini!! kau memanfaatkan aku hanya demi kepuasan hasratmu, kau tak pernah menganggapku lebih, Ard!!! apa aku harus bertahan, ha? a..apa harus bertahan, hiks?"


Ardelof seketika mematung mendengar itu semua, matanya berubah kembali biru dengan raut wajah perlahan membaik menatap Sofea yang menatapnya penuh rasa sakit.


"K..Kau.., Kau selalu mengatakan AKU HANYA MILIKMU, tapi kau..kau bukan MILIKKU, kau..kau bukan SUAMIKU!!!"


"Kenapa pikiranmu sempit?"


Sofea tersenyum miris hingga ia perlahan berdiri menatap Ardelof dengan luka, matanya sudah merah dengan pucat yang teramat.


"Se..sempit? Sempit kau bilang, ha?"


"Yah!"


"Kau yang brengsek, kau pria terburuk yang pernah aku kenal. dan kau.."


Sofea menunjuk kiri wajah Ardelof yang menunggu apa dan makian apa yang akan Sofea berikan padanya.


"Kau pria BERISTRI, kan?"


Degg..

__ADS_1


.....


Vote and Like sayang..


__ADS_2