
Genggaman tangan kekar dan tangan lentik itu mengerat saat menapaki lantai bawah setelah keluar dari Liftnya, deretan pelayan lansung menyambut dengan penuh hormat berjejer rapi disepanjang lantai menyambut Putra Mahkota mereka. walau begitu mereka sangat mengaggumi sesosok wanita yang sangat cantik dan rupawan dibekali tatapan cerianya menatap mereka semua.
"Selamat Pagi. Yang Mulia!"
"Hm."
Ardelof hanya bergumam kecil menarik kakinya tegas menuju Pintu keluar, Sofea hanya menurut karna rasanya Istana ini sangatlah muram dengan semua tirai ditutup tak ada cahaya yang masuk sama sekali padahal ia suka mentari.
"Ard, itu Ibumu."
Ardelof menghentikan langkahnya saat Sofea berbisik kecil menoleh kebelakang, ternyata Ratu Rosmeryna tengah duduk di Sofa disudut sana menatap mereka dengan rumit, tak lupa si kecil Beclie yang memang sudah perlahan membaik walau kepalanya masih diperban dengan lengannya.
"Salam, Yang Mulia."
Sofea memberi salam hormat membungkukan separuh badannya anggun membuat Ardelof terdiam, tak biasanya wanita ini berani duluan tanpa ia yang menirukan.
"Ard, kau mau kemana?"
"Keluar!" Singkat Ardelof datar.
"Kami mau keluar sebentar, apa tak masalah?"
Tanya Sofea lembut tapi tak dijawab Ratu Rosmeryna yang berdiri dengan tatapan tak sukanya pada Sofea, memang sangat cantik jauh dari exspektasinya tapi wanita ini hanya wanita tanpa identitas yang dibawa Putranya.
"Kau tak ke Perusahaan?"
"Tidak. Kristof menangani dengan baik."
"Kau membawanya?"
Ardelof terdiam sesaat melirik Sofea yang hanya tersenyum melihat keacuhan Ratu Rosmeryna padanya, Sofea paham itu karna ia hanyalah wanita biasa sedangkan Ardelof seorang Putra Mahkota.
"Hm. ada lagi?"
"Ibu hanya memberi saran, memang Kekotoran yang dibuat Vanelope itu tak bisa dimaafkan. tapi, apa kau tak berfikir panjang menikahi Wanita tak punya Identitas?"
Degg..
Sofea terdiam menatap wajah datar Ratu Rosmeryna yang hanya ingin yang terbaik untuk Putranya, sudah cukup Vanelope memberi goresan luka hingga kehidupan Ardelof hancur saat itu, dan ia tak ingin lagi melihat itu semua.
"Dia Istriku, apa itu tak cukup?"
"Istri dimatamu tapi dimata orang lain dia hanyalah Orang Asing di sini, sampai kapan kau mau menutupi Pernikahanmu dan sampai kapan kau mau menyembunyikannya terus menerus? Kita butuh penerus dan Calon Ratu berikutnya. pikirkan itu baik-baik."
Ratu Rosmeryna melangkah pergi dengan dua pelayan yang mengikutinya meninggalkan Sofea dalam keheningan, ia berfikir panjang hingga membuat Ardelof menghela nafas menarik genggamannya hingga Sofea masuk kepelukannya.
"Jangan dipikirkan, kau hanya perlu tersenyum saja itu sudah sangat cukup."
"Aku tersinggung." ucap Sofea jengkel.
"Dewi!"
Beclie yang memanggil Sofea ceria hingga senyum cantiknya mekar merentangkan tangannya membuat bocah kecil itu berlari lansung mendekap kedua kaki Sofea yang lansung berjongkok.
"Kau sudah baikan, hm?"
"Sudah, tapi Dewi mau kemana?"
Ardelof terlihat tak menghiraukan Beclie membuat Sofea mencari jalan keluar dari sikap dingin pria ini pada Beclie yang tak tahu apa-apa.
"Mau jalan pagi, apa kau mau ikut?"
"A..Apa boleh?" ciut Beclie menunduk karna takut Ardelof marah padanya, tentu Sofea mengerti hingga ia pun tak ingin perselisihan ini berlanjut.
"Kau boleh ik.."
"Tidak."
"Ard, ayolah." ucap Sofea mengadah menatap Ardelof yang hanya diam tak menjawab.
"D..Dewi, aku tak jadi ikut."
"Tak apa, Lie! Aku yang membawamu, kita harus menjadi orang yang dingin mulai sekarang!"
Ketus Sofea lalu melangkah duluan, dengan Celana olahraganya yang ketat abu menunjukan lekuk pinggang dan kaki jenjangnya yang sempurna disertai sepatu olahraga berwarna putih bergaris Pink senada dengan Jaket yang ia pakai tapi dibagian lehernya agak panjang karna mengingat diluar cuaca diluar masih dingin tapi agak mendung mengurai Musim salju yang akan lebat pada malam hari.
"Kau membawanya?"
"Iya, aku kan Istrimu! aku harus belajar mengasuh anak, Yang Mulia!"
Sofea menunjukan gestur anggunnya berdiri tegap tapi dadanya agak maju dengan kedua tangan dibuat bertaut menyambut Ardelof yang hanya menggeleng.
"Silahkan. Yang Mulia."
"Hati-hati, kau bisa jatuh."
"Tahu!"
Jawab Sofea yang kembali melangkah seperti biasa, ia menatap kagum Ardelof yang memakai Outfit Olahraganya yang Simpel, Jaket tipis dengan baju kaos oblongnya tadi dan celana yang sama dibekali sepatu olahraganya berwarna hitam. entahlah rasanya Sofea tak mau jauh dari Si Tampannya itu.
"Yang Mulia."
Para pengawal menyambut Ardelof seperti biasa tapi mereka terpesona melihat Sofea yang hanya memberi senyum cantiknya membuat mereka terbatuk tapi kembali menunduk.
"Jaga mata kalian."
"B..Baik, Yang Mulia."
__ADS_1
Ardelof lansung menarik Sofea untuk segera turun ke tangga keluar Istana hingga mereka lansung berlari kecil menuju Gerbang didepan sana.
"Ard, kenapa mereka menatapku begitu?"
"Menurutmu?"
Tanya Ardelof menyelipkan nada jengkel, tadi Sofea kekeh untuk memakai Laging ketatnya hingga bokong indah dengan lekuk pinggang itu sangatlah sempurna, apalagi wajah Sofea sangat cantik dan lugu dengan rambut diikat pita seperti ekor kuda serta Poni yang setengah menutupi kening.
Sofea meneliti penampilannya yang wajar-wajar saja, ini biasa ia lihat di Filem-Filem dan juga nyaman untuk dipakai. sedangkan Beclie hanya diam menurut dengan satu tangan digenggam Sofea disebelah kanan.
"Mereka saja yang ketinggalan Zaman!"
"Mereka melihat tubuhmu, bukan Pakaianmu!"
"Tapi tak lansung, Sayang! mereka tak akan berani."
Jawab Sofea menatap Ardelof yang memakai Masker dan Topi yang juga dipakaikan padanya , mereka sudah ada diluar Gerbang Istana hingga jalan aspal ini akan berkelok menuju Taman tak jauh dari sini.
Disepanjang jalan tangan Sofea tak Ardelof lepas, mereka tak lari melainkan hanya jalan-jalan santai menikmati angin dan mendungnya pagi ini. walau tak ada mentari Ardelof hanya ingin Sofea bergerak melenturkan otot-otot di tubuhnya.
"Kita ke Taman dekat sini, kan?"
"Hm. jangan tebar pesona."
Ardelof menepuk bokong Sofea yang manyun mengusap bokongnya, ia menatap beberapa orang yang ternyata juga melakukan olahraga pagi diluar seperti mereka tapi tak terlalu ramai.
"Sayang, boleh pinjam Ponselmu."
"Untuk apa?"
"Menelfon."
"Siapa?"
"Apa harus ku beri tahu?" tanya Sofea mengayunkan tangan mereka yang saling menggenggam erat seraya berjalan menuju daerah Taman. mata Ardelof menatap menyelidik hingga Sofea pasrah menghela nafas berat.
"Temanku, aku rasa aku masih ingat nomornya."
Ardelof hanya mendengus kesal lalu mengeluarkan Ponselnya membuat Sofea berbinar terang hingga ingin mengambil tapi Ardelof mengelak.
"Berikan, Ard."
"Aku yang menelfonnya!"
"Kau hafal Kontaknya?"
"Bacakan!"
Sofea mengumpat menatap Beclie yang hanya terkekeh kecil melihat pertengkaran menggemaskan dua insan ini. ia suka melihat Sofea mampu menundukan singa jantan ini dengan mudah.
"Yang Perempuan!"
"Haiss, aku saja yang mengetik."
Sofea merampas Ponsel Ardelof hingga ia sangat cepat menekan nomor ponsel yang sudah ia hafal hingga Ardelof mengumpat kasar, sungguh ini diluar rencananya.
"Berikan padaku."
"Suttt!"
Sofea membekap mulut Ardelof yang benar-benar berusaha bersabar karna wanita ini memang sangat menyebalkan, tapi sayangnya ia sangat mencintainya.
"Hello!"
"Aaaa. akhirnya."
"Siapa yang menjawab?" tanya Ardelof seraya ingin mengambil alih tapi Sofea menjauh menatap tajam Ardelof yang seperti di aniaya.
"Apa kita bisa bertemu di Taman didaerah Istana Alison?"
"So..Sofea!!"
"Iya, apa bisa?"
"Baiklah aku akan kesana se.."
Tutt..
"Ard!!!"
Ardelof yang berhasil merampasnya hingga ia mematikan sambungan itu lalu menghapus Nomor yang tadi Sofea Hubungi bahkan memblokirnya lalu tersenyum puas dibalik maskernya.
"Kauuu!!"
"Hm, apa? Menelfon orang lain tanpa sepengetahuan Suamimu itu sama sekali tak baik."
"Tapi kau disini, haiss.. kita pergi saja, Lie. bicara dengan Pria Mosnter itu memang sangat sulit, perlu tenaga exstra menghadapinya."
Sofea menarik Beclie jengkel seraya melangkah menuju Taman yang tak jauh dari sini, Ardelof hanya tersenyum geli lalu memangil Quxi yang siap siaga di Dimensinya.
"Quxi."
"Yah, Yang Mulia."
"Kau jaga Istriku."
Titah Ardelof lalu melangkah pergi, ia harus membeli beberapa Minuman dibeberapa tempat dekat sini agar nanti Sofea tak kehausan jika berlama-lama diluar. tentu Ardelof tak ingin menyuruh pengawal atau bawahannya karna ia ingin mencari yang terbaik diantara yang terbaik untuk Penyihirnya itu.
__ADS_1
.......
Sementara itu, Mobil merah dengan kecepatan tinggi itu lansung melesat masuk menuju Parkiran daerah yang disebutkan Sofea tadi, tentu Yella yang tak menghiraukan Gibran yang sedari tadi tersenyum karna mendengar suara Sofea yang menelfon Yella.
"Apa ditaman ini?"
"Iya, dia pasti sudah lama."
Gibran dengan cepat membuka pintu Mobil turun lalu membantu Yella keluar hingga mereka diperlihatkan dengan Taman hijau dikelilingi bunga yang tak terlalu mekar karna baru saja tertimbun salju.
Mereka melangkah masuk menuju jalan ke Taman dengan beberapa orang yang melewati beriringan menatap mereka acuh karna sibuk akan urusan anaknya.
"Coba kau telfon dia lagi."
"Baiklah."
Yella menelfonnya lagi tapi sayang hanya suara Operator yang menjawab dan Nomor itu tak aktif membuat Gibran yang menatap kesemua arah lansung mendecah kesal.
"Apa memang itu Kontaknya?"
"Iya, aku baru saja menyimpannya. Bran!"
"Periksa yang benar."
"Ini sudah benar."
Yella memberikan ponselnya pada Gibran yang meninggikan suaranya hingga membuat beberapa orang ditaman ini menatap mereka dengan pandangan aneh, tentu Gibran sadar hingga ia mengembalikan Ponsel itu.
"Maaf."
Yella hanya diam melangkah lebih dulu, ia sudah paham kalau Gibran sangat ingin bertemu dengan Sofea dan ia hanya pasrah asalkan ia juga bertemu dengan wanita itu.
"Yella!!!!"
Suara disamping sana membuat Yella terhenti dengan Gibran yang menoleh, mata pria itu berbinar melihat Sofea yang dengan tampilan sempurnanya melambaykan tangan didekat Labirin bunga sana.
"F..Fea!"
Gibran yang duluan berlari hingga Yella hanya tersenyum kecut melangkah pelan agar kandungannya tak bermasalah, semua orang disini menatap Yella prihatin dan tentu semua itu pandangan para ibu-ibu yang seakan menduga ia istri yang terabaikan.
"Fea!"
"Bran. Yella dibelakangmu. kau seharusnya menunggunya!"
Kesal Sofea mengelak saat Gibran ingin memeluknya, ia melangkah menyonsong Yella yang hanya memberi senyuman sementara Beclie asik bermain didalam labirin.
"Ella, kau baik-baik saja?"
"Hm, Menurutmu?"
Tanya Yella agak pedas tapi Sofea menganggapnya hanya sebagai candaan hingga ia terkekeh pelan membantu Yella untuk duduk diatas kursi Taman.
"Aku mengajak kesini karna ingin bertemu denganmu, bagaimana kabarmu dan kandunganmu, El?"
"Baik, sangat baik! bagaimana denganmu?" Timpal Yella menatap wajah Sofea yang tak berubah, bahkan wanita ini benar-benar jauh lebih mempesona darinya.
"Aku sangat bahagia, karna kalian menikah dan sebentar lagi akan jadi orang tua! itu impianmu kan?"
"Yah, Impianku."
Gumam Yella tersenyum miris membuat Sofea agak aneh, ia menatap Gibran yang menunduk hingga kembali menatap Yella yang mulai dingin tak seperti kemaren.
"A..Apa ada masalah?"
"Tidak, aku hanya kurang sehat! entahlah, aku hanya ingin sendiri beberapa hari ini." Elak Yella berusaha untuk tak mengikuti egonya yang begitu jahat. ia kembali tersenyum menatap Sofea yang juga membalasnya tak kalah lembut dengan Masker yang ia turunkan didekat dagu.
"Dewi!!"
Degg..
Gibran terkejut saat melihat Beclie yang keluar dari Pintu Labirin dengan wajah cerianya, bocah itu berlari mendekati Sofea dengan buket bunga yang ia satukan dari akar yang melilit dibeberapa pohon dekat sini.
"Dewi, ini untukmu."
"Ouhh, Romantisnya!"
Sofea mengambilnya dengan riang lalu membawa Beclie kepangkuannya, ia mengecup pipi gembul itu membuat Yella dan Gibran saling pandang.
"D..Dia anakmu?"
Beclie menunggu jawaban Sofea yang tersenyum mengelus kepala Beclie halus.
"Bisa dibilang begitu, dia anakku, temanku, sahabatku, sekaligus Fans fanatik."
Jawab Sofea membuat Beclie berbinar memeluk Sofea yang tahu akan keinginan Beclie, ia akan berusaha agar bocah ini tak lagi depresi karna masalah dengan ibunya. tapi Gibran tak tenang hingga ia berdiri dihadapan Sofea dengan serius.
"Fea. apa kau sudah menikah? atau kau sudah punya anak?"
"Aku.."
"Aku Suaminya!"
Duarr..
....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1