
Langkah pria itu begitu cepat keluar dari Lift dengan wajah khawatirnya karna ini sudah malam tapi perasaannya tak tenang, sedari di kantor ia selalu dihantui perasaan Ingin pulang antara merindu berat dengan sesosok Mahadewi yang telah mengaduk-ngaduk hatinya hingg ia pun tak bisa berfikir jernih.
Pintu kamar itu ia dorong pelan karna takut jika Sofea sedang tidur dan ia menganggu, tentu ia kembali disapa dengan kamar yang remang seakan tak berpenghuni.
"Kau sudah tidur?"
Gumam Ardelof melihat gudukan selimut yang ada diatas ranjang sana, helaan nafasnya lansung tercipta dengan tangan yang melonggarkan Dasi mencekik lehernya. ia menjatuhkan tubuhnya diatas Sofa sana seraya memijat pelipisnya pusing.
"Kau lupa lagi menutup Balkon." gumam Ardelof menggeleng hingga ia menghempaskan tangannya hingga Tirai Balkon tertutup rapat membuat angin yang tadi menyejukan seketika terkurung diluar sana dengan hapitan Jendela.
Tanpa pikir panjang Ardelof mendekati ranjang memperbaiki selimut yang membelit tubuh Sofea hingga wajah damai wanita ini terlihat membuatnya tenang.
Pahatan sempurna yang dimiliki Sofea membuat Ardelof terdiam duduk disamping tubuh wanita ini, matanya tak berhenti menatap lembut penuh Cinta darinya.
"Kau sangat cantik, pantas semua orang ingin memilikimu. tapi aku tak akan membiarkan mereka menggantikan Posisiku."
Ucap Ardelof nyaris ciut hanya berbisik pelan membungkukan separuh tubuhnya hingga ia mengecup lama bibir Sofea meluapkan kerinduan didadanya.
Satu tetes air bening itu turun diekor mata Sofea yang sebenarnya tak tidur, semuanya ia dengar dari ucapan Ardelof yang terkesan sangat Posesif tapi itu menyakitkan baginya.
"Kau memiliki wanita lain, sedangkan aku...aku kau kurung seakan hanya kau yang bisa melihatku. kau EGOIS!"
Batin Sofea merasa pilu, jika ia bertanya maka Ardelof hanya akan mengelak membuatnya menduga-duga. dan sekarang ia paham kenapa Ardelof begitu menginginkannya dan itu hanya sebatas Partner Ranjang.
Karna sudah terlalu lelah Ardelof menyudahi ciumannya hingga ia menyambar Handuk pergi kekamar mandi, suara pintu tertutup itu lansung membuat Sofea lepas membekap mulutnya sendiri.
"A....Aku harus apa, hiks?" Gumam Sofea tak tahu arah, ia ingin pergi tapi kemana? ini sudah malam dan penjagaan Istana sangat ketat untuknya. apalagi saat Klan Gelap yang terus mengincarnya membuat Sofea kebingungan.
"Tidak, aku..aku harus mencari jalan keluar."
Sofea perlahan turun dari ranjangnya, ia melihat Pintu kamar mandi masih tertutup rapat dan Ardelof setidaknya akan keluar dalam 30 menit atau lebih dari itu. dengan sedikit gugup Sofea menatap pintu keluar.
"A..Aku..Aku butuh penerangan." gumam Sofea lalu mencari Senter di laci yang biasa ia bersihkan, dan benar saja benda itu bersemayam disana hingga Sofea berbinar lansung menyambar Blezer diatas Sofa dan lansung keluar dari kamar.
Sofea menutup pintu kamar pelan lalu mengendap menuju tangga, ia ingat saat Ardelof membawanya lewat jalan itu yang lansung terhubung ke Luar Bangunan Istana.
Tapi, Sofea mematung melihat pintu kamar itu lagi. matanya kembali memanas karna ia sudah jatuh hati pada pria itu hingga rasanya langkahnya berat untuk pergi.
__ADS_1
"Maafkan aku, a..aku akan selalu mengenang kebaikanmu. Ard!"
Batin Sofea mencengkram dadanya lalu melangkah pergi, disela nafas sesak nan sendat itu Sofea berusaha tegar meninggalkan kenagan yang begitu indah mengukir bersama.
Bayangan dimana Ardelof mengatakan kata-kata mesra yang membuat hatinya yang begitu gersang seakan ditaburi dengan sangat lembut, ia baru saja patah hati dimana Gibran mengkhianati Cintanya dan Sofea merasa jatuh cinta lagi dalam sekejap pesona pria itu mampu mengalahkan Keangkuhannya tapi sayang, Cintanya kembali ia kubur dalam-dalam karna pria itu sama sekali tak memiliki rasa untuknya selain hasrat dan rasa kagum akan Fisiknya.
"Sangat gelap."
Gumam Sofea saat ia sudah berada di Tangga Utama dimana ada anak tangga belokan disampingnya, dan itu adalah tangga Misterius yang kemaren melukai kakinya tapi Sofea tak mau menunda lagi.
"A..Aku..Aku yakin, Mama masih hidup."
Sofea menyemangati dirinya sendiri perlahan melangkah masuk kedalam kegelapan seraya menghidupkan senter kecil ditangannya hingga ia melihat ada lorong dibawah sana, tapi Sofea mencari pintu yang kemaren ia lalui dengan Ardelof.
"A..Apa disini?"
Gumam Sofea meraba dinding, kemaren jelas ia melihat Ardelof membawanya lewat dinding ini tapi kenapa sekarang hanya beton putih yang berdebu? tak mau putus asa Sofea terus meraba hingga tanpa sadar ia sudah turun semangkin jauh kebawah sana dimana aroma amis mulai menyeruk membuat kerongkongan Sofea seakan mau pecah.
"B..Bau apa ini?"
Gumam Sofea membekap hidungnya seraya terus melangkah semangkin jauh hingga suasana begitu gelap dan dingin, pecahan beling yang kemaren ia pijaki juga ada diatas sana hingga Senter Sofea tak terlalu bisa menjangkau jarak jauh.
"Siapa?"
Panggil Sofea panik saat ada yang bergerak dari sudut dinding, dengan gemetar Sofea menyinari lantai Keramik yang sudah tua berbecak kecoklatan apalagi dinding pintu disampingnya juga sudah berwarna Maron pekat padahal dasarnya itu Pintu Besi Aliminium.
"A..Apa ada orang? Permisi?"
Tanya Sofea karna ia lupa jalan kemaren, ia hanya tahu itu dinding dan sekarang ia mencarinya tapi tak ketemu hingga tatapan Sofea hanya tertuju pada Satu Pintu disampingnya yang tampak sudah usang berkarat dengan bau amis dan remang-remang aroma Bangkai yang kuat.
"Huss!!"
Sofea mundur saat satu tikus hitam sedang keluar dari sela-sela pintu yang bolong dari bawah, Aliminiumnya sudah berkarat hingga mudah saja Serangga pengerat itu masuk merusak segalanya.
"Tikusnya sangat banyak, kenapa bisa begini?"
Sofea menggelijang jijik sekaligus kegelian, ia kembali fokus pada Pintu dihadapannya karna penasaran soal ucapan Para pelayan kemaren yang mengatakan ini Ruangan Khusus bagi Vanelope dan Ardelof. tapi kenapa Tempatnya jadi Menyeramkan begini dengan Geladak yang sudah bocor hingga separuh lantai tampak lembab membuat telapak kaki Sofea tanpa alas dibuat hati-hati berpijak.
__ADS_1
"Fyuh, maaf aku buka sedikit." Pamit Sofea merinding lalu membuka ikatan kawat dipeggangan Pintu yang berkarat ini hingga benda itu terlepas membuat pintunya agak terbuka kecil.
"Hoeeekk!!"
Sofea muntah saat aroma dari dalam sana lansung masuk menyeruk kehidungnya hingga ia bersandar ke dinding samping pintu menahan gejolak perutnya.
"Kenapa bau sekali?"
Batin Sofea ingin muntah, kerongkongannya bergejolak dengan perutnya yang melilit karna baunya sangat amis dan busuk membuat kepalanya pusing, tapi rasa penasaran Sofea tak bisa dicegah begitu saja.
Kreett..
Suara pintu yang didorong Sofea pelan dengan ujung kakinya hingga ia mengambil nafas dalam-dalam dari luar dan lansung masuk membekap mulutnya.
Bugh..
Sofea terkejut saat ada yang tumbang tepat didekat kakinya hingga ia lansung mematung membelakangi pintu dengan aroma busuk yang semangkin meruak.
"S..Siapa?"
Tanya Sofea mematikan Senternya karna keringat dingin itu mulai membasahi kening dan lehernya, jantung Sofea bergejolak kencang menguatkan tulang-tulangnya yang mengigil.
"Kau bisa, Fea."
Batin Sofea lansung berbalik menghidupkan Senter dan..
Duarrrr..
"Aaaaa!!!!!"
Teriak Sofea keras saat matanya lansung disapa dengan gantungan Bangkai dan Tulang belulang yang sudah jatuh menimpa kakinya hingga..
Brugh..
Sofea jatuh pingsan ditengah Tulang yang telah bertumpuk disudut dekat ia berdiri, belum lagi belatung dan ulat yang menggerogoti Tumpukan mayat didalam lemari kaca itu tampak penuh.
....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..