Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
Bangun pagi yang indah!


__ADS_3

Keheningan itu menenggelamkan sunyi yang telah meraup kesadaran dua manusia yang tengah melamun diatas ranjangnya, dari semalam mereka berfikir panjang akan kejadian yang baru saja mereka alami.


Yella hanya bisa diam merenung sedangkan Gibran ia hanyut dalam bayangan wajah Sofea yang sudah membuat hidupnya kelabu, ada rasa sesal yang teramat dihatinya karna ia semudah itu membuat Cinta diantara mereka hancur hanya karna hasrat sesaat.


"Aaaa!!!"


Gibran mengusap wajahnya frustasi karna sudah hilang akal, ia sangat mencintai Sofea si wanita Misterius yang memiliki daya pikat luar biasa, tapi kenapa ia begitu bodoh sampai melukai hati wanita itu dan sekarang semuanya hancur.


"Sial!!! apa yang haru aku lakukan??"


"Kembalilah!"


Gibran terdiam mendengar suara lirihan Yella yang mengelus perutnya dengan senyuman, jika Sofea rela melepas Cintanya hanya untuk ia bahagia maka Yella akan melepas Gibran agar pria itu juga bahagia, hidup berdua tapi tak satu hati membuat hari-harinya bagai di Neraka.


"El..Ella maaf."


"Ini kesalahan, kau tak perlu bertanggung jawab sampai akhir. aku hanya perlu kau ada saat anakku masih ada didalam kandungan, setelahnya kau bisa pergi." kata-kata yang terlontas bagaikan pisau menyayat hati Yella yang tak lagi mementingkan hidupnya, yang ia tahu inilah buah dari kesalahannya dulu.


"Kau.."


"Aku sudah tahu, Bran! ini semua akan terjadi, Cintamu hanya untuk Sofea dan..dan aku.."


Gibran lansung merangkuh Yella dalam pelukannya, ia memang Pria bejat yang menghancurkan hati kedua Sahabat yang paling ia sayangi, tapi ia tak bisa berpura-pura mencintai Yella karna sedari dulu hatinya hanya untuk Sofea.


"Maafkan aku, maaf!"


"Kau..kau bisa pergi hiks, pergilah!"


"Maaf, maafkan aku."


Lirihan Gibran merasa sangat sakit, ia yang merusak Persahabatan mereka hingga sekarang semuanya hanya tinggal kenangan manis yang sudah terkubur lama.


......


"Sayang!!!"


Teriakan seorang Sofea saat baru bangun tak melihat pria itu disini, tampilannya yang acak-acakan tampak menggemaskan dengn tubuh polos yang hanya dibaluti Selimut saja, wajahnya masih muka bantal mengucek matanya agar kesadaran itu kembali menggerakan otaknya.


"Ard, huaaaam.. kau dimana, Sayang?"


Sofea menguap bersandar ke kepala ranjang seraya menatap lurus kedepan dengan helaan nafas halusnya seraya menatap bantal disampingnya yang sudah dingin menandakan pria itu sudah keluar dari lama.


"Haiss, dia memang Monster."


Gumam Sofea melihat dada dan bagian bawah perutnya dimana semuanya sudah merah bekas gigitan pria itu, apalagi sekarang ia merasa sangat lapar tak ada lagi camilan diatas meja sana.


Namun, mata Sofea berbinar melihat minuman soda diatas meja dengan bungkus-bungkus camilan yang semalam ia makan sudah tergorok kosong, karna sudah sangat ingin Sofea menatap sekelilingnya hingga tak menemukan lagi seorang pun


"Syukurlah, Monster satu itu sudah pergi."


Binar Sofea riang mengulur tangannya meraih satu kaleng kecil Soda itu ketangannya hingga Sofea benar-benar merasa haus menghirup aromanya yang khas.


"Selamat Minum, Fea!!"


Grep..


Sofea terkejut saat kaleng minuman itu dirampas dari tangannya oleh tangan kekar seorang pria yang sangat Sofea kenal hingga ia pucat meremas selimut didadanya.


"A..Ard."


"Hm."


Ardelof duduk dibelakang Sofea yang menoleh menatapnya yang memakai pakaian santai, baju Kaos oblong dengan celana Trening panjang yang memperlihatkan tubuh kekarnya yang menawan, satu helai kecil rambut kecoklatannya jatuh didekat kening hingga ia seperti anak muda yang gagah perkasa pagi ini, tonjolan otot dibahu dan dada Ardelof terlihat kekar karna Kaos Oblong tanpa lengan ini sangatlah Simpel namun terkesan Cool.

__ADS_1


"K..kau tak kerja?"


"Tidak."


Ardelof menatap minuman kaleng digenggamannya dengan intens membuat Sofea menegguk ludahnya kasar antara rasa gugup dan ingin, sepertinya aroma Minuman Soda itu sangatlah nikmat di kerongkongannya.


"A..Ard, kau pergi saja kerja!"


"Kenapa?"


Sofea menunduk lalu mengusap tengkuknya yang tak gatal, ia merapatkan selimut itu ketubuhnya agar menghangatkan rasa dingin yang mulai menyeruk ke tulangnya.


"I..itu.. aku.. hmm, kau.."


"Kau ingin ini?"


"Iya, Eh.."


Sofea mengumpat saat ia keceplosan hingga Ardelof menatapnya dengan tajam seakan hunusan pedang yang menebas dalam.


"Ard, sedikit saja. bolehkan?"


"Tidak."


Sofea menggerutu mencempol rambut panjangnya hingga tergulung keatas menampakan bekas Kismark dileher dan hampir disemua bahu dan telinganya membuat Ardelof menarik sudutnya pelit seraya membuka penutup Kaleng Soda ini.


"Kalau kau yang minum enak saja, seharusnya kalau tak mau aku minum tak usah diletakan di.."


Whuss..


Tubuh Sofea seakan ditarik hingga lansung menubruk dada bidang Ardelof yang menarik pinggang Sofea merapat kepangkuannya hingga mata keduanya bertemu menyampaikan isi hati masing-masing.


Netra elang Ardelof menatap intens mata hitam legam Sofea yang bening, ia melihat keinginan yang sangat besar dimata ini akan aroma minuman kaleng yang ia peggang. tapi Sofea melotot kesal saat Ardelof malah menegguk minuman kaleng itu tanpa memperdulikannya.


Ardelof hanya diam mengulur tangannya memeggang dagu lancip Sofea yang menatapnya penuh kekesalan.


"Ard, k..kau mau apa?"


"Hm!"


"Ard, kau sangat menjengkel ka.."


Cup..


Mata Sofea terbelalak saat Ardelof menyambar bibirnya kuat hingga kedua tangan Sofea lansung berpeggangan ke bahu Ardelof karna terkejut, perlahan bibir Ardelof menelusup masuk disela bibir merah muda segar Sofea yang pasrah membuka cela hingga Ardelof mengigit bibirnya kecil menyalurkan minuman yang tadi tak ia telan.


"Eg.."


Ardelof meremas bokong Sofea mengisyaratkan untuk menelan hingga Sofea perlahan menegguknya penuh selera karna rasanya memang sangat segar apalagi ini sedikit dingin menyentuh lidahnya.


"Bagaimana?"


"Em.. Enak!"


Jawab Sofea masih mengecap menjilati bibirnya sendiri mencari rasa nikmat yang sangat ia inginkan, melihat itu Ardelof tersenyum pelit mengusap bibir bawah Sofea yang basah karnanya.


"Ard, lagi.."


"Cukup itu saja."


"Tapi rasanya Enak, aku rasa minum sedikit lagi tak akan masalah."


Namun sayangnya Ardelof sudah melempar benda itu ke Tempat sampah di sudut ranjang membuat Sofea menatapnya nanar dan sendu.

__ADS_1


"Kau jahat! lebih baik kau bekerja saja, kau menyebalkan."


"Baiklah, Yang Mulia! tapi sebelum itu makanlah-makananmu."


Ardelof mengambil Nampan yang ada diatas ranjang tadi ia bawa, Sofea baru menyadarinya hingga ia lansung menatap Ardelof yang meletakan Sarbet dipahanya hingga mata Sofea melihat ada Makanan berbahan lengkap, ada sayuran, dagging, buah dan tak lupa susu. tapi ada satu gelap berisi air seperti teh tapi ada es didalamnya.


"Siapa yang masak?"


"Makan saja, setelah ini kita akan olahraga di lingkungan Istana!"


"Ard, apa kau bisa lakukan sesuatu?"


"Apa?"


"Kita berkeliling di Kota ini boleh?"


Wajah Ardelof lansung berubah datar membuat Sofea mencari aman agar pria ini tak marah padanya.


"Sayang, hanya di Taman! tak lebih, janji."


"Kau mau apa kesana?" tanya Ardelof merapikan rambut Sofea yang berantakan.


"Sebenarnya hanya berkeliling, tapi aku rasa Teman-temanku disana, Ard! aku sangat merindukan mereka."


Pujuk Sofea yang benar-benar ingin kembali bertemu, saat itu ia tak sempat untuk bertanya kabar atau sekedar minum kopi. sekarang Sofea ingin tahu bagaimana kehidupan Yella selama ini.


Lama Ardelof berfikir membuat Sofea seakan ada dipuncak kemenagan yang mendebarkan, tapi ia was-was jika Ardelof tak mengindahkan ucapannya.


"Baiklah, tapi aku ikut."


"Ha? yang benar saja!"


"Iya atau tidak!"


"A..aku.."


"IYA atau TIDAK!"


"Baiklah."


Jawab Sofea lemas seraya memakan-makananya, ia mengunyah Salad buah dan Roti isi berbalut daging itu dengan lahap lalu menatap Ardelof yang memainkan Ponselnya. senyum Sofea mekar karna rasanya masakan ini sangat berbeda dan itu karna Sang Suami tercintanya yang membuat.


Cup..


Sofea mengecup pipi Ardelof yang hanya diam menatap kilas lalu kembali fokus ke Ponselnya, tapi lirikan netra biru itu tak lepas dari gerak-gerik istrinya.


"Terimakasih, Suamiku!"


"Hm, makan dengan benar!"


"Kau tak makan?"


"Aku sudah ke.."


Namun Sofea lansung memasukan satu potong roti kemulut Ardelof yang bicara hingga mata pria itu lansung geli mengunyahnya pelan.


"Dasar, Penyihir!"


....


Vote and Like Sayang..


Maaf ya, Author lagi di Sekolah.. jadi lambat Up..

__ADS_1


__ADS_2