
Mereka semua lansung berkumpul merundingkan tentang bagaimana Sofea kedepannya?! Kekek Brent hadir bersama Nenek Eliz yang sangat terkejut mendengar pernyataan Raja Hangton dan Ratu Lamoria tentang keadaan Sofea yang sekarang, memang rasanya itu sangat tak mungkin terjadi tapi Sofea sudah menunjukan tanda-tandanya.
"Aku tahu tahu harus apa?! semangkin hari keadaan Putriku semangkin parah, aku takut dia akan lebih dari itu."
Ucap Raja Hangton mendadak lemah, entah apa lagi yang harus ia lakukan agar Sofea melupakan Ardelof.
"Apa dia sudah mulai bermain kasar?"
"Sofea selalu marah besar kalau kami bicara kalau Ardelof sudah tiada, dia mengancam akan menghancurkan semua orang."
Jawab Ratu Lamoria pada Kakek Brent yang menghela nafas halus, ia juga terpukul akan kepergian Ardelof yang sangat berarti baginya dan Tanah Alison, tapi ia percaya ini yang terbaik.
"Panggil dia kemari!"
"Dia tak akan mau." sangga Ratu Rosmeryna tapi Nenek Eliz lansung berdiri.
"Aku yang akan memanggilnya."
Ucap Nenek Eliz menatap para pelayan yang selalu sedia menunggu di depan pintu ruangan Keluarga yang megah ini, ia menatap Kakek Brent yang mengangguk hingga ia melangkah pamit untuk menemui Sofea.
"Yang Mulia!"
"Kalian pergilah!"
"Baik!"
Mereka melangkah pergi hingga Ratu Lamoria yang membuntutinya lansung menunjukan jalan menuju kamar Sofea, ini sudah pagi sejak Sofea mengamuk semalam mereka tak lagi berani naik memberi waktu Sofea untuk dirinya sendiri.
"Apa Asi Putrimu lancar?"
"Lancar, bahkan banyak! kalau untuk Asi kita tak usah khawatir, Sofea masih perduli dengan anaknya. tapi dia tak perduli dengan dirinya sendiri."
Jawab Ratu Lamoria terus membimbing langkah menuju kamar atas, Nenek Eliz tengah berfikir apa Sofea benar-benar sudah gila atau bagaimana? ia yakin Insting Sofea tak akan salah tapi mengingat betapa besarnya Cinta wanita itu untuk Ardelof juga besar kemungkinannya kalau Sofea akan sangat terpukul.
Setelah beberapa lama, mereka sampai kelantai atas dengan berbelok kesamping di kamar Sofea yang lengang tak ada suara membuat Ratu Lamoria mendorong peggangan pintu pelan.
Terlihatlah Sofea yang baru saja selesai memandikan Bayinya sendiri, pusat si kecil itu sudah terlepas hingga Sofea mudah mengekeloni Bayinya, tak ada yang aneh selain raut wajah Sofea yang datar dan tak seceria biasanya.
"Dia selalu begitu, semuanya ia lakukan dikamar! kalau makan kami-lah yang mengantarkan, itupun dia hanya makan sesuap atau tidak sama sekali."
"Hm,Baiklah! kau bisa tinggalkan kami berdua."
"Baiklah!"
Ratu Lamoria melangkah pergi membiarkan Nenek Eliz melangkah masuk lalu menutup pintu kembali hingga pergerakannya membuat Sofea menoleh.
"Nek!"
"Hm? selamat pagi!"
Ucap Nenek Eliz tersenyum lembut mendekati Sofea yang hanya menjawab dengan senyum paksa lalu kembali fokus meminyaki perut Putranya yang terlihat menatap wajah Nenek Eliz dengan datar.
"Pagi Cucu, Grandma! maaf Grandma baru bisa datang sekarang, hm?"
"Tak apa, Grendma!"
Jawab Sofea membiarkan Baby Aron tak dibedong, ia hanya memakaikan Popok dan minyak Telon bersama bedak bayi itu, tak lupa Sofea kembali memakaikan kalung Liontin merah miliknya dulu agar Bayinya lebih aman.
__ADS_1
"Dia sangat tampan!"
"Hm!"
Gumam Sofea tak ambil pusing, ia lebih fokus mengemas peralatan mandi Putranya dengan handuk yang ada dibahunya membuat Nenek Eliz menghela nafas halus seraya mengambil Baby Aron yang menatapnya seperti Ardelof memandangnya.
"Kau merindukan, Dadymu! hm?"
Sofea terhenti melangkah mendengar pertanyaan Nenek Eliz yang memancing Sofea, yah memang ingatan itu kembali tapi Sofea tak mau merespon selagi belum terlalu menusuk hatinya.
"Dia pasti sudah tenang disana dan..."
"Lebih baik kau keluar dari pada membahas itu disini!"
Ketus Sofea membuat Nenek Eliz terdiam, tak pernah Sofea berkata kasar padanya dan sekarang wanita ini mengatakannya.
"Kenapa?"
"Keluar!"
"Ayolah, maksudku Ardelof pasti tenang ditempatnya sekarang." Sangga Nenek Eliz mengantisipasi membuat Sofea mendecah melempar Handuknya keatas kursi rias sana lalu mendekati Nenek Eliz.
"Kalau hanya datang untuk mengatakan Suamiku tiada, lebih baik anda keluar dengan sangat hormat!"
"Ardelof tak suka kau yang sekarang!"
Sofea mengepalkan tangannya kuat menahan rasa sesak, hanya dengan ini ia membuat orang menjauh dan membiarkannya sendiri dan sendiri. ia lebih suka sendirian dari pada ada teman yang mematahkan harapannya.
"Keluarlah, Nek!"
Lirih Sofea lemah duduk diatas ranjang dengan menatap nanar kedepan, ia masih berfikir tentang Subnya yang tadi pagi habis tak tumpah sama sekali, dan siapa yang memakannya?
"Hm, sangat!"
Gumam Sofea menatap Nenek Eliz dengan sendu, akhirnya Nenek Eliz masuk dalam perasaan Sofea yang tak mau dipaksa melupakan Ardelof.
"Disaat semua orang mengatakan tidak, kau tetap mengatakan Iya, Ardelof masih hidup dan aku percaya padamu!"
"N..Nek kau.."
"Hm, aku yakin dan percaya. jika Tuhan belum berkehendak memisahkan kalian, biarkan saja mereka menduga kau Gila tapi buktikan kalau itu tak benar!"
"Nek, aku..aku bingung! Ardelof datang padaku tapi dia aneh, Nek!"
Ucap Sofea menatap Nenek Eliz yang mengkerutkan dahinya hingga ia mendekat dengan Baby Aron yang mendengarkan.
"Apanya?"
"Tubuhnya dingin, dia juga sangat pucat! aku bersumpah aku tak bohong, bahkan Sub yang ku buat semalam habis, tak ada yang masuk kekamar ini selain dia, Nek!"
Nenek Eliz terdiam mendengarnya, apa benar Ardelof memang datang tapi dalam kondisi Misterius? ia rasa Suaminya bisa menjawab ini.
"Baiklah, mungkin dia telah kehilangan tenagganya atau bisa jadi Tubuhnya terluka, Fea!"
"Aku harus apa?"
Tanya Sofea membuat Nenek Eliz berfikir, ia tahu betul menunggu Ardelof bicara itu sama saja menunggu mentari jatuh. pria itu tak akan berbagi rasa sakit bersama orang lain.
__ADS_1
"Saat dia kembali, kau jangan biarkan dia pergi begitu saja, buntuti dia dan cari tahu apa yang terjadi!" Ucap Nenek Eliz membuat Sofea melemah.
"Dia tak akan datang sesukaku, aku tak mengerti kapan dia datang, Nek! aku tak paham!"
Nenek Eliz lansung berfikir keras, tak bisa menunggu lagi karna rundingan keluarga ini pasti akan mengasingkan Sofea agar bisa merenungi semuanya.
"Kita paksa dia datang padamu!"
"B..Bagaimana caranya?" tanya Sofea membuat Nenek Eliz lansung mendekatkan tubuh mereka.
"Maaf, tapi mungkin ini sedikit exstrem!"
Nenek Eliz berbisik ke telinga Sofea yang mendengarkan dengan baik hingga membuat Baby Aron menatap tajam Nenek Eliz setelah mendengar Ide gilanya.
"Bagaimana?"
"Baiklah!"
"Kau harus buat seperti nyata, dia pasti datang kalau sudah begitu!"
"Tapi aku takut, Nek!" gumam Sofea merasa ini terlalu Exstrem, bisa saja nanti Ardelof marah padanya jika seperti itu terus.
"Kenapa?"
"Suamiku pasti marah jika aku melakukannya!"
"Sudahlah, kalau tak begitu dia pasti akan bersembunyi terus."
Akhirnya Sofea mengangguk menatap keluar kamar, ia agak takut melakukannya karna bisa saja nanti Ardelpf marah besar padanya.
"Ayo bersiap, aku akan atur segalanya!"
"Nek, aku.."
"Tak apa, kau kan punya sihir. buat seakan ini benar-benar nyata! aku tak bisa menemanimu tapi aku bisa menyebarkan beritanya."
Sofea mengangguk menatap Gunting yang ada diatas meja dengan Nenek Eliz yang menata ruangan ini sesuai Skenario dipikirannya.
"Baiklah, lakukan sekarang!"
"Bagaimana kita dekatkan Sofea dengan pria lain?"
Rencana Raja Hangton yang ingin Sofea melupakan Ardelof agar wanita itu berpindah hati dan semuanya akan membaik, Kakek Brent terdiam mendengarnya. itu terdengar sangatlah menyakitkan bagi Ardelof.
"Aku tak menyarankan untuk menikah, tapi setidaknya ada seseorang yang membantu Sofea dalam masa sulitnya, ini rencana yang bagus menurutku!"
"Apa dia mau?"
"Yang Mulia, kalau kita bicarakan pada Sofea, dia tak akan mau bahkan bisa membunuh kita semua, tapi buat menjadi teman!"
Jawab Raja Hangton yang memikirkan ini sedari semalam, Sofea butuh sandaran yang dalam arti Cinta, ia juga akan berusaha mendekat mencari jalan tengahnya.
"Baiklah, tapi aku harap! kau tak salah jalan!"
.......
Vote and Like Sayangku
__ADS_1
Semalam nggak bisa Up.. soalnya Disini hujan ma Petir say.. takut gosong aye😂