Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
Penjelasan ditengah kerapuhan!


__ADS_3

Masih dalam keadaaan yang sama, sekarang keduanya saling tatap dengan gejolak hati masing-masing, tak terjabarkan bagaimana kekehnya pandangan Sofea meminta kejelasan dan menghakimi dari hunusan netra sendunya yang sembab karna menangis serta tampilan semberautnya yang sangat menyedihkan.


"Ka..kau diam?"


Tanya Sofea tersenyum miris mendekati Ardelof dengan nafas memburu melawan rasa takut dengan tubuh yang sudah tak berdaya, sungguh melihatnya saja Ardelof tak sanggup jika harus meneruskan kemarahannya terlalu lama.


"Yah, aku memang beristri."


Sekali lagi hati Sofea terasa tercabik mendengar pernyataan itu, tungkainya yang mengigil terasa kebas hingga ia hanya pasrah luruh dibawa kaki Ardelof yang hanya diam menatap kearah kegelapan.


"I..istri d..dan anak."


Gumam Sofea tersenyum kecil, rasanya inilah saat paling terendah dimana tak ada yang menopangnya untuk bangun. hanya satu yang terus Sofea lakukan yaitu Mengalah agar ia tak selalu sakit dan orang yang ia cintai juga bahagia selamanya.


"D..dan aku..aku siapa?"


Lirih Sofea masih dengan bibir bergetarnya menatap kearah yang sama bersama Ardelof yang tak lagi mampu berdiri ditengah kepiluan ini hingga ia menyamakan tingginya dengan Sofea yang terus menahan isak tangisnya.


"W..wanita ranjang?"


"Kau.."


"A..Apa? a.aku..aku benar bukan?" Sofea terkekeh kecil mencengkram lengan kekar Ardelof menahan rasa sakit dihatinya.


"Se..Seharusnya kau..kau tak perlu berdrama, kau tak usah memperlakukan aku seakan aku..aku adalah Ratu di Duniamu, kau tak perlu me..melakukan itu Yang Mulia." Kekeh Sofea dengan suara sendat namun membuat wajah Ardelof mengeras sempurna.


"Hentikan!"


"Kau Actor yang b..bagus. kau.."


"Hentikan!"


"Kau ingin aku layani? ouhh, atau..atau kau..kau juga mau aku melayani semua bawaha.."


Plakk..


Satu tamparan keras itu mengenai pipi Sofea yang tadinya tak berhenti bicara hingga kepala wanita itu terbentur kedinding disampingnya akibat tamparan telak yang begitu kasar dan meremukan rahangnya.


Seketika semuanya kosong dengan mata Ardelof yang terkejut sekaligus menatap rumit wajah Sofea yang sudah tertunduk ditutupi helaian rambut panjangnya, benturan itu terdengar jelas sampai membuat Ardelof menunduk merasa sangat sakit.


"K...Kau.."


Sofea tak bicara membuat Ardelof mati rasa ditempatnya, wajahnya yang tadinya datar berubah memucat dengan raut khawatir yang teramat. ia mengupati dirinya yang tak bisa menahan amukan.


"K..Kau.."


Tangan Ardelof gemetar terangkat menyentuh kepala Sofea yang terus menunduk tapi lelehan darah itu perlahan menetes deras dari keningnya kelantai sana. mata Sofea sudah termenung kosong seakan kesadarannya telah hilang bersamaan dengan benturan itu.

__ADS_1


Namun, dilirikan Sofea ia melihat pedang yang tadi Ardelof gunakan untuk menebas tali dan tentu karna semuanya sudah hilang diakal sehatnya tangan Sofea bergerak pelan menyentuh ujung pedang yang begitu tajam itu dengan senyum bahagianya.


"M..Ma, F..Fea harap Mama tak.. me..membenci, Fea."


Batin Sofea mencengkram benda tajam itu hingga tangannya lansung tersayat luka, tapi Sofea sudah tak kuat berada disini. lebih baik ia tiada dari pada hidup tak terasa seperti manusia.


Disaat benda itu sudah ada dibelakangnya Sofea memanfaatkan kekhawatiran Ardelof sekaligus rasa bersalahnya hingga ia mudah memposisikan benda itu untuk menusuk punggungnya.


"M..Maafkan aku, aku hanya ingin kau mendengarkan aku." Ucap Ardelof lembut seraya membelai surai hitam ini membuat Sofea memejamkan matanya menghela nafas berat dan ingin menekan tubuhnya..


Srett..


Degg..


Sofea terkejut saat Ardelof menarik tubuhnya keras naik keatas pangkuannya hingga pedang yang tadi ia genggamn tadi terlepas melukai tangannya, Sofea sudah tak bersni menatap wajah kelam Ardelof yang melihat darah itu membasahi tangannya.


"Kau ingin mati?"


"A..apa bisa?"


"Kauuu!!!"


"A..Apa bisa, hiks!"


Lirih Sofea bergetar menunduk dengan tubuh lunglainya membuat Ardelof menghela nafas berat menyandarkan kepala Sofea ke dadanya.


Ruangan itu kembali menjadi kamar hingga mereka tepat duduk diatas Sofa dengan Sofea yang hanya diam menunduk membuat Ardelof tak mampu bicara kasar, hati Sofea sudah hancur hingga ia hanya meminta satu keajaiban saja.


"I..ini.."


Sofea melepas Cincin pernikahannya hingga membuat dada Ardelof tak mampu bertahan lebih lama, ia hanya bisa membiarkan Sofea tenang untuk sementara waktu.


"A..aku..aku mau.. kita..kita.."


"Aku akan jelaskan, tapi aku mohon. kau jangan begini."


"T..Tapi..tapi aku..aku sudah lelah hiks, aku..aku mau sendiri hiks, aku.."


Ardelof lansung merangkuh Sofea kedalam rangkuhannya seraya melihat luka dikening wanita itu, ia merasa sangat bersalah jika harus melakukan ini pada Istrinya sendiri padahal Ardelof hanya ingin Sofea mengerti kalau ia tak mau menyakiti secara kasar.


"Maafkan aku."


"L..Lepaskan aku."


"Jangan bicara itu lagi, aku janji akan bicara, Sayang!"


"..Ard hiks, kau..kau jangan mulai lagi!!"

__ADS_1


Isak Sofea tak mampu jika harus kembali berdrama, ia tak mau lagi melihat kepalsuan itu setiap saat.


"Aku akan jelaskan tapi kau diam dan jangan bicara tentang perpisahan atau apapun, kau tak tahu aku sudah merasa mati jika kau terus begini." Pinta Ardelof lembut menyentuh luka dikening Sofea hingga perlahan darah itu mengering dengan hembusan nafas Ardelof yang meniupnya penuh Cinta menyampaikan isi hatinya.


Sofea hanya menurut karna ia ingin mendengar penjelasan dari Ardelof yang mencempol rambut panjangnya keatas hingga ia wajah lelahnya terlihat, mata Sofea juga sayu-sayu menunduk seakan tak ada semangat.


"As.."


Desisan itu muncul saat jempol Ardelof menyentuh sudut bibir Sofea yang berdarah hingga membuat wajah Tampan Ardelof berubah sendu menaikan dagu Sofea agar tak menunduk hingga mengadah menatap wajahnya.


"Maaf!"


"J..Jelaskan."


Pinta Sofea tak mau lama menunggu Ardelof menghela nafas halus seraya melepas Blezer yang menutupi tubuh indah ini, ia sedang memulai dari mana ia akan menjelaskan masa lalunya yang sangat menjadi Bumerang hari ini.


"Aku memang mempunyai istri dan.."


"Kau.."


"Dengarkan aku."


Sofea mengangguk membiarkan Ardelof melepas satu persatu pakaiannya karna sudah tak berbentuk dan kumal, setiap sentuhan Ardelof pada kulitnya seakan melahirkan Reigenerasi baru hingga membuat Sofea merasa kulitnya yang tadi perih kembali terasa dingin lalu lega bersamaan dengan rona pucat pada wajahnya yang perlahan memerah.


"Dulu aku memang menikah dengan seorang wanita yang begitu aku Cintai sampai aku menuruti setiap apa yang dia minta, kami menikah atas dasar Cinta antara dua pasangan, kami menikah diusia Muda hingga Raja Petratolison tak setuju karna akan khawatir nanti akan terjadi kesalahan kedepannya, dan benar saja.. tak lama satu hari kami menikah aku ditugaskan untuk Memerangi Kerajaan di Barat Selandia, awalnya aku percaya.."


Ardelof menghentikan ucapannya seraya melepas semua helaian pakaian dari tubuh Sofea membuat ia menghela nafas bukan karna berat pada cerita kisahnya tapi berat akan rasa Hasrat dalam dirinya.


"Kenapa?"


"Dengan Kepercayaan yang tinggi aku meninggalkan Istriku sehari setelah menikah berharap nanti aku akan pulang menyelesaikan tugasku dalam 1 Minggu, tapi semuanya tak sesuai harapan.. Perang berlansung 3 Bulan hingga membuat kami tak berkomunikasi."


Jelas Ardelof tapi masih melanjutkan pengobatannya sampai ia berjongkok dijadapan Sofea seraya menaikan satu kaki wanita itu ke pahanya agar melihat luka yang tadi tercipta.


"Apa yang terjadi?" suara Sofea sangat menunggu.


"Aku tak tahu kabarnya bagaimana, aku berharap saat aku pulang tak ada lagi Perang dan urusan lama.. tapi sebelum itu aku membuat sebuah Papiliun untuknya, berharap kami akan membina Cinta dalam satu atap, tapi sayangnya tidak. semuanya hancur saat aku kembali."


Tak ada rasa marah seperti biasa yang Ardelof tunjukan, melainkan rasa tenang dan damai terus meniup kakinya yang menjadi pusat perhatian mata biru Ardelof.


"Me..Memangnya kenapa? dan anak itu dia.."


"Dia Bukan Putraku"


Degg...


......

__ADS_1


Vote and Likr Sayang..


__ADS_2