
Malampun berkabut hitam dengan suasana kembali menyeramkan, degupan musik keras terdengar nyaring di Bar-Bar yang dibuka khusus untuk pesta malam ini, tegukan alkohol yang mengalir lancar dikerongkongan para Masyarakat Kota Batalion yang membutuhkan Minuman itu ketika malam hari yang dingin ini menusuk kulit.
Sinaran lampu terang kota dengan kesibukan masyarakat yang terus bejalan membuat Kota ini sangatlah Maju dan padat, tapi tentu kebebasan hidup masyarakatnya yang bebas membuat Kota ini tak segan berpacaran ditempat umum selagi tak berhubungan suami istri di tepi jalan.
"Hey! kau tahu? Mis Composer Agensi MJM itu sangatlah cantik, aku mendapatkan Fotonya!"
"Benarkah? aku hanya lihat di Televisi dan Internet, secara lansung aku tak bisa."
Para Anak Sekolah yang masih bersantai Di Kafe ditepi jalan yang cukup ramai, tapi malam di Kota ini tak akan terasa karna kepadatan kegiatan dan Destinasi wisata Kuliner dan yang lainnya tak kalah keren.
Seorang wanita cantik dengan tubuh tinggai dan berwajah agak bulat itu tersenyum kecil, sangat luar biasa Show malam itu sangat membuat Masyarakat terpana, mereka menjadikan Sofea dan Ardelof sebagai satu kesatuan Idola mereka yang sangat sempurna, apalagi penerus tanah Alison ini sudah ada hingga Masyarakatnya sangat bahagia tak sabar menantinya.
"Ini, Nona!"
"Terimakasih!"
Ucap wanita bermasker itu mengambil sebotol Kopi hangatnya lalu menyodorkan Kartunya pada Kasir Kafe ini hingga ia selesai dan melangkah menuju pintu keluar.
"Hm, ternyata sainganku sangat banyak!"
Gumamnya menatap Gedung Perusahaan ACB yang tak jauh dari tempat ini hingga Perusahaan megah menjulang tinggi seperti cakram itu lansung bersinar diterangi lampu yang berwarna dengan penjagaan yang ketat.
"Nona, Cessa!"
Seorang wanita bertubuh agak pendek dan badan berisi mendekati Wanita yang bernama Cessa itu, nafasnya memburu karna sudah berlari dari Mobil kesini menemukan wanita ini.
"Nona, kau bisa kena marah, Raja! apalagi ini sudah malam."
"Hm, aku hanya ingin keluar sendirian."
Jawab Cessa yang merupakan salah satu Putri Bangsawan juga, tapi dia lebih menyukai Dunia Seni Peran hingga Cessa terkenal dengan paras cantik dan sikap yang pendiam, tapi ia banyak membintangi Filim ternama yang bekerjasama dengan Perusahaan Noval Intertainment.
"Nona, anda harus bersiap ke Istana Alison beberapa bulan lagi sesuai Kunjungan Keluarga, anda harus tampil luar biasa agar mendapatkan ha.."
"Berhenti bicara, dan pergilah!"
Ucap Cessa tak bersahabat, ia sudah lelah berlomba mencari perhatian apalagi Ayah dan Ibunya selalu mewantinya untuk mendekati Putra Mahkota Alison, walau ia juga menyukai pria itu tapi ia sudah tahu betapa sempurnanya Sofea bagi Ardelof.
"Tapi, Raja bilang kalau anda tak mau maka anda akan dijodohkan dengan orang lain!"
Degg..
.....
Netra biru setajam elang itu lansung menghunus layar Laptopnya, ia baru saja mendapat surat Ajuan Kerja sama dari Perusahaan Noval Entertainment yang mengajaknya mensponsori satu pembuatan Filim yang akan memakan Dana besar, sebenarnya Ardelof tahu betul Peeusahaan sebesar ini tak akan kekurangan Dana, alasan yang sangat mudah ditebak dari otak liciknya.
"Mau mencoba mengambil Milikku, hm?"
Gumam Ardelof menandatanganinya membuat Kristof yang ada disamping kursi Ardelof lansung terperangak, ia tadi sudah menduga Yang Mulianya tak akan menyetujuinya tapi ternyata malah sebaliknya.
"Yang Mulia!"
"Berikan dana 50% dari yang dia ajukan!"
"L..Lima puluh Persen?"
"Hm, tak akan rugi menginfestasi sebanyak itu karna Perusahaannya juga berkualitas!"
Tegas Ardelof membuat Kristof mengangguk mengambil berkasnya lalu kembali duduk di Sofa disudut sana karna masih ada yang harus ia periksa hingga Ardelof kembali fokus pada layar Laptopnya.
Namun, ia masih memantau pergerakan seorang wanita bertubuh Molek berkulit putih yang tadi ia tinggalkan tengah Menonton Televisi dikamarnya dengan berselonjoran diatas Sofa seraya mengemil berbungkus-bungkus camilan sehat, tak lupa potongan buah itu juga ia lahap sampai membuat Ardelof menggeleng melihat nafsu makan Sofea yang melonjak naik.
"Besok pagi, aku minta lemari khusus Camilan sehat, susu dan buah-buahan yang full dengan isinya ke Kamarku!"
"Baik, Yang Mulia!"
Kristof lansung menghubungi Kepala Pelayan utama Istana, jelas Ardelof meminta itu karna tak ingin Istrinya turun sendirian ketika malam hari saat ia tak ada, bisa saja wanita ceroboh ini terluka.
Tak lama berselang Ardelof mengalihkan fokusnya kembali kepekerjaannya hingga suasana sunyi mengalun begitu hikmat, detikan jam berlalu dengan pengurasan otak yang berfikir tentang pekerjaan Perusahaannya.
Kret..
__ADS_1
Pintu sana sedikit terbuka membuat Asisten Kristof terdiam lalu menatap kesamping kanannya, dahinya mengkerut tak melihat orang disini hingga ia kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Hey!"
Kristof lansung terlonjak kaget saat sesosok yang tadi dibicarakan Yang Mulianya telah berdiri dibelakang pintu dengan memakai Blazer menutupi tubuh Moleknya yang hanya memakai Gaun tipisnya hingga senyum cantik itu melengkung.
"Y..Yang Mulia, Putri!"
"Kau istirahatlah ini sudah malam."
"A..Tapi.."
"Sudahlah, biarkan aku yang menjaga Tuanmu!"
Kristof akhirnya mengangguk mengemas barang-barangnya dan melangkah pergi dengan Sofea yang lansung menyelinap masuk menutup pintu pelan lalu melangkah sangat mengendap ke Sofa yang tadi Kristof duduki hingga Quxi yang tadi juga ikut lansung membuntuti Sofea dengan bantal ditangannya.
"Kau yakin?"
"Hm, aku tak bisa tidur di kamar kalau tak ada suamiku!"
Bisik Sofea menatap lembut Ardelof yang tengah fokus bekerja dengan ketampanan berkalilipat membuat Quxi menggeleng meletakan bantal ditangannya keatas Sofa hingga Sofea berbaring diatasnya membuat Quxi lansung memberikan Ponsel Sofea yang juga ia bawa didalam saku rok pendeknya.
"Ini!"
"Kau peggang saja, itu tak berguna!"
"Siapa tahu ada yang mengirim pesan!"
Akhirnya Sofea mengambilnya seraya melihat beberapa pesan yang masuk, ada dari Renin yang mengabarinya agar ke Perusahaan besok pagi jam 10 dan ada satu pesan tersembunyi membuat dahi Sofea mengkerut.
"Ini Nomor siapa?"
"Coba buka!"
Sofea membukanya hingga ia membaca pesan yang menurutnya sangat tak asing.
*Save Nomorku.
"Kespakatan apa? aku tak merasa membuat Kesepakatan."
"Mungkin dari Mantanmu!"
Sofea mendelik gerah, tak mungkin Gibran berani mengirim pesan apalagi pria itu juga tak akan tahu Nomornya, walau dua manusia itu seakan menghilang tapi Sofea berharap mereka sudah bahagia.
"Bukan. Gibran! ini pasti dari.."
"Dari siapa?" tanya Quxi dengan kuping runcing menenggang melihat mata indah Sofea membulat.
"Tuan Aneh itu!"
"Siapa?"
"Si Pria tak jelas yang mata keranjang!"
Quxi lansung mengangguk mengerti hingga Sofea lansung menghapus Nomornya, tapi sayang Pesan itu kembali masuk membuat mata Quxi terbelalak kali ini.
Jika dia suamimu melepasmu aku bersedia menerimamu dan anak itu.
"Apa-apaan dia?"
"Coba kau balas!" namun Sofea memblokirnya membuat Quxi membelo.
"Jika tak ditanggapi maka Perselingkuhan tak akan jadi!"
Geram Sofea memberikan Ponselnya pada Quxi lalu berbalik memunggungi bocah itu seraya meringkuk ingin tidur, ia sudah sangat ngantuk karna ini memang Jam tidurnya.
Melihat itu Quxi lansung menggeleng dan menghilang meninggalkan Ponsel Sofea diatas meja Sofa, namun mata Sofea lansung terbuka saat merasakan sesuatu yang aneh dan bau amis seperti darah.
"Kenapa perasaanku tak nyaman?"
Gumam Sofea yang bangun dari baringannya hingga ia menatap kearah Ardelof.
__ADS_1
Degg..
Namun, Sayangnya Pria itu sudah berdiri disampingnya dengan wajah geram dan mata menajam membuat Sofea menelan ludahnya kasar.
"S..Sayang!"
"Hm!"
"A..Kau..Kau sudah selesai?"
"menurutmu?"
Tanya Ardelof membuat Sofea tersenyum kecil lalu berdiri dihadapan Ardelof yang hanya berwajah datar tak berlebihan, tapi pandangannya melembut seperti kapas.
"Sayang!"
"Ada apa?"
"Kau tak mencium sesuatu?"
Ardelof terdiam, memang ia tak mencium apapun hingga membuat Sofea lansung mendekat merapatkan tubuh keduanya.
"Aku mencium aroma amis!"
"Dimana?"
"Di luar!"
Sofea menunjuk pintu keluar hingga Ardelof lansung menatap kesana, saat Sofea ingin melangkah ke pintu Ardelof lansung menariknya.
"Aku saja yang memeriksanya!"
Ucap Ardelof melangkah duluan tapi Sofea lansung memeluk lengan kekar Ardelof yang melangkah keluar ruangannya hingga mereka mematung diluar pintu menatap kesekelilingnya yang lengang, Ardelof tak mencium apapun disini.
"Aku tak menciumnya?"
"Ada sayang! biar aku tunjukan!"
"Aku saja, kau cukup katakan!"
Sofea mengangguk mengiring Ardelof menuju tangga dibawah yang minim penerangan, Ardelof menggenggam tangan Sofea saat merasakan ada hal aneh diruangan baca lantai bawah Raja Petratolison.
"Sayang, baunya dari lantai bawah!"
"Mungkin hanya Tikus, mati." Ardelof mengkilah.
"Tidak, ini seperti bau amis darah Manusia, bukan hewan, Ard!"
Bantah Sofea memang adanya, tapi Ardelof hanya tak ingin jika nanti Sofea melihat sesuatu atau wanita ini malah terkena bahaya.
"Kita kemar, hm?"
"Ard, aku masih penasaran! apalagi aku seharian ini tak melihat Raja Petra di Istana."
Ucap Sofea membuat Ardelof terdiam melirik kearah belakang lalu menatap Sofea yang masih menatap wajahnya.
"Mungkin, Raja tengah sibuk!"
"Iya, tapi aku belum berterimakasih saat dia menyelamatkan aku, Ard! kalau tak ada dia mungkin aku sudah terluka."
Ucap Sofea menjawab apa adanya hingga Ardelof menggendong Istrinya kembali kebelakang hingga membuat seringain dibagian gelap sana merekah memperlihatkan tengkorak dipipinya.
"Yah, berterimakasihlah!!"
Brakk..
Barang-barang didalam sana berjatuhan membuat matanya kembali merah menyala menghitam seperti kabut, sialan itu memang sudah memancing Indra penajam Sofea yang mulai terlihat, ia merasa puas karna satu persatu Sofea sudah menunjukan kelebihannya, Pendengaran yang jeli, tatapan yang jelas dan penciuman yang tajam.
.....
Vote and Like Sayang
__ADS_1