
Keringat itu bercucur deras menyusuri pori-pori kulitnya yang panas memantik Darah mendidih yang sudah beberapa kali terhempaskan mencapai puncak Nirwana ini.
Decipan kulit yang beradu nyaring dengan detikan jarum jam yang sudah menunjukan pukul 3 Dini hari, wajah lelah Sofea tak bisa dihindarkan seraya terus mengeluarkan suara yang memekik saat Sang Suami menghujaminya dengan dalam.
"Akhhs, Ard sayang!"
"Hmm, Yahh!!"
Ardelof sangat kehausan mencoba mendaki untuk yang kesekian kalinya, ia menaikan kedua kaki jenjang ini keatas bahunya seraya terus memompa mengerang nikmat dengan panorama Dunia ini.
"Asss, Sayang!"
".A..Ard!!"
Sofea menjerit keras saat Ardelof memacu cepat dengan satu tangan mencengkram satu gudukan sekang yang berguncang olehnya, decapan erotis dari perpaduan kulit itu membuat keduanya larut dalam waktu yang menenggelamkan semuanya di Galaksi cinta antara keduanya.
Wajah keduanya menyeringit merasakan ada yang lagi-lagi memecah didalam sana hingga Ardelof tak mampu menahan lenguhan panjang atas pelepasan keduanya.
"Akhhss.!"
Ardelof tumbang menindih tubuh Sofea yang sudah lengket menyatu dengan keringatnya, rona kepuasan itu terlihat jelas dengan deru nafas memburu dari dada yang bergejolak.
Entahlah, Ardelof sangat tak bisa menahan hingga ke bablasan menggempur Istrinya sampai dini hari. senyum Ardelof mekar saat melihat Sofea menggeurutu menatap kebawah sana yang sudah lengket.
"Aku mau tidur, Ard!"
"Memangnya aku melarangmu tidur, hm?"
Tanya Ardelof meniup gudukan sintal yang sudah merah dan membiru karna bekas Kismarknya. Sofea pikir Ardelof akan selesai dalam 2 kali pencapaian tapi nyatanya, Pria ini hanya memberinya waktu 15 menit untuk tidur lalu kembali bertarung hebat, begitu seterusnya hingga sekarang mata Sofea sangat melemah dan dilanda kantuk berat.
"Kau tak lelah, Sayang? padahal kau yang tadi banyak bergerak."
Tanya Sofea mengelus kepala Ardelof yang terbenam ke dadanya, hal yang paling Ardelof suka adalah sikap lembut Sofea setelah bercinta tak lansung minta lepas, melainkan ada percakapan kecil yang membumbui hati yang tadi mekar
"Em, Tidak! aku sudah bersiap selama 1 Tahun, aku rasa aku bisa lebih dari itu, mencicipimu." Goda Ardelof mengedipkan matanya nakal.
"Haiss, pinggangku hampir saja mau patah, Tuan Pemarah! awalnya memang kau bermain lembut, setelah itu kau menyusuri kamar ini melakukan apapun yang kau mau, Shittt. Menyebalkan!"
"Mana yang sakit? aku akan memijatnya untukmu." Intonasi suara Ardelof sangat ambigu membuat Sofea membelo jengah, namun. mata Sofea melihat ada bekas cakaran atau memar dipipi Ardelof hingga ia menyentuhnya halus.
"Sayang, apa aku melukaimu?"
"Apanya?" tanya Ardelof meraba pipinya heran.
"Itu, ada bekas cakaran samar tapi.."
"Salahkan Putramu!"
Gumam Ardelof berbaring menyamping memeluk Sofea dengan tubuh yang masih menyatu, wajah Sofea terbenam ke dada bidang Ardelof yang mengelus surai hitam panjang ini.
"Baby! kenapa?"
"Menghabiskan malam berdua begini tanpa si pengganggu itu butuh banyak rencana, dia tak mau melepasmu sampai mencakar pipiku."
Sofea mengulum senyum geli mendengarnya hingga ia mengecup bekas cakaran memar putranya, memang tak begitu terlihat tapi Ardelof suka dimanja begini.
"Apa sudah baikan?"
__ADS_1
"Belum. sebelah sini!"
Sofea mengecup pipi sebelah kiri hingga akhirnya Ardelof tak puas lansung membalas kecupan Istrinya diseluruh wajah cantik Sofea yang ikut terkekeh pelan menepuk dada Ardelof yang masih saja merapatkan tubuh keduanya.
"Em, Sayang! nanti akan ku kenalkan dengan Nenekku."
"Yang mana?"
Tanya Ardelof menatap Sofea yang sayu-sayu membuka matanya memandang Ardelof dengan lelah.
"Nanti, sekarang aku mau tidur."
"Hm, Baiklah!"
Ardelof melepas pelan penyatuannya hingga ia tersenyum simpul melihat pusakanya yang sudah tunduk walau masih saja mencari-cari.
Ardelof menggendong Sofea yang tak lagi mampu bicara dan membuka matanya ke kamar mandi, tentu Ardelof sangat memperdulikan kesehatan sesudah bercinta ini.
"Kau minum Pil Kontrasepsi Sayang?"
"Hm, Iya!"
Jawab Sofea lirih menerima saja guyuran air Shower ini ketubuhnya, namun. mata Sofea terbelalak saat ia ingat tadi ia tak meminumnya sama sekali.
"Astagfirullah!"
"Ada apa?"
Tanya Ardelof biasa saja mendengar
"S..Sayang."
"Hm? kenapa?"
"A..Aku..Aku lupa meminumnya!!!"
Seketika Ardelof mematung lalu menatap ke perut Sofea hingga wajahnya benar-benar terlihat bahagia mendengar itu semua.
"B..Bagaimana ini? aku lupa meminumnya."
"Sudahlah, itu sudah terjadi! lagi pula tak akan jadi jika sekali melakukannya."
Acuh Ardelof yang sangat berharap Sofea kembali mengandung benihnya, ia sangat merindukan masa-masa kehamilan wanita ini dan Proses lahirannya.
Tentu raut yang ditunjukan Ardelof barusan, Sofea tahu kalau pria ini ingin kembali di masa itu, ia juga sama tapi mengingat umur Putranya baru 1 Tahunan rasanya itu sangatlah cepat.
"Sofea!!!!"
Suara Mama Netty membuat Sofea lansung menatap Ardelof yang masih menyabuni tubuhnya, ia membantu mengguyur Air hingga mandi bersama ini sangatlah cepat. tak lupa Sofea melaksanakan kegiatan wajib yang baru ia tahu setelah Nenek Maryam memberitahunya dulu.
"Iya, Ma!!"
"Myyyy!!!! hiks!!"
Degg.
Sofea terkejut mendengar tangisan Bayinya hingga ia ingin turun dari Kursi di Shower namun Ardelof sudah membalutkan handuk ke kepala dan tubuh keduanya hingga, barulah Ardelof menggendong Sofea keluar.
__ADS_1
"Myy!!!!"
"Iya, sebentar. Baby!"
Suara Sofea yang Ardelof dudukan diatas tempat tidur hingga ia melangkah ke pintu kamar sana dengan wajah berbinar penuh kebahagiaan.
"Ma!"
Ardelof membuka pintu hingga Mama Netty mematung melihat Ardelof yang terlihat segar baru saja mandi. dan pikiran tuanya berkelana membuat ia malu sendiri.
"Eh, ini! Baby Aron tak bisa tidur, dia juga hanya minum sedikit Susu dari Dotnya!"
"Hm, Terimakasih!"
Ucap Ardelof lalu menatap penuh kemenagan Baby Aron yang sudah memberontak menggeliat memanggil Momynya, Mama Netty melangkah pergi tak ingin jadi penganggu.
Hingga didalam kamar itu tangisan Baby Aron pecah memukul wajah Ardelof yang hanya menyeringai menggendong dengan satu tangan terlihat sangat Cool dan keren membuat Sofea menggeleng.
"Myyyyy hiks!"
"Sutt Sutt, sini sama Momy!"
Ardelof memberikannya pada Sofea hingga tangisan itu berganti dengan isak kecil lansung mencari dada Sofea yang tentu kehausan.
"Baby haus, hm? kenapa tak minum dari Dot? kan biasanya bisa begitu!"
"Dia hanya berdrama, Sayang!"
Ardelof lansung mendapat tepukan ringan dari tangan mungil itu ke bahunya, wajah Baby Aron menatap tak suka Ardelof yang mengambil Momynya.
"Apa? sebelum menjadi Momymu dia Istriku, Milikku!"
"Myyy hiks!"
"Sutt, Dady hanya bercanda."
Sofea menepuk bokong mungil itu lembut menenagkan Baby Aron yang tengah lahap menyesap Dot Pabriknya, tapi matanya masih menatap tajam Ardelof yang semangkin ingin menggoda Putranya.
"Momy milik Dady, bukan Milikmu!"
Ardelof memeggang satu dada Sofea hingga Baby Aron menepisnya dengan kasar.
"Myy!"
"Awas, ini punya Dady!"
"Myyyy hiks!" pekik Baby Aron mendorong tangan besar Ardelof yang menghalanginya untuk menyesap Asi.
"Ard, Sudah!!"
Sofea menengahi hingga Ardelof mengalah tapi masih mengganggu Baby Aron yang tertidur dengan mengambilnya lalu diletakan kesamping, ia yang akhirnya memeluk Sofea tapi sayangnya tangan mungil Baby Aron tak tinggal diam mencakar punggung Dadynya.
Entah dari mana kuku panjang itu tiba, padahal jari-jari mungilnya rapi tak ada kuku yang panjang.
Vote and Like sayang..
Maaf ya, Author lagi sakit.. jadi kagak nentu ntar Upnya😩
__ADS_1