Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
Kau ku bebaskan!


__ADS_3

Mata indah wanita itu terbuka, dahinya menyeringit saat merasakan tubuhnya sangat remuk redam hingga sampai kebagian intinya. tak bisa dijabarkan bagaimana bentuk dadanya yang berbekas sampai kelehernya akibat ciuman genas pria itu, tentu ada rasa perih dihati Sofea saat mengulang kembali ingatan lama.


Kau terus mengagahiku. bahkan, kau seakan begitu mencintaiku dengan kesempurnaan yang ku punya, tapi kau..kau hanya menjadikan aku seorang Budak nafsumu sendiri.


"Kau sudah bangun?"


Sofea lansung memalingkan wajahnya saat mendengar suara datar itu tapi terkesan begitu lembut mengalun ditelinganya, tak ingin berdebat atau bertengkar Sofea lebih memilih diam menggulung tubuhnya dalam selimut sana.


Tentu Ardelof yang sedang berdiri dengan Stelan kerja disamping ranjang itu menatap sendu punggung mulus Sofea yang ditutupi kain hingga ia menghela nafas halus.


"Ini sudah siang, kau harus makan!"


Ucap Ardelof masih datar tapi ia sudah mengambil Nampan yang tadi dibawa Pelayan ke kemarnya, Ardelof belum makan apapun karna ia khawatir jika terjadi sesuatu pada Sofea yang masih belum bicara padanya.


"Apa tubuhmu masih sakit?"


Sofea menggeleng tanpa menatap Ardelof yang mulai frustasi, ia mengepalkan tangannya kuat lalu menyentak kasar selimut wanita itu hingga Sofea lansung menutupi dadanya.


Mata keduanya saling tatap penuh gejolak tersendiri hingga Sofea berpaling tapi Ardelof lansung mencengkram pipinya.


"Kau berani berbuat begini?"


"A..Aku hanya lelah." jawab Sofea lirih membuat Ardelof lansung mengumpat melepas cengkramannya, ia mengusap wajahnya kasar seraya termenung menormalkan emosinya.


"Kau mau apa? katakan padaku!"


"Tidak ada." jawaban Sofea sama sekali tak membantu kegelisahan dihati Ardelof yang tak tenang dengan kebungkaman wanita ini, ia mengambil handuk dimeja rias sana lalu mendekati Sofea.


"Kau makan, atau bersihkan dirimu!"


"Aku tak lapar, aku..aku hanya ingin disini."


"Kau!!!!"


Sofea lansung bangun menyambar handuk ditangan Ardelof yang tadi menggeram, lebih baik ia mencari kedamaian dari pada setiap saat harus bertengkar dan kembali berbaikan tapi hanya sebentar.


Melihat itu Ardelof tersenyum kilas, ia pergi ke Walkcloset mengambil pakaian Sofea karna timbul keinginan untuk mengajak wanita itu keluar untuk mengembalikan suasana hatinya.


Entah darimana Ardelof pun merasa ia mulai ketergantungan pada Sofea, kalau wanita itu tak makan entah kenapa ia tak berselera, dan jika wanita itu bersuasana buruk maka ia juga akan sama.


Kali ini, Ardelof ingin mengembalikan senyum wanita itu agar ia juga tak terlalu monoton atau membosankan. dengan ringan Ardelof menghubungi Kristof.


"Yang Mulia!"


"Kau duluan saja! aku membawa Mobil sendiri."


"Baiklah, Yang Mulia!"


Ardelof mematikan sambungannya seraya melangkah keluar Walkcloset dengan wajah datar yang berbinar terang, ia merapikan tempat tidur lalu menata baju wanita itu diatasnya, tak lupa Nampan makanan kesukaan Sofea telah ia pesan lengkap dengan Ice Creamnya.


"Aku harap kau suka!"


Gumam Ardelof menatap kamar mandi, ia menatap jam dipergelangan tangannya yang menunjukan pukul 10 menjelang siang, ia ada rapat penting jam 11 nanti dan waktunya sangat sempit.


Setelah beberapa lama Ardelof menunggu seraya mengerjakan beberapa berkas diatas Sofa sana, akhirnya pintu kamar mandi terbuka menampakan Sofea yang telah keluar dengan wajah segarnya tapi tak menatap Ardelof.


"Kenapa dia masih disini?"


Batin Sofea terselip rasa kesal, ia sengaja berlama-lama didalam sana berharap Ardelof pergi meninggalkannya seperti biasa, tapi Pria pemarah yang sangat aneh ini malah berdiam diri di Sofa sana.


"Kau sudah selesai?"


"Iya, kenapa tak pergi?"


Ardelof merubah raut wajahnya datar mendingin, gaya bicara dan logat Sofea seakan begitu bahagia jika ia tak ada disini.


"Cepat ganti pakaianmu!"


"Aku tak mau me.."

__ADS_1


"CEPAT!" Tekan Ardelof disertai tatapan netra birunya menajam hingga membuat Sofea menghela nafas mengangguk memeriksa Stelan ini.



Dahinya mengkerut melihat, Celana pendek berwarna Coklat tua dan jaket senada tapi sangat manis selayaknya seorang remaja membuat Sofea menatap Ardelof yang pura-pura memainkan Ponselnya lalu kembali melirik Sofea yang akhirnya memakai Stelan itu membuat sudut bibir Ardelof terangkat.


"Berikan padaku!"


"Aku bisa me.."


Ardelof memakaikan kalung itu dan mendudukan Sofea keatas kursi rias seraya mengambil nampan dan ia letakan kepangkuan wanita ini, tak lupa Sarbet yang Ardelof lilitkan ke leher Sofea remang membuat Sofea terdiam.


"Makanlah!"


"Kau bisa terlambat, aku bisa mengurus diriku sendiri."


"Cihh, apa dengan menyisakan sabun di tengkuk itu bisa mengurus diri sendiri?"


Sofea lansung mengumpat saat melihat kecerobohannya, ia tadi sangat gugup hingga melakukan sesuatu yang tergesa-gesa takut Ardelof membuat ulah, dan sekarang ia malu sendiri.


"A..i..itu.."


"Cepatlah, kau hanya kusuruh makan! bukan membuat makanan."


"Kau tak akan bisa, rambutku panjang!"


"Hm!"


Ardelof hanya membatu, menyisir rambut panjang Sofea hampir menyentuh pinggang , tapi sangat hitam, lebat sama panjang dan lembut membuat Ardelof sangat suka menatanya. seraya terus menata rambut lebat ini Ardelof juga tak lupa membelikan Pita kain karna ia lihat Sofea gemar memakai ini hingga ia menyempurnakan segalanya.


"Kau suka?"


Sofea yang mengunyah makananpun lansung menatap kaca, ia cukup Syok melihat rambutnya yang tadi berantakan seketika rapi dengan setengah poni didahinya, surai hitam itu terurai begitu saja dengan Pita cantik yang senada dengan celananya membuat Sofea berbinar.


"Pita?"


"Aku suka, aku suka Pita seperti ini!" jawab Sofea apa adanya, ia kembali melanjutkan makannya tapi sesekali melihat kecermin mengaggumi kecantikannya sendiri padahal ia tak memakai apapun.


"Sudah selesai, hm?"


"Sudah!"


Ardelof mengangguk akhirnya ia bisa lega karna Sofea kembali ceria, ia mengambil Tas kerjanya seraya menggenggam satu tangan Sofea lalu melangkah keluar kamar.


Sofea hanya menurut karna ia sudah lebih segar dan fokus pada Pita dikepalanya hingga didalam Lift wanita itu sibuk berpose dari pantulan besi baja ini hingga Ardelof hanya menggeleng geli saja mengibaskan tangannya kembali membuat Ilusi agar tak ada yang melihat wanita ini.


"Kita mau kemana?"


"Ke Perusahaan!"


"Perusahaan! punyamu?"


Ardelof mengangguk lalu memeriksa Ponselnya, Sofea tampak diam karna ia teringat dengan Ponsel lamanya dulu entah hilang kemana.


"Em, Ard!"


"Hm? ada apa?"


"Dimana Quxi?"


"Dia sedang pulang!" jawab Ardelof ambigu, padahal kenyataannya tak begitu adanya karna bocah itu tengah ia kurung didalam Dimensinya sebagai hukuman telah lalai menjaga Sofea.


Karna percaya, Sofea hanya mengangguk menurut saat Ardelof melangkah keluar dari Lift. seperti biasa mata Sofea selalu disapa dengan kemegahan saat ia keluar kamar membuat matanya kembali liar mencari kesenangan.


"Yang Mulia!!!"


"Hm!"


Sofea ikut menyapa deretan pelayan yang tampak mengaggumi Ardelof tapi mereka tak menjawab membuat ia mendecah kesal, tapi tak apa asalkan ia bisa keluar tak terkurung didalam benda luas seperti kotak itu lagi.

__ADS_1


"Yang Mulia Putra!"


Panglima Lester menghadap Ardelof yang menghentikan langkahnya, Sofea hanya diam seraya memainkan tas kecil ditangannya karna ia cukup bosan ada orang-orang kaku ini.


"Ada apa?"


"Putri Vanelope terus muntah darah, semalam ada yang menyerang Istana!"


"Beri saja dia obat!"


Ucap Ardelof seakan acuh hingga ia melangkah pergi membuat Panglima Lester terdiam, sungguh sangat Arogan. padahal dulu Ardelof begitu tergila-gila pada Putri Vanelope.


"Apa ada wanita melebihi paras Sang Putri Hangalay? aku rasa ini sangat tak mungkin!"


Gumamnya lalu melangkah pergi karna tak bisa menebak pemikiran Putra Mahkota itu.


Sebenarnya Ardelof pun tahu, karna ia yang membuat wanita itu sekarat karna berani mengusik ketenangan Penyihirnya. tapi resikonya adalah Raja Petratolison akan menyerangnya balas tapi tak akan Ardelof indahkan begitu saja.


"Vanelope itu, siapa?"


"Kau tak perlu tahu!"


"Ard, kau tahu! semalam aku melihat ada wanita cantik yang menceburkan bocah itu ke Dermaga Istana!"


Jelas Sofea seraya membiarkan Ardelof memasangkan sabuk pengaman, wajah pria itu tak berubah sama sekali seakan tak mendengar.


"Aku kira bocah itu bisa berenang tapi nyatanya dia.."


"Aku tak ingin membahasnya!" Tekan Ardelof melajukan Mobil, merasakan suasana mulai berubah Sofea takut jika Ardelof marah besar karna ia menanyai hal pribadi begini.


"Emm, Ard kau pernah main tarik tambang tidak?"


"Tidak!"


"Aku pernah, ada aku, Yella dan.."


"Dan?"


Sofea terdiam karna ia kembali mengingat itu hingga helaan nafasnya muncul kepermukaan seraya menggeleng.


"Dan begitulah, hanya hal biasa!"


Ardelof tahu jika sekarang Sofea sedang murung dan itu karna wanita ini kembali kemasa lalu membuat ia ingin sekali mengatakan untuk melupakan tapi ia saja sangat berat rasanya untuk membahas masa lalunya.


"Sudahlah, hari ini kau ku bebaskan!"


"A..Apa?" Sofea berbinar memeggang lengan Ardelof yang menggenggam tangannya.


"Hm, Perusahaanku ada Taman! kau bisa bermain disana, kalau untuk berbelanja. kita pergi malam ini! Quxi akan menemanimu!"


"Tapi..Tapi kau tak ikut ke Tamankan?" tanya Sofea harap-harap cemas, tentu Ardelof sebenarnya tak rela. tapi ia ada rapat penting dengan Kliennya.


"Tidak, tapi kau jangan macam-macam! atau kau akan ku Borgol di kamar, MENGERTI?"


"Siap!!"


Jawab Sofea berbinar, baru kali ini ia akan sendiri dan Ardelof tak mengekangnya untuk kemanapun dan ia harus memanfaatkan itu untuk menghibur otaknya.


..........


Raja Petratolison lansung menggeram saat melihat isi kamar Ardelof dimana ada aroma harum wanita ini dan juga ada sisa makanan dan tempat Ice Cream, ia tahu betul Ardelof tak akan memakan makanan ini.


"Cari disemua penjuru, dia telah berani membawa orang luar ke Istana ini!"


Geram Raja Petratolison yang sudah curiga sedari kemaren hingga saat Ardelof tadi keluar, ia lansung memerintahkan Pengawal menggeledah kamar yang bertahun-tahun tak pernah ia tempuh ini. dan ternyata Ardelof memang menentang perang dengannya.


....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2