
Hari ini hari pertama Sofea untuk bekerja, Ardelof-pun tak masalah selagi Sofea senang melakukannya dan tak akan membahayakan. dengan penampilannya yang sudah pas dibaluti Rok Span selutut dengan kemeja wanita berwarna Toska yang dibaluti dengan Jas kerja formal berwarna hitam senada dengan Roknya membuat penampilan Sofea benar-benar seperti wanita karir. tak lupa kacamata cantik yang ia pakai dengan rambut yang terurai lurus berpita Toska yang sangat serasi dengan Tas kecil hitam yang ia bawa. terlihat Elegan dan Casual memperlihatkan auranya yang kuat.
"Apa kau serius mau kesini?" Quxi yang mengantar Sofea yang memakai Mobilnya sendiri, Ardelof memang mengijinkan Sofea untuk pergi tapi wanita ini harus memakai fasilitas darinya dan akhirnya Sofea yang juga tak udik tahu bagaimana besikap.
"Iya, Xi! lagi pula peluang kerja disini sangatlah besar, aku rasa aku bisa memekarkan Tempat ini."
Sofea yakin dengan pilihannya yang mengambil tempat Lest kecil ini, ia merasakan ada hal tersembunyi dibalik tempat terpencil sunyi yang mustahil kalau pemilik Tempat ini menyembunyikannya dari Keramaian.
Setelah beberapa lama, Sofea sampai hingga Mobil Silvernya terparkir dibawah Pohon rindang ini dengan Quxi yang lansung cepat turun menjaga Sofea yang sudah berdiri disamping Mobilnya menatap kesemua arah.
"Kenapa sangat sunyi?"
"Mungkin ini sudah tak berguna, Fea!"
"Tidak, aku rasa ada yang salah."
Sofea melangkah anggun ke depan Bangunan seperti Rumah kecil berbangunan Klasik kuno biasa tapi memang ada Spanduk yang terpampang jelas kalau ini tempat Lest Musik.
"Permisi!!! apa ada orang?" Sofea mengetuk pintu pelan.
"Permisi!!! apa ada orang? maaf saya mau bertamu sebentar!!"
Quxi bersiaga saat Sofea begitu tak putus asa mengetuk terus hingga mengintip dari jendela, didalam sana tampak gelap hanya suara-suara kayu yang saling berderit kecil tanpa dipijaki.
"Fea, mungkin orangnya tak ada! Bangunan ini sudah ditinggalkan Mungkin."
"Permisi!! apa disini ada Mister Hewlow?"
"Dari mana kau tahu?" Quxi bingung mendengar nama itu, tapi Sofea menunjuk satu nama yang tampak terukir dipermukaan dinding kayu yang sudah termakan usia.
"Aku hanya menebak, atau mungkin ini punya seseorang yang telah mening.."
Krett..
Pintu itu terbuka membuat Quxi lansung memasang badan dihadapan Sofea yang hanya diam melihat Pintu terbuka sendiri tapi orangnya tak ada, bukan hantu yang terlintas di benaknya tapi hal lain.
"Fea, ini sudah tak aman! kau bisa.."
"Maaf, aku masuk. ya?"
"Fea kau.."
Sofea lebuh dulu masuk berdiri memijaki lantai kayu diatasnya hingga menimbulkan suara deritan berhimpit, setrbgah dinding Bangunan ini adalah Beton dilapisi mar-mar yang ditata indah membuat Sofea kagum melihatnya dari dekat.
"Lancang sekali kau."
"Eh."
Sofea terkejut melihat seulat bayangan dari arah Sofa didalam sana, ia menunduk sopan bukan terjabar takut karna entah mengapa Sofea tak lagi merasakan itu semenjak ia hamil rasa penasarannya sangatlah tinggi.
"Maaf, Mister! tapi apa saya bisa bicara sebentar?"
"Kau siapa?"
"Aku hanya wanita biasa, tapi aku lihat kau butuh Guru Lest baru mungkin untuk anak-anak didikmu. aku bersedia membantu." jelas Sofea lugas dan cerdas. kata-kata yang ia pilih juga terkesan tak murahan seakan ia ingin murni bekerja tanpa upah atau seakan tulus mengulur tenaga.
Perlahan wajah yang tadi ditenggelamkan oleh kegelapan seketika terlihat karna lampu yang tiba-tiba menyala menampakan sesosok Pria Tua dengan Tubuh tegap dan gagahnya sedang duduk memeggang Tongkat kayu yang klimis, rambutnya hanpir ditumbuhi uban tapi tubuhnya masih bugar walau terlihat keriput.
"Kau yakin?"
__ADS_1
"Iya! aku yakin, hari ini pun aku mau bekerja!"
"Tapi, masalah Gajimu aku.."
"Tak masalah, Mister! saya bekerja dengan tulus dan menambah pengetahuan saja, lagi pula selagi anda nyaman dan saya juga begitu maka tak akan ada masalah!"
Ada raut aneh dari wajah tegas Pria tua itu menatap lurus kedepan dengan sangat berkharisma. ia memakai kacamata hitamnya hingga Sofea tak tahu pria ini buta atau apa.
"Baiklah, pergilah masuk."
Tapi Sofea hanya diam karna ia merasa belum tentu Pria ini begitu saja menerimanya dari percakapan singkat ini, itu terlalu diluar nalar.
"Maaf, tapi dimana tempat mengajarnya."
"Apa kau tak bisa masuk saja?" suara mulai kelam.
"Maaf, tapi apa disini tak ada Murid atau anak-anak lain?"
"Kau takut!"
"Bukan, tapikan aku sudah bersuami! tak baik rasanya jika lansung menyelonong saja tanpa ada orang lain disini."
Pria tua itu menghela nafas halus, wanita ini memang sangat menguji Kesabarannya. tap ia akan turuti selagi itu menurutnya wajar bagi wanita bersuami. ia hanya kagum dengan kencantikan dan tutur bahasanya yang luhur, terkesan sangat berharga diri dan bernartabat.
"Renin!"
"Iya, Mister!"
Seorang wanita dengan rambut pendek pirang dan tubuh tinggi namun kulitnya kuning, bukan Putih menghadap Pria Tua itu dengan kepala yang tertunduk.
"Kau urus dia."
"Kau tuli?"
"M..Maaf, Mister!"
Pria tua itu berdiri dan melangkah lergi dengan pijakan tegasnya, kayu yang ia peggang terus menghentak pasti dengan suara deritan lantai.
"Hay!!" sapa Sofea ramah.
Namun, wanita yang dipangil Renin itu hanya diam berwajah datar mengisyaratkan Sofea untuk mengikutinya dari lirikan mata tajamnya, tentu Sofea hanya menurut selagi menurutnya semuanya wajar.
"Rumahnya bagus!" Puji Sofea menatap dekorasi Rumah yang tak padat, hanya ada barang-barang antik saja disini seperti Talenan kuno, patung dan ada Jam Pasir antik yang cantik dimatanya.
"Mister Hewlow itu suka barang-barang Zaman dulu, ya?"
"Itu bukan urusanmu!"
"Maaf, aku hanya bertanya!"
Jawab Sofea tegas lalu menuruti Renin menuju ruang yang melewati ointu menuju tangga ke loteng atas, ia tetap menjaga labgkahnya agar tak tergelincir karna ia tahu Ardelof akan murka jika sedikit saja kulitnya tergores.
Setelah beberapa lama, terlihatlah satu pintu dengan jendela kaca panjang yang membalut dinding setengahnya, terlihat sangat jelas berbagai Gelas, piring kaca dan beberapa besi yang dutata didalam sana membuat Sofea menyeringit.
"Apa kau tak salah tempat?"
"Tidak! kau bisa melihatnya."
Sofea mengintip dari Jendela kaca ini, dahinya mengkerut melihat tatanan barang-barang lama yang sekarang sangat jarang ditemui tapi ternyata semuanya ada disini.
__ADS_1
"Misimu membuat Melodi dari peralatan ini, selama satu hari"
"A..Apa?"
"Kau tak bisa?"
Renin berucap remeh, sudah ia duga karna setiap yang dayabg kemari maka akan mundur lagi. tak cukup paras bak Mahadewi tapi mereka butuh Talenta dan Mental yang kuat.
"Aku bisa!"
Degg..
Renin cukup terkejut tapi ia lansung menormalkan raut wajahnya agar tak begitu terperangah, senyum sinisnya membuat Sofea kesal tapi ia akan berusaha semampunya.
"Baik, apa lagunya juga aku yang buat?"
"Hm, kau membuat satu Irama, Melodi, Tempo, baik dalam Libretomu dengan cepat."
"Sesuai keinginan Mistermu."
Renin mengangguk lalu melangkah pergi meninggalkan Sofea dengan pandangannya sendiri kedalam sana, ia mendekat kearah Pintu dengan Quxi yang siap sedia berwaspada.
Drett..
"Ponselmu!"
Sofea lansung membuka tasnya, dan benar saja Ponsel yang baru saja tadi pagi Ardelof berikan dengan Lebel Apel itu membuat Sofea menghela nafas halus karna nama My Husband itu sudah tertera disana.
"Hel.."
"Kau sangat sibuk sampai melupakan aku!"
"Sayang, bukan begitu.. aku.."
"Apa salahnya menelfon satu kali atau beberapa menit saja, ha? itu gunanya aku memberimu Ponsel! sudah berapa menit kau tak mengabari aku, ha?"
Suara Ardelof benar-benar menghakimi diseberang sana membuat Sofea menghela nafas halus.
"Kau diam? kau dengar aku atau tidak, ha?"
"Sayang, Cintaku suamiku terbaik sedunia ini, aku tadi sedang bicara dengan pemilik Tempat ini, Sayang."
"Kau yakin?"
"Yakin, ya sudah.. aku mau latihan ya, Baby! Umuahh!!"
"*Kau.."
Tutt*..
Sofea mematikan sambungannya lalu memberikannya pada Quxi agar bisa menghendel segalanya.
"Fea kau.."
"Aku mohon bantu aku kali Ini."
"B..Baiklah."
....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..