
Senyuman pria itu mekar saat menatap Buku Menu dihadapannya, Berkas dan Laptop yang menyala memperlihatkan deretan angka dan huruf itu ia abaikan karna lebih fokus pada Buku hitam bergambar bermacam menu menggiurkan.
Asisten Kai yang sedari tadi tengah menunggu tanda tangan Renoval dikertasnya pun lansung menghela nafas halus, entah apalagi yang terjadi pada Tuannya ini hingga sedari kembali ke Perusahaan ia terus melamun dengan wajah penuh kebinaran.
"Tuan!"
"Hm!"
"Berkasnya!"
Akhirnya Renoval menyudahi lamunannya hingga dengan cepat melihat Berkas kerja sama ini, ia membacanya teliti dan ini adalah berkas yang Perusahaannya ajukan ke Perusahaan besar bergensi ACB agar bersedia ikut ambil dalam Produksi Filim mereka kali ini.
"Apa tanggapan mereka soal ini?"
"Saya tak bertemu lansung dengan Yang Mulia Ardelof, tapi saya bertemu Asistennya Kristof, Tuan!"
"Dia setuju?"
"Soal itu Asisten Kristof bilang kalau keputusan ada di Tangan Yang Mulia Putra Mahkota, tanda tangan anda digunakan sebagai pengantar kalau berkas ini bukan Ilegal!"
Renoval mengangguk kecil menandatanganinya dengan cepat lalu melihat Ponselnya, ia harus ke Lokasi Syuting Dapartement Staf Produsering yang tengah berlansung di Gedung petinggi di pusat kota.
"Kau harus dapatkan persetujuannya, aku ingin kami bertemu dalam ruang pekerjaan tapi dia membawa istrinya!"
"Tapi.."
"Hm? kau tak bisa?" suara Renoval terkesan mengancam membuat Asisten Kai lansung mengangguk mengerti.
"Baiklah, Tuan! saya akan usahakan untuk anda."
"Dan satu lagi!"
Renoval mengetuk mejanya dengan pelan seraya menatap kedepan dengan seringaian kecilnya.
"Aku mau Nomor Ponsel wanita itu secepatnya!"
"Apa? kau mau membunuhku, Tuan? yang benar saja aku mencari kematian!"
"Kau dengar?"
"A..Iya. Saya akan lakukan!"
......
Tatapan aneh mereka lansung menyeruk berkumpul lantai bawah, wajah-wajah aneh yang membayang kecuali wajah geli Nenek Eliz yang tengah terkekeh kecil mendengar suara Mahluk aneh yang dari semalam berdiaman itu tengah membuat kekacuan didepan sana, bagaimana tidak? saat pulang keduanya bersama bergandeng mesra seperti orang kesurupan melempar sepatunya kearah Dermaga sedangkan para pengawal itu berkecimbuhan masuk berenang mengambilnya.
"Hey!! yang ini!!"
Sofea melempar sepatu Ardelof kearah kiri hingga mereka harus berenang kearah yang sama membuat Sofea berbinar girang menatap gelembung air yang bergejolak saat deburan tubuh pengawal itu saling menabrak.
Melihat keinginan Istrinya yang tadi ingin berenang di Dermaga, Ardelof lansung mengecam pengawal untuk menggantikan Keinginan tak manusiawi ini.
"Ard, sekarang giliran kau , Sayang!"
"Sudahlah, kau tak kasihan melihat mereka?"
Ucap Ardelof yang memeggangi dua Heels Sofea sedangkan ia hanya memakai kaos kakinya karna sepatu mahal itu telah wanita ini lempar kedalam Dermaga yang sudah seperti menjaring ikan.
"Yang Mulia! kami harus apa lagi?" para pengawal yang tampak pasrah menatap Sofea yang mematung ditempat.
"Ya sudah, pergilah ganti baju!"
Mereka membungkuk hormat lalu seperti gerombolan gajah yang keluar dari Dermaga lansung pergi ke Belakang Istana menuju Istana Selatan hingga Pelayan lak-laki pembersih Tempat ini lansung menyetel pembuangan air dengan kembali membersihkan lantai yang licin hingga Ardelof menggenggam tangan Sofea erat takut wanita ini tergelincir.
__ADS_1
"Ayo, masuk ke Istana!"
"Ard!"
Sofea menahan tangan Ardelof yang ingin mengajaknya berbalik hingga netra biru Ardelof menuai tanda tanya ke wajah cantik Sofea yang mulai menjadi kucing meraba dada bidang Ardelof yang hanya memakai Kemeja polosnya hingga membuat tampilan pria ini sangatlah kekar.
"Ada apa?"
"Sayang, sebaiknya kita disini dulu!"
"Maksudmu?"
Sofea memeluk pinggang Ardelof mesra seraya menunjuk Air Dermaga yang sudah bersih dengan Sistem Kinerja Pelayan yang siaga dan Profesional.
"Sayang, kau tak bisa bermain diluar terus."
"Siapa bilang aku yang Main."
"Lalu?"
"Kau!"
Degg..
Ardelof lansung tercekat menatap Sofea dengan frustasi, ia melepas Heels ditangannya lalu menangkup pipi mulus lembut Sofea penuh harap.
"Sudah cukup bermain, ayo masuk!"
"Ard!! apa salahnya kau berendam disana, sayang."
Rengek Sofea disela langkahnya yang ditarik Ardelof menjahui Dermaga, para pengawal yang tadi bergantian berjaga lansung menunduk menahan gemas sekaligus keterpesonaan yang kuat pada Sofea.
"Kau tak lihat, ha? cuaca mendung, Hujan akan turun!"
Ardelof hanya membatu terus menarik Sofea untuk melangkah menuju Pintu Istana tapi sayangnya Sofea begitu ingin karna ia mulai lagi menjadi aneh.
"Sayang!! kalau kau tak mau kalau begitu aku yang berenang ke sana!"
"Tidak!"
Ardelof tetap menarik Sofea hingga Sofea lansung diam menyentak tangannya kasar dari genggaman Ardelof yang terkejut.
"Kau.."
"Jalan saja sendiri!"
Sofea melangkah duluan dengan wajah jengkelnya hingga meninggalkan Ardelof yang mematung dibelakangnya, Ratu Lamoria dan Ratu Rosmeryna yang melihat dari dalam lansung mendekati Sofea dengan Nenek Eliz dan Mama Netty yang juga sama.
"Fea, kau kenapa Nak?"
"Tanya pada Pria itu!"
Ketus Sofea membuat Mama Netty menggeleng memeggang bahu Sofea yang sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian santai baju kaos Oblong lengan pendek dan Rok Jeans diatas lutut memperlihatkan kaki jenjangnya tanpa alas.
"Hey, Suamimu benar! ini sudah mau hujan, kau bisa masuk angin!"
"Dia tidak Romantis, Ma! kalau di Filim-Filim itu kan Suaminya itu sangat patuh menuruti semua keinginan Istrinya, sedangkan dia.."
"Memangnya kau mau apa, hm?" tanya Ratu Lamoria memeggang dagu Sofea yang sedang dalam Mode Jutek.
"Aku mau dia berenang di Dermaga sana, pasti terlihat semangkin Tampan, tapi dia menolak memaksaku untuk masuk."
Ratu Lamoria dan Mama Netty menghela nafas halus, beginilah jika Bumil sudah meragukan kemesraan suaminya.
__ADS_1
"Sudahlah, mungkin suamimu lelah, itu karnanya dia ingin istirahat." Mama Netty memberi pengertian membuat Sofea terdiam. ada benarnya juga, sedari tadi ia terlalu membebani Ardelof yang hanya menurut sedari Perusahaan.
"Ma, kenapa aku jadi aneh? kalau sudah mau pasti tak akan memikirkan dampaknya!"
"Itu wajar, kau hanya perlu mengendalikan keinginanmu, hm?"
Akhirnya Sofea mengangguk merasa bersalah hingga ia menoleh kebelakang dengan sendu, namun, dahi Sofea menyeringit saat tak melihat Ardelof didekat Pintu Istana.
"Kemana Ard, Ma?"
"Mungkin dia ada urusan!"
Jawab Ratu Lamoria hingga Sofea lansung melangkah keluar dengan para Pengawal yang menunduk.
"Sayang!"
Panggil Sofea tapi tak ada hingga ia berbalik menatap Pengawal yang terdiam membisu.
"Apa kalian lihat, Suamiku?"
"Y..Yang Mulia tadi.."
"Kemana? apa..apa dia pergi pakai Mobil?"
"Yang Mulia ke sana!"
Degg..
Sofea terlonjak kaget melihat siapa yang tengah muncul diatas permukaan air dengan rambut yang berkibas memantikan air yang tadi membenamkannya ke bawah sana dengan tangan yang mengusap wajah tampannya hingga dengan Tubuh berotot Atletis dibalik Kemeja sana tercetak jelas hingga membuat mereka menutup mulutnya tak percaya.
"So Sexsi!!"
Pekik Sofea girang bersemu sendiri hingga membuat Ratu Lamoria dan para wanita termakan usia ini lansung bersemu dan lansung berbalik pergi dengan para Pelayan dan pengawal didekat Dermaga diperintahkan pergi hingga meninggakan dua insan pecinta itu saja.
Ardelof yang menepi ke tepi Dermaga berdiri ditangga dalam air hingga tampilannya sangat membuat Sofea malu menutup wajahnya tapi matanya masih melihat Dewa Ketampanan ini.
"Hey!"
Ardelof berlagak selayaknya Pria romantis dengan setangkai bunga mawar dibelakang telinganya seraya menatap Sofea penuh hunusan pesona yang kuat, ketika mata mereka saling tatap Ardelof lansung mengedipkan matanya menggoda membuat Sofea lansung terpekik girang.
"Aaaaa!!! Ard!!!"
Sofea melangkah mendekati Ardelof tapi sedikit berlari membuat Ardelof lansung menggeramkan wajahnya.
"Jangan berlari!!!"
Namun sayang Sofea sudah meloncat kearahnya hingga Ardelof lansung mengulur tangannya menggapai tubuh Sofea yang mencebur ke air dermaga hingga membuat keduanya basah bersama dengan para Ibu mereka yang melihat dari atas Balkon lansung bernostalgia ke masa muda.
"Ouuss, Sayang! kau sangat Romantis!"
"Dasar Agresif!"
"Biarkan saja, toh aku seperti ini padamu, saja!" acuh Sofea mengambil bunga mawar dibelakang telinga Ardelof yang tak bisa bersikap melawan.
"Tuan Romantis, ajari aku berenang."
"Baik, Penyihir Agresif!"
Jawab Ardelof membuat Sofea terkekeh tapi akhirnya mereka bukan berenang tapi malah asik bermain air membuat mata tajam seseorang yang menatap dari kejahuan lansung menggeram, sekuat apapun ia ingin membunuh wanita itu maka Ardelof selalu bisa melindunginya.
"Berbahagialah, karna kelak kalian hanya bisa mengenang masa ini!"
....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..