
Deretan para Pengawal itu lansung berjejer mengisi lapangan Hijau dibelakang Istana, mereka bersiaga sikap siap dengan pandangan tegasnya. ribuan para Pengawal dan Prajurit Istana disatukan dengan para Petinggi Kerajaan yang telah mengisi tempat disamping Ardelof diatas Loteng atas ini, semuanya tampak jelas dibawah sana pemandangan Pola Barisan Kerajaan yang dipimpin Panglima Lester.
Mereka melakukan Hormat senjata dan beberapa penghormatan atas kembalinya Putra Mahkota yang akan dilantik menjadi Raja seterusnya.
"Salam, Yang Mulia!!!"
Suara mereka memecah malam yang penuh akan bintang, Istana ini dikerlapi lampu hingga semuanya terlihat sangat cantik dan tak membosankan.
"Satu Tahun bukanlah waktu yang singkat, aku mengapresiasi Kinerja kalian yang pesat membantu Istriku dalam membangun Kerajaan dan Roda pemerintahan ini dengan baik."
"Terimakasih, Yang Mulia!!!!"
"Dan, untuk itu aku mengucapkan Terimakasih atas Kesetiaan dan Pengabdian Kalian pada Kerajaan,dan sekarang. kita tak lagi sendiri berjalan di tanah yang sama, akan ada Otak dan pola pikir lama yang sekarang telah hadir setelah cukup lama menyiapkan diri."
Suara Ardelof terdengar sangat lantang membuat para Wanita anak dari para Perdana Mentri dibawah sana bersemu akan Ketampanan Ardelof yang berlipat ganda, entah apa yang membuat pria itu terlihat sangat gagah dan mempesona.
"Aku tak menyangka, Putra Mahkota akan kembali!"
"Yah, dan aaaass, aku sangat mencintainya!!"
Gumam Reca si anak Perdana Mentri Deganara, ia dan para gadis disini sangat menggila dengan Pesona Pria bermata biru yang Atletis itu, sungguh tak ada yang mampu menggetarkan hatinya.
"Aku mengumumkan kalau, Raja Petratolison Ayahku yang sebenarnya telah hadir di Sekitar kita!!!"
Duarr..
Mereka terkejut saat ada sinaran biru yang berdiri disamping Ardelof yang menggendong Baby Aron dengan satu tangan, terlhat Cool dan sangat Sexsi berpadu dengan sesosok Kekar nan sama tegapnya membuat Ratu Rosmeryna menutup mulutnya tak percaya.
"P..Petra!"
Gumam Ratu Rosmeryna lansung lemas tumbang hingga Perdana Mentri Deganara lansung menyambutnya, 2 Pelayan wanita khusus dibelakang mereka lansung membantu mendudukan Tubuh Ratu Rosmeryna yang sudah tak sadarkan diri hingga membuat Raja Petra mendekat.
"Aku saja!"
Raja Petra menggedong Ratu Rosmeryna ringan dan menatap para petinggi Kerajaan yang menunduk, Ardelof juga mengangguk mengisyaratkan untuk membawa Ibunya ke dalam Istana.
Mereka saling pandang penuh keterkejutan hingga Ardelof kembali fokus pada acara pengenalan ini.
"Itu adalah Raja Petratolison yang asli, untuk bagaimana kejadiannya akan jelas saat pertemuan bersama Rakyat, nanti!"
"Baik, Yang Mulia!!"
Ardelof mengangguk datar lalu berbalik pergi masih meggendong Baby Aron yang menyandarkan kepalanya ke dada bidang Dadynya, satu tangan mungilnya berpeggangan ke cela Jas Ardelof yang melangkah kembali kedalam Istana.
Kristof yang tadi sedang melihat Ardelof lansung terperanjat, ia baru pulang dari Perusahaan tapi ia dibuat terkejut dengan kehadiran Ardelof yang sangat-sangat berkharisma.
"Y..Yang Mulia!"
Ardelof menghentikan langkah tegapnya dihadapan Ktistof yang menunduk, pria berambut agak keriting dan mata sipit ini terlihat sangat bahagia atas kehadirannya.
"Terimakasih!"
"B..Baik!"
Sambar Kristof masih membungkuk setengah badan membuat Baby Aron menatap wajah datar Tampan Ardelof, terkesan sangat angkuh tapi menyimpan kebijaksanaan.
"Myy!!"
Panggil Baby Aron membuat mata Ardelof menyipit menghakimi putranya, ia sedari tadi berfikir kemana ia akan mengangsikan si Kecil satu ini.
"Bermainlah bersama Uncel Kristof!"
"Myyy!!!!"
Pekik Baby Aron memberontak berpeggangan ke leher Ardelof yang ingin menyerahkan tubuhnya ke tangan Kristof yang menerima, dahi Kristof menyeringit melihat Interaksi ayah dan anak ini sangat terkesan bertentangan.
"Myyyy hiks!"
"Ambil dia!"
Kristof mencoba mengambil Baby Aron dari gendongan Ardelof yang malah dicakar Baby Aron dipipinya membuat Mama Netty yang melihat dari kejahuan lansung tersenyum kecil, Nenek Maryam pun hanya menatap Ardelof dengan pandangan menyelidik.
__ADS_1
"Myyyy hiks!"
"Ardelof!"
Duara lembut Mama Netty menghampiri Ardelof yang seketika terdiam sejenak lalu menatap wajah kesal Baby Aron yang mencibir dengan mata merah seakan menangis.
"Ma!"
"Bawalah Prince ke kamar, dia pasti haus."
"Myy!"
Baby Aron mengangguk dengan pipi putih merah yang mengembung disertai tatapan bermain, sangat pandai membakar api kekesalan dalam diri Ardelof.
"Dia tak haus, bahkan pasti bocah seumuran ini suka bermain, benarkan. Boy?"
"Myy!"
"Shitt!"
Ardelof mengumpat kecil saat Baby Aron menepuk pipinya kasar lalu menatap Nenek Maryam dengan raut sendu dan pelupuk merah menahan genagan air, bibirnya bergetar ingin mengeluarkan satu teriakan mengguncang tanah ini.
"Nee!"
Lirih Baby Aron meminta pembelaan, tapi dari raut wajah Ardelof yang sedari tadi melihat kearah Jam dipergelangan tangannya Mama Netty mengerti akan gejolak muda ini hingga ia menatap Nenek Maryam dengan isyarat.
"Hey, Cucu Oma! mau main balon, hm?"
"Myy!"
"Ayo main sama Oma, kita ke atap melihat Bintang, mau?"
Pujuk Mama Netty lansung menggendong Baby Aron saat mulai lengah dari Ardelof yang lega melambaikan tanganya kecil menatap kepergian Mama Netty dan Nenek Maryam membuntuti.
"Y..Yang Mulia!"
"Kau carilah yang segar di luar sana."
Suara datar Ardelof namun terkesan menghina menepuk bahu Kristof yang ia lalui, wajah Kristof melemah.
.....
Lingerie berwarna hitam itu sangat kontras dengan kulit putihnya yang bersinar dibawah kilauan lampu kamar luas ini, Potongan cekak dengan kedua tali tipis di bahunya tengah menahan bobot berat dari dada sekang yang terbungkus rapi dibalik Bera yang berwarna senada.
Ia duduk diatas ranjang dengan begitu Seksi, kedua kaki jenjang yang bersilang tumpang tindih menampakan paha mulus glow sampai sejengkal diatas pahanya, lekukan pinggul ramping dari bokong bulat berisi yang tengah berpose sangat menggugah mata.
Namun, sedari tadi ia meraba wajahnya yang sangat gugup dan pucat. beberapa kali ia menatap ke kamera Ponselnya meneliti rambut indah yang disanggul cantik dengan pita merah khas yang tak pernah ia pakai setahun ini.
"Ouhh, Sofea!! ini bukan malam pertama bagimu!!"
Gumam Sofea mendecah mengusap dadanya yang berdegup bak genderang perang, ia sesekali menghela nafas halus menromalkan kecanggungannya seakan-akan Ardelof benar-benar akan melakukan itu dengannya.
"Em, tapi bagaimana kalau dia tak datang? aaa.. tapi tadi dia menyuruhku bersiap, pasti inikan maksudnya?"
Gumam Sofea bingung, ia bangun dari ranjang seraya melangkah mendekati pintu, lalu terhenti sejenak mengigit kukunya lalu berbalik ingin kembali ke atas ranjang, tapi sayangnya langkahnya tertahan karna hati yang seakan mau keluar.
"Menunggu atau keluar, atau.. atau aku.."
Sofea lansung berjingkrat frustasi tak tahu apa yang harus ia lakukan, 1 Tahun tak bertemu membuat otaknya buntu.
"Aaaa! aku tak tahu harus apa, hiks?"
Teriak Sofea membelakangi pintu yang perlahan terbuka hingga Sofea mematung tercekat air liurnya sendiri.
Whuss...
Tubuhnya diterpa angin yang tiba-tiba meremangkan kulit Sofea yang meroma, jantung Sofea berdebar kuat mencium aroma Maskulin yang sangat ia hafal ini milik siapa.
Sudut bibir Ardelof terangkat membentuk lengkungan Sexsi menatap tampak belakang dari tubuh Sofea, lekukan Pinggang yang spesial dengan tonjolan disetiap bagian sensitifnya, satu kata yang menjabarkan itu SEMPURNA.
"A..Ard!"
__ADS_1
Sofea melemah memejamkan matanya saat satu tangan Ardelof menyentuh pahanya hingga membuat aliran darah Sofea mendidih panas dengan nafas yang tercekat.
Ardelof mendekatkan tubuh keduanya hingga perlahan tangan Ardelof yang tadi tengah mengelus kulit putih itu terangkat keatas menyusuri kulit mulus yang sangat lembut seakan menyentrum jiwanya.
"Lama menunggu, hm?"
Bisik Ardelof ke telinga Sofea yang mengigit bibir bawahnya saat bibir merah mudah itu menyentuh daun telinganya dengan sangat sensual, satu tangan Ardelof terulur sangat lembut menyusuri lingkaran perut Sofea hingga ia membelit mesra merapatkan tubuh keduanya.
Dagu Ardelof bersandar ke bahu putih Sofea hingga Sofea bisa merasakan nafas Ardelof berat menatap bongkahan dagging yang sudah membusung sekang menyesakan itu dengan sangat lapar.
"A..Ard."
Lirihan lemah begitu lembut nyaris seperti suara kenikmatan yang membuat Ardelof semangkin merapatkan tubuh keduanya. Sofea dengan jelas merasakan bagian belakangnya ditekan benda keras yang pasti telah lama berpuasa.
"Enguh!"
Sofea melenguh kecil saat Ardelof mengecup ringan lehernya hingga tangannya terangkat mencengkram lengan Ardelof yang membelit perutnya, rambut Sofea yang disimpul keatas membuat Ardelof mudah mendecap leher jenjang yang sangat bersih dan harum khas tubuh istrinya itu.
Kecupan Ardelof naik menyusuri bahu, hingga garis leher ke dekat telinga hingga mata Sofea terbuka saat merasakan Ardelof tengah memandang wajahnya.
Tatapan keduanya sama-sama berat menipiskan Atsmosfer yang membakar habis kedua jiwa Insan ini, perlahan Ardelof mendekatkan wajahnya hingga berjarak 1 senti saja dari bibir masing-masing, hidung keduanya saling menempel dengan dengan hembusan nafas yang menerpa wajah masing-masing.
"Aku minta Jatahku 1 Tahun ini."
"A..Apa?"
"Tak ada bantahan Penyihir"
"Tap.."
Cup..
Ardelof sudah menautkan bibirnya hingga Sofea tak mampu menolak, ia pun malu jika terlihat sangat ingin karna sentuhan itu membayang disemua area sensitifnya.
Dengan sentuhan yang membara, Ardelof mengiring Sofea menuju ranjang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
semuanya dilakukan dengan penuh kelembutan seakan Ardelof benar-benar memperlakukan Sofea selayaknya Ratu dengan semua permainan yang runtun.
Ciuman Sofea tak terkesan liar atau ganas, melainkan sentuhan lembut membayang memanja bibir Ardelof yang juga ikut memainkan peran dalam memadu kasih malam ini.
"Ehm!"
Keduanya saling bersuara lemah menyampaikan gejolak hati yang membuncak, tak ada raut paksaan dari wajah keduanya yang menikmati melainkan raut Cinta dan Panorama Rindu yang tengah melambai mewarnai kamar ini.
Cumbuan Ardelof membuat Sofea mabuk dalam kehangatan yang sangat ia dambakan dari Pujaan hatinya. seakan menjadi pejantan pemburu Cinta, Ardelof membaringkan Tubuh Sofea lembut sangat pelan seiring dengan larutnya perasaan keduanya menyatu dalam nafas yang sama.
"S..Sayang!"
Lirih Sofea saat Ardelof sudah mengungkung setengah tubuhnya dengan kedua kaki masih terjuntai melambai disamping ranjang, wajah yang sama-sama berat mendamba itu tergambar jelas penuh gairah.
"Aku menginginkan mu!"
Sofea tersenyum kecil mendengarnya hingga rona merah itu tersembul di pipi putihnya, sangat menggemaskan membuat pusaka perkasa dibawah sana semangkin memberontak.
Ardelof membuka Jasnya dan melemparnya kesembarang arah, ia juga menarik Dasinya tergesa-gesa hingga membuka Kancing kemejanya, tapi mata Ardelof masih bersitatap dengan mata sendu Sofea yang membantu membuka kancing kemeja putih Ardelof hingga pria ini melepas bagian atasnya gamblang.
Glek..
Sofea mematung melihat tubuh Atletis ini, dada bidang keras dengan perut penuh tonjolan otot Sexsi yang membuatnya merasa agak gelisah menatapnya lama. bahu kokoh Ardelof seakan menjadi besi baja nan kokoh dengan pahatan bak Prajurit perang siap tempur.
"Aku suka ini semua!"
Gumam Sofea ciut agak malu meraba dada bidang Ardelof menyusuri perut berkotak yang sangat-sangat keras, ia sedikit meninju perut Ardelof memperlihatkan rasa kagumnya.
Raut malu-malu Sofea inilah yang membuat Ardelof semangkin tak bisa membendung rasanya, ia mencengkal tangan Spfea yang masih menggerayai tubuhnya dengan tatapan berat.
"Aku sudah tak bisa menahan!"
Cup...
......
__ADS_1
Vote and Like Sayang..
Nanti ya, 😂.. tahan dulu Momy-Momy😂😂