Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
Dia sudah datang!


__ADS_3

Dahi Sofea lansung mengkerut cukup terkejut melihat seorang wanita Tua dengan rambut yang hampir memutih tapi wajahnya masih terlihat seperti wanita umur 50-an. badannya sedikit berisi dengan tubuh yang memendek kira-kira sampai bahu Sofea, tapi kulit putihnya nan terurus dengan riasan tebal tapi tak menor membuat kesan Feminim disertai Pakaian khasnya yang berompi.


Senyum didekat pipi berkerut itu mekar saat melihat Sofea yang tengah mematung didalam pelukan Ardelof yang tetap berwajah biasa, datar dan tak berlebihan.


"Dasar, Bocah! kenapa menggempur Istrimu terlalu sering, ha?"


"Hm!"


"Lihatlah dia, hey, nak.. lain kali kau tolak saja. dari pada Cucuku keluar sebelum waktunya." Ardelof mendecah kesal mendengar ucapan Neneknya yang begitu jauh berbeda dengan Kakeknya.


"D..dia siapa?"


"Menurutmu?" tanya Ardelof membuat Sofea menutup mulutnya tak percaya, ia baru ingat kalau wanita tua ini ada di deret Foto yang kemaren ia lihat di Ponsel Ardelof.


"Nenekmu!"


"Aa.. Kau tak kenal aku, ha? yang benar saja."


Nenek Elizabet Corner Alison itu lansung berucap ketus menatap kesal Sofea yang tersenyum penuh maaf, ia tak tahu karna memang saat bertemu dengan Ardelof saja ia tak menduga pria ini Putra Kerajaan di Negara dan Kotanya.


"Maaf, Yang Mulia! aku kurang tahu."


"Ya Sudah, lain kali kau jangan melupakan Keluarga Suamimu, hm?"


Sofea mengangguk lalu menurut saja saat Ardelof melangkah masuk menuju Pintu Kamarnya hingga Nenek Elizabet atau sering dipanggil Eliz itu hanya menyunggingkan senyum lembutnya, sebenarnya ia datang kesini karna sudah tak bisa menahan diri untuk bertemu dengan Wanita yang dikabarkan anggota Suaminya telah membuat Ardelof si tukang Pemarah dan Arogant itu luluh sampai mengguncang Media tentang kasus Perceraiannya.


Sementara Sofea didalam kamar sana gelisah karna ia gugup saat melihat Neneknya Ardelof yang sangat ramah, tapi ia tak tahu dengan Kakek suaminya ini.


"Tak usah khawatir."


"Sayang, apa dia benar Nenekmu?"


"Menurutmu?" tanya Ardelof memakaikan Daleman dan Bera Sofea yang telah ada didalam Paper-bag yang telah ada didalam kamar ke Tubuh Istrinya, ia mendudukan Sofea ditepi ranjang seraya membuat posisi senyaman Mungkin.


"Apa terlalu ketat?"


"Sesak, Beranya kekecilan!" ucap Sofea membusungkan dadanya yang memang mempunyai ukuran yang memukau membuat senyum kecil Ardelof tercipta mengecup kilas bibir ranum bengkak wanita ini.


"Bukan Beranya yang salah, Dadamu yang besar. Mis Composer."


"Ini karnamu!" ketus Sofea menyikut perut keras Ardelof yang hanya mendecah geli saja.


"Aku?"


"Yah, kalau kau tak memijatnya terus dia tak akan mengebang begini, dasar MESUM!" Sofea menarik sudut bibirnya miring mengejek Ardelof yang lansung mengigit bibir bawahnya menahan gemas, kalau mata indah ini sudah membulat melotot dan bibir mungil berisi ini manyun maka ia tak akan bisa menahan diri lebih lama.


"Hey!!! aku menunggu kalian!!" suara teriakan Nenek Eliz dari luar.


"Nenek Tua itu memang menyebalkan!"


"Dia Nenekmu!" Peringatan Sofea berdiri lalu memberikan Pakaian Ardelof yang melarang Sofea memakaikannya, ia menyuruh Sofea yang sudah rapi untuk menunggunya sebentar tapi Sofea malas menunggu dan lebih baik ia melangkah keluar menemui Nenek Eliz yang telah duduk di Sofanya dengan begitu Elegan.


"Em, Yang Mulia!"


Panggil Sofea gugup hingga netra coklat wanita itu menatapnya lembut seraya menepuk tempat disampingnya, tentu Sofea mengerti akan isyarat itu hingga ia mendekat tepat duduk disamping Nenek Eliz.


"Kau sangat dan lebih cantik, dari pada yang ada di Foto."


"Foto?" tanya Sofea lirih menatap wajah lembut Nenek Eliz yang menyelipkan seluas surai rambut Sofea yang keluar dari handuknya kebelakang Telinga, tampilan wajah Polos Sofea tanpa Make-up sangatlah natural dan alami tapi begitu cantik dan asli. punggung tangannya mulai menyentuh pipi mulus Sofea yang sangat terawat dan bersih membuatnya iri.


"Sepertinya Putraku memang memiliki Selera yang tinggi."


"Maaf, Yang Mulia tapi.."


"Yang Mulia! Oh God, I Wan't you call me like that, Pretty!" dengus Nenek Eliz membuat Sofea agak kikuk, lalu apa ia harus memanggil Nenek? ia kira itu sangat lancang. semberaut kegugupan yang tadi menyelumbungi agak netral saat Nenek Eliz mengusap punggung Sofea yang memakai Dress selututnya dengan lengan panjang membuat Penampilannya menjadi Anggun.


"Baiklah, tapi aku panggil ..Nenek apa boleh?"

__ADS_1


"Sure, kau bisa panggil aku dengan itu. seperti Suamimu memanggilku dengan kata yang sama, jangan canggung pada Nenekmu sendiri, hm?"


Ucapan itu membuat Sofea terdiam, matanya yang tadinya berbinar seketika meredup sendu terkenang pada Mamanya yang sampai sekarang tak tahu kabarnya, apa wanita itu masih hidup atau tidak sedangkan ia hudup senang disini.


"A..Apa aku melukaimu? kenapa menangis?"


"A.. tidak, aku..aku hanya kelilipan!"


Elak Sofea menghapus lelehan bening yang jatuh kepelupuk netranya membuat Ardelof yang baru saja selesai bersiap itu lansung mematung ditempatnya.


Nenek Eliz menatap Ardelof yang mendekati Sofea yang berusaha tersenyum walau rasanya ia mulai sesak menatap Ardelof yang duduk disampingnya, lalu melepas handuk di kepalanya.


"A.. Ard, aku..aku ke Toilet dulu.."


"Duduk."


Ardelof menahan tangan Sofea yang ingin berdiri hingga wanita itu tak mampu lagi menahan kesesakan didadanya hingga ia lansung menutup wajahnya dengan kedua tangan lentiknya.


"M..Maa hiks."


Isak Sofea tertahan membuat Nenek Eliz memahami perasaan wanita ini, ia tak tahu kenapa Sofea menangis. ia pikir wanita ini hanya merindukan seseorang.


"Hey, kau merindukan Mamamu?"


Sofea mengangguk masih menutupi wajahnya hingga Ardelof lansung menariknya dalam rangkuhan hangat itu, tangisan Sofea pecah mengingat ia sudah keterlaluan sampai bersenang-senang disini beberapa minggu sedangkan Mamanya sudah menghilang lama.


"A..aku..aku an..anak yang tak berguna, Ard hiks! M..mama..mamaku tak tahu ma..masih hidup atau tidak tapi aku malah.."


"Sutt, tenanglah! kau bukan seperti itu."


Ucap Ardelof mengelus punggung Sofea yang bergetar, ia menghujami puncak kepala Sofea dengan kecupan penuh cintanya dengan belaian menenagkan dari tangan kekar itu.


Lama Nenek Eliz terdiam melihat perlakuan Ardelof yang sangatlah lembut, ada rasa lega dihatinya saat Cucu kesayangannya yang dulu sangatlah melotot menikahi Vanelope hingga membuat mereka keluar dari Istana itu sekarang kembali menjadi dirinya sendiri.


"M..Mama hiks, Mama. Sayang!"


"Kau tenang dulu, hm? aku tak bisa benafas lega jika kau begini. Sayang!"


Ucapan Sofea tersendat menatap Ardelof yang menghapus lelehan bening itu di pipi Sofea, ia menunggu waktu yang tepat untuk membongkar segalanya karna jika sekarang ia katakan maka Vanelope yang belum menunjukan dirinya secara nyata bisa saja membuat ulah nantinya.


"Percayalah padaku, semuanya akan baik-baik saja. hm?"


"B..Baiklah!"


Sofea mengangguk menghentikan isak tangisnya walau nafasnya masih terdengar sendat, ia mengelus perutnya yang terasa sedikit tak enak setiap ia merasa sedih begini.


"Kenapa? apa perutmu sakit lagi?"


"Iya, Sayang! aku tak tahu kenapa sering begini." jawab Sofea bersandar ke dada bidang Ardelof yang lansung menelusupkan tangannya ke sela Dress Sofea hingga ia melakukan hal yang sama setiap Bagian tubuh Istrinya sakit, mengelus pelan penuh cinta menyampaikan rasa dihatinya.


"Itu karna Anakmu tak ingin Momynya bersedih, itu sinyal komunikasi dari Buah hati kalian."


"Benarkah?" tanya Sofea berbinar.


"Iya, dulu saat Rosmeryna mengandung suamimu dia akan terus mengalami Demam dan Muntah berat saat ditinggalkan Suaminya untuk perang, jika suasana hatimu buruk pasti anakmu ikut merasakannya, itu karnanya jangan pernah Setres karna bukan kau saja yang sedang berjuang di Dunia ini, Anakmu juga sedang berjuang untuk melewati Alamnya."


Jelas Nenek Eliz yang mengelus lengan Sofea lembut, dari awal bertemu ia sudah jatuh cinta dengan wanita ini dari pada Vanelope dulu. ia sangat tak suka dengan gestur angkuhnya yang tak punya hormat.


"Nek, dimana Kakek?"


Pertanyaan Sofea dijawab helaan nafas Nenek Eliz yang tampak berubah raut wajahnya.


"Dia itu sangat aneh, dia selalu menuntut setiap manusia disekitarnya harus Sempurna menurut Kriterianya."


"A..Apa dia tak menerimaku?"


"Yah, tapi aku rasa dia hanya masih marah dengan Bocah satu ini." Ardelof hanya diam saat Nenek Eliz memukul tangannya kecil.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Karna dia ini sangatlah Polos, di beri tahu dulu oleh orang tua dia membangkang, dan lihat sekarang."


"Aku tak ingin membahasnya!"


"Kau malu? Cih, kau tak tahu, Nak! dulu dia ini tak seperti yang kau lihat, otaknya sudah diaduk oleh wanita itu!"


"Nek, sudahlah!"


Ardelof mulai gerah karna ia tak ingin membahas itu, pasti Sofea merasa perih jika mendengar tingkah bodohnya dulu yang begitu gila hingga sampai tak tahu baik buruknya seseorang.


"Memangnya bocah gila mu ini kenapa, Nek?"


"Kauu!"


"Sayang, kau pergilah kerja! aku disini bersama, Nenek."


Sofea beralih menggandeng lengan Nenek Eliz yang tersenyum penuh kemenangan menatap Ardelof yang mulai naik pitam, inilah kenapa ia tak bisa mendekatkan Istrinya karna pasti Nenek tua ini akan posesif pada Istrinya.


"Kau bicara apa, ha? aku suamimu dan menurut padaku."


"Pergilah bekerja, biasanya kau tak akan pulang atau menemui kami sebelum suara petir Kakekmu menyambar."


Ketus Nenek Eliz memeluk Sofea yang menjulurkan lidahnya mengejek Ardelof yang mendengus lalu mengulur tangannya mengambil Ponsel diatas meja depan Sofa dengan Sofea yang melanjutkan bincang kecilnya dengan Nenek Eliz yang diam-diam membisikan sesuatu membuat keduanya terkekeh mengundang tatapan penuh selidik Ardelof yang diasingkan.


"Aku mendengarnya, Nek!"


"Apa, urus saja urusanmu!"


Ketusnya membuat Ardelof lansung panas, ia berdiri seraya melihat pesan di layar benda pintar ini. raut wajah Ardelof seketika berubah dingin setelah membaca pesan singkatnya.


Dia Sudah Datang.


Ardelof menormalkan raut wajahnya lalu menoleh menatap lembut Sofea yang begitu cepat berbaur dengan Neneknya yang sebenarnya tak begini Karakter aslinya. lihatlah saat ia bertemu dengan Vanelope maka Sofea akan terkejut akan perubahan dua orang terdekatnya ini.


"Sayang."


"Hm? ada apa. Ard?"


Ardelof mengambil Jasnya didalam kamar seraya kembali merapikan penampilannya hingga Sofea lansung berdiri tanpa disuruh mengambil Dasi ditangan Ardelof yang hanya diam membelit pinggang ramping Sofea merapat kerahnya.


"Aku akan pulang terlambat nanti!"


"Kenapa? apa pekerjaanmu banyak, Sayang?"


Ardelof mengangguk mengecup lama puncak kepala Sofea lalu mengelus perut datar Wanita ini sebagai salam perpisahannya sejenak, mata Nenek Eliz menatap Ardelof yang juga memandangnya hingga hunusan mata itu punya arti tersendiri.


"Apa kau mau tidur di Tempat Nenek, dulu?"


"Mau, tapi kau juga ke sana kan?"


"Iya, jaga dirimu baik-baik. jangan menungguku, tidurlah lebih awal, hm?"


Sofea mengangguk menepuk dada bidang Ardelof pelan merapikan pasangan Dasinya dan Jas itu hingga Ardelof kembali menjadi seorang Pria pimpinan disini.


"Nek! jaga Istriku baik-baik, dia ini sangat ceroboh, sebelum tidur jangan lupa Minum Susumu!"


"Iya, Sayang!"


Ardelof mengecup kilas bibir Sofea lalu melangkah pergi keluar dengan Kristof yang sudah menunggu didepan sana, hingga pintu itu ditutup barulah Ardelof kembali menjadi Pria tak tersentuh oleh siapapun selain Istrinya disini.


"Yang Mulia, Tiba-Tiba Putri Vanelope tiba di Perusahaan anda, Yang Mulia!"


"Hm, Kau tahu apa yang kau lakukan?"


"Tahu, Yang Mulia!"

__ADS_1


...


Vote and Like Sayang..


__ADS_2