Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
Cerita yang sebenarnya!


__ADS_3

Tatapan terkejut sekaligus tak percaya itu benar-benar meruak menghunus seorang wanita yang memunggungi mereka, punggung mulus nan putih bersih bak Bengkoang itu tertutup helaian rambut panjang hitam legamnya tapi mereka masih bisa melihat bagaimana keindahan Fisik tampak belakang ini mengheningkan suasana.


Semua orang berdiri menunggu siapa yang telah membuat Sang Putra Mahkota Alison itu berbalik arah menjemput dengan ringan mengulur tangan memeggang Bahu lembutnya.


"Sayang!"


Sofea hanya diam masih tak tahu apa yang dimaksud Ardelof, ia tak ingin berbalik jika hanya dikatakan sebagai Perebut suami orang, ia tak ingin dipermalukan untuk yang kedua kalinya.


"Berbaliklah!"


"A..Aku.."


"Sofea!"


Panggil Ardelof penuh dengan tekanan hingga Sofea perlahan berbalik menunduk dengan mata mengembun tak mau menatap semua orang yang lansung menutup mulutnya tak percaya.


"Cantiknya!!!!"


"Luar biasa!!"


Nenek Eliz menyunggingkan senyum sumeringahnya seraya mengangkat wajahnya angkuh, ia sudah menduga Menantunya ini akan membuat satu Studio ini riuh dengan Kecantikannya.


"Woww!!!!"


Pekik Mereka terkagum hingga membuat suara bisikan mengomentari Pakaian Sofea yang sangat anggun dan tampak Dewasa, mereka membandingkannya dengan Tampilan Vanelope yang menunjukan Lekuk tubuhnya dari gaun Ketat itu, terkesan lebih terlihat terbuka yang merisihkan mata mereka tapi Sofea begitu Anggun dengan kesan Prinsess sang Putra Mahkota Alison.


"Angkat wajahmu!"


"Ard, aku.."


Ardelof mengulur jarinya memeggang dagu Sofea hingga wajah ayu dan lembut ini membuat ia menghangat, ia sangat merindu karna semalaman ia menyiapkan semuanya hingga tak sempat pulang.


Sofea juga begitu, mata keduanya saling tatap menyampaikan gejolak hari masing-masing. tapi binar hitam di Mata Sofea seakan bertanya pada Ardelof yang membuat ia merasa janggal berdiri disini.


"Percayalah padaku, hm?"


"Tapi tadi.."


"Nanti ku jelaskan."


Sofea mengangguk hingga ia kembali diam menatap puluhan manusia yang ada dibawah Panggung, para Kru sana tampak mencuri-curi pandang wajah cantik Sofea lalu memerah malu sendiri hingga membuat sausana jadi canggung akan kedatangan Si Princess Ratu Alison itu.


"Kalian bisa duduk kembali!"


Mereka kembali duduk sesuai arahan Host Grandam yang berkeringat dingin saat Ardelof menggenggam tangan Sofea erat seraya melangkah kembali menuju Sofa Singelnya hingga melewati Vanelope yang sudah mengeraskan wajahnya, bahkan Sofea melihat mata Vanelope terkadang hitam lalu kembali seperti semula.


"Tidak ada kursi untuknya!" Vanelope berucap sinis menatap penuh rasa iri pada Sofea yang sangat berkilau siang ini, ia mengalahkan pancaran lampu panggung yang menyinarinya.


"Kami akan ambilkan kurs.."


"Tidak usah."


Ardelof menghentikan Kru yang ingin bergerak hingga mereka terdiam dengan Sofea yang menatap wajah Tampan Ardelof yang merapatkan tubuh keduanya, Kamera itu masih meliput secara lansung hingga pasti setelah ini akan ada Isu-Isu baru yang panas.


"Ard, apa maksudmu dengan ini?"


"Menurutmu?"


Tanya Ardelof seraya duduk dengan Sofea yang lansung terkejut saat Ardelof menariknya hingga Jatuh ke Pangkuan kokoh nan kekar ini, ia menggeleng menatap Ardelof yang hanya setia dengan wajah datarnya seraya memperbaiki letak Gaun Sofea.


"Ard, disini banyak orang!"


"Biarkan mereka melihatmu."


Jawan Ardelof meredam kegelisahan Sofea, sedari tadi Raja Hangton dan Ratu Lamoria menatap rumit Sofea yang menjadi canggung, ia tak terbiasa menjadi pusat perhataian semua orang karna sedari kecil ia tak pernah pergi ke Keramaian.


"Bisa kita lanjutkan, Yang Mulia?"


"Hm, aku ingin kalian tahu sesuatu yang akan membuat Perubahan!"


Ucapan Ardelof membuat tanda tanya besar hingga mereka lansung diam tapi mereka mengeluarkan Ponselnya tak melewatkan Pose autentik mesra Sofea yang menjadi Ratu yang paling beruntung bisa duduk se intim itu di pangkuan Putra Mahkota mereka.


"Silahkan, Yang Mulia!"


"Putri Hangalay yang sebenarnya adalah Sofea Ratna Mahadewi, bukan Vanelope Ev Hangalay!"


Duarr..


Vanelope sangat-sangat terkejut hingga ia lansung menggeram melempar Gelas ditangannya kearah Sofea tapi Ardelof menepiskan tangannya hingga benda itu terpental kesamping.


"Jangan membual, Ard!!!"

__ADS_1


"Aku tak membual, kau bukanlah Putri dari Raja Hangalay dan kau juga bukan Penerus Kerajaannya, yang sebenarnya penguasa dan penerus Kerajaan kalian, itu Sofea."


Raja Hangton lansung berdiri dengan wajah kelamnya, walau ia memang tak bisa menyangkal kalau Sofea memiliki sesuatu kemiripan dengan Ibunya tapi ia tak ingin bicara tanpa bukti.


"Buktikan padaku!"


"Ayah, dia hanya.."


Vanelope terhenti saat Raja Hangton mengangkat tangannya untuk meredam suasana riuh ini, para Rakyat Batalison dibawah sana sudah tak mampu menahan rasa penasaran hingga mereka menunggu lanjutan pernyataan ini.


"Mana buktinya? aku butuh bukti, bukan hanya pernyataanmu!"


"Hangton!"


Degg..


Raja Hangton dan Ratu Lamoria landung berbalik kebelakang hingga mata mereka terbelalak melihat siapa yang tengah berdiri dengan wajah paruh baya yang tampak lebih segar dari biasanya, mata Sofea lansung menjatuhkan air bening itu menatap Ardelof dan wanita itu bergantian.


"I..Itu.."


"Dia bukanlah Ibumu, tapi dia Bibikmu!"


"A..Ard kau..kau.."


Sofea tak mampu berkata banyak selain diam lemas tak berdaya bersandar ke dada Ardelof, ia menatap wanita paruh baya diujung sana dengan sendu dan rasa sayang yang teramat.


"M..Mama!"


"N..Netty!"


Gumam Ratu Lamoria mendekat dengan mata menggenang berkaca-kaca memandang jelas wajah yang telah lama menghilang dari lingkungannya, Saudarinya yang sudah tak tahu kabarnya lagi setelah perang itu ternyata masih hidup.


"K..Kau..Ini..ini kau.."


"Yah, ini aku."


Mama Netty tersenyum hingga Ratu Lamoria berhambur memeluk Saudari yang hanya berjarak beberapa bulan itu saja, ia menangis menumpahkan rasa rindunya dan harus yang teramat setelah sekian purnama baru bertemu.


"Kau..Kau kemana saja, ha? aku..aku sangat merindukanmu."


"Apa kau tak rindu pada Putrimu?"


Mama Netty menatap Sofea yang tampak sudah menangis tanpa suara menatapnya dengan penuh kasih, mata Kucing yang begitu polos yang selalu mementingkan keadaannya dimana tempat, pahatan cantik yang disembunyikan dari rumor yang buruk.


"Dia."


"Tidak, I...Ibu..Ibu dia..dia hanya membual Bu.!"


Vanelope menghampiri Ratu Lamoria yang mematung menatap kearah Sofea, ia memang merasakan ini saat pertama kali bertemu tapi rasa sayangnya terhadap Vanelope yang ia pikir Putrinya membutakan matanya.


"Dia Putrimu, Lamoria!"


"B..Bagaimana bisa?"


Tanya Raja Hangton terduduk ditempatnya menatap kosong Sofea yang tak menganggap ucapan mereka benar, ia hanya ingin memeluk Mamanya yang sangat ia rundukan itu.


Mata Mama Netty berair saat mengenag kejadian saat mereka lahir bersama, di rumah sakit yang sama dan diwaktu yang sama.


"Saat itu, kita melahirkan bersama. Kau begitu dicintai suamimu sampai apapun dilakukan untuk berjaga jika sesuatu yang besar akan terjadi. Hangton sangat mencintaimu dengan mengutamakan keselamatan Kau dan Calon anak kalian, tapi.."


Mama Netty terdiam menunduk lalu mengangkat wajahnya lagi menatap mereka semua yang terdiam termasuk para Manusia di Studio ini.


"Suamiku Edgar pria yang rakus, dia ingin kelak Putrinya menjadi seseorang yang bisa menguasai semua yang kau miliki termasuk menguasai Kerajaan kalian, hingga saat mereka lahir kebetulan ada pemberontak yang ingin menyerang kalian hingga saat itu Edgar memanfaatkan keadaan dengan menawarkan diri mengasuh Putrimu sampai Perang berakhir."


Ratu Lamoria masih diam mendengarkan dengan intens begitu juga yang lainnya.


"Perang berlansung selama 4 Tahun lebih, begitu pula Putrimu diam bersama kami tanpa kalian tahu wajahnya seperti apa karna saat itu kalian lansung menitipkannya pada kami dengan Lamoria yang dibawa ke Rumah Sakit di Tanah Alison. tapi, Putri kami tak menerima keberadaan Putrimu dan Putramu hingga saat Perang berakhir Edgar mengembalikan Putrimu tapi bukan Sofea yang dia berikan, melainkan Putri kami sendiri."


"A..Apa hiks?"


Ratu Lamoria luruh ke lantai sana hingga dua Pelayan setianya lansung membantu tapi tubuhnya sudah lemas dengan Pernyataan yang mengejutkan dari Mama Netty yang membuat semua orang tekejut hebat.


"M..Maafkan aku, aku ..aku tak bisa mencegah rencana Licik, Edgar! Putramu saat itu ingin mencegah kami pergi membawa Sofea tapi Edgar.."


"K..Kalian apakan Putraku?" geram Raja Hangton mencengkram peggangan Sofanya menatap murka Mama Netty yang terisak.


"Putramu Edgar buang ke lapangan Medan Pertempuran kalian yang sudah hancur."


"Brengsek kalian semua!!"


Brakk..

__ADS_1


Mereka hanya diam saat Raja Hangton menendang Sofa tempat Duduk Ratu Lamoria tadi hingga suasana mulai tak terkendali membuat Raja Petratolison lansung menenagkan Sahabatnya.


"Kendalikan dirimu, Hangton!"


"Apa, ha? Selama ini hidupku selalu ditimpa kesialan ternyata dia akar dari semua Masalah ini!!"


Kamera masih berjalan hingga semuanya tersiar jelas dimata semua Masyarakat yang tengah menyaksikan kenyataan ini, mereka diam tak berkomentar selain melihat dengan jeli dan haru.


"Tenanglah, biarkan dia menjelaskannya!"


Raja Petratolison mendudukan kembali hingga Raja Hangton masih berusaha menahan semuanya mengingat mereka tengah dilihat banyak orang.


"Aku minta maaf, Putramu dia buang saat peperangan masih berlansung tapi hanya sedikit pasukan musuh disana, dia menangis karna ingin adiknya kembali tapi aku..aku tak bisa hiks, aku tak bisa menyelamatkannya karna..karna Edgar mengancam akan membunuh Putrimu, Hangton hiks, dia..dia akan membunuh Sofea jika aku angkat bicara!"


"Bagus!!!"


Vanelope bertepuk tangan dengan raut wajah semberautnya membuat mereka semua teralihkan padanya, mata Vanelope berair merah merasa sangat tertikam dengan kenyataan ini.


"Oh, jadi aku anak para pecundang ini!"


"V..Vanel!"


"Aku tak akan pernah sudi!"


Geram Vanelope meludahi tempat duduknya lalu melangkah pergi membuat mereka benar-benar tak menyangka kalau Vanelope begitu kasar hingga tak mau menerima kenyataan.


"Vanel!"


"Biarkan saja."


Titah Ardelof saat Mama Netty ingin mengejar Vanelope yang sudah membawa amarah dan dendam dalam dirinya, Ardelof hanya ingin mereka semua tahu siapa sebenarnya Istrinya dan Kebenaran tentang Penerus Kerajaan Hangalay.


"A..Aku..Aku Minta maaf, aku sudah memberikan bukti dengan Foto bayi Vanelope dan Sofea dan rekap Medisnya. di..disana juga ada Tes DNA kalian serta tanda lahir di.."


"Tak usah disebutkan."


Tegas Ardelof menutupi bagian dada Sofea dengan tangannya yang memang agak menyembul keluar memperlihatkan Taik lalat manis itu.


"N..Nak!"


Gumam Raja Hangton menatap Sofea yang hanya diam, bagi Sofea Mamanya hanya satu, yaitu Mama Netty yang selama ini berkoban banyak untuknya.


"M..Mama."


Sofea berdiri lansung berhambur memeluk Mama Netty yang juga mendekapnya hangat sebagai pelukan seorang Ibu. Ratu Lamoria menangis melihat Sofea yang selama ini ia lihat ternyata Putri kandungnya sendiri.


"Ma..Maafkan, Mama sayang! Mama membohongimu."


"T..Tidak, jangan bicara begitu."


Sofea menghapus lelehan bening yang jatuh membasahi pipi Mama Netty dengan lebut, ia tersenyum bangga karna ia sangat senang memiliki wanita yang selama ini membesarkannya dengan penuh tangung jawab dan penuh kasih sayang.


"K..Kau..kau Mamaku, hanya kau."


Degg...


"N..Nak."


"Y..Yang Mulia, kita hanya sebatas Ikatan darah. tapi, j..jika kau menghukumnya maka, a..aku..juga tak akan diam."


Jelas Sofea yang tak mau Mamanya di hukum atas kesalahan Tuan Edgar dan Juand, sudah cukup ia kehilangan wanita ini selama berminggu-minggu lamanya.


"Siapa yang mau menghukumnya?"


Taja Hangton berdiri menatap lembut Sofea penuh rindu, seperti inilah seseorang yang begitu bijak dan damai. tak seperti Vanelope yang selalu keras dan Terkesan Egois mengambil keputusan.


"M..Maksudmu?"


"Dia juga Anggota Kerajaan kita, dia juga Mamamu! tapi, kami mohon maafkan kami juga yang telah merendahkanmu, Nak!"


Sofea terdiam menatap Ardelof yang memberi senyum mempesonanya seakan mengatakan ia akan ada disetiap keputusan yang Sofea ambil, baik Istrinya mau menjadi seorang ratu atau tidak, yang kelas ia hanya ingin membuktikan kalau ia punya wanita yang sangat sempurna didunia ini.


"Katakan saja, baik kau menjadi Ratu atau orang biasa. kau akan tetap menjadi ISTRIKU!"


"A..Apa???"


Mereka terpekik keras.


....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2