
7 bulan telah telah berlalu dengan cepat, hari kehari yang terus berlalu seakan mempercepat waktu hidup diatas dunia ini, perubahan dari setiap waktu dijalani memunculkan perubahan yang sangat menonjol, tak di kira Musimpun berganti dengan Musim dingin yang telah muncul menggantikan Musim panas yang kemaren melanda Kota Batalion.
Tumpukan salju itu menggunung dengan Mobil-mobil pembersihnya yang sudah bekerja setiap pagi menepikan Tumpukan serbuk putih ini.
Walau rintikan halusnya masih terasa tapi tak menyurutkan Petugas Kebersihan didepan Istana megah ini untuk menyingkirkan Penghalang gerbang untuk terbuka.
"Lagi!!! ini dipinggirkan."
"Baik!"
Mereka bekerja dengan cepat karna ini sudah pukul 7 Pagi dan pasti Keluarga Kerajaan akan bepergian keluar Istana, Kasim Tarusel yang tengah memimpin para Pelayan untuk diarahkan mengemas Peralatan pembersih karna semuanya sudah selesai.
"Jangan sampai lantai Istana licin, kalian bisa habis oleh Putra Mahkota!"
"Baik!"
Mereka bergegas mengecek kembali pekerjaan yang telah usai karna tak mau terulang kejadian beberapa bulan lalu dimana Putra Mahkota sendiri yang menyeleksi ketat pelayan yang bekerja di Istana Utama karna Putri Mahkota hampir saja terpeleset didekat tangga, tentu hari itu menjadi Neraka bagi mereka yang terkena amukan Ardelof.
"Sayang!!!!"
Suara yang melengking mengguncang satu Istana ini hingga membuat mereka jantungan bersiap ditempat dengan wajah-wajah gugup itu.
Ardelof yang tengah mandi didalam kamar mandi sana lansung keluar mendobrak pintu dibelakangnya.
Brakk..
Pintu Kamar itu terbuka kasar hingga menampakan Ardelof masih berkeramas dengan handuk tak terpasang sempurna dipinggang kekarnya, bahkan wajah pria itu terlihat lansung menatap ke Sofa sana dimana seorang wanita dengan perut membuncitnya yang menyesakan.
"A..Ada apa?"
Ardelof mendekat berjongkok disamping Sofea yang memakai Baju hamilnya, suara Televisi dibelakang Ardelof terdengar bersuara nyaring seperti pertengkaran tapi Ardelof fokus pada wajah Cantik Sofea yang tampak lebih berisi dari sebelumnya.
"Katakan padaku, ada apa? apa perutmu sakit?"
"Bukan itu, Ard!"
"Lalu apa? kau jangan menakutiku!"
Sofea mendecah menatap rambut Ardelof yang masih berbusa, ia melihat dengan jelas kalau pria ini sangat mengkhawatirkannya bahkan begitu tergesa-gesa.
"Apa kau butuh sesuatu?"
"Aku tak suka Filimnya."
"Apa???"
Ardelof memekik keras antara terkejut dan frustasi lansung mengusap wajahnya yang masih basah karna air lalu menatap penuh keggeraman ke Televisi LED yang telah menyala memperlihatkan Perdebatan rumah tangga, ini Filim-Filim Turkis membuat Ardelof lansung ingin melempar Remote ini.
"Suaminya terlalu jahat, aku tak suka dengan Filimnya."
"Lalu, kau mau aku apakan mereka?"
Sofea berfikir kecil lalu mengulur mengambil Remote didekat lutut Ardelof yang tak sampai olehnya karna susah bergerak hingga Ardelof menghela nafas mengambilkannya dan memberikan ketangan lentik itu.
"Ini! kau mau apa?"
"Suruh saja mereka mengubah jalan ceritanya, Sayang!"
"Sayang, ini Filim yang punya Sketsa sendiri dan Skenario, ini bukan urusan kita." decah Ardelof yang sudah 3 kali disuruh mengubah jalan cerita Filim-Filim yang Istrinya lihat, terkadang Ardelof ingin membuat Televisi ini mati tapi Sofea malah menonton di Ponselnya, sungguh Bumil ini sangat menguji kesabaran.
"Kau tak bisa?"
"Bukan tak bisa, tapi itu berbeda. ayolah.."
"Baiklah, kalau begitu Kakakku pasti bisa!"
"Hey, kau.."
Sofea sudah lebih dulu meraih ponsel Ardelof disamping pahanya hingga Ardelof lansung mengumpat kasar dan pasrah.
"Ka.."
"Ok. aku akan lakukan!"
"Aku tak percaya." sinis Sofea masih melanjutkan panggilannya hingga terdengarlah suara datar diseberang sana.
__ADS_1
"Hm, Ada apa?"
"Kak! apa kabarmu?"
"Sayang, kabar Kakak baik? dan bagaimana denganmu?"
"Tidak baik!" jawab Sofea menyelipkan intonasi bersedih membuat Ardelof lansung menatap tajam Sofea yang acuh menghindar saat Ardelof ingin mengambil alih Ponselnya..
"Kenapa? apa..apa kau terluka atau.."
"Kak, Suamiku tak mau menuruti keinginanku."
"Apa? berikan Ponselnya pada Suamimu!" Suara Renoval yang terdengar geram membuat Sofea lansung menyerahkannya pada Ardelof yang mengambilnya jengah.
"Hm!"
"Kau ini suami macam apa, ha? Adikku butuh kau, atau perlu aku yang kesana me.."
"Dia ingin aku mengubah Skenario Filim, bukankah itu gila?"
Tanya Ardelof agak menjauhkan jaraknya dan Sofea yang asik memakan Camilannya sesekali melihat Ardelof yang berbicara dengan Renoval dengan rasa dongkolnya.
"Cih, hanya itu saja kau menyerah."
"Aku tak masalah dengan semua itu, tapi ini sudah 3 kali! aku tak mau Istirku terlalu menghayati Filim-Filim yang dia tonton, karna dia mencurigaiku seakan aku sama seperti suami laknat di Filim itu."
Terdengar suara kekehan diseberang sana membuat Ardelof lansung mematukan sambungan, penderitaannya sangat lengkap karna keggemaran Sofea semenjak menginjak hamil besar selalu suka berburuk sangka.
Ia selalu menyelidiki Ardelof ketika pulang lama, padahal biasanya Sofea tahu kalau ia banyak pekerjaan di luar sana.
"Bagaimana?"
"Hm, akan ku ubah semua Filim di Negara ini. PUAS Yang Mulia?"
"Sangat puas, sayangku!"
Sofea berbinar memberi kecupan jauh lalu kembali mengunyah dengan mulut penuh membuat Ardelof menggeleng mengulur tangan mengelus perut besar Sofea yang sangat berat.
"Makannya pelan-pelan, kau bisa tersedak."
Ardelof mengangguk menarik Kasur tambahan didekat Sofa agar Sofea tak jatuh, ia juga mengalas pinggang Sofea dengan bantal khusus ibu hamil untuk mengatasi pegal dipinggang.
"Sudah pas, hm?"
"Pas, tapi kakinya itu.."
"Sebentar!"
Ardelof menaikan kaki Sofea keatas peggangan Sofa yang bisa berubah menjadi bantalan dengan bulu halus yang empuk hingga semuanya nyaman barulah ia lega berdiri.
"Jangan mentonton terlalu lama, dan main Ponsel sebentar saja, matamu bisa sakit."
"Iya, tapi matikan dulu Televisinya, Sayang!"
Ardelof mengangguk mematikan Televisi dari Remotnya lalu membersihkan bekas remahan keripik yang Sofea kunyah dan mengatur suhu kamar barulah ia kembali masuk kedalam kamar mandi, itupun pintu ia biarkan terbuka karna sesekali Ardelof melihat Sofea yang masib saja asik mengemil.
"Fea!!"
Suara Ratu Rosmeryna dari luar kamar membuat Sofea lansung berusaha bergerak duduk berpeggangan ke punggung Sofa hingga dengan susah payah ia berdiri seraya melangkah pelan dengan satu tangan memeggangi pinggangnya yang nyeri.
Pintu kamar itu ia buka pelan hingga ia tersenyum melihat Ratu Rosmeryna yang membawa nampan berupa bubur Nasi putih dengan campuran sayur dan lauk pauk bernilai Gizi tinggi.
"Ada apa, Bu?"
"Apa kau baik-baik saja?"
"Iya, aku sangat baik, Bu! ada apa?"
Tanya Sofea bersandar ke daun pintu menopang tubuhnya hingga Ratu Rosmeryna tersenyum menunjukan Nampannya.
"Aku membuat ini, dan aku rasa kau akan sehat karnanya."
"Benarkah? pasti sangat lezat!"
"Biar aku yang menyuapimu."
__ADS_1
Ratu Rosmeryna ingin melangkah masuk tapi suara dingin itu menghentikan langkahnya.
"Berhenti!"
"A..Ard."
Lirih Sofea menoleh kearah Ardelof yang sudah berdiri tegap dan bersih didepan pintu kamar mandi sana seraya melangkah mendekat, wajah pria itu sangat datar terlihat tak suka dengan kedatangan Ratu Rosmeryna.
"Menjauh darinya."
"Ard, sayang! kau bicara apa? ibu hanya memberikan Bubur, itu saja."
Namun, Ardelof sudah tak percaya hingga ia menarik lembut pinggang Sofea kearahnya tanpa jarak memisahkan keduanya, Ratu Rosmeryna terdiam hanya bisa menatap sendu wajah Tampan Putranya.
"Bawa itu kembali."
"Nak, ini sama sekali tak beracun. tak ada yang berbahaya." suara Ratu Rosmeryna bergetar membuat Sofea merasa bersalah.
"Sayang, ayolah! Ibu sudah lelah membuatnya, aku merasa jahat jika tak memakan makanan seenak itu."
Sofea berusaha menetralkan suasana, memang Ardelof semangkin hari semangkin tak percaya, lebuh tepatnya tak mau ambil Resiko untuk kehamilan Sofea.
"Aku akan membuatnya jika kau mau."
"Sayang, tapi ..."
"Menurutlah!"
Suara Ardelof terkesan tak bersahabat membuat Sofea akhirnya mengangguk menatap penuh maaf Ratu Rosmeryna yang merasa hampa membawa nampannya kembali meninggalkan kamar ini.
Mata Sofea menatap sendu itu semua hingga ia rasa ini sudah keterlaluan.
"Sayang, dia Ibumu!"
"Aku tahu, tapi aku juga seorang Calon Ayah dan Suami yang tak mau jika orang-orang yang dulu sangat membencimu mendekatimu tanpa alasan."
Tegas Ardelof mengunci Pintu kamar hingga membuat Sofea menghela nafas halus, sekarang ia tak bisa memaksakan Ardelof tentang apa yang ia mau karna pasti ujungnya jika dalam keadaan panas ini ia juga keras kepala maka pertengkaran akan terjadi.
"Baiklah, jika suamiku yang tampan ini tak mengijinkan aku pasrah, lebih baik aku Tidur menggemukan badan."
Suara Sofea terdengar ceria berpeggangan ke lengan kekar Ardelof yang masih terlihat marah hingga hanya diam.
"Sayang, perutku sakit!"
"Sini!"
Ardelof menggendong Sofea keatas ranjang dengan ringan, tak ada raut keberatan sama sekali diwajahnya.
"Apa aku tak berat?"
"Tidak, kau wanita teringan yang pernah aku gendong."
Sofea menepuk bahu Ardelof yang berbaring disampingnya, jawaban itu terkesan mempunyai makna yang ganda hingga membuat ia kesal.
"Dasar."
"Aku benar! kan hanya kau yang pernah ku gendong."
"Bulshit."
Gumam Sofea membuat suasana hati Ardelof kembali membaik, namun Sofea dan Ardelof tersigap mendengar suara lirihan dipintu kamar sana.
"D..Dewi!"
Sofea saling pandang dengan Ardelof yang lansung bangun dari baringannya, sementara Sofea tak bisa bangun hingga hanya memandangi Ardelof yang melangkah membuka Pintu.
Ceklek..
"D..Dewi!"
Brugh..
....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1