Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
Gejolak Batin seorang Ard!


__ADS_3

Tanah berlumut lembab yang tampak dipenuhi bercak darah kering dengan sebuah Bangunan seperti Kubah Villa yang tak terlalu besar tapi diselumbungi kegelapan, tangga-tangga yang retak dan aura membunuh ini sangatlah kental terasa menggerayai pori-pori.


Rembulan diatas sana terus bersinar dengan lulungan anjing melengking keras dengan senyayu angin yang tenang namun meremangkan bulu kuduk, apalagi hutan rimbun yang mengelilingi tempat ini sangatlah meneggelamkan keberanian.


Tapi tidak bagi Klan Dark yang telah berkumpul dilapangan luas ini hingga semua Roh dari bawahan Yang Mulia Dark telah berkumpul, mahluk-mahluk aneh yang memakai Jubah usam tanpa anggota tubuh dari pinggang kebawah dengan mata yang mencolok bak bara api didalam Topi Jubahnya yang berterbangan mengelilingi Bangunan ini seraya membentuk sebuah barisan dengan Pimpinan yang paling terhormat telah berdiri ditengah-tengah mereka.


"Yang Mulia, Dark!!!'


Mereka menunduk memberi salam hormat membuat Sesosok pria dengan mata merah menyala memakai Jubah kebesarannya itu hanya mengangguk kecil menatap Ratusan Mahluk aneh ini.


Dibagian kanan Ardelof ada sesosok Mahluk berbentuk seperti manusia, rambutnya Silver dengan kulit putih seperti mayat dibekali telinga yang runcing memungkinkannya mendengar dari jarak yang cukup jauh yang disebut Kaun Elf, sedangkan disamping kiri Ardelof ada Mahluk berbentuk seperti asap tengkorak dengan separuh jubah koyak yang hanya memperlihatkan kobaran api dimatanya.


"Kalian lapar?"


"Yahhh!!!"


Suara menyeramkan serak dari Para Kaum berjubah hitam itu karna mereka butuh energi, mereka sebenarnya adalah Klan Black Clover tapi mereka tunduk pada Kekuasaan Yang Mulia Dark karna mereka jiwa Ardelof memang sangat menakhlukan membuat separuh dari Klan Black Clover tunduk, tapi tidak dengan setengah lagi hingga sekarang Pimpinan Black Clover yang masih belum diketahui itu sedang membuat bala tentara dari bangkai umat manusia.


"Kalian gagalkan pencarian Roh Black Clover malam ini, jangan biarkan mereka kembali mengambil Korban di semua daerah."


"Bagaimana dengan kami?"


Ardelof terdiam menatap para Klannya yang pasti kelaparan, mereka perlu Roh manusia agar bisa menggunakan kekuatannya hal yang sama seperti Bangsa Black-Clover.


"Carilah bangsa yang sudah tak ingin hidup, bantu mereka melepas diri dari Dunia kejam ini."


"Baik, Yang Mulia!"


Whusss...


Mereka menghilang meninggalkan Pasukan Elf yang dipimpin Quxi sebangsa dengan mereka, sedangkan Fu adalah sosok penjaga Dimensi Dark milik Ardelof.


"Carilah Informasi tentang Grimoire berdaun lima emas ditempat manapun dan dapatkan secepatnya."


"Baik."


Klan Elf lansung menghilang pergi meninggalkan Quxi dan Fu yang terdiam menunggu perintah, mereka merasakan Klan Black- Clover sudah bergerak membentuk pasukan dan mereka harus mencegah itu terjadi.


"Jaga Dimensi ini."


"Lalu aku bagaimana, Yang Mulia?"


"Kau tungguh perintah kedepannya!"


Whuss..


Ardelof keluar dari Dimensi Darknya hingga ia kembali ke Ruang Kerjanya di Istana, ia baru saja pulang dari Perusahaan karna tadi ia merasa Black-Clover sudah bergerak maka Ardelof harus juga mengantisipasi Penyerangan dalam waktu dekat.


Ardelof yang kembali memakai pakaian kerjanya itu menghela nafas menatap tumpukan berkas di mejanya, ia tahu sedari tadi Quxi mengikutinya karna ada satu hal yang ingin disampaikan.


"Ada apa?"


Quxi mendekat seraya menunduk hormat.


"Yang Mulia, mungkin dalam beberapa bulan ini Nona Sofea akan mengalami beberapa gangguan, mungkin dia akan dihantui kekuatan murninya sendiri!"


Ardelof hanya diam memikirkan jika sampai Sofea tahu kalau sebenarnya nanti ada yang harus berkorban antara ia, Sofea sendiri, Putra mereka atau kekuatan dari Portal atas yang terbuka seiringan dengan lahirnya penerus Alison itu hingga nanti Pimpinan Black Clover akan mudah menyerang karna saat itu Jiwa Sofea terbagi dan akan mengalami pemecahan.


"Istri dan calon penerusku akan baik-baik saja, kau hanya perlu terus memantau bagaimana keadaan diluar sana."

__ADS_1


"Baik."


Quxi menghilang pergi hingga Ardelof lansung menghempaskan tubuhnya keatas kursi kerjanya, sungguh rasanya ia tak tahu lagi cara agar tak ada yang mengenal Istrinya hingga wanita itu akan aman tapi kenapa Kekuatan Murni itu malah dimiliki Sofea.


"Aaaa!!!"


Brakk..


Ardelof melempar Laptopnya ke dinding sana hingga pecah seraya mengusap wajahnya kasar, ia tak bisa mengorbankan Sofea untuk bisa menyelamatkan Tanah Alison tapi Ardelof juga tak bisa melupakan bagaimana Rakyatnya akan kehancuran yang akan datang.


"A..Ard."


Degg..


Ardelof terkejut saat suara lembut itu mengalun sedikit ciut dari arah pintu sana, dan terlihatlah yang tengah muncul dari balik pintu seorang wanita cantik dengan rambut diikat Pita dan tubuh yang dibaluti Gaun malam minimnya yang dibaluti Blazer hangat hingga langkah wanita itu terhenti menatap Laptop yang sudah terhempas ke dinding sana dengan na'as.


"Kenapa belum tidur, hm?"


Sofea hanya diam menatap nanar wajah lembut Ardelof yang nyatanya dibalik ketenangan ini ada sebuah masalah yang besar tersembunyi dibalik raut wajah Tampannya. dengan pelan Sofea kembali melanjutkan langkahnya mendekati Ardelof yang lansung menarik lembut lengan Istrinya untuk duduk diatas pangkuannya, tentu Sofea tak menolak hingga ia duduk diam diatas pangkuan kokoh sang suami.


"Ini sudah malam, kenapa masih terjaga?"


Sofea menggelang meremas jari-jemarinya dengan wajah yang benar-benar muram tak biasanya ia begini. hati Sofea gelisah ditinggal sendirian hingga ia terus menunggu tapi Ardelof tak kunjung pulang, nyatanya pria ini tengah berada diruang kerjanya dengan frustasi yang baru Sofea lihat.


"A..apa ada masalah?"


"Tidak ada."


"Ard Cukup!"


Sofea mendecah menatap serius Ardelof yang memandangnya rumit, wajah Sofea sudah begitu lemas memelas agar jujur padanya apa yang terjadi, kenapa disembinyikan begini?


"Sudah cukup, kau selalu mengatakan baik-baik saja tapi itu sama sekali tidak benar, Omong kosong yang tak berguna."


"Lalu urusanku apa? ha! hanya melayanimu, hanya ada saat kita senang-senang atau..atau hanya bersamamu berbagi kehangatan, iya? kalau begitu aku sama saja seperti Ja**lang!!"


Brakk..


Ardelof meninju meja kerja kacanya hingga pecah dengan wajah mengigil merah menahan kegeraman diselingi suara gertakan giginya yang nyaring, Sofea menunduk bangun dari pangkuan Ardelof yang sudah naik darah.


"Hentikan ucapanmu!"


"A..Aku be..benar k.."


"HENTIKAN!!"


Sofea lansung berjongkok menutupi telinganya karna bentakan itu sangatlah mengerikan hingga tangisnya pecah membuat Ardelof lansung melampiaskan amarahnya pada barang-barang dihadapannya, tumpukan buku-buku itu ia lempar kedinding sana hingga sampai deretan Lemari dihadapannya lansung ia robohkan hingga ruangan ini benar-benar sudah hancur.


Brakk..


"Brengsek!!!"


Ardelof meninju dinding dihadapannya hingga emosinya naik sesuai dengan darah yang keluar akibat tubrukan keras itu, Sofea terisak meringkuk disudut ruangan mendengar suara barang yang dilempar serta aura kelam Ardelof yang membuatnya sangat takut.


"Kau ingin tahu, ha?"


"Ma hiks, Mama!!"


"Aku tak bisa menghindari Peperangan, aku tak bisa mencegahnya!!! padahal aku yang bertanggung jawab akan Kerajaan dan Tanah ini, apalagi keselamatan kau, Sofea!!!"

__ADS_1


Sofea hanya diam menangis menjahui Ardelof yang mengumpat melihat ruangannya yang hancur, untung saja ia tak menggunakan kekuatannya disini hingga bisa membuat Sofea terluka.


"Aku takut!! Aku ...Aku sangat takut, Sofea! jika..jika aku tak bisa menjaga kalian!! aku..aku takut kau.."


Grepp..


Sofea berlari hingga ia lansung memeluk Ardelof yang juga memeluknya erat hingga tangis Sofea pecah dengan mata Ardelof yang tak menangis tapi ia hanya meluapkan kegelisahannya.


"Aku..Aku sangat takut, Sayang! aku tak bisa melindungimu dan anak kita! aku..aku tak akan memaafkan dirku sendiri jika kalian sampai.."


"Sutttt! tidak, semuanya akan baik-baik saja. tidak ..tidak akan ada hal buruk terjadi, hm?"


Sofea menatap Ardelof penuh keyakinan hingga mata biru pria itu bersitatap lama dengan mata sendu Sofea yang menenagkan baginya.


"Jangan pernah tinggalkan aku."


"Tidak akan, aku yakin dan percaya walau apapun yang terjadi Cinta kita akan tetap sama bahkan bisa mengalahkan semuanya, kau harus yakin. aku ada bersamamu, hm?"


Ardelof menghangat mendengar kata-kata itu hingga ia lansung menyambar bibir Sofea yang dengan suka rela melayani pergumulan lidah itu hingga keduanya saling membelit lidah meluapkan gejolak rasa yang tadi sudah pecah.


"Emm!"


Sofea menggeram halus saat kedua tangan Ardelof sudah berjelajah kesemua daerah tubuhnya bagian atas hingga ia terbuai terus memberikan ciuman berapi membakar hasrat yang membara.


Dengan lidah yang saling membelit Ardelof menuntun Sofea menuju Sofa dibelakang kursinya yang masih utuh dan terhindar dari serakan barang, ia tak membiarkan kaki Sofea menyentuh perabotan yang pecah hingga Ardelof mengangkat pelan dan mendudukannya diatas Sofa empuk sana.


"Enguh!"


Sofea melenguh meremas rambut Ardelof saat ciuman panas pria ini sudah turun menyusuri leher jenjangnya hingga mata Sofea terpejam menikmati setiap cumbuan bibir itu sampai membakar aliran darahnya.


"Ouchh!"


Sofea memerah saat Ardelof sengaja memberikan jilatan halusnya dibagian gumpalan dagging empuk itu hingga Blazer yang ia pakai sudah terlepas menyisakan Gaun Malam bertali kecil yang sangat Transparan membuat jakun Ardelof naik turun melihat lekukan indah nan sexsi ini.


"Tunggu!"


Sofea menahan tangan Ardelof yang ingin membuka Pakaiannya membuat wajah merah gairah pria itu lansung menatap Sofea tak sabaran, deru nafasnya juga sudah memburu dengan tatapan berat tak terhingga.


"Apa?" serak Ardelof.


"Jawab jujur! apa aku wanita pertamamu?"


"Shitt!"


Ardelof mengumpat lalu membuka Resleting celananya hingga benda perkasa itu sudah terlihat meradang seperti tombak yang gagah perkasa, Ardelof dengan cepat menarik tangan Sofea memeggangnya hingga Sofea bisa merasakan keras dan besarnya benda yang selalu menyiksanya dengan kenikmatan ini tapi ia suka, entahlah ia sudah mulai Mesum.


"Jawab!"


"Apa tak bisa diteruskan, ha?"


"Tidak, jawab dulu."


"Kau yang pertama dan terakhir, jadi jangan menunda!"


Geram Ardelof tapi Sofea masih saja ingin bertanya hingga Ardelof memaksa tanpa ada penolakan, ia merobek Pakaian istrinya sendiri seakan menjadi pejantan kelaparan malam ini.


Tapi, Sofea kembali bertanya tentang luka ditangannya tapi Ardelof tak menghiraukannya hingga malam ini mereka bagi berdua.


Tentu saja Sofea hanya bisa memberontak diawal, tapi saat benda itu sudah memasukinya maka jeritannya akan lebih keras membuat Ardelof sungguh gemas tapi ia senang karna Sofea sangatlah mementingkan Kepuasannya begitu juga sebaliknya.

__ADS_1


.....


Vote and Like Sayang..


__ADS_2