
Malam itu semangkin berkabut, lulungan anjing dari luar sana terdengar begitu menyeramkan dengan kedinginan bulan yang mendaki tengah malam.
Rambulan itu telah bertapa lama dengan sinaran bening keabuannya lansung menghunus lapangan luas dengan Kemegahan Istana yang sudah diselimuti kabut kemurkaan dan kemarahan disetiap jiwa yang menggelora.
Berjejerlah para manusia berpakaian resmi Jas menanti seorang pria yang sudah berada didalam Mobil dengan berani turun tanpa menghiraukan sesosok yang tadi menunggunya didepan Pintu Istana sana dengan wajah kelamnya yang menggetarkan nyawa.
"A..Ard!"
Sofea menggeleng saat Ardelof membuka pintu Mobil disampingnya dengan uluran tangan itu, ia takut jika terjadi sesuatu pada pria ini hanya karna kehadirannya.
"Tak apa!"
"Tapi, aku.."
Ardelof tak mengindahkan penolakan Sofea hingga ia tetap menggenggam tangan wanita ini untuk keluar dari Mobil dengan tatapan dan wajah datar namun penuh kewaspadaan.
Dengan penuh kepastian Ardelof melangkah maju mendekati Raja Petratolison dan Ratu Rosmeryna dengan Vanelope yang hanya diam menunggu kemarahan Raja meruak menghancurkan wanita yang tertutup oleh bahu Ardelof yang kekar.
"Salam, Yang Mulia!"
Ardelof masih mengutamakan kehormatannya dengan Sofea yang hanya diam menyembunyikan wajahnya dibalik bahu Ardelof yang tahu wanita ini merasa terancam dengan tatapan menajam dan aura kelam Raja Petratolison.
"Kau membawa lalang kering ke Istana ini!"
"Lebih tepatnya, Lapangan hijau penuh bunga!" jawab Ardelof santai dengan suara tegasnya lalu menoleh kearah Sofea yang menunduk.
"Angkat wajahmu!"
Whusss..
Mereka semua terlonjak kaget melihat wajah Sofea yang lansung berpantulan dengan rembulan sana, bulu mata lentik dengan bentuk pelupuknya yang sangat indah belum lagi bentuk wajahnya yang mungil tapi sesuai Porsinya, tinggi badan yang pas dengan bentuk tubuhnya begitu menggiurkan terbentuk dari Mantel sana.
"B..Bagaimana bisa?"
Batin Vanelope terkejut melihat wajah Sofea bagaikana Anime-Anime fantasi, bibir mungilnya begitu segar merah sensual dengan tatapan mata khas yang sangat anggun dan lembut disempurnakan dengan Kulit putih nan bersih polos dan pulen.
"Dia Istriku!"
Duarrrr..
Mereka semua semangkin dibuat terbungkam hingga sampai Ratu Rosmeryna dan Vanelope tak sanggup berdiri hingga mereka berpeggangan ke dinding mendengar ucapan Ardelof barusan.
"Kau menikahinya?"
"Hm, aku tentu akan menyia-nyiakan waktu. Mahluk sempurna tanpa NODA KOTOR sepertinya sangat langka ditemui!" Ardelof menjawab pertanyaaan Vanelope dengan penuh penekanan seakan meluapkan rasa benci dihatinya.
"Kau memang ingin menghancurkan nama baik Kerajaan Alison, Ardelof!!!!"
__ADS_1
Suara bentakan Raja Petratolison lansung mendatangkan dentuman diatas sana membuat Sofea lansung ditarik Ardelof pelan masuk kedalam pelukannya tanpa menghiraukan semua orang yang begitu menatap kagum paras Istrinya.
"Kau belum keluar, pergila ke dekat Rakyatmu. apa Kerajaan ini memang begitu baik atau malah merugikan mereka!"
"Apa ****** ini memang begitu mempengaruhi otakmu, hm?"
Ardelof lansung mengepalkan tangannya kuat dengan wajah berubah mengeras membuat Sofea mulai merasakan getaran ditanah ini sampai membuat seluruh Pengawal gemetar merasakan tanah Istana yang bergetar sesuai urat kemurkaan yang tercipta dikepalan tangan Ardelof.
"TUTUP MULUTMU!!!!"
Whusss..
Brakkkk..
"Aaaaa!!!!"
Satu hembusan angin saja mampu membuat Istana Selatan dan bagian Dermaga sana hancur hingga membuat air itu meruak seperti gelombang kepermukaaan melahap Pengawal yang berjaga disampingnya diselingi teriakan para Pelayan di Istana Selatan.
Bagian bawah lantai yang dipijaki Raja Petratolison lansung retak hingga membuat pria itu menguarkan kebatinannya mencoba mempertahankan titik tubuhnya karna Ardelof mengguncang daerah Istana tapi tidak dengan Sofa yang lansung menurut saat Ardelof menyuruhnya berpijak diatas kakinya membuat Vanelope benar-benar terbakar api kecemburuan.
"A..Ard, kendalikan dirimu. Nak!" ucap Ratu Rosmeryna karna ia takut Raja Petratolison ikut membalas dan terjadilah pertempuran dahsyat yang mampu membuat Istana besar ini roboh jika sampai dua batin kuat ini berbenturan.
"Ku peringatkan padaku. kau adalah satu-satunya Putra Mahkota Alison, jika kau masih mempertahankannya. kau juga tak akan bisa mengakuinya dihadapan Rakyatmu karna dia.."
Raja Petratolison menatap rumit Sofea, ia saja merasa sangat terpukau dengan wanita ini tapi ia tahu betul Sofea memiliki rumor yang buruk hingga bisa mengacaukan segalanya, apalagi wanita ini bisa saja mengendalikan Ardelof hingga ia tak bisa menduga pria ini akan apa kedepannya.
"Hanya WANITA SIMPANAN , Bagimu!"
Sekarang, tinggalah Vanelope dan Ratu Rosmeryna yang menatap Ardelof penuh kesenduan dan kecewa. tapi Vanelope begitu geram saat Sofea begitu intim dengan Ardelof-nya.
"Aku pergi!"
"Tunggu!"
Ratu Rosmeryna menghentikan langkah Ardelof yang mengeratkan pelukannya pada Sofea, ia tahu wanita ini sedari tadi sudah takut dengan kekelaman Raja dan ia tak ingin Sofea mendengar kata-kata kasar itu lagi.
"Dia benar sudah kau nikahi, Ard!"
"Hm, dia Istriku!"
Ada rasa lega dihati Sofea saat Ardelof mengakuinya sebagai seorang Istri, bahkan ia merasa ada bunga yang mekar mengalahkan rasa takut tadi hingga wajahnya semangkin terlihat mempesona.
"Tapi, dia hanya bersetatus denganmu dan dimatamu. tapi bukan di mata orang lain!"
"Benar, Ard! sekuat apapun kau mengakui dia Istrimu tapi Masyarakat akan tetap menjodohkan kau dan aku!" tegas Vanelope lalu melangkah pergi menatap penuh permusuhan Sofea yang tak gentar menatap matanya sama sekali.
"Dia siapa?"
__ADS_1
"Kau tak perlu tahu!"
"Tapi,.. Dia sangat menyebalkan!" umpat Sofea menatap kepergian Vanelope yang sedang merencanakan sesuatu, ia tak akan membiarkan Sofea menang begitu mudah.
"Jangan perdulikan siapapun, Keluargamu tak ada disini. hanya aku dan aku. Kau mengerti?"
"Dari dulu kau juga bilang begitu, Hanya AKU, dan AKU. seakan di Dunia ini tak ada orang lain!"
"HANYA AKU!" Tekan Ardelof menangkup pipi Sofea yang mengadah menatapnya rumit, dari mata biru yang gelisah ini Sofea merasakan Ardelof begitu takut akan sesuatu hingga ia selalu ditekan agar tunduk.
"Tidak ada orang lain, hanya Ardelof. kau milikku, aku yang berhak atas kau! Katakan itu padaku!" sambung Ardelof terdengar sangat menginginkan itu dari Sofea.
"Ha..hanya kau, aku milikmu dan kau yang berhak atas aku. apa itu tak berlebihan?" diujung kata Sofea terdengar menggelikan tapi Ardelof sudah sangat senang hingga ia mengecup lama menekan bibir Sofea hingga membuat para pelayan sana terbatuk melihat Putra Mahkota yang Tempramental itu semesra ini bahkan sangat terlihat gila.
"Tidak, itu terdengar manis kalau kau yang mengucapkannya!"
"Hm, Baiklah! aku ngantuk, apalagi kau tadi sangat menyeramkan!" bisik Sofea saat Ardelof menggendongnya ringan menuju Lift, tentu Ardelof tak akan menyia-nyiakan waktu sampai Sofea luluh karnanya.
Setelah beberapa lama, Sofea didalam Lift dibuat kesal beberapa kali menolak karna Ardelof sudah mencumbu lehernya. ia tak ingin terlalu intim sedangkan masalah baru saja terjadi.
"Aku ngantuk, Ard!"
"Sial!!!"
Umpat Ardelof keluar dari Lift dengan wajah masamnya seakan dilempar batu hingga ia melepas gendongannya tepat didepan pintu kamar seraya membantu Sofea berdiri.
"Kau mau kemana?" Sofea mencengkal tangan Ardelof yang ingin pergi.
"Aku ada urusan sebentar, kau duluan saja! aku akan menyusul, nanti!" Ardelof mengecup bibir Sofea kilas.
"Tapi, jangan lama-lama!"
"Aku tahu, Istriku sangat merindukanku!"
Sofea bersemu mencubit dada bidang Ardelof dan lansung masuk kekamar hingga Ardelof menggeleng dengan senyum singkat nan kecilnya.
"Suami, dan kau Istriku!"
Gumam Ardelof kembali memasukan kedua tangannya ke kedua sisi saku celana lalu merubah raut wajah kembali datar melangkah menuju Ruang Kerjanya.
Sementara Sofea didalam sana terpekik saat melihat satu ruangan yang biasa kosong karna digunakan untuk menyimpan Sepatu seketika dibuat gemilang dengan Lemari kaca khusus Pitanya serta Tas dan Sepatu yang juga sama.
"I..Ini kan.."
Sofea menutup mulutnya tak percaya, ini adalah Pita-pita yang tadi di Mall ia ingin beli. apalagi semuanya ada membuat Sofea berjingkrat kegirangan lalu menutup wajahnya karna malu jika pria itu benar-benar melakukan ini.
"Dia sangat romantis!" gumam Sofea menepuk pipinya merasa haru sekaligus senang. Sofea tak tahu kalau dua kariawan yang tadi memakinya itu juga sudah tergantung di Dimensi gelap Suaminya.
__ADS_1
.....
Vote and Like Sayang..