Si Bar-bar Bunga

Si Bar-bar Bunga
Bab 10 Perdebatan


__ADS_3

Malam tiba ...


Di meja makan Aldi, Jelita maupun Bunga tak ada satupun yang mengawali obrolan mereka bertiga bungkam dengan tenang sambil makan malam.


Bunga diam karena masih marah sedang Aldi dan Jelita diam karena merasa kesal dengan kelakuan putrinya tadi.


"Sayang,"


"Hm,"


"Kamu tahu kan ayah sama mama sayang kamu!"


"Tahu!"


"Kamu juga tahu kan, jika yang kami lakukan demi kebaikan kamu!"


"Tahu!"


"Jadi apa kamu mau menerima perjodohan ini!"


"Tidak!"


"Kata Bunga tidak ya tidak ma!"


"Sayang,"


Tegas Aldi ikut bicara membuat Bunga terdiam jika sang ayah yang bicara.


"Setidaknya kamu lihat potonya dulu atau ketemu baru kamu bisa putuskan!"


"Pokoknya Bunga tak mau, Bunga tahu orang yang akan mama jodohkan sama Bunga orangnya jelek, buluk, gendut, bahkan gigi depannya gak ada,"


Cerocos Bunga membuat Jelita dan Aldi melongo mendengar penuturan sang putri. Sejak kapan mereka bertemu dan kenapa yang sang putri sebutkan berbeda jauh dengan aslinya. Apa kepala putrinya terbentur atau bagaimana.


"Sayang jelek bagaimana, dia ganteng kok kaya ayah!"


"Ya ampun mama orang kaya gitu di bilang ganteng, ganteng-an ayah tahu!"


Aldi hanya bisa diam melihat istri dan putrinya berdebat dua-duanya tak mau yang mengalah.


"Terus kamu tahu dari mana jika orang itu jelek!"


"Dari mimpi!"


Hah ...


Aldi dan Jelita di buat melotot dengan jawaban santai Bunga membuat mba Kus dan pelayan lain hanya bisa menahan senyum mendengar perdebatan majikannya yang terdengar gemas-gemas bagaimana gitu.


"Sudah ah, Bunga kenyang mau ke kamar!"


"Bunga mama belum selesai bicara!"


"Nanti saja ma, Bunga sudah ngantuk!"


Dam ...


Jelita lagi-lagi menahan nafas mendengar jawaban absurd sang putri. Bagaimana bisa Bunga berkata seperti itu dengan entengnya.


Huh ...


Huh ...


"Sayang minum dulu.,"


Ucap Aldi menahan tubuh sang istri yang mulai memegang dadanya. Seperti jika begini terus penyakit jantung Jelita benar-benar kambuh.


Jelita meminum air yang di berikan sang suami.


"Ayah!"


Rengek Jelita memelas meminta sang suami yang membujuk putri mereka. Jika Jelita terus maka di pastikan akan hanya ada perdebatan terus.

__ADS_1


"Iya ayah nanti yang bicara sama Bunga, habis mama sih emosian,"


"Ayah nyalahin mama!"


"Tidak ma tidak, sudah yuk kita selesaikan makan!"


Ucap Aldi mengalihkan pembicaraan jika di teruskan maka tak akan pernah ada solusi.


Aldi menghela nafas lega ketika sang istri menurut. Huh, rasanya Aldi semakin pusing menghadapi dua wanita kesayangannya sudah di pastikan sikap Bunga turun dari Jelita.


Dua-duanya sama-sama sembrono tapi Aldi menyayanginya.


.


Di kamar Bunga terus saja meninju guling karena kesal kedua orang tuanya bukan minta maaf malah semakin gencar ingin menjodohkannya. Entah harus dengan cara apa lagi Bunga menolak.


Apa harus kabur atau bagaimana, tapi kabur kemana sedang sang ayah pasti mencarinya.


"Akhhh ... aku gak mau menikah!!!"


Teriak Bunga terus memukul-mukul guling tak bersalah menjadi sasarannya.


"Ayah sama mama kenapa sih harus nyuruh nikah kecil-kecil Bunga kan baru naik kelas XI hiks ..,"


Brak ....


Kali ini Bunga menendang bantal hingga terpelanting menuju lemari membuat buku-buku yang ada di sana berjatuhan.


Huh ...


"Cape!"


Bunga menghela nafas berat karena cape terus marah-marah.


"Andai saja yang mama jodohkan dewa Yunani waktu itu aku tak akan menolaknya!"


"Tapi yang mama jodohkan sangat jelek!"


Padahal Bunga sendiri belum melihat poto atau CV nya. Tapi dengan bodohnya sudah meng-klaim seperti itu.


Bunga membuka membuka pintu menuju balkon kamarnya. Bunga duduk di sana sambil memandang keatas sana.


Bintang-bintang bertaburan dengan kelipatan-nya sendiri sangat indah memanjakan mata. Di hiasi juga oleh bulan sabit yang membuat langit di atas sana sangat sangat indah.


Sejenak Bunga menghirup udara malam dengan pandangan terus ke atas seolah kedipan bintang memanggil Bunga.


"Hey bulan, andai calonku bersinar seperti mu aku tak akan menolak nya. Tapi yang bersinar hanya giginya saja!"


Gumam Bunga dengan mata sayu nya tak hentinya menatap ke atas.


"Hey bintang, andai calonku berseri seperti mu yang di pandang memanjakan mataku tapi laki-laki berseri bukan memanjakan mataku tapi malah membuat aku ketakutan!"


"Huh, kenapa nasib ku seperti ini!"


Menolong Bunga terus mengajak berbicara bintang dan bulan seolah dua makhluk itu mendengarkan dirinya.


"Wahai angin, aku harus apa! mama sama ayah sudah membuat keputusan sangat bulat tapi aku belum bisa membuat solusi!"


"Apa aku harus kabur, tapi aku takut bagaimana kalau aku di culik!"


Bunga terus saja berbicara sendiri bak orang gila tak peduli entah berapa lama ia di luar.


Sendari tadi hanya curhat pada malam yang sunyi.


Sudah dulu ya curhatnya, aku masuk dulu mau tidur!"


"Hey bintang hey bulan jangan nakal kalian dan jangan berpaling dari ku. Jika itu terjadi aku akan buat kau menangis!"


Monolog Bunga lagi sebelum benar-benar masuk ke dalam. Curhat yang ujung-ujungnya mengancam entahlah apa yang Bunga lakukan kenapa menggemaskan sekali.


Bibir mungilnya tak hentinya berbicara seolah Bunga tak merasakan lelah.

__ADS_1


Bunga merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap langit-langit.


"Ya Allah semoga mama sama ayah berubah pikiran besok, amin!"


Sesudah berdoa Bunga memejamkan kedua matanya berharap ia akan mimpi indah.


"Bunga,"


Bunga membuka kedua matanya ketika mendengar namanya di panggil.


"Akhh ... siapa kau!"


Jerit Bunga bangun dari tidurnya menendang sosok menakutkan di atas ranjangnya.


"Siapa kau kenapa ada di sini!"


"Saya calon suami kamu,"


"Tidak tidak, mana ada calon suami ku buluk seperti mu!"


"Saya memang calon suami kamu, suka tak suka kamu harus terima!"


"Hey beraninya kau mengancam ku!"


"Bukan mengancam baby, sebentar lagi kita akan menikah!"


"Tidak-tidak pergi kau dari kamarku!"


"Tidak,"


"Hey apa yang kau lakukan!"


Bentak Bunga ketakutan ketika tangannya di cekal erat oleh sosok buluk di depannya.


Bruk ....


Bunga terjatuh keatas ranjang akibat dorongan orang tersebut.


"Akhh .. mama ayah tolong Bunga hiks ..,"


Jerit Bunga ketakutan ketika orang yang mengaku calon suaminya naik keatas ranjang juga mengusung tubuh kecil Bunga.


"Lepaskan saya hiks .., tolong!"


"Saya tak akan melepaskan kamu, kamu sebenar lagi akan menjadi milikku seutuhnya ha .. ha ...,"


"Tidak hiks .. tidak!!!"


"Menjadi istriku!"


"Tidak mau tidak hiks ... lepas!!"


Berontak Bunga ketika calon suami buluk nya akan mencium dia.


"Tidak!!!"


Jerit Bunga terbangun dari tidurnya dengan nafas memburu. Keringat dingin membasahi pelipis Bunga bahkan baju tidur Bunga sampai basah.


Mimpi itu lagi, kenapa begitu menyeramkan dari yang pertama kenapa mimpi itu seolah nyata.


Bunga memeriksa tubuhnya takut ada yang lecet. Bunga bernapas lega ketika pakaian masih lengkap.


"Ini hanya mimpi ini hanya mimpi ini hanya mimpi!"


Ucap Bunga mengulang-ulang sambil menepuk-nepuk pipi nya.


"Ya ini mimpi!"


Lilir Bunga bernafas lega sungguh mimpi tadi sangat sangat menakutkan bahkan sampai membuat Bunga sesak nafas.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ....


__ADS_2