
Bunga dan Amira merasa heran kemana perginya Shofi kenapa menghilang tanpa jejak.
Bahkan di cari pun tak ada membuat Amira dan Bunga memutuskan mencari ke kelas saja mungkin Shofi sudah ada di sana.
Tapi ketika mereka sudah sampai di kelas tetap mereka tak mendapati Shofi di sana membuat Bunga dan Amira saling pandang.
Huh ...
Tiba-tiba Shofi datang seperti jelangkung membuat Bunga terkejut.
"Dari mana kamu?"
Tanya Amira kesal karena Shofi menghilang tiba-tiba.
"Maaf, habis dari toilet!"
Bohong Shofi karena tak mungkin memberi tahu yang sebenarnya.
"Terus itu kenapa pakai kacamata lagi?"
"He .. he .., tadi mataku kelilipan jadi aku pakai kaca mata lagi!"
Bunga dan Amira hanya mengangguk-angguk kepala saja.
Tak lama guru masuk membuat kelas seketika hening.
Nampaknya hari ini bagian pelajaran matematika pelajaran yang tak Bunga sukai. Pasalnya Bunga sangat malas sekali berhitung.
Walau malas tapi jika sedang mengerjakannya jawaban Bunga pasti betul semua.
Itulah anehnya Bunga terlihat bodoh tapi jika di tanya dia selalu bisa menjawab.
"Akhirnya!"
Ucap Bunga lega karena belajarnya sudah selesai.
"Kantin yuk, aku lapar!"
Ujar Bunga di angguki oleh Shofi, mereka bertiga pergi ke kantin.
Tak lama geng Fatih datang duduk di sana seolah mereka pasangan. Sedang Amira berada di antara Moreo dan Rangga.
Melihat itu semua membuat Amelia kepanasan. Pasalnya dia sulit sekali mencari perhatian Fatih. Jangankan perhatian melirik pun Fatih tak pernah.
Bunga merasa heran kenapa hari ini Fatih nampak berbeda. Biasanya selalu mengusik Shofi tapi kali ini tidak. Namun Bunga tak mau ambil pusing benar kata Raja itu urusan mereka berdua.
"Diam!"
Bentak Amira tiba-tiba membuat Bunga terkejut.
Amira sangat kesal sekali pada Moreo dan Rangga menggangunya terus membuat Amira sulit makan dengan tenang.
"Makan atau ku colok mata kalian!"
Glek ...
Bunga menelan ludahnya kasar mendengar ancaman Amira. Sungguh jika sedang marah Amira begitu menakutkan.
Walau begitu Bunga tersenyum Gili melihat Moreo dan Rangga seperti anak kucing.
Sungguh Bunga benar-benar aneh ada apa dengan geng Fatih kenapa sekarang terlihat akrab padahal merek tak sekarang itu.
Sudah selesai makan, mereka semua kembali ke kelas karena masih ada pelajaran yang harus mereka perhatikan.
__ADS_1
Karena sebentar lagi mereka akan ujian akhir semester di mana sebentar lagi mereka naik ke kelas XI.
Membuat pembelajaran semakin padat dan semua siswa begitu serius belajar.
Ajaibnya lagi-lagi geng Fatih selalu ikut belajar jika Bunga, Shofi dan Amira belajar. Bahkan sampai mereka menjadi akur dan hubungan Shofi dan Fatih pun tak sekejam dulu.
Sampai akhirnya waktu pulang pun tiba, hari ini adalah hari jadwal terapi Bunga. Tentu Raja akan selalu mendampingi sang istri.
Pertama-tama Bunga harus menguasai rasa takut dan mengolah emosi.
Kemoterapi Bunga memang di lakukan di apartemen mereka sendiri karena Raja tahu sang istri tidak mau dengan dokter langsung.
Raja melakukan apa yang dokter sarankan.
"Sayang, anggaplah jika pisau ini tidak tajam!"
Ucap Raja lembut sambil memegang tangan Bunga. Bunga memejamkan kedua matanya melihat kilauan pisau saja membuat pandangan Bunga berbeda seolah Bunga melihat pisau itu akan memotong jarinya.
"Itu sangat menakutkan mas!"
Lilir Bunga gemetar bahkan Raja bisa merasakannya karena posisi Raja tepat di belakang Bunga. Jika di lihat sekilas mereka seperti sedang berpelukan.
"Tidak sayang, cobalah jangan takut ada mas di sini!"
Raja sengaja sambil memeluk Bunga agar fokus Bunga teralihkan.
Dengan perjuangan bahkan sampai keringat dingin keluar Bunga berusaha memegang pisau. Lalu dengan perlahan Bunga mencoba memotong sayuran sambil Raja mengarahkannya.
"Lihatlah sayang, pisau ini gak menyakiti kamu asal sayang hati-hati memakainya!"
Ucap Raja memeluk Bunga ketika Bunga berhasil memotong satu tangkai sawi hijau.
"Tapi tangan ku bergetar mas!"
Bunga mengangguk kaku dengan nafas memburu. Sungguh menghilangkan ketakutan itu yang sangat sulit.
Raja membawa Bunga ke ruang keluarga duduk di sana agar Bunga kembali tenang.
Terapinya tinggal satu langkah lagi yaitu darah yang paling membuat Bunga ketakutan.
Raju juga sudah menyiapkan semuanya. Raja sengaja mewarnai air bathtub menjadi merah seperti darah.
Raja harus bisa membuat Bunga menghilangkan phobia nya. Walau Raja tahu itu pasti sangat sulit bagi Bunga.
Waktu Raja tinggal satu tahun lagi agar bisa menghilangkan phobia itu.
Sudah merasa tenang Raja kembali mengajak Bunga ke dapur tapi bukan untuk terapi tapi Raja sengaja agar Bunga melihatnya.
"Sayang hanya perhatikan saja ya,"
Bunga hanya diam saja karena sulit menjawab. Bunga memerhatikan Raja memegang pisau lalu meracik bumbu-bumbunya dan memotong beberapa sayuran.
Wajah Bunga terlihat aneh memerhatikan Raja memasak kadang terlihat takut, kadang kagum, kadang sedih. Ekspresi cepat sekali berubah.
"Jangan takut sayang, lihat saja. Jika kita bisa mengendalikan pisau maka pisau ini tak akan menyakitimu!"
"Sama seperti kamu berhasil mengendalikan ku, sampai aku tak bisa menyakiti kamu!"
Deg ...
Bunga tertegun mendengar akhir kalimat yang Raja ucapkan.
Mengendalikan!
__ADS_1
Kata itu langsung tercatat jelas di otak Bunga sambil menghela nafas berat. Bunga berusaha mengendalikan rasa takut itu sampai tak terasa Raja selesai masak.
"Sudah selesai,"
Ucap Raja tersenyum puas, Raja langsung menyajikannya di meja makan dan mencuci semua perabotan alat masak.
"Apa yang kamu rasakan sayang?"
Tanya Raja menghampiri sang istri ketika sudah selesai mencuci piring.
"Emmz .., ngeri!"
Ha .. ha ...
Raja tertawa mendengar jawaban Bunga dari semua rasa Bunga malah menjawab Ngeri seolah Bunga sedang melihat Raja membunuh saja padahal Raja hanya memotong sayuran dan daging saja.
"Kok tertawa sih mas!"
Kesal Bunga memukul dada bidang Raja.
"Habis ekspresi kamu menggemaskan sayang!"
Bunga menjadi salting (Salah Tingkah) sendiri mendengar gombalan Raja.
"Kita mandi dulu ya, baru makan!"
Bunga mengangguk saja membuat Raja langsung menggendongnya bak koala. Bunga tak tahu jika Raja juga akan melanjutkan terapinya.
Akh!
Jerit Bunga tertahan ketika Raja langsung membungkam bibir sang istri.
Raja berusaha mengalihkan fokus Bunga agar Bunga merasa nyaman. Walau Raja sudah merasakan tubuh sang istri ketakutan.
"Jangan di lihat, tatap mata mas tatap!"
Ucap Raja menangkup wajah Bunga agar menatap wajahnya sedang Raja membawa Bunga perlahan menuju bathtub yang sudah Raja campur airnya menjadi warna merah.
"Tatap mata mas sayang, fokuskan ada mas di sini!"
Bunga berusaha rileks menatap mata sang suami.
Sampai mereka berendam Bunga tetap memandang mata Raja.
Raja mencium sang istri berusaha agar tubuh sang istri tak terlalu tegang bahkan Raja merangsang Bunga agar fokus Bunga benar-benar teralihkan dengan apa yang Raja ciptakan.
Bunga masih menutup mata rapat-rapat tak berani membukanya walau Bunga sudah ingin membukanya karena tak kuat dengan rangsangan yang Raja berikan. Bunga ingin membalasnya leluasa namun Bunga takut.
"Sayang bagaimana kalau mas terluka apa kamu akan menutup mata dan pergi meninggalkan mas!"
Bunga terdiam mendengar apa yang Raja ucapkan. Bagaimana mungkin Bunga membiarkan Raja terluka.
Dengan susah payah Bunga berusaha membuka matanya.
Akhhh ...
Jerit Bunga seketika tak sadarkan diri di pelukan Raja. Seperti nya phobia darah Bunga Benar-benar membuat Raja harus sabar menghadapinya.
Percobaan pertama ternyata gagal, tapi Raja akan terus mencobanya sampai sang istri sembuh walau Raja harus mengorbankan dirinya.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1