Si Bar-bar Bunga

Si Bar-bar Bunga
Bab 50 Benar-benar polos


__ADS_3

Semenjak kejadian tadi malam membuat Bunga seolah tak canggung lagi dengan Raja. Toh mereka berdua sudah sama-sama saling mengungkap cinta.


Seperti nya hari ini Bunga benar-benar bolos karena tak mungkin juga masuk sekolah di jam segini. Bunga menghabiskan waktunya di kantor tepatnya di ruang Raja. Bunga memerhatikan Raja di dalam kamar siapa saja hari ini yang bertemu suaminya.


Melihat Raja yang sedang serius membuat ketampanan Raja berkali-kali lipat bertambah. Sungguh kenapa Bunga baru menyadarinya jika suaminya begitu tampan.


Bahkan tak henti-hentinya Bunga menatap Raja.


Namun detik kemudian wajah Bunga berubah menjadi kesal. Entah apa yang Bunga lihat kenapa raut wajahnya terlihat mengerikan sekali.


Bahkan berkali-kali Bunga ingin keluar dari tempat persembunyian nya namun Bunga berusaha menahannya.


Di luar Raja berkali-kali mengelus dadanya karena Tifani sudah keluar dari ruangannya. Raja menatap ke arah lemari Raja yakin sang istri pasti melihat apa yang terjadi.


Entah apa yang akan Raja dapatkan apa sikap cuek Bunga atau kemarahan Bunga.


Raja menghela nafas berat sebelum masuk kedalam kamar.


Glek ...


Raja menelan ludahnya kasar ketika Bunga sudah berdiri di depan pintu dengan tangan bercak pinggang bahkan mata Bunga melotot menatap tajam Raja seolah Raja akan di kuliti.


"Sa-sa--"


"Apa! mau bilang tidak seperti yang kamu lihat. Aku sudah lihat semuanya!"


"Kau tuh ya, bisa-bisa tak mengusir ulat bulu itu. Dasar laki-laki sudah dapat malah cari yang baru lagi!"


"Enggak gitu saya--"


"Gitu bagaimana, siapa perempuan tadi hah. Kenapa pegang-pegang tangan kamu?"


"Cantikan aku, kenapa masih tertarik sama tuh orang!"


Bunga terus marah dengan nafas menggebu-gebu bahkan tak memberikan Raja kesempatan untuk ngomong.


Raja hanya bisa menelan ludahnya berkali-kali ternyata ketika marah Bunga sangat menyeramkan sekali.


Bahkan lebih menyeramkan dari pada sang mommy.


"Kenapa diam, jawab siapa perempuan tadi?"


"Sekertaris ak--"


"What!"


Pekik Bunga tak percaya semakin menatap Raja tajam. Bagaimana bisa Raja mempunyai sekertaris memakai baju kurang bahan bahkan belahan dadanya saja terlihat mau dagang atau apa.


Raja semakin di buat mati kutu, kenapa Raja jadi anak kucing begini. Di mana raja yang dingin dan tegas tapi di hadapan sang istri Raja bak kucing anggora saja.


"Kamu selingkuh, mas?"


Ucap Bunga mulai melemah menatap Raja berkaca-kaca. Bagaimana bisa Raja selingkuh ketika sudah membuatnya tak perawan lagi.


Apa Raja akan meninggalkannya setelah Raja berhasil membuat Bunga jatuh cinta. Apa ia hanya di jadikan pelampiasan nya saja.


"Kamu selingkuh, hiks ,,,"


Raja terkejut melihat Bunga malah menangis membaut Raja kebingungan.

__ADS_1


"Sayang, kamu bicara apa!"


Ucap Raja menarik sang istri kedalam pelukannya. Walau Bunga memberontak Raja tetap memeluknya erat.


"Aku tak selingkuh, Tifani hanya sekertaris aku tak lebih dari itu!"


"Tolong percayalah, mana mungkin aku selingkuh aku bukan orang seperti itu!"


"Kamu sudah cukup bagiku, aku bersyukur bisa memiliki kamu. Mendapatkan hati kamu saja susah buat apa pada ujungnya aku melepas kamu!"


"Hanya laki-laki bodoh yang melepaskan kamu, setelah berjuang!"


Bunga tetap menangis di pelukan Raja kenapa Bunga jadi cengeng seperti ini. Padahal tak biasanya Bunga menangisi seseorang selain kedua orang tuanya dan anak-anak pengamen.


"Maafkan aku ya, jangan menangis. Kamu hanya salah faham!"


Raja berusaha menenangkan Bunga antara lucu dan sedih Raja rasakan. Ternyata jika cemburu Bunga seperti ini. Namun Raja sedih juga karena tampa sadar sudah membuat sang istri menangis.


"Tapi tadi!"


"Tenang dulu ya, kalau sayang emosi gini mas sulit jelasin!"


Bunga mengangguk bak anak kecil yang menurut pada ibunya. Sambil mengelap ingus menggunakan kemeja Raja. Raja hanya pasrah dengan kelakuan istri kecilnya.


"Dia teman kuliah mas,"


"Dia memang menyukai mas dari dulu, tapi mas tak pernah tertarik dengannya!"


"Percayalah, mas tak mungkin curang. Kamu sudah lebih dari segalanya!"


"Tapi aku kecil, bahkan ini ini saja tak sebesar Tante tadi!"


"Bagi mas, ini tak sekecil itu apalagi yang di bawah sangat menggigit!'


Bluss ...


Wajah Bunga memerah mendengar ucapan absurd Raja. Mulutnya kenapa tak bisa di rem kenapa harus di sebutin juga.


"Sudah percaya!"


Bunga mengangguk malu-malu sambil menyembunyikan wajahnya di balik selimut.


"Sekarang temenin mas ya makan siang!"


Bunga mengangguk cepat dengan rona di wajahnya.


Kenapa setiap orang jatuh cinta seperti orang tak waras. Dunianya pasti teralihkan tanpa peduli bertingkah apa sekarang.


Bunga menyiapkan makan siang untuk Raja, lihatlah perlakukan Bunga seperti istri Sholehah padahal beberapa menit lalu marah-marah bahkan melotot tapi sekarang bertingkah bak kucing.


"Terimakasih sayang,"


"Sama-sama, mas!"


Lihatlah suami istri itu begitu romantis makan siang bareng di bumbui dengan saling suap menyuapi dengan senyuman manis tak lekas di bibir mereka.


Bunga seperti sudah benar-benar terjatuh di hati Raja terbukti dari tingkah dan sikapnya.


Bunga cepat sekali berubah, jiwanya yang masih polos ketika marah hanya sebatas marah saja. Tapi tak berlarut-larut dalam kemarahan apalagi Raja begitu pintar menenangkan Bunga.

__ADS_1


Bahkan Raja juga tak menyangka jika Bunga benar-benar menerima nya. Bahkan sikapnya kini berubah walau Raja masih selalu di buat penasaran oleh setiap karakter yang Bunga keluarkan.


Ada kalanya ia dewasa, ada kalanya ia ceroboh, ada kalanya manja, ada kalanya bar-bar dan masih banyak kala lain yang belum terlihat.


Wajar di usia Bunga yang genap enam belas tahun sikapnya masih labil belum stabil. Bunga hanya sedang berusaha menstabilkan sikapnya. Apalagi Bunga sudah memutuskan menyerahkan seluruh hidupnya pada Raja. Bunga berharap Raja benar-benar laki-laki tanggung jawab.


"Sudah kenyang, mas!"


"Cuma satu suap saja, sisanya mas yang makan!"


Terpaksa Bunga menerima suapan lagi padahal perut kecilnya sudah sangat kenyang.


"Harusnya kamu makan yang banyak, badan kamu kecil!"


"Banyak bagaimana lagi, ini sudah habis dua piring!"


Kesal Bunga karena Raja terus memaksa ia menghabiskan semuanya. Sedang yang Bunga habiskan porsi laki-laki.


Sebanyak apapun perempuan makan, itu akan terlihat biasa saja karena porsi perempuan memang sedikit. Ibarat kata, satu porsi laki-laki tiga di perempuan.


"Biar kuat!"


"Ini juga sudah kuat!"


"Masa!"


Goda Raja membuat Bunga nampak kesal, Bunga mencubit lengan Raja membuat Raja meringis kesakitan.


"Itu buktinya!"


"Lah sayang, ini mah mencubit. Maksud mas biar sayang kuat berci***!"


Deg ...


Seketika mata Bunga melotot sempurna mendengar ucapan tak tahu malu sang suami.


Antara kesal dan malu bercampur jadi satu kenapa mesti di omongin sih membuat Bunga jadi terbayang.


Pasalnya ini saja masih terasa ngilu tapi Raja mau membuatnya tambah ngilu.


"Kenapa?"


"Ini saja masih sakit mas, kau ini jahat banget!"


"Itu sebabnya kita harus sering melakukannya agar tak sakit lagi!"


"Emang begitu!"


"Coba saja cari di Google!"


"Awas kalau bohong!"


Ketus Bunga dengan polosnya mencari artikel yang membahas hubungan suami istri.


Raja tersenyum puas melihatnya ternyata senang juga punya istri polos terkadang membuat Raja mencari kesempatan dalam kesempitan. Tapi jika tidak begitu Raja tak akan pernah bisa mencetak gol.


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ....

__ADS_1


__ADS_2