
"Mas!"
Bunga terkejut ketika kedatangannya di sambut oleh kedua orang tua dan kedua mertuanya.
Bunga pikir mereka akan makan malam berdua nyatanya makan malam bersama keluarga.
Walau ada rasa kecewa karena Bunga pikir ini diner pertama dia dengan Raja semenjak menikah. Nyatanya ini bukan diner mereka berdua tapi bersama kedua orang tua mereka.
"Sayang,"
"Mama!"
Bunga memeluk sang mama yang terlihat cantik.
"Bagaimana kabar kalian?"
Tanya Aldi ketika putrinya sudah duduk di samping Raja.
"Alhamdulillah kami berdua baik!"
"Syukurlah nak, mommy sangat kangen pada kalian !"
Ujar Raya tersenyum bahagia melihat wajah yang berbeda dari putra semata wayangnya.
Seperti ucapan Jelita benar jika putra putri mereka sudah benar-benar saling jatuh cinta.
Dua keluarga besar itu baru berkumpul kembali setelah pernikahan Raja dan Bunga satu tahun lebih. Karena memang itu perjanjian mereka yang tak boleh menemui kedua anaknya apapun alasannya kecuali di antara Raja atau Bunga yang memanggil.
Sungguh keluarga itu terlihat sangat akur dan kompak. Tanpa mereka sadari jika setelan para pria semuanya sama.
"Sayang apa kamu masih ingat perjanjian pernikahan kalian?"
Tanya Aldi pada putrinya membuat Bunga terdiam sambil memegang tangan Raja. Kenapa tiba-tiba sang ayah membahas hal itu bahkan Bunga sendiri sudah lupa akan hal itu.
Dengan ragu Bunga menggeleng karena takut membuat semua orang malah tersenyum membuat Bunga mengerutkan kening bingung. Bunga pikir mereka semua akan marah karena ia melupakan hal itu.
"Sesuai perjanjian pertama sudah kalian berdua lulus kalian akan melakukan resepsi pernikahan!"
"Hah!"
Pekik Bunga terkejut bahkan mulutnya menganga membuat Raja was-was melihat ekspresi sang istri.
Begitupun dengan kedua orang tua mereka terdiam melihat keterkejutan Bunga apalagi wajah Bunga yang berubah keras.
"Apa kamu tak setuju nak,"
Ucap Rijal angkat bicara karena melihat menantunya yang terlihat tak suka.
"Bukankah ini sudah ada di perjanjian, apa sekarang berubah pikiran!"
"Iya sayang, apa kamu tak setuju?"
Bunga menghela nafas mendengar penuturan kedua orang tua dan mertuanya.
"Maksud Bunga bukan seperti itu, Bunga setuju hanya kaget saja!"
Ujar Bunga polos membuat mereka semua menghela nafas lega terutama Raja.
"Tapi, bukankah Bunga belum ada KTP?"
"Kan besok sayang bikin, sisanya ayah dan Daddy yang ngurus!"
Ucap Aldi membuat Bunga memangut-mangut saja karena tak mengerti. Bagi Bunga yang penting ia punya ktp saja dan semuanya selesai.
Rijal dan Raya sangat senang ternyata menantunya tak banyak neko-neko bahkan tak banyak bicara dan menuntut apa-apa.
Bunga memang tak mau ambil pusing dengan semuanya. Bagi Bunga yang terpenting bersama sang suami untuk selamanya. Bunga pikir kedua orang tuanya akan memisahkan mereka seperti yang terjadi di film-film atau novel yang Bunga baca.
Karena melihat wajah-wajah mereka yang serius nyatanya mereka hanya membahas perihal resepsi pernikahan mereka.
Bunga tak menyangka jika ia benar-benar sudah menjadi seorang istri di usianya yang sangat muda. Sungguh Bunga tak menyangka jika jalan takdir nya seperti ini.
Namun masih banyak yang ingin Bunga ungkapkan pada sang suami namun Bunga tak seberani itu. Bunga takut jawaban sang suami tak sesuai ekspektasi nya.
__ADS_1
Bunga sekarang memilih diam saja dan akan membicarakan itu semua pada waktunya.
Sudah makan malam dan rencana resepsi sudah di tentukan tanggal dan harinya Bunga dan Raja pulang begitupun dengan kedua orang tua mereka.
Raja melirik sang istri yang nampak diam semenjak keluar dari lestoran. Seperti ada yang Bunga ingin ucapkan namun Bunga menahannya.
"Sayang,"
Panggil Raja ketika mereka sudah sampai di apartemen.
"Iya!"
Raja menepuk pahanya mengisyaratkan agar Bunga duduk di pangkuannya.
Bunga berjalan menghampiri sang suami lalu duduk di atas pangkuannya.
"Katakan?"
"Apa!"
Beo Bunga tak mengerti dengan ucapan sang suami.
"Mas tahu ada sesuatu yang ingin sayang katakan, katakan lah!"
Bunga menggigit bibir bawahnya sambil menunduk ternyata sang suami menyadari gelagat dia.
Sial!
Batin Raja sangat gemas ketika sang istri malah menggigit bibir bawahnya.
"Sayang, jangan begini! katakan sebelum kamu menyesal!"
Bunga menatap wajah sang suami hingga mata mereka saling bertemu.
"Apa ketika sudah resepsi aku masih bisa melanjut kuliah!"
Cicit Bunga menggigit bibir bawahnya kembali takut Raja tak setuju akan hal itu. Bunga tahu posisi dia bagaimana sekarang dan tentu apa-apa harus berunding dulu dengan sang suami.
"Menurut sayang!"
"Mas!"
Raja membelit pinggang sang istri dengan satu tangan mengelus lembut pipi sang istri.
"Dengarkan mas baik-baik karena mas tak akan mengulanginya lagi!"
"Sayang akan tetap melanjutkan studi di manapun sayang mau, mas yang akan mengikuti kemana kamu pergi karena mas gak mau egois menahan burung yang ingin terbang tapi--"
Raja menghentikan ucapannya sambil mengelus bibir Cherry sang istri. Tatapan Raja tak lepas dari objek itu yang selalu menjadi candunya.
"Ingatlah kemana sayang harus pulang, hm ...,"
Seketika senyum Bunga mekar mendengar ucapan sang suami yang menyejukkan hatinya. Sungguh Bunga pikir Raja akan melarangnya. Ah, begitu bahagia nya Bunga punya suami pengertian seperti ini.
"Aku tak akan pernah lupa kemana ku harus pulang mas!"
Ucap Bunga lembut sambil menepuk pelan dada Raja.
"Karena di sini tempat ternyaman bagi ku!"
Lanjut Bunga sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang Raja.
Hati Raja berbunga mendengar jawaban sang istri yang sungguh menentramkan hatinya.
"Mas!"
"Hm,"
"Ada lagi!"
"Apa?"
"Bagaimana dengan masalah anak?"
__ADS_1
Deg ...
Raja tertegun mendengar kata anak kenapa Raja lupa akan hal itu. Ya, masalah anak pasti akan muncul ke permukaan jika mereka belum persiapan.
"Mas--"
"Apa mas tak mau punya anak dari Bunga?"
"Bukan begitu sayang, mas hanya taku--"
"Takut Bunga belum siap!"
Potong Bunga cepat membuat Raja mengangguk.
Bunga menangkup wajah sang suami lembut menatapnya penuh cinta.
"Ketika Bunga memutuskan menerima mas dan pernikahan ini berarti Bunga sudah siap dengan semuanya mas, termasuk punya anak!"
"Aku tahu Bunga masih kecil, kekanak-kanakan, manja, bar-bar, ceroboh tapi Bunga bukan berarti tak bisa mengurus anak!"
"Bunga siap mengandung mas!"
Cup ...
Raja langsung menyambar bibir sang istri ganas karena sudah tak kuat menahannya lagi. Bunga terdiam sejenak karena terkejut dengan serangan dadakan sang suami.
"Mmm,,, mas!"
Ucap Bunga melepaskan tautan sang suami. Bunga menahan dada sang suami yang akan menciumnya lagi.
"Sayang!"
"Jawab dulu pertanyaan Bunga!"
"Hm,"
"Bagaimana dengan mas, apa mas sudah siapa?"
"Mas tak akan menyentuhmu jika tak siap!"
Cup ...
Jawab Raja cepat kembali mencium bibir merah sang istri.
Ah, sayang kenapa kau begitu memabukkan.
Jerit batin Raja menyesap rasa manis di bibir sang istri. Raja langsung menggendong sang istri menuju kamar.
Raja membaringkan sang istri di atas ranjang dengan tautan bibir yang masih menyatu. Tangan Raja tak bisa tinggal diam membuka jas dan melemparnya ke sembarang arah.
"Sitt, mas!"
Geram Bunga mabuk kepayang ketika sang suami menurunkan ciumannya ke leher dan telinga Bunga.
Sungguh Bunga di buat kewalahan mengimbangi ciuman sang suami yang menggebu tak biasanya.
Entah sejak kapan mereka berdua bak baby baru lahir.
Plak ...
"Sayang!"
"Kenapa pakai benda sialan itu lagi!"
Geram Bunga sungguh tak suka pada benda kecil itu yang selalu membungkus milik Raja ketika mereka melakukan penyatuan. Itu sangat tak enak dan mengganjal selama ini Bunga diam saja tapi semuanya berubah ketika mereka sama-sama siap punya anak.
"Mas bukankah kita berdua sudah siap punya anak?"
"Tapi sa--"
"Apa karena permintaan ayah!"
Deg ....
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ....