
Percobaan demi percobaan sudah Raja lakukan walau Raja harus menyakiti dirinya sendiri tetap saja Bunga masih pingsan ketika melihat darah.
Walau Bunga sudah bisa mengendalikan rasa takutnya pada pisau namun dengan darah Bunga masih sama.
Namun Raja tetap berusaha walau harus dengan perlahan terapi lagi. Raja yakin Bunga akan sembuh secara perlahan.
Apalagi Raja tak bisa terlalu memaksa ketika Bunga di sibukkan juga dengan ujian akhir semester yang sebentar lagi mereka akan naik ke kelas XII.
Mereka selalu belajar bersama walaupun begitu ternyata Bunga pintar juga. Bahkan Raja sampai kaget ketika Bunga bisa memecahkan masalahnya sendiri. Raja pikir punya istri polos dan bodoh nyatanya Raja salah besar Bunga tak sepolos otaknya.
Bahkan nilai-nilai nya pun hampir mencapai titik kesempurnaan. Walau nilai olahraga yang paling kecil di antara yang lain karena setiap bagian olahraga Bunga selalu ada alasan apapun agar tak mengikuti olahraga.
Sampai dimana puncak yang di nanti pun sudah tiba bagi kelas XII. Di mana mereka akan melakukan perpisahan.
Acara kenaikan kelas dan perpisahan sudah di mulai sejak jam tujuh pagi. Sekolah menjadi riuh akan lautan manusia. Karena kedua orang tua dan sanak saudara juga ikut hadir dalam acara tersebut.
Acar perpisahan kelas XII sudah selesai terlaksana kini tinggal beberapa acara lagi sampai penutupan. Ada juga beberapa kreasi yang di tampilkan dan pembagian hadiah.
Namun pada acara itu semua orang di sibukkan mencari keberadaan Shofi karena tiba-tiba Shofi menghilang.
Bunga dan Amira berpencar mencari kemana Shofi pergi mereka yakin Shofi masih di area sekolah.
Bahkan berkali-kali Bunga menelepon Shofi namun sialnya ponsel Shofi tak aktif.
Bunga mencari karena belakang sekolah tetap saja di sana tak ada. Bunga mencari ke area lapang di sana juga tak ada. Merasa di gedung belakang tak ada Bunga memilih kembali.
Deg ...
Bunga diam mematung melihat Shofi berlari tergesa-gesa entah apa yang terjadi. Bunga berlari menyusul namun langkahnya terhenti ketika melihat Amira tak sadarkan diri.
Grep ....
Raja menarik lengan sang istri membuat Bunga kembali tersadar.
"Mas apa yang terjadi?"
Tanya Bunga dalam kebingungannya kenapa semua orang terlihat panik.
"Sayang nanti mas jelasin kita harus menyusul Amira!"
Ucap Raja menarik sang istri, Raja tak mau jika sang istri mengetahui yang sebenarnya karena Raja yakin keadaan akan semakin kacau ketika sang istri mengamuk.
Bunga menurut saja dan langsung masuk kedalam mobil. Bunga merasa takut dan bertanya-tanya apa yang terjadi pada Amira bagaimana bisa sahabatnya tak sadarkan diri.
Sampai di rumah sakit ternyata sudah ada banyak keluarga di sana Bunga langsung menghampiri Shofi.
"Apa yang terjadi?"
Tanya Bunga langsung pada Shofi, bukannya menjawab Shofi malah menangis membuat Bunga semakin heran.
Bunga memeluk Shofi berusaha menenangkan karena tak mungkin memaksa orang yang sedang menangis.
Lama Bunga menenangkan Shofi sampai Shofi tenang baru Shofi bisa menceritakan semuanya.
Bunga membekam mulutnya tak percaya dengan apa yang Shofi katakan. Bagaimana bisa Aditya melakukan hal seperti itu, membuat Bunga teringat perkataan Amira.
__ADS_1
"Ra, kenapa sih kamu selalu tak mau memakan coklat ini. Padahal ka Aditya baik loh. Udah ganteng, pintar, ke tua OSIS pula!"
"Kamu suka ambil saja!"
"Aisstt mana mau sama aku!"
"Dia tak sebaik yang terlihat!"
"Maksudnya!"
"Sudah ah bawel!"
Cklek ...
Lamunan Bunga buyar ketika seluruh keluarga Amira menghampiri dokter.
Bunga tak kuasa menahan air mata melihat keadaan Amira yang seperti itu. Tatapannya begitu kosong sanga kosong membuat Bunga tak sanggup menatapnya.
Sungguh malang nasib Amira kenapa harus Amira.
Aditya benar-benar brengsek jika bertemu Bunga akan membejek-bejek mukanya.
Tak bisa di bayangkan bagaimana trauma Amira tentang kejadian yang menimpanya sungguh Bunga Benar-benar geram.
Bunga menatap sendu melihat Amira kembali tak sadarkan diri.
Hari sudah mulai sore raja mengajak Bunga untuk pulang apalagi banyak keluarga Amira di sana.
Dengan berat hati Bunga izin pulang karena tak mungkin juga terus berada di rumah sakit sedang Bunga sendiri mempunyai tanggung jawab sebagai istri.
"Mas, maaf ya!"
"Harus menunggu dari tadi!"
"Tak apa, Amira juga teman mas jangan merasa bersalah!"
Ucap Raja lembut sambil memegang lengan Bunga. Bunga memeluk lengan sang suami sambil menyandarkan kepalanya di pundak sang suami yang sedang fokus menyetir.
"Jika itu terjadi pada Bunga, apa yang akan mas lakukan?"
Tanya Bunga tiba-tiba membuat Raja langsung menghentikan mobilnya.
"Mas akan menghilangkan orang tersebut di muka bumi ini!"
Bunga bergidik ngeri mendengar jawaban Raja yang sangat menakutkan. Namun detik berikutnya wajah Bunga mengeras dengan tatapan tajam.
"Maka hancurkan Bedebah itu, demi sahabat Bunga!"
Raja terdiam melihat kobaran amarah di jiwa sang istri. Jangankan Bunga Raja saja ingin sekali mematahkan tulang-tulang Bedebah itu.
"Jangan takut sayang, sudah ada yang melakukannya tanpa kita ikut campur tangan. Apa sayang lupa siapa keluarga Amira!"
Bunga mengangguk mengiyakan ucapan Raja, saking emosinya Bunga lupa jika keluarga Amira tak akan pernah melepaskan bajingan itu.
"Sudah kita jangan terlalu ikut campur, Amira pasti baik-baik saja!"
__ADS_1
"Heem,"
Bunga tak bertanya lagi ketika Raja melajukan mobilnya kembali.
Sungguh hari ini hari yang begitu menyakitkan bagi Bunga. Sebagai sahabat Bunga merasa sakit melihat keadaan Amira seperti itu. Sungguh kenapa nasib buruk menimpa orang baik.
Sudah sampai di apartemen Raja menyuruh Bunga membersihkan diri sedang Raja menyiapkan makan malam yang sempat ia beli tadi di jalan.
Raja masuk kedalam kamar bertepatan dengan sang istri baru keluar dari kamar mandi.
Glek ...
Raja menelan ludahnya kasar melihat sang istri hanya memakai handuk saja. Melihat tatap Raja yang seperti itu membuat Bunga langsung menyilangkan tangan di dada.
"Jaga matanya mas,"
"Sama istri sendiri kok suruh di jaga!"
"Aisstt, sudah sana mandi!"
Ketus Bunga melewati Raja namun tangannya di cekal oleh Raja. Raja memeluk Bunga dari belakang.
Cup ..
Raja mengecup puncak mulus sang istri sensual membuat Bunga merinding.
"Malam ini mas dapat jatah kan?"
"Tak bisakah libur dulu mas!"
Mohon Bunga bukan tak mau namun Bunga merasa ngantuk, nama bisa Bunga melayani sang suami sambil tertidur.
"Ya sudah, mas mandi dulu!"
Cup ...
Sekali lagi Raja mengecup puncak sang istri sebelum benar-benar masuk ke kamar mandi. Dengan cepat Raja menyelesaikan ritual mandinya.
Tak membutuhkan waktu lama Raja sudah selesai dengan ritual mandinya. Raja segera memakai baju lalu menyusul sang istri keluar.
Mereka langsung makan malam dengan tenang. Bunga terlihat lahap sekali makannya apalagi yang Bunga makan adalah cumi bakar makanan favorit Bunga.
Bunga selalu saja makan apa adanya bahkan Bunga tak pernah takut gemuk karena sebanyak apapun Bunga makan badannya tetap saja seperti itu.
"Pelan-pelan sayang, nanti tersedak!"
"Hm,"
Bunga kembali melanjutkan makannya. Raja memberikan minum pada sang istri.
"Terimakasih mas!"
Ucap Bunga karena Raja telah memberikannya minum. Raja seolah sudah tahu bagaimana karakter sang istri ketika makan maka Raja harus siaga menyiapkan air minum karena Bunga tak bisa makan jika tak ada air minum di samping nya.
Raja tersenyum saja menatap sang istri penuh cinta. Bunga selalu saja tampil apa adanya.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ....