
Ha .. Ha ...
Gelak tawa menggema di kamar itu melihat bagaimana penampilan Raja yang acak-acakan.
Begitupun Amira tersenyum geli melihatnya sungguh entah apa yang Bunga lakukan pada suaminya.
Bunga hanya diam saja merasa bersalah karena baru ngeh jika penampilan suaminya sangat kacau namun tetap tampan di mata Bunga.
Baju yang sudah koyak dengan rambut yang menjadi keriting. Bahkan bahu dan lengan Raja terluka hingga harus di perban. Entah seganas apa Bunga sampai membuat suaminya seperti itu.
"Diam sialan!"
Bugh ..
Raja melempar bantal yang langsung di tangkap oleh Rangga.
Sebenarnya Rangga sengaja melakukan hal itu karena Rangga ingin melihat calon istrinya yang di sembunyikan di belakang punggung Raja.
Ya, Raja posesif tak membiarkan sahabat laknatnya melihat putri cantiknya.
"Sudah-sudah mas, Bunga pusing!"
Cetus Bunga merasa lelah melihat perdebatan keduanya sedang ada baby di sana.
"Maaf sayang, habis dia!"
"Sudah, biarkan mereka melihat anak kita!"
"Sayang!"
Raja memelas tak Sudi memperlihatkannya namun melihat tatapan tajam sang istri membuat Raja cemberut mau tak mau harus menggeser tubuhnya.
"Wow, cantiknya calon istri ku!"
Bugh ...
Oeekk ...
Baby mungil itu menangis merasa terganggu dengan suara berisik di sekitarnya membuat Bunga benar-benar menghela nafas berat.
"Menjauh dari putriku!"
Posesif Raja mendorong Rangga keluar dari kamar. Namun Rangga tak kalah kuat menahan tubuhnya hingga mereka terlibat kejar kejaran.
Bunga tak mau ambil pusing ia kembali menenangkan putri cantiknya yang sempat menangis.
Amira tersenyum melihat baby mungil dengan rona merah di wajahnya.
"Mas jangan berisik, lebih baik mas yang keluar!"
Duarr ..
Raja langsung memelas melihat tatapan sang istri yang menajam membuat Raja pasrah.
"Kok gitu sih sayang!"
Rengek Raja mendekat membuat Amira mengulum senyum geli begitupun Moreo sedang Rangga hanya mendelik malas.
"Habis suara mas ngagetin baby!"
"Maaf .. Maaf!"
Raja kembali duduk di samping sang istri menatap gemas putrinya yang kembali anteng.
"Namanya siapa?"
Tanya Amira penasaran begitupun Rangga yang langsung mendekat.
"Sekar Adelio!"
"Woww,,, nama yang cantik tapi harusnya Sekar Pratama!"
Celetuk Rangga membuat Raja kembali melotot namun Bunga langsung memegang lengan sang suami agar tenang.
__ADS_1
"Sayang!"
"Sudah mas, kaya anak kecil saja!"
Kesal Bunga yang entah kenapa suaminya ini malah bersikap kekanakan padahal sudah menjadi papa juga.
Rangga mengulum senyum puas karena sudah berhasil menggoda Raja.
"Nama yang cantik seperti orangnya!"
"Terimakasih aunty!"
Balas Bunga tersenyum cerah menatap putri mungilnya yang kembali tertidur lelap di sampingnya.
Bunga sungguh tak menyangka jika ia benar-benar sudah menjadi seorang ibu sungguh kebahagiaan yang tak terkira.
Ternyata rasanya seperti ini menjadi seorang ibu, kebahagiaan yang tak bisa di ungkapkan dengan kata sungguh Bunga benar-benar sangat bahagia.
Bunga menatap penuh cinta sang suami rasanya Bunga selalu di buat jatuh cinta di setiap harinya.
Raja selalu siaga menjadi suami bahkan sangat menjaga dia dengan baik sampai saat ini.
Pertengkaran pasti ada, namun bagaimana kita cara mengatasinya dengan kepala dingin dan dewasa. Semua itu akan menjadikan rumah tangga menjadi tentram dan nyaman.
Amira, Rangga dan Moreo sudah pulang walau Rangga harus secara paksa karena tak mau pulang.
Bahkan Raja sampai menyeretnya keluar karena Rangga sulit sekali sampai Raja bermandikan keringat.
Huh ...
Bunga menautkan kedua alisnya melihat penampilan sang suami yang seperti baru selesai olahraga.
"Mas kenapa?"
"Si Serangga gak mau pulang, jadi mas seret walau harus kejar-kejaran!"
Kesal Raja duduk di atas shopa sana karena sedang berkeringat membuat Bunga mengerti.
"Lain kali mas jangan di ladeni!"
"Wusssh, Sekar juga masih kecil keburu Rangga sudah nikah. Sudah jangan banyak berpikir!"
Raja menghela nafas berat jika semua itu terjadi sungguh Raja tak bisa membayangkan. Bagaimana bisa ia punya menantu sahabatnya sendiri, membayangkannya saja membuat Raja bergidik ngeri.
"Mas jangan dulu mandi, itu masih berkeringat!"
"Gak sayang, mas mau buang air kecil!"
Teriak Raja berlari masuk kedalam kamar mandi membuat Bunga hanya bisa terkikik geli.
"Kenapa kamu tidur terus sayang, hm!"
"Nenek sama kakek masih di pesawat mau nengok kamu!"
Monolog Bunga mengajak ngobrol putri cantiknya.
"Mama kan yang ngandung kenapa wajah kamu mirip papa sih!"
"Tapi gak apa, hidung papa sangat mancung, bibirnya seksi dan--"
"Dan apa sayang!"
Bunga tersenyum melihat suaminya sudah keluar dari kamar mandi.
"Dan apa, hm?"
Tanya Raja karena tadi sempat mendengar obrolan sang istri dengan putrinya.
"Buku mata mas cantik kaya Aliando!"
"Siapa tuh, Aliando!"
Ketus Raja memasang wajah waspada membuat Bunga sangat geli entah kenapa Raja jadi posesif begitu.
__ADS_1
"Artis Indonesia mas,"
"Ganteng-an siapa?"
"Siapa ya!"
Bunga berpura-pura mikir membuat Raja mendengus kesal.
"Mas lah, siapa lagi kan mas suami Bunga!"
"Kalau bukan!"
"Ya suami Bunga, siapapun itu!"
Senyum Raja melebar mendengarnya ternyata istrinya tipe yang setia.
"Kenapa senyam-senyum?"
"Gak, kamu makin cantik!"
"Masa sih,"
Malu Bunga tersipu bak anak gadis yang di puji.
"Heem!"
"Ya sudah, mas mandi dulu ya!"
Bunga mengangguk saja, setelah Raja masuk dengan hati-hati Bunga turun dari ranjang. Walau terasa nyeri dengan hati-hati Bunga berjalan karena ia tak bisa berjalan bebas seperti biasanya.
Bahkan Bunga terlihat bak pinguin berjalan menuju arah lemari guna mengambil baju sang suami.
Sungguh Bunga sangatlah menikmati perannya sebagai seorang istri walau ribet tapi Bunga mensyukurinya.
Oekk ...
Bunga segera mendekat ketika putrinya menangis.
"Uluh-uluh putri mama, kenapa sayang!"
"Pipis ya!"
Bunga memeriksa bokong sang putri yang ternyata memang basah. Pantas saja menangis karena memang pipis. Dengan telaten Bunga menggantinya seolah sudah biasa dan tak ragu.
Baby Sekar langsung terdiam ketika popoknya sudah di ganti. Mungkin baby juga merasa nyaman dan aman.
"Jangan tidur lagi sayang, sudah sore nanti saja ya tidur lagi malam!"
Baby Sekar tersenyum seolah mengerti akan ucapan sang mama membuat Bunga menatap gemas sang putri.
"Mau mimi, hm?"
Bunga duduk di bibir ranjang hati-hati lalu mengambil baby Sekar kedalam gendongannya.
Pantas saja dada Bunga sakit ternyata putrinya kehausan.
Raja yang sendari tadi sudah selesai mandi tersenyum bangga melihat bagaimana sang istri mengurus putri mereka.
Usia yang cukup muda namun Bunga bisa melakukan semuanya bahkan terlihat ahli.
Sungguh Raja benar-benar merasa beruntung memperistri Bunga. Mungkin di luar sang istri terlihat kekanakan, ceroboh dan bar-bar tapi lihatlah di dalam rumah Bunga menjelma menjadi sosok keibuan dan seorang istri yang sempurna.
Delapan belas tahun bukan usia yang pas untuk menjadi seorang ibu namun Bunga membantah semuanya jika ia bisa dan mampu. Terbukti dengan selalu belajar mendewasakan diri membuat Bunga mampu mencapainya walau ada kala sipat kekanakan itu muncul. Wajar karena Bunga masih remaja.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...
Hay teman2 semuanya Author mau ngasih kabar gembira nih. Cerita Aurora sudah keluar ya!!!
Yang lagi nunggu cerita Mentari harap sabar ya, Author bikin cerita Aurora dulu biar alurnya gak membelit🙏🙏🙏🙏
__ADS_1
Insyaallah sudah Aurora cerita Mentari coming son🤫🤫🤫