Si Bar-bar Bunga

Si Bar-bar Bunga
Bab 37 Jangan berubah


__ADS_3

Bunga merasa bersalah dengan apa yang ia ucapkan tadi. Bunga tak bermaksud seperti itu. Bunga pikir kata lak**t itu tak akan menyakiti Raja nyatanya Bunga salah.


Bahkan Raja melewatkan sarapan paginya berlalu begitu saja.


Hanya Bunga yang ada di meja makan sendiri sambil menatap sandwich buatan Raja. Bahkan Bunga juga tak memakan nya. Bunga hanya menatapnya saja.


Kenapa juga bibir ini malah keceplosan hingga membuat hubungan mereka secanggung ini. Apalagi Bunga masih tertegun melihat Raja menangis.


Padahal semalam ketika Raja kesakitan Raja tak sedikit pun meneteskan air mata. Tapi kata itu kenapa sampai membuat Raja menangis seperti itu apa itu benar-benar sangat menyakitkan.


Bagaimana bisa Bunga menyakiti Raja sekejam itu.


Bunga orang yang gelisah ketika berbuat salah apalagi sampai membuat orang lain menangis.


Sebelum minta maaf Bunga akan terus gelisah dan cemas membuat Bunga langsung beranjak dari duduknya.


Bunga merasa bersalah atas semuanya kenapa juga bibirnya tak bisa di rem.


Bunga mencari Raja guna minta maaf dengan semuanya. Namun Raja tak ada di kamar membuat Bunga mencari kemana perginya Raja.


Satu-satunya ruangan tinggal ruang kerja Bunga yakin Raja pasti ada di sana.


Dengan pelan Bunga membuka pintu ruang kerja. Ternyata benar Raja ada di sana duduk sambil membelakangi pintu masuk.


Tangan Bunga saling bertautan dengan gemetar. Bunga memang seperti itu jika sedang cemas atau gugup.


"Maaf!"


Ucap Bunga tepat di samping Raja membuat Raja langsung membuka kedua matanya.


"Ak-aku tak bermaksud menyakiti mu, sungguh!"


Ucap Bunga lagi menahan segala rasa di dadanya.


Raja berbalik menghadap Bunga membuat Bunga mendongak hingga tatapan mereka bertemu.


"Apa kamu ingin pernikahan ini berakhir?"


Dengan cepat Bunga menggeleng kuat, mana mau Bunga menjanda di usia enam belas tahun.


Jika orang lain mungkin mau karena ketika membuat KTP nanti statusnya jadi gadis kembali.


Tapi tidak dengan Bunga walaupun masih gadis bagi Bunga titel janda akan selalu melekat di diri ya.


"Bukankah itu yang kamu mau?"


Bunga tetap menggeleng dengan bibir yang tetap bungkam.


Raja meraih tangan Bunga yang sendari tadi gemetar lalu menariknya membuat Bunga semakin mendekat.


Bunga berdiri tepat di hadapan Raja dengan kedua tangan yang Raja pegang.


"Katakan apa yang harus aku lakukan agar kamu tak pergi dari sisiku?"


"Jangan berubah!"


Seketika Raja tersenyum seolah hatinya baru saja di siram.


Raja mengerti apa yang di inginkan Bunga maka Raja akan melakukannya.


Bruk ...


Bunga terjatuh tepat di atas pangkuan Raja ketika Raja menariknya kuat. Raja memeluk erat pinggang Bunga membuat Bunga tak bisa berkutik.


"Katakan jika kamu sudah menerima pernikahan ini?"


"Ya!"


"Menerimaku?"

__ADS_1


"Iya!"


"Menerima cintaku?"


"Iy--"


Bunga terdiam karena tak mengerti dengan apa yang ia rasakan. Apa Bunga sudah mencintai Raja atau belum.


Bunga hanya merasa ia tak terima jika Raja di dekati cewek-cewek karena Bunga juga selalu menjaga dirinya sendiri.


"No problem, aku tak akan memaksa!"


"Terimakasih sudah menerima pernikahan ini,"


"Please, jangan katakan kata tadi!"


"Hm,"


"Apa tadi aku menyakitimu?"


Tanya Raja sambil mengusap lembut bibir Bunga membuat Bunga terdiam.


Rasanya Bunga ingin marah karena Raja sudah berani mengambil ciuman pertamanya tanpa meminta izin. Tapi, entah kenapa Bunga tak bisa marah apalagi Raja selalu lembut dalam berkata.


Kesalahan Raja cuma satu apa adil bagi dia marah pada Raja sedang Bunga sudah banyak melakukan kesalahan dan Raja tak pernah marah padanya.


"Tadi, aku tak bermaksud mencurinya!"


"Apa tadi yang pertama juga bagimu?"


Raja mengangguk karena memang benar apa adanya. Bunga sedikit lega setidaknya itu yang pertama bagi mereka berdua jadi tak ada yang di rugikan. Andai saja itu bukan yang pertama bagi Raja mungkin rasanya akan berbeda entah marah, kecewa, kesal atau apa Bunga tak tahu.


"Jika aku meminta izin apa kamu akan mengijinkannya?"


Deg ...


Bunga terdiam mendengar apa yang Raja ucapkan. Bunga bingung harus menjawab apa.


Raja mendekatkan wajahnya membuat wajah Bunga mundur namun Raja menahannya membuat Bunga tak bisa berkutik Bunga hanya bisa memejamkan kedua matanya saja.


Kruk ...


Raja terdiam ketika mendengar perut Bunga berbunyi membuat Raja tersenyum tipis.


Grep ...


Raja langsung menggendong Bunga membuat Bunga refleks membuka kedua matanya dengan tangan langsung mengalungkan pada leher kokoh Raja.


Raja menggendong Bunga menuju meja makan. Pantas saja perut Bunga bicara ternyata sarapannya tak Bunga makan. Raja duduk dengan Bunga tetap berada di atas pangkuannya bahkan tak membiarkan Bunga turun dari pangkuannya.


"Aku duduk di kursi ku ya!"


"No, di sini saja!"


Tolak Raja membuat Bunga entah kenapa tak bisa menolaknya.


Raja menyuapi Bunga namun Bunga malah diam saja tak mau buka mulut.


"Ayo buka, atau ku buka dengan bibir!"


Hap ...


Bunga dengan cepat melahap sandwich yang ada di tangan Raja membuat Raja tersenyum.


Raja terus menyuapinya membuat Bunga menerima saja.


Melihat Raja yang hanya menyuapinya membuat Bunga meraih sandwich miliknya lalu menyuapi Raja.


Pada akhirnya mereka saling suap menyuapi satu sama lain. Saling tersenyum dengan apa yang mereka lakukan.

__ADS_1


Bahkan Bunga tak merasa canggung lagi menyuapi atau mengelap bibir Raja. Mereka sedang mengikuti alurnya saja bagaimana Tuhan menakdirkan mereka.


"Sudah, aku sudah kenyang!"


Tolak Raja ketika Bunga ingin menyuapinya lagi.


"Apa perutnya masih sakit?"


"Tidak, karena kamu sudah merawatnya!"


"Terimakasih, ya!"


"Sama-sama,"


Mereka terdiam menatap satu sama lain, saling memandang menyelami kedalam bola mata Raja ataupun Bunga.


Jarang sekali selama menikah mereka se-intim itu.


Apalagi Bunga yang selalu membentengi diri dari Raja.


"Kenapa pipi kamu memerah?"


Tanya Bunga menautkan kedua alisnya bingung melihat wajah Raja yang memerah.


"Apa aku boleh mencium bibir ini?"


Deg ....


Jantung Bunga berdetak lebih cepat dari biasanya ketika Raja malah mengelus bibirnya.


Raja laki-laki dewasa dan normal setiap kali melihat Bunga rasanya Raja ingin menerkamnya.


Namun sekuat tenaga Raja selalu menahannya karena tak mungkin memaksa Bunga. Bunga masih kecil nan polos jika harus di paksa membuat Raja hanya bisa menunggu saja.


Tapi kali ini Rasanya Raja tak bisa menahannya naluri kelelakian ya hidup lebih cepat.


Tapi Raja bingung mengutarakannya karena yakin Bunga tak akan mengerti.


"Aku mau ke kamar mandi!"


Ucap Raja tiba-tiba sambil mengangkat Bunga lalu mendudukkannya di atas meja.


Bunga hanya bisa melongo melihat kepergian Raja padahal Bunga sudah sangat pasrah Raja menciumnya. Apalagi ciuman Raja yang tadi masih terasa di bibir Bunga dan Bunga ingin merasakannya lagi secara sadar.


"Apa Raja sakit perut lagi!"


Gumam Bunga langsung berlari mengejar Raja karena takut perut Raja sakit lagi.


"Apa perut kamu sakit lagi?"


Tanya Bunga berteriak di depan kamar mandi sambil menempelkan telinganya di pintu.


"Iya!"


Balas Raja karena bingung harus menjawab apa. Sungguh ini bukan sekedar sakit perut saja.


Raja sengaja menyalakan air agar Bunga tak mendengar apa yang sedang ia lakukan. Raja tak mau menyakiti Bunga karena hasratnya yang tiba-tiba bangun.


Biasanya Raja tak seperti itu tapi kenapa sekarang malah bangun di waktu yang tepat.


"Aku harus apa agar sakit perut kamu sembuh?"


Teriak Bunga lagi khawatir dengan apa yang terjadi pada Raja.


"Apa aku harus kasih tahu mama saya ayah, atau mommy sama Daddy?"


"Jangan, nanti tolong elus lagi perutnya!"


"Iya!"

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2